
Ternyata rasanya mencintaimu seperti ini. Seharusnya aku menyadari perasaanku dengan cepat, bahwa aku menyukaimu Ra. Mungkin tak akan pernah ada luka yang akan kamu rasakan.
Aku menyukaimu, aku akan selalu menyukaimu. Melihat senyummu dan membuatmu selalu tersenyum
-Gilang-
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Maura menatap sebuah kue yang dia beli bersama Gilang tadi. Terdiam dan sejenak berfikir akan nasib kue sebelumnya. Kue yang terbuang percuma karena kepergiannya waktu itu.
Maura memotongnya perlahan, menjadi beberapa bagian potongan kecil untuk bisa dimakan bersama. Sebuah piring kecil juga sudah disiapkan olehnya.
Sebelum dirinya meninggalkan dapur, terdengar suara pintu terbuka, terlihat sosok Rian di sana. Rian memanggil namanya dengan senyum khas miliknya. Rian melangkah dan mendekat ke arah Maura.
"Ada yang bisa ku bantu?" Tanyanya.
"Ah.. kebetulan sekali." Ucap Maura dan tersenyum menatap kedatangan Rian.
"Benarkah?"
"Ya.. bantu aku membawa piring-piring itu." Pinta Maura dengan pandangannya ke arah tumpukan piring yang diletakan di atas meja.
"Kuenya tampak berat, biar aku saja yang bawa itu." Pinta Rian dengan ke dua tangan yang tak sengaja menyentuh tangan Maura yang sedang menggenggam kue yang ada di hadapan mereka berdua.
"Ah.. aku saja yang bawa ini, ini tidak berat kok." Ucap Maura dengan menatap wajah Rian yang tepat berada di hadapannya sekarang.
Maura tiba-tiba terdiam, wajah Rian mengingatkannya pada seseorang. Entahlah.. dulu Maura juga pernah bertanya. Tapi jawaban Rian tak menjawab rasa penasaran Maura saat itu.
"Apa yang sedang kamu lihat?" Tanya Rian dan langsung menghapus lamunan Maura seketika.
Wajah Rian terlihat lebih dekat sekarang. Maurapun tampak terkejut saat itu.
"Oh.. tidak ada.." Jawab Maura gugup dan langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Aku saja yang bawa ini." Pinta Rian lagi dan kali ini Maura mengangguk menyetujui pintanya.
"Ok.. ini karena kamu paksa ya." Ucap Maura dan Rian kembali tersenyum mendengarnya.
Maura menurut, menyerahkan kue itu kepada Rian. Beberapa detik kemudian, terdengar kembali suara pintu yang tergeser karena seseorang mendorong untuk membukannya.
Gilang yang berada di balik pintu saat ini. Awalnya Gilang tersenyum, namun dengan cepat ekspresinya berubah saat melihat Rian berada di hadapan Maura dengan tangan yang terlihat bersentuhan.
Gilang melangkah sangat cepat, dan kue itupun telah berpindah tempat ke kedua tangan Rian. Maura memanggil nama Gilang dan saat Gilang sudah sangat dekat dengan Maura, Gilang meraih salah satu tangan Maura dan menariknya untuk berada tepat di sampingnya.
"Kalian sedang apa?" Tanya Gilang dan menatap ke arah Rian.
"Oh.. Rian mau bantu aku saja."
"Dari tadi?"
"Tidak baru saja." Ucap Maura lagi.
"Bicara apa saja?" Tanya Gilang lagi dan tetap menatap Rian.
"Hanya kue dan piring yang kami bahas." Jawab Maura dan tampak terlihat bingung akan pertanyaan Gilang.
"Yasudah ikut aku sekarang." Ucap Gilang dan kali ini menarik tangan Maura dan mengajaknya untuk pergi.
"Loh.. kuenya bagaimana?"
"Biar Rian yang bawa."
__ADS_1
"Loh.. piringnya."
"Biar Rian yang bawa."
"Loh.."
"Sudah ikut aku sekarang, ada yang ingin ku bicarakan sama kamu."
"Sekarang juga?" Tanya Maura dengan Gilang yang terus menarik tangan Maura dan mengajaknya terus meninggalkan sosok Rian.
"Iya.."
"Tapi.. Rian." Ucap Maura lagi dengan sedikit menahan tarikan Gilang dan berhasil berhenti seketika.
"Sudah Ra, kamu ikut Gilang saja dulu." Ucap Rian akhirnya dan membuat Maura akhirnya menurut untuk pergi bersama Gilang.
Maura diam akhirnya, benar-benar pergi meninggalkan Rian seorang diri. Mengikuti langkah Gilang yang terus membawanya pergi.
Sesekali ia menengok ke arah belakang, melihat sosok Rian, sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkannya.
"Pelan-pelan Lang." Pinta Maura yang terus mengikuti langkah Gilang.
Gilang tak bersuara, terus membawa Maura ke sebuah ruang. Sebuah pintu sudah ada di hadapan mereka sekarang. Gilang membukannya dan mereka masuk berdua ke dalam.
Saat Maura sudah berada di dalam, yang tak lain adalah kamar Gilang. Gilang melepaskan tangan Maura dan dengan segera mengunci pintu itu.
"Kenapa dikunci?" Tanya Maura bingung.
"Biar Rian enggak masuk ke dalam." Ucap Gilang dan kembali menarik tangan Maura dan mengajaknya ke sebuah kasur dan duduklah mereka bersama.
"Kamu sedang cemburu sekarang?" Ucap Maura sambil menatap Gilang yang jadi pendiam seketika.
"Kamukan bisa minta tolong aku Ra."
"Tapikan kamu enggak ada tadi Lang."
"Kenapa enggak minta tolong Vaya saja, kenapa harus Rian."
"Ya.. karena kebetulan Rian yang ada di sana saat itu."
"Alasan."
"Ah.. terserah kamu sajalah, aku cape ngejelasinnya." Ucap Maura dan tampak kesal sekarang.
"Kenapa jadi kamu yang marah?"
"Ya karena kamu nyebelin." Ucap Maura lagi dengan tangan berlipat di dada, pandangannya tak lagi menghadap Gilang.
"Tapi kamu tetap menyukaiku kan Ra?" Tanya Gilang dengan menyentuh dagu Maura dan mengarahkan wajah Maura tepat di depan wajah Gilang sekarang.
"Ya.. aku suka kamu, walaupun suka nyebelin." Ucap Maura dan tampak malu saat itu.
Sejujurnya, jantung Maura begitu berdetak kencang. Jari Gilang yang menyentuh dagunya, lanjut ke bibirnya. Ia usap perlahan, ditatapnya begitu dalam. Makin mendekat, seakan tak ada jarak diantara mereka. Tersentuh dengan lembut, bibir mereka berdua. Makin berdetak jantung mereka. Tanganpun sudah saling menggengam satu sama lain, namun tiba-tiba terdengar sebuah ketukan pintu mengakhiri segalanya.
Gilang dan Maura tersadar, sebuah getaran yang sulit diartikan oleh mereka perlahan hilang. Mengatur nafas masing-masing, menenangkan hasrat yang hampir mencapai tujuan. Ya.. hampir, sebuah ketukan terdengar berulang dan nama Maura terpangil di balik pintu saat itu.
"Itu Vaya.." Ucap Maura mencoba bersikap seolah tak terjadi apapun.
"Ya.., kita lanjut nanti."
"Hah.." Teriak Maura dan benar-benar terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Kalian sedang apa di dalam, baik-baik sajakan?" Tanya Vaya sambil mengetuk pintu lagi.
"Lagi pacaran Va, ganggu saja." Teriak Gilang dan membuat Vaya maupun Maura terkejut mendengarnya.
Maura langsung menatap Gilang dengan salah satu tangan mencubit pinggang Gilang dan Gilangpun berteriak karena terkejut.
"Oke.. jombol siap menjauh." Ucap Vaya dan membuat Gilang tertawa mendengarnya.
"Eh..Va.." Teriak Maura dan bangkit dari duduknya hendak melangkah menuju pintu.
Namun Gilang berhasil meraih tangan Maura lagi, dan membuat Maura kembali duduk di kasur.
"Lang.. Vaya salah paham nanti." Protes Maura.
"Loh salah paham di mana, kan memang benar kita sedang pacaran."
"Bukan itu maksudku." Protes Maura lagi.
"Lalu apa?"
"Ah.. sudah, kita makan kue aja sekarang."
"Enggak mau."
" Loh kok gitu."
"Kita lanjutkan dulu yang tadi.."
Maura kembali terkejut mendengarnya, mukanya mungkin memerah saat itu.
"Lanjut dengan ini saja." Ucap Maura sambil mencium pipi Gilang dengan cepat dan dengan segera bangkit dari duduknya lalu bergegas pergi meninggalkan keterkajutan Gilang.
Maura berlari dan membuka pintu dengan cepat, Gilang yang melihatnya hanya bisa tersenyum dan membiarkan Maura pergi akhirnya.
.
.
.
.
Lanjut.. lanjut.. kapan makan kuenya ๐๐ฐ
Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐๐
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak ๐
ratenya juga ya kak๐
dikasih hadiah juga boleh๐
di Vote Alhamdulilah๐
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐
Terima kasih yang sudah Vote๐, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐.
__ADS_1