Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Bersama


__ADS_3

Kamu hanya diam, membuatku makin penasaran.. Maaf jika akhirnya aku memberanikan diri untuk mencari tahu.


-Maura-


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Maura terbangun dari tidurnya. Membuka perlahan kedua matanya. Hal pertama yang ingin dilihatnya adalah sosok Gilang. Seingat Maura, Gilang tertidur di sampingnya. Namun saat ini, Gilang sudah tidak berada dekat dengan dirinya.


Terdengar suara handphone bergetar, sebuah handphone tergeletak di atas meja tepat di samping kasur ini berada. Maura mencoba bangun dan melihat.


Bian, nama yang tertulis pada layar handphone saat itu. Handphone Gilang yang bergetar. Tiba-tiba ada rasa penasaran yang timbul di benak Maura. Ada keinginan untuk mengangkatnya. Sempat terhenti dan bergetar kembali.


Tangan Maura pun bergerak ke arah handphone. Ada keraguan atau ketakutan jika Gilang melihat dirinya telah mengangkatnya. Mencoba memberanikan diri akhirnya. Sudah digenggamannya sekarang.


Diangkat, dan terdengar suara Bian di balik telephone saat itu. Tak berlangsung lama mereka berbicara, namun berhasil menggambarkan kecemasan di wajah Maura.


Handphone itu masih digenggam Maura, dan bersandar pada dadanya. Hatinya bimbang. Mengatur nafasnya kemudian, meletakan handphone itu kembali di atas meja. Kemudian memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Berjalan sangat perlahan, karena rasa sakit yang masih terasa di kakinya dan membuka pintu kemudian.


Setelah berhasil ke luar dari kamarnya, Maura kembali menatap sekeliling. Tampak sepi, tak ada sosok Gilang yang ia tangkap dari penglihatannya saat ini.


Maura kembali melangkah perlahan, dan kali ini ia menemukan Gilang. Berdiri dan memandang arah luar melalui sebuah jendela besar yang terbuka dengan tirai putih yang bergerak menari tertiup angin sore.


"Lang.." Panggil Maura saat dirinya sudah berada tepat di belakangnya.


Entah apa yang ada di pikiran Gilang saat itu. Kehadiran Maura tak dirasakannya. Ia tampak terkejut melihat Maura yang sudah berdiri begitu dekat dengan dirinya.


"Kamu sudah bangun, Ra?" Tanya Gilang dan kemudian meraih tangan Maura dan digenggamnya untuk lebih dekat bersamanya.


"Ya, aku baru saja bangun."


"Kita duduk di sana." Tunjuk Gilang pada salah satu sofa di dalam ruangan ini.


"Aku mau di sini aja, aku pengen tahu apa yang kamu lihat sejak tadi." Ucap Maura dan pandangannya menatap langit.


Gilang lalu menatap cepat Maura saat mendengar ucapannya. Mulutnya seakan terkunci tak dapat menjelaskan.


"Hanya keramaian jalan saja." Ucap Gilang akhirnya.


"Hemm.. ku pikir kamu sedang melihatku di langit." Ucap Maura dan tersenyum sambil menatap Gilang yang masih setia berada di sampingnya.


Gilang ikut tersenyum, dan genggamannya menjadi sangat erat.


"Aku sudah tahu apa yang terjadi." Ucap Maura lagi, dan berhasil merubah ekspresi Gilang.


Gilang tampak sekali terkejut. Wajahnya menatap wajah Maura seakan menunggu penjelasan dari perkataan Maura barusan.


"Laras sedang sakit kan."


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Bian barusan menghubungimu lagi, maaf aku mengangkatnya." Genggaman tangan Rian terlepas setelah mendengar ucapan Maura.

__ADS_1


"Apa yang kamu khawatirkan Lang?" Tanya Maura kemudian dan menatap wajah Gilang.


"Aku tidak mau membuatmu kecewa lagi."


"Aku tidak akan kecewa jika kamu mengatakan yang sebenarnya."


"Kamu ingat, apa yang terkahir kali Laras lakukan pada hubungan kita? Itu sudah kesalahan yang fatal. Aku tak bisa memaafkannya."


"Aku tahu. Tapi.."


"Ayolah Ra, aku sudah berusaha melupakannya, aku sudah berusaha menghindarinya.. dan sekarang aku sudah berhasil. Kenapa sekarang kamu malah membelanya."


"Bukan seperti itu maksudku. Dia sakit saat ini, aku yakin kali ini dia tidak berbohong. Aku hanya tak ingin kamu jadi jahat karenanya."


"Aku tak akan pergi, pokoknya aku tak akan pergi." Ucap Gilang dan kali ini melangkah menjauhi Maura.


"Lang, Au..." Panggil Maura dan berteriak karena rasa sakit di kakinya terasa kembali saat dia berusaha untuk menghalangi kepergian Gilang.


Gilang Mendengarnya, bahkan ia melangkah kembali ke arah Maura dengan cepat. Menggenggam kembali tangan Maura begitu kuat.


"Ra.." Panggil Gilang dan tampak khawatir di wajahnya.


"Aku tak memintamu untuk pergi sendiri ke sana, tapi kita pergi bersama ya.. Aku dan kamu." Ucap Maura sambil menatap wajah Gilang.


Gilang yang mendengar begitu terkejut, kenapa ia tidak berfikir akan hal ini. Mungkin memang lebih baik pergi bersama.


Selama ini, yang ada di pikirannya adalah bahwa ia takut mengecewakan Maura kembali. Jika dia menemui Laras, pasti Maura akan kecewa. Itu yang selalu ada di pikirannya. Tapi ternyata Maura punya cara lain.


Gilang sadar betul, tak mungkin Bian membohongi dirinya akan penyakit Laras. Laras memang mempunyai penyakit lambung, dan itu sudah dideritanya sejak dulu.


Gilang ikut menatap wajah Maura. Ia tersenyum dan kemudian memeluknya.


"Aku mencintaimu, sangat Ra, sangat mencintaimu." Ucap Gilang dengan kedua tangan yang sudah sempurna melingkar di pinggang Maura.


"Ya.. aku tau." Jawab Maura dan tampak bingung menatap Gilang yang tiba-tiba saja bilang cinta padanya.


"Bukan itu jawaban yang ku mau."


"Apa..?


"Jika aku bilang, aku mencintaimu, kamu juga harus bilang mencintaiku."


"Ok.. ulang." Ucap Maura dan tersenyum.


"Aku tak mau mengulangnya, akan berbeda rasanya, jika diulang."


"Oke, begini saja, dengarkan aku." Ucap Maura dan kali ini tangannya ikut melingkar di pinggang Gilang.


Maura berhenti bicara untuk sesaat, dan Gilang tampak menunggu saat itu, dengan terus menatap wajah Maura.


"Aku mencintaimu, sangat Lang, sangat mencintaimu." Ucap Maura dan diakhiri dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


Gilang ikut tersenyum saat itu. Kali ini salah satu tangan Gilang menyentuh wajah Maura dan kemudian lehernya seakan menarik wajahnya untuk lebih dekat bahkan sangat dekat dengan dirinya.


Gilang berhasil menyentuh bibir Maura, menyentuh lembut dengan bibirnya. Menciumnya begitu dalam. Terasa pelukan Maura pada dirinya yang begitu kuat.


.


.


.


.


Laras menatap Bian dengan air mata yang sudah berkumpul di kedua matanya itu. Ia sedang menahan tangisnya, bukan karena sakit yang dirasakannya, tapi lebih karena rasa sesal yang tengah menghampirinya saat ini.


"Aku kupaskan apel untukmu." Ucap Bian dengan sebuah Apel merah dan pisau kecil yang sudah berada di kedua tangannya saat ini.


"Tidak perlu Bi, aku bisa sendiri."


"Tapi aku ingin mengupasnya." Ucap Bian dan kali ini terkesan memaksa.


"Kenapa kamu masih seperti ini padaku, Aku kan sudah mengecewakanmu. Kenapa kamu masih begitu baik?" Tanya Laras dan Bian hanya terdiam.


"Bi.." Panggil Laras lagi namun kali ini terdengar berteriak.


"Aku sudah memotongnya, kamu makanlah." Pinta Bian dengan mengarahkan satu potong apel ke arah Laras mencoba menyuapi tanpa menjawab apa yang ditanyakan Laras tadi.


Laras tampak kesal melihat sikap Bian itu. Ia tak mau menjawab apapun yang ditanyakan pada dirinya. Tangan Laras pun menepis kedatangan potongan apel yang sudah sangat dekat menghampiri dirinya.


Terjatuh..dan memalingkan muka kemudian. Bian yang melihatnya hanya terdiam, tetap tak menunjukan ekspresi yang berarti. Bian hanya bangkit dari duduknya, dan kemudian mengambil garpu yang terjatuh itu.


"Aku akan minta garpu baru, kamu istirahat saja dulu." Ucapnya lagi dan berlalu pergi kemudian.


Air mata Laras pun tumpah akhirnya. Menatap sikap Bian saat ini. Terisak.. menangis begitu kencang dan tanpa disadari Laras, Bian sedang bersandar di balik pintu, mendengar tangisan Laras.


Diraihnya handphone miliknya, dihubungi Gilang kembali. Namun Bian terkejut saat mendengar suara Maura yang ada dibalik telepon milik Gilang.


.


.


.


.


Pokoknya semangat โ˜บ๏ธ, Semangat... semangat... semangat...๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช


Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘ˆ


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Giftnya Alhamdulillah, Supaya tambah semangat up lagi ๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.

__ADS_1


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐Ÿ˜‰ (Alhamdulillah udah tamat)


Cerpenku juga menunggu kehadiran kalian๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—, tinggal klik di profilku.


__ADS_2