
Ketika itu semua terungkap, apa aku akan kembali ke masa lalu.
-Maura-
🌿🌿🌿
Maura masih menggenggam handphonenya saat ini. Handphonenya pada posisi tengkurap tepat di dadanya. Pandangan tak lepas dari sosok pria yang kian mendekati dirinya.
Pria itu tersenyum, namun Maura tetap terdiam. Sampai akhirnya pria itu sudah berdiri tepat di hadapan Maura dan lainnya.
"Halo tante, halo Ra." Sapanya.
"Nah sudah sampai, yuk masuk." Pinta ibunya Maura.
Mereka masuk ke dalam, disusul pria itu. Meninggalkan Maura yang terdiam.
"Kamu tidak ikut masuk Ra?" Tanya pria itu.
"Ah.. iya..." Jawab Maura cepat dan tersadar kemudian, saat terdengar ada suara lain memanggil namanya. Gilang memanggilnya, memanggil nama Maura berkali-kali.
Maura mendekatkan lagi handphonenya itu ke telinganya sambil menutup pintu saat itu.
"Kamu kemana aja Ra, kok tiba-tiba tidak bersuara."
"Ku kira kamu yang datang Lang."
"Ya, sebentar lagi aku ke sana. Kenapa?"
"Ada Rian di sini." Jawab Maura dengan pandangan lurus menghadap Rian yang tengah duduk dan tersenyum bersama ke dua orang tuanya saat ini.
Pembicaraan mereka berakhir setelahnya. Maura pun melangkah menuju mereka yang sejak tadi sudah mulai berbincang satu sama lain.
"Sini Ra duduk." Pinta ibunya.
Maura hanya tersenyum dan kemudian ikut duduk. Memandang sekitarnya lagi dan pandangannya tak luput dari sosok Rian yang tiba-tiba saja hadir di antara mereka.
"Maura sudah besar ya sekarang, cantik lagi."
"Makasih tante." Jawab Maura sambil tersenyum.
"Kamu ingat Rian tidak Ra?"
Maura menatap bingung, apa yang mesti ia jawab saat ini. Sejujurnya ia tak mengingat apapun. Namun sekelilingnya meminta untuk mengingat itu semua.
"Aku dan Maura teman kuliah mam." Ucap Rian tiba-tiba.
"Wah.. Jodoh ya kalian."
Maura tersedak mendengarnya. Mendengar kata jodoh membuatnya berfikir keras arti dari kata ini.
"Maaf Tante, Maura hanya tau Rian teman kuliah Maura saja. Selebihnya tak ingat." Jawab Maura akhirnya.
"Ya.. sudah lama sekali memang, wajar jika kamu tak mengingatnya. Waktu itu kalian masih kecil. Tapi kalian sangat dekat. Maafkan Tante ya harus memisahkan kalian waktu itu."
__ADS_1
"Sudahlah mah." Ucap Rian menenangkan mamahnya.
Maura masih terlihat bingung saat ini. Siapa Rian sebenarnya. Mencoba mengingat akan yang lalu, namun hasilnya nihil. Maura masih tak mengingat apapun.
"Ini Rian, Ra.. teman main mu dulu. Rumahnya tepat di sebelah kita saat itu." Penjelasan ibunya kemudian.
Mendengar ucapan ibunya itu, membuat Maura teringat akan satu hal, teringat akan sebuah kenangan lama. Teringat akan sosok Rian yang dulu.
"Ri..an." Bisik Maura akhirnya dengan tatapan tertuju pada Rian.
"Kalian mengobrolah, mengingat masa lalu." Pinta mamahnya Rian akhirnya.
"Ra, bisa kita bicara?" Pinta Rian kemudian.
"Ya.." Jawab Maura cepat dan disambut dengan senyum Rian saat itu.
Maura sangat terkejut saat itu, terkejut saat mengetahui sosok Rian akhirnya. Banyak hal yang ingin Maura utarakan. Banyak hal yang ingin Maura tanyakan.
Hubungan mereka memang tak terbilang baik saat ini. Namun rasa penasaran, rasa dekat yang dulu ada mencoba perlahan menghapus segalanya.
Maura dan Rian pun pergi akhirnya. Berjalan sejajar dan masih terdiam satu sama lain. Tepat disebuah taman belakang, di sebuah kursi panjang berwarna coklat. Maura dan Rian pun duduk bersama.
Ada sebuah pohon besar tumbuh tak jauh dari kursi itu. Memberi kesan teduh dan kenyamanan di sana. Angin pun tertiup begitu teratur.
"Aku tidak menyangka itu kamu."
"Aku pun begitu Ra."
"Bagaimana kabarmu setelah ku pergi?" Tanya Rian.
"Hah.. kalau mengingatnya, kamu pria jahat yang ku tahu." Ucap Maura dengan memandang ke langit.
"Aku minta maaf."
"Aku menangis sepanjang waktu, tapi kamu tetap tak datang." Jawab Maura dan kali ini menatap Rian dan tersenyum.
"Aku sudah datang sekarang."
"Ya.. Sejak kapan kamu menyadari itu aku."
"Sejak aku mencium mu waktu itu."
"Ah.."
Maura tak banyak berkomentar, mengingat saat itu, membuatnya mengingat kembali kekesalannya pada Rian.
"Aku tak sengaja melihat foto kecilmu. Ra.. aku merindukanmu selama ini." Ucap Rian dan kali ini ia yang memandang ke langit.
"Tapi.. semua sudah berubah."
"Aku tidak pernah berubah, perasaanku pun tak pernah berubah. Ternyata aku menyukai seseorang yang memang sudah ku sukai sejak dulu."
"Kamu pergi, itu yang membuatku berubah."
__ADS_1
"Kamu ingat dengan janjimu?" Tanya Rian dan kali ini mereka saling memandang.
"Kamu bilang kamu hanya mau hidup bersamaku."
"Itu perkataan gadis kecil yang polos saja."
"Tapi aku tak pernah menganggap seperti itu, Aku selalu berusaha mewujudkannya."
"Hayolah.. waktu itu masih terlalu kecil untuk memahami kata-kata itu yang sebenarnya."
"Hem.. apa aku memang sudah benar-benar terlambat Ra?"
"Maaf.." Jawab Maura dan tertunduk kemudian.
"Apa yang sudah Gilang berikan padamu, yang tidak bisa ku berikan."
"Rian.. kamu pria baik.. pria pertama yang ku kenal sangat baik. Kamu selalu ada untukku saat itu. Kamu selalu menemaniku. Namun ternyata kamu pergi, mungkin itu sudah jalannya. Aku kecewa.. ya saat itu aku kecewa. Tapi aku bisa apa, aku hanya seorang gadis kecil saat itu, tak paham banyak hal, tak paham itu cinta. Aku hanya tau kamu baik padaku."
"Ya.."
"Waktu terus berjalan, menciptakan kisah yang berbeda. Membuat kita makin dewasa. Memahami banyak hal yang sudah terjadi. Aku tidak pernah melupakanmu, bahkan aku masih ingat betul saat kamu mencoba menghiburku saat ku menangis. Banyak hal yang ku ingat dulu. Tapi.. itu dulu, sekarang aku memahami cinta yang berbeda, cinta yang ku dapat dari nya. Aku mencintainya dan ku tak bisa menjelaskannya seperti apa."
"Tadinya ku pikir, aku masih ada kesempatan, saat kamu mengetahui ini semua. Tapi ternyata aku salah. Aku tak pernah bisa merubah apa yang sudah terjadi."
Pertama mengenalnya, bukan berarti akan menjadi yang terakhir. Masa lalu tak bisa menjadi masa kini, ketika hal itu terjadi, mencoba menerima.
Pagi itu, terasa begitu sejuk dan tenang. Maura terus memandangi sekitarnya, menikmati segalanya. Angin kembali bertiup begitu teduh. Matahari juga sudah tak malu lagi muncul di antara kami.
"Kamu mau main ayunan."
"Memangnya masih pantas."
"Hayolah..." Ajak Rian dan langsung menarik tangan Maura dan mengajaknya.
Maura bangun dari duduknya, mengikuti langkah Rian akhirnya. Mengenang masa lalu bersama. Menerima semua hal yang sudah pernah terjadi diantara mereka.
.
.
.
.
Halo semua, Mohon maaf ya.. hampir dua Minggu ini Author sakit🙏🥺, ga kuat bangun. Berat banget rasanya, mikirin kerjaan, mikirin novel, mikirin banyak hal😭.
Makasih yang masih setia, menunggu dan membacanya. Author mohon maaf sebesar-besarnya🙏🙏🙏
Sehat-sehat ya kalian, sehat itu penting banget. Semua berasa nikmat kalau sehat. 🤭😅😄
Insyaallah, author lanjut ceritanya, mohon dukungan dari kalian.
like, vote, favorite, rate dan giftnya ya kakak🤗🤗🤗 Terima kasih banyak semoga kebaikan dan kesehatan selalu ada untuk kalian. Aamiin
__ADS_1