
Saatku berhasil menemukanmu, aku sampai melupakan sekitarku. Hanya satu yang ku fikirkan saat itu dan itu kamu Ra.
-Gilang-
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Drrttttt..
Getaran handphone milik Gilang kembali terdengar. Gilangpun kali ini mengangkatnya dengan cepat. Gilang berfikir bahwa pelayan wanita di kafe tadi tengah menghubunginya sekarang. Ya.. Gilang berharap bahwa dugaannya benar.
"Halo kak, Ini saya yang tadi kakak kasih nomor handpone kakak di kafe."
"Oh.. kamu melihatnya?" Tanya Gilang langsung setelah mengetahui bahwa apa yang diduganya ternyata benar.
"Ya.. kak, sekarang wanita yang kakak cari, baru saja keluar dari kafe, sepertinya sedang menunggu taksi di depan kak."
"Oke.. terima kasih." Ucap Gilang dan langsung mematikan pembicaraannya saat itu.
Hatinya sempat kecewa tadi saat dirinya tiba di kafe. Namun sekarang ia merasa punya sedikit harapan.
"Pak, kita balik arah." Pinta Gilang dengan cepat.
"Yang cepat pak." Pinta Gilang lagi dan berulang kali mengatakan hal yang sama sepanjang jalan.
Pandangan Gilang tak luput dari setiap jalan yang ia lewati. Berharap dan berharap masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan Maura saat ini. Kini taksi yang sedang ditumpanginya sudah berhasil berbalik arah dan melaju dengan cepat. Tepat di seberang kafe itu berada. Gilang meminta pak supir menghentikan laju kendaraannya.
Gilang melihat Maura di seberang sana, berdiri dan sangat terlihat cantik dengan pakaian dan rok panjang berwarna putih yang sedang dikenakannya saat ini.
"Akhirnya ku melihatmu lagi." Bisik Gilang dan tersenyum sendiri.
Maura tampak melambaikan tangannya, ke salah satu kendaraan yang melaju ke arah dirinya. Gilang tersadar, Maura akan segera pergi.
Dipanggilnya nama Maura dari kejauhan, teriakan pertama tak membuat Maura melihat dirinya. Dipanggil lagi, namun ramainya jalan masih tak membuat Maura menyadari panggilannya.
Gilang kini berlari, menyeberangi jalan tanpa melihat sekitarnya. Bunyi klakson dari berbagai kendaraan bersautan karena ulang Gilang yang tiba-tiba. Keramaianpun terjadi tanpa disadari.
Maura yang sudah berhasil mendapatkan taksi, membuka pintu itu dan hendak masuk. Namun niatnya tertahan karena tiba-tiba saja keramaian terjadi.
Maura terdiam dan menatap lurus ke depan. Menatap apa yang sebenarnya terjadi di hadapannya saat ini. Lalu terdiam lagi.. hanya diam, saat melihat pria yang dicintai sedang berlari menerobos jalan saat ini.
Makin mendekat, dan tanpa disadari Maura meneteskan air matanya. Gilang sudah berada di hadapannya sekarang, tepatnya berada di pintu taksi sisi lainnya. Taksi yang sudah berhasil dihentikan oleh Maura tadi.
Gilang tampak mengatur nafasnya, mereka saling menatap saat ini. Melepaskan kerinduan satu sama lain.
"Jadi naik tidak mbak?" Tanya supir taksi itu dan memecahkan kesunyian yang terjadi.
"Tidak pak, maaf." Ucap Gilang cepat menjawab apa yang ditanyakan supir taksi itu.
Taksi itupun akhirnya pergi. Sudah tidak ada penghalang di antara mereka. Gilang melangkah mendekat ke arah Maura. Ditatapnya wajah Maura, diraihnya jari jemari Maura. Lalu dipeluknya tubuh Maura.
__ADS_1
Maura masih diam membisu, tak membalas apapun yang dilakukan Gilang padanya.
"Lepaskan Lang." Pinta Maura.
"Aku enggak mau."
"Banyak yang melihatnya."
"Aku enggak peduli. Aku merindukanmu Ra." Ucap Gilang lagi dan makin erat Gilang memeluk Maura saat itu.
"Kita sudah tidak mempunyai hubungan apapun." Ucap Maura dan kali ini terdengar suara isak tangisnya.
"Tidak, kamu tetap pacarku Ra, aku tak pernah setuju kamu memutuskan hubungan kita saat itu."
"Tapi aku telah mengecewakanmu, aku pergi walau kamu memintaku untuk tetap tinggal."
"Kamu tak pernah mengecewakanku, tidak pernah." Ucap Gilang dan kali ini menatap wajah Maura begitu dekat.
Mata Maura berkaca-kaca, tampak sedang menahan tangisnya.
"Maafkan aku, aku akan mengucapkan kata itu berkali-kali sampai kamu mau memaafkanku."
"Ratusan kata maaf sudah kamu kirimkan untukku Lang."
"Tapi itu belum cukup, sampai ku mengucapkannya sendiri dan kamu mau memaafkanku."
Menetes juga akhirnya air mata Maura, Gilang mengusapnya perlahan dan terasa lembut.
Maura hanya mengangguk, tak sangup untuk dirinya berbicara. Rasa rindu yang begitu dalam pada Gilang. Rasa sayang yang begitu besar untuk Gilang. Beberapa hari ini tanpa Gilang, membuat dirinya berfikir banyak hal. Kehadiran Gilang saat ini, tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Maura.
Gilang datang, menemukan dirinya. Mungkin ini yang dinamakan jodoh, sejauh manapun kamu pergi, pasti akan bertemu di tempat yang tepat dengan waktu yang tepat dan pasti dengan seseorang yang tepat.
.
.
.
.
Kini Maura dan Gilang sudah berada di dalam taksi. Taksi yang sama yang sejak tadi Gilang menaikinya. Tiba-tiba rasa canggung menyelimuti mereka.
"Apa kabar dengan kuenya waktu itu?" Tanya Maura memecahkan kesunyian.
"Sudah ku buang."
"Maaf.." Jawab Maura menundukan pandangannya.
"Sudahlah, aku bisa mendapatkannya lagi, tapi kalau hatimu yang ku buang, aku pasti akan menyesal seumur hidupku."
__ADS_1
"Kamu pandai menggombal sekarang." Ucap Maura dengan senyum yang terlintas di wajahnya.
Gilangpun tersenyum menatap Maura. Rasanya ia bahagia saat ini, Ia dapat melihat senyum Maura kembali. Diraihnya kembali jari jemari maura, Gilang menggengamnya begitu erat sepanjang jalan.
"Masih jauh penginapanmu?"
"Tidak sebentar lagi sampai." Ucap Maura sambil menggelengkan kepalanya.
Dalam perjalanan, pandangan Gilang tak luput dari diri Maura. Rasanya Gilang ingin terus menatapnya seperti ini, tersenyum sepanjang jalan.
"Kamu jangan melihatku terus Lang." Pinta Maura malu, karena merasa dirinya selalu di lihat oleh Gilang.
"Aku mau seperti ini, bahkan dalam tidur aku mau tetap melihatmu." Ucap Gilang dan membuat Maura terkejut mendengarnya.
Bukan hanya Maura yang terkejut, suara batuk terdengar tiba-tiba dari arah pak supir.
"Dilarang menyimak ya pak." Pinta Gilang akhirnya dan membuat Maura tertawa mendengarnya.
"Oh.. maaf, maaf. Kalau begitu izin memutar lagu saja, kalian bisa lanjut." Pinta pak supir akhirnya.
Maura memandang Gilang dan Gilangpun memandang Maura. Tersenyum satu sama lain, menatap dan kembali terdiam, menikmati sebuah lagu yang telah berhasil diputar oleh pak supir saat itu. Hanyut dalam lamunan masing-masing.
Menemukanmu merupakan suatu hal yang luar biasa buatku. Melihat senyummu lagi membuatku bahagia Ra. Maafkan aku karena aku telah menyakitimu selama ini. Jangan menangis lagi, karena itu membuatku tersiksa. Aku hanya pria biasa, yang bisa juga terpuruk karena cinta. Kepergianmu membuatku sadar kamu berharga buatku. Kita mulai kembali hubungan kita. Aku tau aku bukan pria sempurna, tapi aku janji aku akan membuat cinta kita sempurna.
.
.
.
.
Akhirnya ketemu ๐๐๐, semangatt๐ช
Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐๐
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak ๐
ratenya juga ya kak๐
dikasih hadiah juga boleh๐
di Vote Alhamdulilah๐
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐
__ADS_1
Terima kasih yang sudah Vote๐, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐.