Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Cintanya Cintaku


__ADS_3

Ketika cinta tak harus memiliki, di saat itulah aku tak berani mengutarakannya.


-Vaya-


🌿🌿🌿


Sebuah butiran air jatuh di kepala Maura. Ia Menatap ke atas langit, tampak gerimis datang perlahan membasahi bumi.


Angin begitu kencang berhembus, terasa begitu dingin menyentuh kulit. Tangan Gilang menggandeng tangan Maura begitu erat, mengajaknya untuk berlari.


"Kamu bisa lari?" Tanyanya.


"Kenapa bertanya seperti itu, tentu saja aku bisa lari." Jawab Maura dan terdengar jengkel.


"Aku bermaksud menggendongmu, jika kamu mau."


"Tidak..tidak.. kita lari saja." Ucap Maura cepat dan kali ini dirinya menarik tangan Gilang dan mengajaknya berlari.


Butiran-butiran hujan itu tampak lebih cepat turun, dalam sekejap membasahi keduanya. Masih berlari dan akhirnya mereka sampai. Berhenti sejenak dan mengatur nafas kemudian. Tampak lelah karena berlari. Namun tersenyum saat kedua mata saling bertemu.


"Cepat kita ke atas, ganti pakaian." Pinta Gilang lalu menyentuh kepala Maura dan mengacak-acak rambutnya.


"Lang.." Teriak Maura dan menghentikan gerakan tangan Gilang di atas kepalanya.


"Yuk.." Ajaknya lagi.


Sekarang mereka melangkah bersama lagi, memasuki gedung, menuju ke lantai atas dan kamar mereka masing-masing.


.


.


.


.


Rian sudah kembali ke rumah, membuka jaketnya dan meletakannya di atas kasur. Ia jatuhkan tubuhnya kemudian menyusul jaket yang sudah terbaring di sana.


Ditatap langit kamarnya, terdiam dan kemudian berfikir lama. Teringat kembali kata-kata Vaya saat dirinya mengantarnya pulang tadi.


"Kamu masih menyukai Maura?" Tanya Vaya saat itu dan Rian hanya diam namun menatap sejenak Vaya.


"Kamu lihat tadikan, Maura tampak bahagia bersama Gilang." Ucap Vaya lagi dan kemudian tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di kursi mobil, mengingat kembali senyum dan tawa Maura saat bersama Gilang.


"Kamu pasti mendukung Gilang, karena dia saudaramu."


"Bukan seperti itu maksudku, aku hanya ingin membuat Maura bahagia, dan kamu.. juga berhak bahagia."


"Aku bisa membuatnya bahagia, dan aku bahagia jika bersamanya."


"Kamu akan melukainya, jika melakukan itu."


"Tidak akan."


"Hemm.. oke.., lakukan yang kamu mau saja. Oh ya.. nanti turunkan aku di minimarket, tak jauh dari sini."


"Sudah malam, aku antar pulang saja."


"Ada yang ingin ku beli, turunkan aku di sana."


"Kamu bisa membelinya lain waktu."

__ADS_1


"Aku perlu sekarang, kamu tak perlu menungguku, kamu bisa pergi setelah itu." Ucap Vaya dan membuat Rian terdiam.


Tanpa berucap, Rian menyetujui keinginan Vaya. Mengantarnya ke sebuah minimarket di pinggir jalan.


"Dah.. Rian, makasih tumpangannya." Ucap Vaya sebelum dirinya melangkah masuk ke dalam minimarket.


Vaya melangkah masuk kemudian, membuka pintu perlahan, mencoba tersenyum dan menatap sekitar. Lalu terdiam saat dirinya tersadar, bahwa tak ada satupun yang ingin dibelinya. Vaya hanya mencoba menghindar.. itu alasan utamanya menuju ke sini.


"Hemm.., Ku beli ini saja." Ucap Vaya akhrinya.


Sebuah kotak jus sudah digengamannya sekarang. Ia melangkah kembali menuju kasir dan membayarnya.


Lalu terdiam lagi, saat dirinya berhasil membuka pintu dan sedikit melangkah keluar. Dilihatnya Rian yang berdiri bersandar pada pintu mobil saat itu. Rian masih menunggunya. Vaya melangkah perlahan menuju Rian, dan masih menatap tak percaya.


"Kenapa kamu masih di sini?"


"Menunggumu, mengantarmu pulang."


"Aku sudah bilang, enggak usah menungguku kan."


"Aku sudah janji sama Maura untuk mengantarmu pulang."


"Hah.. oke.. terima kasih atas tawarannya aku menolak." Ucap Vaya dan melangkah begitu saja meninggalkan Rian.


"Hey.." Teriak Rian sambil meraih tangan Vaya dan menariknya kemudian.


"Ini sudah malam, biar ku antar."


"Aku bisa sendiri, terima kasih." Tolak Vaya sambil melepas genggaman tangan Rian dan berlalu pergi lagi.


"Kau marah Va..?" Teriak Rian dan tak dijawab oleh Vaya.


Vaya tetap melanjutkan langkahnya, melambaikan tangannya saat sebuah taksi segera melintas di hadapannya.


Rian menghela nafasnya setelah mengingat itu semua, memejamkan matanya sesaat. Lelah terasa dan kebingungan yang menumpuk.


"Kenapa dia harus marah." Gerutu Rian dan kembali menatap langit kamarnya malam itu.


.


.


.


.


Gilang dan Maura sedang duduk bersama, saling berhadapan. Sedikit sinar matahari tampak menyinari keduanya dari balik jendela besar di samping mereka berada.


Dua piring nasi goreng telah tersaji sempurna. Mengisi kekosongan perut, yang selalu berisik di pagi hari. Yah.. nasi goreng menjadi menu sarapan andalan mereka. Ada kisah indah dibaliknya, yang masih tersimpan rapi di hati mereka.


"Kamu sudah buka email Lang? Tadi ku kirimkan jadwalmu untuk satu minggu ke depan." Tanya Maura di sela-sela aktivitas sarapan mereka.


"Ya.. sudah kulihat, padat."


"Jangan lupa makan dan istirahat ya."


"Ada kamu yang mengingatkan."


"Belajar mandiri lah."


"Enggak mau."

__ADS_1


"Ish.. dasar manja."


"Hahaha.." Tawa Gilang dan kemudian melanjutkan sarapannya lagi.


"Kamu temani aku diacara talkshow nanti Ra."


"Ya.. aku asistenmu."


"Bukan, tapi istriku."


"Ih.. belum sah, Lang."


"Jadi kapan mau disahkan?"


Maura terdiam, gerakan tangannya untuk menyuap kembali juga terhenti. Gilang selalu mengarahkan pembicaraan ke arah sana. Membuat Maura bingung menjawabnya.


"Kenalan dengan orang tuaku dulu." Jawab Maura akhirnya dan tak berani menatap Gilang.


"Ok, kita jadwalkan." Ucap Gilang dan terlihat senyum lebar di wajahnya.


Kembali melanjutkan sarapan, obrolan kecil selalu hadir di mereka. Perdebatan ringanpun juga tak terlewatkan, namun selalu berakhir bahagia. Membuat senyum di wajah mereka dan entah sampai kapan.


.


.


.


.


Lanjutkan Lang, semangat💪💪💪, ku tunggu undangannya😅


Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.👈


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁

__ADS_1


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.


__ADS_2