Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Maaf


__ADS_3

Aku hanya ingin minta maaf, ku harap kamu mau memaafkan ku.


-Laras-


🌿🌿🌿


Lang, kau sudah bangun? Tanya Maura sambil menyisir rambutnya perlahan.


Pagi itu Maura dan Gilang tengah menelephone. Masing-masing sedang bersiap untuk kepergian Gilang.


"Ya Ra, aku lagi bersiap sekarang." Ucap Gilang dan meraih jam tangan lalu melingkarkan nya di tangan.


"Aku sebentar lagi ke tempatmu. Kita sarapan bersama setelah ini."


"Oke.." Ucap Gilang dan tersenyum. Pembicaraan pun berakhir setelahnya.


Tak berapa lama kemudian, Maura pun telah tiba di apartemen Gilang. Ia melangkah masuk dengan dua buah piring berisi spaghetti menjadi menu sarapan mereka pagi itu.


"Wah..enak sekali sepertinya."


"Tentu, kau harus menghabiskannya." Pinta Maura sambil meletakan ke dua piring itu di meja.


Gilang kemudian menghampiri Maura dan mengecup lembut kening Maura tiba-tiba.


"Terima kasih." Ucapnya dengan menatap penuh kebahagian.


"Yuk kita makan, nanti kamu telat."


Maura duduk kemudian, begitupun dengan Gilang. Ia duduk tepat di hadapan Maura pagi itu. Menikmati sarapan mereka bersama.


"Oh iya Lang, semalam Vaya telephone."


"Kenapa?"


"Rian kecelakaan." Jawab Maura dan menghentikan suapan Gilang.


"Aku berniat menjenguknya setelah mengantarmu nanti..." Ucap Maura lagi dan perlahan.


Gilang masih saja diam, tak merespon apa yang diucapkan Maura padanya.


"Boleh..?" Tanya Maura meminta persetujuan.


Bagaimanapun Maura tetap harus meminta izin pada Gilang, walaupun dia sudah berjanji pada Vaya semalam. Rian tengah sakit saat ini, seharusnya Gilang tak mempermasalahkan hal ini. Itulah yang dipikirkan Maura walaupun ia meragukannya sendiri.


Memang, sudah banyak yang terjadi antara Gilang dengan Rian, dan Maura selalu terlibat diantaranya. Seharusnya Gilang sudah yakin dengan perasaanya, sudah menghapus kekhawatirannya itu.


"Ya.. kau pergilah." Ucap Gilang dan tersenyum menatap Maura.


"Bagaimana Spaghettinya, enak?"


"Ya.. enak." Jawab Gilang dan kembali membuat Maura tersenyum pagi itu.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Gilang dan Maura pun bersiap untuk berangkat ke bandara segera.


.


.


.


.


Dengan langkah yang penuh dengan semangat, Bian tengah tersenyum sepanjang langkahnya itu. Ia sedang berjalan menuju tempat Laras, dengan sekantung bubur dan buah, ia bermaksud untuk mengajak Laras sarapan bersama.

__ADS_1


"Hai Bi, kau sudah datang." Sapa Laras saat pintu sudah terbuka dan tampak Bian ada di hadapannya.


"Ya..yuk kita makan." Ajak Bian kemudian sambil melangkah masuk ke dalam.


Laras memang sudah mengetahui bahwa Bian akan datang pagi ini ke tempatnya, Bian sudah menelephonenya semalam.


"Ini bubur yang kau mau, kau harus menghabiskannya biar cepat pulih." Ucap Bian sambil mempersiapkan sarapan mereka.


"Ya.."


"Yuk makan." Pinta Bian lagi sambil menyerahkan semangkuk bubur tepat di hadapan Laras.


"Enak Bi." Jawab Laras dan Bian kembali tersenyum mendengarnya.


Dengan duduk saling berhadapan, dengan senyum hangat diantara keduanya. Mereka sarapan bersama tanpa rasa sedih yang hadir.


"Bi, aku mau keluar. Kau mau temani aku?"


"Kau mau ke mana Ras?" Tanya Bian dan menghentikan suapannya.


"Banyak yang harus ku beli, lagi pula aku bosan sekali."


"Kamukan baru pulih Ras, nanti kalau kelelahan gimana, biar aku saja yang beli."


"Ayolah Bi, kalau aku lelah nanti bisa istirahat sebentar, lagian kan kamu ikut pergi."


Bian menghela napasnya kemudian, rasanya tak tega melihat Laras memohon padanya. Dia begitu lucu saat ini.


"Ya sudah."


"Thank you Bi." Ucap Laras dengan senyum terbaik untuk Bian.


"Tapi kau harus janji, kalau sudah lelah harus bilang."


.


.


.


.


"Jaga kesehatan kamu Lang."


"Iya Ra."


"Kabari aku jika sudah sampai."


"Ya.. kamu juga."


Maura masih saja terus menggenggam tangan Gilang pagi itu. Rasanya ia tak ingin melepaskannya. Matanya mulai berkaca-kaca. Pandangannya tak lepas dari wajah Gilang yang hadir di hadapannya.


"Sudahlah, aku hanya pergi beberapa hari." Ucap Gilang dan mengecup kening Maura lalu memeluknya.


Gilang merasakan kecemasan Maura. Ia mencoba menenangkan Maura dan itu berhasil.


Tadinya Gilang yang begitu cemas jika dia harus pergi, sekarang Maura yang terlihat begitu cemas.


"Kamu bisa menghubungiku kapanpun."


"Ya, ku tahu."


"Aku harus berangkat sekarang, Kamu hati-hati dijalan."

__ADS_1


"Ya.."


Gilang pun pergi, meninggalkan Maura akhirnya. Menatap kepergian Gilang perlahan, yang kian tak terlihat dari pandangan.


Maura menghela napasnya, melangkah perlahan sambil menatap sekelilingnya.


Di raih handphonenya kemudian, di kirimnya pesan untuk Vaya.


"Va.. kapan kamu akan ke tempatnya Rian lagi?" Tanya Maura yang merasa perlu ada orang lain selain dirinya ketika nanti menjenguk Rian.


"Dua atau tiga jam lagi Ra, nanti aku kabari." Jawab Vaya dan Maura langsung menatap jarum jam di pergelangan tangannya.


"Cukup sepertinya." Bisik Maura dan kemudian beranjak pergi.


.


.


.


.


"Kau yakin mau membeli ini semua?" Tanya Bian yang tampak terkejut ketika melihat keranjang belanjaan mereka yang sudah penuh sempurna.


"Ya." Jawab Laras dan tersenyum menatap Bian.


"Untung aku ikut bersamamu, kalau tidak bagaimana kamu membawanya seorang diri nanti."


"Oh iya Bi, ada yang mesti ki beli lagi."


"Lagi." Ulang Bian dan terkejut.


"Ayo sini." Ajak Laras dan langsung meraih salah satu lengan Bian dan merangkulnya. Menariknya dan mengajaknya untuk mengikuti langkahnya.


Bian tersenyum, rasanya sudah lama sekali ia tak merasakan ini. Mungkinkan Laras sudah melepaskannya, melepaskan rasa yang tak pernah mungkin bisa diharapkannya lagi."


Tiba-tiba langkah mereka terhenti. Laras menatap lurus sosok seseorang yang ada di hadapannya kini. Bian pun ikut menghentikan langkahnya.


"Hai.." Sapa Laras.


Maura, Maura yang tengah berdiri di hadapan mereka. Dirinya pun begitu terkejut saat itu. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Laras dan Bian.


"Permisi." Ucap Maura dan mencoba langsung melangkah pergi.


"Ra.." Panggil Laras dan membuat Maura menghentikan langkahnya namun masih tak membalikan tubuhnya.


"Ya.."


"Aku mau minta maaf." Ucap Laras dan membuat Maura maupun Bian yang mendengarnya begitu terkejut.


Ya.. Bian begitu terkejut, kata maap keluar dari mulut Laras.


"Ku harap kamu mau memaafkan ku." Lanjutnya.


.


.


.


.


Baca Novel "Sebatas Pacar Sewaan" juga ya, atau Cinta Pak Bos yang sudah ending. Terimakasih all🤗

__ADS_1


__ADS_2