Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Kesal


__ADS_3

Mungkin kamu sedang bersedih dan pasti kamu kecewa sekarang.


Tolong, Terimalah penjelasanku. Hanya itu yang kuharapkan saat ini.


-Gilang-


🌿🌿🌿


Gilang tampak tercengang melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Memanggil nama seseorang begitu kencang, seseorang yang baru saja ditemuinya.


"Laras." Teriaknya.


"Ah.. e.. " Ucap Laras gugup.


Laras yang menyadari bahwa aksinya telah diketahui Gilang dengan cepat melepas handphone milik Gilang kembali.


"Maaf Lang, maaf tadi handphonemu berbunyi terus."


"Lalu kamu punya hak untuk membukanya." Ucap Gilang dan tampak marah sekali.


Gilang melangkah begitu cepat, meraih handphonenya segera. Melihat siapa yng tengah menghubunginya.


"Aku hanya takut itu panggilan yang penting. Itu saja."


"Cepat pergi, ku minta cepat pergi dari sini sekarang."


"Lang, maafkan aku."


"Pergi dari sini juga sekarang, cepat..!!!" Ucap Gilang dan terdengar berteriak akhirnya.


Laras menurut akhirnya, sebelum ia benar-benar pergi, Laras menangis. Mengusap perlahan air mata itu tepat di hadapan Gilang.


"Maafkan aku Lang." Ucapnya terakhir kali sebelum akhirnya pintu itu tertutup kembali.


Setelah kepergian Laras, Gilang tampak mengatur nafasnya, mengatur emosinya. Ia jatuhkan tubuhnya segera ke kursi kembali. Ditatap kembali handphone miliknya dan dihubungi Maura segera.


"Angkat Ra.." Pinta Gilang berulang kali.


Maura tak mengangkatnya, tanpa berfikir panjang. Gilang langsung pergi meninggalkan tempat ini segera. Satu hal yang ada difikiran Gilang saat ini, Gilang hanya ingin bertemu dengan Maura.


.


.


.


.


Ingin menjerit sekerasnya, itu yang ingin Laras lakukan. Untuk pertama kali Laras mendengar Gilang berteriak padanya. Laras kehilangan sisi lembut dari sosok Gilang.


"Dulu dia tak pernah berteriak padaku." Bisiknya dan terisak seorang diri.


Malam itu Laras membatalkan makan bersama dengan yang lain. Hatinya sakit, sakit atas sikap Gilang padanya.


Sekarang dia hanya duduk sendiri di sebuah kafe. Hanya menatap minuman yang ada di hadapannya dan fikirannya terbang ke masa lalu saat dirinya masih bersama dengan Gilang.


"Kamu membenciku, kenapa?" Bisiknya dan air mata kembali terjatuh.


Terpuruk, itu yang sedang dirasakan Laras. Tanpa disadari seseorang hadir dan berada tepat di hadapannya.


"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Laras dengan wajah yang tampak basah karena air matanya.


"Gilang menolakmu lagi." Ucapnya dan kemudian ikut duduk di hadapan Laras saat itu.


"Kamu pasti senang melihatku seperti ini kan?"


"Hahaha... aku hanya kasihan, kasihan melihatmu."


"Ya.. aku memang pantas dikasihani. Puas kamu."

__ADS_1


"Kapan kamu mau mengakhiri semua ini Ras. Kamu tidak menyesal menyakiti dirimu sendiri."


"Kamu tau apa dengan diriku, bahkan kamu mencampakanku Bi." Ucap Laras dan kali ini terdengar sedikit kencang dan terisak kembali.


Bian yang ada di hadapannya sekarang. Mencintai Laras mungkin sebuah penyesalan baginya. Tapi untuk tidak peduli padanya itu sangat menyakitkan.


"Tenangkan dirimu Ras." Ucap Bian dan kali ini terdengar begitu lembut.


Perlahan Bian menyentuh salah satu punggung tangan Laras yang tergeletak tepat di atas meja saat itu. Bian mengusapnya mencoba menenangkan.


"Aku hanya ingin Gilang tidak berubah sikap padaku. Aku hanya ingin Gilang yang dulu." Ucap Laras lagi dan kali ini ia menangis kembali.


Bian menatapnya, rasanya ia begitu ingin memeluk Laras. Ingin menenangkan Laras lebih dekat. Namun ia sadar akan dirinya saat ini. Ia sudah tak punya hak untuk melakukan itu.


"Ini semua karena kamu Bi, karena kamu." Ucap Laras lagi dan kali ini bangkit dari duduknya dan mencoba pergi meninggalkan Bian.


Bian menahannya, menarik tangan Laras kemudian. Ikut berdiri bersama akhirnya.


"Aku minta maaf, aku minta maaf." Ucap Bian dan meraih tubuh Laras dan akhirnya memeluknya juga.


Laras menangis, dengan tangan yang terus memukul dada Bian. Ia lakukan berkali-kali hingga akhirnya terhenti sendiri.


Mencoba memahami apa yang sudah terjadi selama ini. Keegoisan menghancurkan segalanya. Penyesalan akhir dari semuanya.


Sedangkan Gilang, memutuskan untuk pergi menemui Maura malam itu juga. Gilang merasa harus bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini secepatnya.


"Tunggu aku." Ucap Gilang dengan wajah yang penuh dengan kecemasan.


.


.


.


.


Tok..tok..tok..


Tanpa disadari Maura, sang ibu sudah memperhatikan Maura sejak tadi. Maura yang membiarkan handphonenya terus berbunyi dengan wajah yang tampak kesal.


"Boleh ibu masuk Ra?" Tanya sang ibu, yang menyadari bahwa sesuatu telah mengganggu fikiran Maura.


"Ya bu."


"Ada apa?" Tanyanya saat dirinya sudah ikut duduk di sisi kasur yang juga tengah diduduki Maura.


"Enggak ada apa-apa bu." Jawab Maura berbohong.


"Hemm.. pasti ini tentang Gilang, benar tidak tebakan ibu."


"Ya." Jawab Maura singkat dan menundukkan wajah kemudian.


"Kamu menyukai Gilang kan Ra?"


"Ya pasti ibu."


"Lalu kamu yakinkan Gilang menyukaimu juga."


"Yakin dong bu."


"Lalu apa yang kamu cemaskan sekarang?"


"Enggak tau bu, Maura merasa kesal aja."


"Yasudah, kamu istirahat saja dulu. Tenangkan fikiran. Ibu tinggal ya, jangan lama-lama kesalnya."


"Ya bu." Ucap Maura dan setelah itu sang ibu pun pergi meninggalkannya kembali.


"Aku percaya, kamu memang mencintaiku Lang." Ucap Maura dengan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, sehingga terlihat jelas langit-langit kamar di atasnya.

__ADS_1


.


.


.


.


Malam sudah begitu larut, Gilangpun akhirnya sampai di rumah Maura. Pakaiannya sudah tak tampak rapi, wajahnyapun terlihat lelah. Gilang terus melangkah menuju sebuah pintu yang sudah terlihat jelas di hadapannya saat ini.


Menekan bel, dan menanti seseorang dapat membuka pintu untuknya. Hatinya masih tak tenang. Setelah beberapa menit menunggu, terbukalah pintu itu perlahan.


Gilang tersenyum dan menyapanya. Seorang wanita sudah berdiri tepat dihadapannya, tampak berfikir dengan kehadiran Gilang saat ini.


"Malam tante." Sapa Gilang.


"Ya, malam. Cari siapa ya?"


"Maaf mengganggu malam-malam, Saya Gilang tante."


"Oh.. Gilang, pacar Maura, ayo masuk."


Gilang menggangguk, mengikuti langkah wanita itu. Menatap sekeliling, melihat kesunyian.


"Duduk dulu Gilang."


"Terima kasih."


"Bentar ya, tante panggilkan Maura."


Gilang mengangguk, kedatanganya sudah langsung terbaca oleh ibunya Maura malam itu. Kedua tangan Gilang saling bertemu satu sama lain. Berpautan jari demi jari. Merasakan kegugupan yang begitu dalam.


Ditatap sekelilingnya, mencoba menghilangkan kecemasan. Sampai akhirnya terlihat sosok Maura sedang menuruni anak tangga dan menatap dirinya.


Gilang bangkit dari duduknya saat itu, rasanya ia ingin segera berlari mendekati Maura. Namun dia sadar, selain Gilang dan Maura masih ada ibunya Maura yang hadir diantara mereka.


Hanya berani saling menatap, tak ada suara yang terucap diantara keduanya. Sampai akhirnya sang ibu yang mulai bersuara.


"Ra, ibu tinggal ya. Kalian mengobrollah dulu."


Ibunya Maurapun pergi akhirnya. Meninggalkan kesunyian kembali.


.


.


.


.


Mohon maaf ya semua🙏mohon maaf atas segala kekurangannya.


Semangat terus Author💪


Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉 (Alhamdulillah udah tamat)

__ADS_1


Promo Novel baru boleh ya👉👈


"Sebatas Pacar Sewaan". Minta dukungannya di sana juga🙏. Terima kasih


__ADS_2