Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Mimpi


__ADS_3

Ku harap itu hanya sebuah mimpi yang tak akan pernah terwujud. Memikirkannya saja hatiku sakit, apalagi harus mengalaminya.


-Maura-


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Akhirnya Gilang sampai di apartemen kembali. Rasa lelah karena keramaian jalan yang begitu memakan waktu tak seperti biasanya tengah hadir siang tadi. Gilang membuka pintu apartemen Maura dan saat dirinya telah berhasil masuk ke dalam, Gilang tampak panik sekali.


Terdengar Maura yang berteriak, rasa khawatir timbul begitu cepat di benak Gilang. Bahkan ia menjatuhkan tasnya ke sembarang tempat, berlari menuju kamar Maura segera.


Maura tampak terduduk, dengan nafas yang seperti berlomba tak menentu. Keringatnya membasahi wajahnya saat itu. Maura menangis dan tampak terkejut sekali.


"Ra.. kamu kenapa?" Tanya Gilang dan dengan cepat ia mendekat ke Maura.


"Gilang.." Ucap Maura dan hanya itu yang terucap dari mulutnya saat menatap kehadiran Gilang saat ini.


"Kamu bermimpi buruk?" Tebak Gilang akhirnya.


Maura yang mendengarnya tak mampu menjawab, ia tersenyum namun air mata terus turun di wajahnya. Ia menangis karena bahagia ternyata itu hanya sebuah mimpi.


Gilang yang melihatnya tampak bingung, namun ia tetap mencoba menenangkan Maura. Gilang memeluk Maura dan mengusap punggungnya perlahan.


"Tenanglah itu hanya mimpi."


"Ya untung hanya mimpi." Ucap Maura dan sekarang menatap wajah Gilang.


Gilang menghapus sisa-sia air mata yang masih menempel di wajah Maura. Ada rasa penasaran saat ini, penasaran akan mimpi Maura.


"Kamu bermimpi apa?" Tanya Gilang akhirnya.


"Aku tak mau membahasnya."


"Kamu sedang memimpikan ku."


"Tidak.."


"Kamu bermimpi aku meninggalkan mu?"


"Bagaimana kamu bisa tahu." Tanya Maura dan tampak terkejut sekali, namun Gilang tersenyum menatap dirinya.


"Kenapa bermimpi hal yang tidak penting seperti itu."


"Mana ku tahu, memangnya mimpi bisa di pesan." Ucap Maura dan tampak menekuk wajahnya.


"Aku di sini, aku tak akan meninggalkan mu. Mimpimu itu salah." Ucap Gilang lagi mencoba menenangkan kembali.


Gilang kembali memeluk Maura, mengusap kembali punggungnya. Mencium ujung kepala Maura. Maura sudah merasa tenang sekarang bahkan Ia tersenyum disepanjang pelukan Gilang.


"Bagaimana dengan kakimu sekarang?"


"Sudah lebih baik, aku cocok dengan obat yang kamu berikan."


"Bagaimana kalau kita ke dokter, setelah menjenguk Laras sore nanti?" Tanya Gilang dan membuat mulut Maura terkunci mendengarnya.


Maura teringat kembali akan mimpinya tadi. Mimpi dimana ia dan Gilang tengah menjenguk Laras di rumah sakit. Timbul rasa takut akan mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan lagi.

__ADS_1


"Ra.. Kamu kenapa?" Tanya Gilang lagi.


"Tidak, tidak apa-apa." Jawab Maura dan mencoba tersenyum.


"Ya sudah, kita makan siang dulu ya sekarang." Pinta Gilang kemudian dan disusul dengan anggukan Maura.


Gilang telah pergi melangkah meninggalkan Maura. Meninggalkan kebimbangan yang terjadi.


Dirinya yang telah membujuk Gilang untuk menjenguk Laras, tapi sekarang dia bimbang. Rasanya bodoh untuk percaya pada sebuah mimpi, namun rasa khawatir tak bisa terhindari.


.


.


.


.


Rian sedang menatap dirinya sendiri di depan sebuah cermin di hadapannya. Beberapa kali ia merapikan pakaiannya, rasanya masih saja terlihat kurang. Ia kembali merapikannya entah sudah berapa kali ia melakukan hal yang sama.


Rian menghela nafasnya kemudian, ia memutuskan untuk menghentikan aksinya dan melakukan hal yang lain. Merapikan rambutnya, kemudian meraih jam tangan dan memakainya. Memakai sepatu dan sudah terlihat rapi sekarang.


Memutuskan untuk pergi segera, setelah melihat jarum jam yang terus berputar menuju waktu yang sudah dijanjikan. Mengendarai mobilnya dan segera menuju ke rumah Vaya.


Setelah makan siang bersama Vaya tadi, Rian mencoba mengajak Vaya untuk pergi bersama kembali, sore menjelang malam ini.


Kehadiran Vaya, seakan menghapus sosok Maura. Rian tengah membuka hatinya kembali, mencoba menerima Vaya dan mencintainya. Berharap hatinya dapat menerima kehadirannya dan menetap dalam waktu yang lama di sana.


Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Rian telah sampai di rumah Vaya. Vaya tengah berdiri tersenyum menatap dirinya. Rian pun melangkah mendekat ke arah Vaya, meraih tangannya kembali.


"Kita pergi sekarang." Ajak Rian kemudian dan mereka benar-benar pergi saat itu.


Maura mencoba mengatur nafasnya, mencoba bersikap tenang. Rumah sakit ini mengingatkan dirinya akan mimpinya lagi.


Ditengah kebimbangan yang terjadi, sebuah tangan menyentuh tangan Maura dan menggenggamnya sekarang. Maura yang tadinya hanya diam menatap pintu masuk rumah sakit ini, mengubah pandangannya ke arah Gilang yang tanpa disadarinya sudah berdiri di sampingnya. Gilang tengah tersenyum menatap Maura.


Gilang memandangnya, Gilang sadar ada sesuatu yang mengganggu pikiran Maura sejak tadi. Tapi dia juga tidak mau memaksakannya Maura untuk bercerita padanya. Cukup memberikan kenyamanan padanya, cukup memberikan ketenangan padanya. Maura pasti akan bercerita, itu yang diyakini Gilang saat ini.


"Kita masuk ke dalam." Ajak Gilang dan kemudian melangkah perlahan.


Mereka sudah masuk lebih ke dalam. Mencari sebuah ruang yang telah ditunjukkan oleh salah satu staf rumah sakit di sana berada. Ruang perawatan yang berada di lantai empat rumah sakit ini.


Mencari nama ruangannya kemudian, dan akhirnya menemukannya. Gilang tampak mudah sekali melangkah, berbeda dengan Maura yang menjadi sangat sulit melangkah. Tanpa disadari, Maura menarik tangan Gilang seakan melarangnya untuk masuk.


Tatapan Gilang yang awalanya mengarah ke hadapan pintu yang sudah di depan mata, beralih ke arah Maura dan menatapnya, seakan meminta penjelasan akan sikap Maura barusan.


"Kenapa?" Tanya Gilang akhirnya.


"Aku..aku.." Ucap Maura ragu.


"Tidak mau masuk?, yasudah kita pulang saja." Ucap Gilang dan terdengar begitu mudah.


"Jangan.., ayo kita masuk ke dalam." Keputusan Maura akhirnya dan Mauralah yang membuka pintu akhirnya.


Seperti dalam mimpinya, terlihat sosok Laras yang tengah berbaring lemah di sana. Namun sosok pria yang duduk di sampingnya saat ini adalah Bian bukan Gilang.

__ADS_1


Laras dan Bian menyadari ada orang yang tengah datang mendekat ke arah mereka, saat terdengar suara pintu terbuka. Laras tampak terkejut melihat kedatangan Gilang. Pandangannya terus menatap ke arah Gilang yang saat ini tengah melangkah mendekatinya.


"Bagaimana keadaanmu Ras?" Tanya Gilang.


"Kamu bisa melihatnya sendiri sekarang." Jawab Laras dan jelas sekali wajahnya yang tak suka melihat Maura juga berada di hadapannya saat ini. Namun Laras senang, dapat melihat Gilang kembali.


Maura sadar, Laras tengah menatap dirinya. Tatapan kesedihan dan kekecewaan yang ditunjukkannya.


"Laras sudah lebih baik Lang." Jawab Bian di tengah kesunyian yang tiba-tiba saja terjadi.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku di sini?" Tanya Laras kemudian.


"Bian yang telah memberi tahukannya."


"Kenapa kalian mau datang? bukannya kalian sangat membenciku?" Tanya Laras lagi dan kali ini wajahnya tampak sedih.


Hening seketika mendengar ucapan Laras tadi. Gilang tak berucap begitupun dengan Maura.


"Laras.. bicara apa kamu?" Bentak Bian dan mengubah pandangan Laras ke arah Bian akhirnya. Bian tampak kesal dengan ucapan Laras tadi. Bian sudah berusaha membujuk Gilang datang, tapi dia malah berkata seperti itu.


Gilang mencoba memahami situasi yang terjadi. Menenangkan hatinya, mencoba untuk tidak terpancing emosinya, tidak terpengaruh dengan kata-kata Laras tadi.


"Aku mengatakan yang sebenarnya Bi, mereka membenciku." Ucap Laras dengan nada bicara yang cukup tinggi.


"Aku tidak mau ada salah paham lagi. Aku ke sini karena Bian yang memintaku untuk datang. Kalau bukan karena Maura yang membujuk, aku juga tidak akan pernah datang."


"Benarkan, kamu sangat membenciku Lang?"


"Kamu tanyakan sendiri pada dirimu. Kamu yang membuatku seperti itu." Ucap Gilang dan kali ini meraih tangan Maura dan menggenggamnya.


Laras tercengang mendengar ucapan Gilang barusan. Dirinya berfikir, apa yang dideritanya sekarang adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Hatinya sakit tak mau menerima kenyataan itu.


"Kami pamit, jaga kesehatanmu, bersikaplah lebih baik." Ucap Gilang lagi dan kali ini melangkah keluar mengajak Maura melangkah bersama.


Sebelum benar-benar pergi, tepatnya di depan pintu dan hendak membukanya. Gilang kembali berucap.


"Oh ya, Ada seseorang yang benar-benar peduli padamu saat ini. Kamu wanita pintar, seharusnya kamu cepat menyadarinya. Tapi keputusan di kamu, kamu yang bisa menentukan masa depanmu."


Laras hanya terdiam. Tak berkata-kata apapun mendengar ucapan Gilang. Gilang dan Maura kini benar-benar telah pergi. Meninggalkan kesunyian, meninggalkan kebimbangan, meninggalkan penyesalan.


.


.


.


.


Aku padamu Lang๐Ÿคง, semangat..semangat...๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช


Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘ˆ


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Giftnya Alhamdulillah, Supaya tambah semangat up lagi ๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.

__ADS_1


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐Ÿ˜‰ (Alhamdulillah udah tamat)


Cerpenku juga menunggu kehadiran kalian๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—, tinggal klik di profilku.


__ADS_2