Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Rasa yang Berbeda


__ADS_3

Hanya sesaat, aku dan kamu harus saling merindu. Ada saatnya kita akan selalu bersama kelak.


-Maura-


🌿🌿🌿


Maura mencoba merenggangkan pelukannya pada Gilang, kedua tangannya masih setia menyentuh pinggang Gilang saat itu.


Mata mereka bertemu dan saling menatap. Gilang tersenyum dan kemudian mengusap rambut Maura perlahan.


"Maafkan aku." Ucap Gilang.


"Jangan seperti tadi."


"Tolong pahami aku Ra, aku cemburu."


"Tapikan kamu tau, hatiku untuk siapa."


Gilang tersenyum mendengarnya, mengusap kembali kepala Maura dengan lembut.


"Aku minta maaf, aku melakukan itu bukan berarti aku meragukanmu." Ucap Gilang lagi dan berhasil membuat Maura tersipu.


Maurapun pergi bersama Gilang akhirnya. Gilang sudah merasa lebih tenang sekarang, kembali ke apartemen, menikmati kebersamaan, melepas lelah yang telah cukup terasa.


.


.


.


.


Dua buah kemeja ada di kedua tangan Maura saat ini. Satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna abu-abu. Maura membawanya menuju Gilang yang sedang bercermin merapikan dirinya.


"Mana yang kamu suka?" Tanya Maura pada Gilang.


"Pilihkan untukku, aku menurut saja."


"Ya sudah abu-abu saja kalau gitu."


"Pakaikan." Pinta Gilang.


"Kamu bisa pakai sendiri."


"Tapi aku mau dipakaikan."


"Ih.. pakai sendiri." Pinta Maura dan langsung melempar kemeja itu tepat di dada Gilang.


Maura melangkah meninggalkan Gilang, dan Gilang berhasil menghentikannya. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang Maura.


Gilang meletakan dagunya disalah satu pundak Maura. Menyentuh sedikit telinga Maura dan kemudian menggigitnya perlahan.


"Au.." Teriak Maura akhirnya.


"Pakaikan." Pinta Gilang lagi dan kali ini berbisik dan berhasil membuat tubuh Maura bergetar.


"Iya.. iya.. aku pakaikan." Ucap Maura cepat dan mencoba melepas pelukan Gilang.


Gilang hanya tersenyum melihat tingkah Maura. Dia merasa telah berhasil menggoda Maura saat itu.


"Mana tanganmu, cepat masukan." Pinta Maura dan Gilang menurut setiap kata yang terucap dari mulut Maura.


"Masukan satu lagi." Pinta Maura kembali.


Maura kemudian mulai mengancingkan satu demi satu, merapikan kerah kemeja Gilang kemudian.


"Hari ini aku mau pulang ke rumah." Ucap Maura sambil melanjutkan memasukan kancing kemeja yang sudah dikenakan Gilang.


"Kenapa dadakan?" Ucap Gilang dengan menggenggam tangan Maura menghentikan aksinya.


"Semalam, ibuku telephone."


"Kapan kamu berangkat?"

__ADS_1


"Setelah kuliah pagi ini."


"Aku tak bisa mengantarmu Ra."


"Tenanglah, aku bisa sendiri."


"Hem.. kapan kamu pulang?"


"Mungkin aku akan menghabiskan akhir pekanku di sana."


"Lama sekali..."


"Hanya dua hari Lang."


"Kamu pulang hari ini saja ya, aku akan jemput kamu."


"Ibuku pasti akan memintaku untuk menginap." Ucap Maura dan kali ini semua kancing sudah terpasang.


"Kamu sudah tampan sekarang." Ucap Maura lagi dan sekarang tersenyum menatap Gilang yang terlihat kecewa dengan keputusan Maura.


"Kamu membuatku tak bersemangat Ra."


"Hayolah, kamu bisa datang besok menemuiku dan orang tuaku."


"Kamu mau ku lamar besok."


"Bukan itu maksudku Lang. Baiknya kalian bertemu dulu.


"Ya., aku pasti akan merindukanmu malam ini."


"Kamu bisa menghubungiku kapanpun."


"Aku tahu, tapi rasanya akan berbeda."


"Sudahlah.. kamu sudah harus berangkat." Ucap Maura dengan tatapan menuju jam dinding.


"Kabari aku saat kamu akan pergi, saat kamu sampai, saat kamu melakukan apapun."


"Iya.." Jawab Maura meyakinkan.


"Tunggu aku, sampai aku menjemputmu." Pinta Gilang dan kemudian mencium kening Maura perlahan.


Sekarang Maura mulai bersiap, merapikan diri dan keperluannya. Sampai akhirnya iapun pergi meninggalkan apartemen seperti halnya Gilang


.


.


.


.


Waktu sudah berlalu dengan cepat, Vaya saat ini sedang duduk menyendiri, sambil menatap segelas jus jeruk yang ia pesan menemani makan siangnya di kantin kampus. Diaduknya perlahan, hanya itu yang ia lakukan untuk beberapa menit, menemani lamunannya akan sosok Rian yang hadir di fikirannya kembali.


Setelah kejadian kemarin, rasanya Vaya terlalu malu untuk bertemu dengan Rian. Tapi.. memang seharusnya ia menjuhinya. Perlahan melepaskan perasaan padanya. Itu adalah janji yang ia ucapkan pada Rian kemarin.


Sebuah mineral water, hadir menggagetkan lamunannya saat itu. Bukan suara yang keras yang tercipta, namun berhasil mebuat Vaya merubah penglihatannya akan sosok seseorang yang sudah hadir di hadapannya sekarang.


"Raka, mengagetkan saja."


"Kemarin menangis, sekarang melamun. Sibuk sekali."


"Siapa yang nangis?"


"Ya kamu Va."


"Sop tahu."


"Ya enak tuh.."


Vaya dan Rakapun tertawa akhirnya dengan ucapan mereka sendiri. Kemudian Raka mulai duduk bersama, menarik kursi tepat di hadapan Vaya.


"Kenapa nangis kemarin?"

__ADS_1


"Aku enggak nangis, sembarang."


"Karena Rian?" Ucap Raka mulai menebak.


"Tidak."


"Mau sampai kapan dipendam?"


"Rian sudah tau."


"Lalu.., ditolak?" Tebak Raka lagi dan membuat Vaya menatap sosok Raka akhirnya.


"Dia sudah menyukai seseorang."


"Siapa?"


"Maura.."


"Hah.. bodoh sekali Rian."


"Ya.. memang bodoh, tapi aku menyukainya."


"Untung saja aku pintar, jadi kamu tidak menyukaiku."


Ucap Raka lagi dan berhasil membuat keduanya tertawa.


"Hemm.. Aku tidak pandai menghibur, bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan saja."


"Boleh.. boleh... rasanya aku perlu melupakan banyak hal."


Raka dan Vayapun bangkit dari duduknya bersama. Baru beberapa langkah, dan kemudian terhenti saat sosok Rian berdiri di hadapan mereka.


"Kalian mau pergi?" Tanya Rian akhirnya.


"Ya.. lebih tepatnya kencan." Jawab Raka sambil melirik Vaya yang terkejut mendengarnya.


"Kau mau ikut bersama kita?" Tawar Raka pada Rian kemudian.


"Tidak, aku masih ada kelas." Jawab Rian cepat, namun hatinya bertanya-tanya. Tatapannya langsung tertuju pada Vaya.


"Oke.." Ucap Raka dan langsung menarik tangan Vaya segera.


Raka dan Vaya melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Rian yang terlihat bingung mengartikan semuanya.


Rian masih mencoba berfikir, jelas baru kemarin Vaya mengungkapkan perasaanya. Bahkan Vaya menciumnya. Tiba-tiba saja sekarang Raka berkata kalau mereka akan berkencan. Kebenaran macam apa ini.


Sejujurnya Rian masih teringat dengan ciuman Vaya, tak bisa melupakannya begitu saja. Ada kesan tersendiri di hati Rian.


Sekarang, Rian merasa kesal mendengar ucapan Raka tadi. Bagaimana bisa Vaya secepat itu melupakan perasaannya yang telah berhasil menciptakan rasa yang berbeda di hati Rian.


.


.


.


.


deg..degkan mau ketemu camer, mangat Gilang💪💪💪


Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁

__ADS_1


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.


__ADS_2