Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Cemburu


__ADS_3

Bagaimana bisa Bian yang ada di hadapan Laras saat ini. Laras terus memandang Bian yang tengah menyuapini dirinya.


"Bagaimana kamu bisa datang Bi?"


"Gilang yang menghubungiku semalam."


"Oh.. Maaf aku tak memberitahukanmu." Ucap Laras dengan wajah yang memelas.


"Sudahlah.., yang penting kamu baik-baik saja."


Laras tersenyum mendengarnya. Bian masih tetap menemaninya. Bian tak menunjukkan kekecewaanya di hadapan Laras saat itu. Bian tahu, Laras sudah membohongi dirinya dan membohongi Gilang.


.


.


.


.


Sore itu, semua sedang membantu Maura. Vaya, Raka bahkan Rian ikut membantu. Hari ini, Maura akan menempati apartemen yang dibelikan Gilang untuknya. Gilang tak ada di antara mereka. Seseorang meneleponnya terkait dengan pekerjaannya saat itu.


Beberpa jam berlalu, dan akhirnya mereka terduduk bersama melepas lelah.


"Aku mau beli minum di bawah, kalian mau dibelikan apa?" Tanya Maura.


"Apa saja boleh Ra." Jawab Vaya.


"Ya.. bebaslah." Raka ikut bersuara.


"Kamu Rian?" Tanya Maura lagi karena hanya Rian yang belum bicara.


"Aku antar kamu." Ucap Rian akhirnya.


"Oh.. oke.., yuk" Jawab Maura dan mengajak Rian kemudian.


Rian bangun dari duduknya dengan cepat. Berdiri dan segera menghampiri Maura. Sedangkan Vaya tengah menatap kepergian mereka perlahan.


Vaya terdiam, sampai akhirnya Raka menghentikan lamunannya.


"Va... Vaya..." Panggil Raka berkali-kali.


"Oh iya.. maaf, maaf." Pinta Vaya dengan cepat.


"Ngelamunin apa sih?"


"Ngelamun, enggak ah.."


"Ya..ya.. ada yang diam-diam suka Rian."


"Hah... Ssstttttt..." Teriak Vaya dan dengan cepat menutup mulut Raka saat itu.


Vaya tak menyangka, bahwa perasaannya terlihat oleh Raka. Rian yang sudah lama Vaya kagumi saja, tak pernah tahu tentang perasaan Vaya kepadanya selama ini.

__ADS_1


"Iya.. iya gua diem." Ucap Raka dan membuat Vaya tenang akhirnya.


"Jadi beneran lo suka Rian?" Tanya Raka lagi dan membuat Vaya kesal akhirnya.


"Enggak usah bahas itu, gantik topik." Pinta Vaya dan masih memandang kesal Raka. Sedangkan Raka terkekeh melihat kekesalan Vaya saat itu.


.


.


.


.


Maura dan Rian tengah melangkah bersama. Rian berada tepat di samping Maura saat itu. Rasanya Rian ingin sekali bertanya pada Maura, kenapa Maura bisa memutuskan untuk berpacaran dengan Gilang. Ada rasa tak setuju akan hubungan mereka yang baru saja terjalin.


"Kamu bahagia Ra?" Tanya Rian tiba-tiba dalam langkah mereka menuju sebuah minimarket yang berada di lantai dasar apartemen ini berada.


"Bahagia soal apa?" Tanya Maura bingung dan Menatap Rian saat itu.


"Oh.. bukan apa-apa. Kamu mau beli minum apa?" Tanya Rian mengubah arah pembicaraan.


Maura tampak mengerutkan keningnya sesaat, namun tak terlalu mempedulikan apa yang diucapkan Rian tadi padanya. Sekarang Maura sibuk menentukan minuman apa yang akan dibeli olehnyali untuk Vaya maupun Raka yang sedang menunggu kedatangan mereka.


Maura melanjutkan kesibukannya, kali ini memilih beberapa makanan ringan. Rian masih setia menemani Maura saat itu.


Setelah memilih cukup banyak makanan, merekapun menuju kasir untuk membayarnya. Semua sudah terhitung, dengan cepat Rian menawarkan diri untuk membayaranya.


"Heii.. aku saja." Tolak Maura.


"Jangan." Tolak Maura lagi.


"Aku saja yang bayar Ra.." Pinta Rian lagi.


"Pacarnya baik ya mbak." Goda kasir perempuan itu akhirnya.


Rian tersenyum mendengarnya. Maura malah terkejut dan menatap Rian saat itu. Setelah selesai melakukan pembayaran, Rian dengan segera meraih kantong belanjaan yang ada di hadapan mereka.


"Aku saja yang bawa." Ucap Rian dengan senyum dan Maura menggangguk setuju untuk hal ini.


Mereka kembali melangkah, keluar dari minimarket bersama, menuju apartemen lagi. Obrolan ringanpun terjadi diantara mereka sepanjang jalan menuju pulang.


.


.


.


.


.


Gilang membuka pintu apartemen. pandangannya mengarah ke seluruh ruangan. Ia mencari sosok Maura saat itu. Namun hanya Vaya dan Raka yang ia lihat.

__ADS_1


"Sudah pulang lo Lang." Ucap Raka.


"Ya.. di mana Maura?" Tanya Gilang yang masih sibuk menatap ke sekeliling.


"Hadooh baru aja sebentar enggak ketemu.. udah dicariin." Ledek Raka pada Gilang.


"Ngeledek aja lo." Ucap Gilang dan sekarang menatap Vaya yang tengah tertawa mendengarnya.


"Maura di mana Va?" Tanya Gilang kembali.


"Maura ke bawah Lang, beli minum." Jawab Vaya akhirnya.


"Sendiri?" Tanya lagi.


"Tenang aja, ada Rian yang jagain." Jawab Raka polos.


Ekspresi Gilang berubah dengan cepat. Setelah mengetahui bahwa Maura sedang bersama dengan Rian saat ini. Segera ia melangkah meninggalkan Raka dan Vaya lagi.


"Eh.. itu orang, baru nyampe udah pergi lagi." Ucap Raka bingung sambil menatap ke arah Vaya.


Vaya terdiam, sepertinya dia menyadari sesuatu. Gilang sepertinya mengetahui bahwa Rian diam-diam tengah menyukai Maura. Kepergian Gilang yang tergesa membuat Vaya berfikir seperti itu.


Sedangkan Gilang terus melangkah, turun ke lantai dasar dengan sangat tergesa. Maura memang akan baik-baik saja bersama Rian. Tapi hatinya yang tidak baik-baik saja saat ini.


Gilang masih terus melangkah, sampai akhirnya ia melihat Maura dan Rian dari kejauhan. Langkahnyapun terhenti sesaat. Melihat mereka tertawa bersama. Entah apa yang mereka bicarakan membuat hati Gilang tak nyaman.


Seketika tawa Maura terhenti, saat terlihat sosok Gilang yang kian mendekat. Begitupun dengan Rian. Wajahnya tak lagi tertawa. Mereka saling menatap.


"Hei.." Ucap Maura dan entah kenapa kehadiran Gilang membuat dirinya tersipu malu saat itu.


.


.


.


.


Lanjuttt.. semangat Author💪😎


Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Votenya juga ya, Supaya tambah semangat up nya.


💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁

__ADS_1


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


__ADS_2