Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Cemburu yang Indah


__ADS_3

Ku pastikan, dihatiku hanya ada kamu, rasa sayangkupun untukmu, begitupun rasa cintaku.


Percayalah..


-Maura-


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Maura menyandarkan tubuhnya pada kursi taksi yang sedang didudukinya saat ini. Menarik nafas begitu panjang dan menghembuskannya perlahan. Maura begitu kesal melihat kedatangan Laras tadi.


"Kita jalan sekarang pak." Pinta Gilang pada pak supir taksi saat itu.


"Yakin." Ucap Maura dan membuat beberapa kerutan di kening Gilang tanda berfikir.


"Maksudmu apa?"


"Enggak mau berlama-lama dengan Laras dulu."


"Hemm... jalan sekarang pak." Pinta Gilang lagi pada pak supir dan tak membalas ucapan Maura padanya barusan.


Maura diam, pandangannya menatap ke luar kaca jendela mobil. Wajahnya cemberut karena rasa kesal yang tak kunjung sirna.


"Ra.." Panggil Gilang.


"Hem.." Jawab Maura sesukannya.


"Ayolah jangan seperti ini."


"Lalu seperti apa, tersenyum melihat kamu bertemu dengannya."


"Ra.. kamu kenapa sih akhir-akhir ini. Coba jelaskan salahku dimana."


"Salahmu, kamu pernah suka sama dia."


"Ra.. Hah sudahlah.."


"Ya.. Benarkan apa yang ku bilang barusan."


"Yang mana..?" Tanya Gilang lagi dan tampak bingung sekarang.


"Kamu suka sama dia?"


"Itukan dulu Ra."


"Mana tau kalau sekarang masih ada rasa."


"Ah.. terserah kamu."


"Loh.. loh.. kok jadi kamu yang marah." Ucap Maura dan kali ini menatap wajah Gilang yang tak lagi menatapnya.


"Aku salah terus dari tadi, aku mau diam saja."


"Ya sudah kita diam saja sepanjang jalan."


"Arghhhh.." Teriak Gilang dan membuat Maura terkejut lalu tersenyum saat melihat Gilang mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


Rambutnya tampak berantakan, namun terlihat lucu bagi Maura. Sedangkan Gilang begitu serba salah menghadapai Maura, menjawab salah, diampun salah.


"Pak.. istri bapak suka marah-marah begini enggak?" Tanya Gilang pada pak supir sambil melirik Maura yang tangannya terlipat rapi di dada.


"Oh.. kadang mas, biasanya saat tamu bulanannya datang." Jawab pak supir dan membuat Maura dan Gilang sama-sama berfikir.


"Tanggal berapa sekarang?" Tanya Maura tiba-tiba.


"Kenapa kamu tanya tanggal?"


"Ishh.. ditanya malah nanya lagi."


"Tanggal lima."


"Oh.. pantas."


"Ada apa dengan tanggal lima?"


"Ishh.. kepo."

__ADS_1


"Ra.." Panggil Gilang mencoba meminta penjelasan.


"Masa masnya enggak paham, istrinya kan?" Tanya pak supir lagi.


"Belum pak, di lamar belum mau." Jawab Gilang dan kembali melirik Maura.


"Siapa yang enggak mau." Jawab Maura cepat.


"Jadi kamu mau ku lamar." Ucap Gilang dan terlihat senyum di wajahnya.


"Enggak romantis ah.." Ucap Maura mencoba menutupi senyumnya saat itu.


"Yes..yes.. lamaranku diterima." Teriak Gilang dan kembali membuat Maura terkejut.


"Kapan aku bilang begitu?"


"Hatimu yang bilang begitu barusan."


"Hah.." Teriak Maura dan akhirnya ia tak tahan untuk tersenyum juga.


"Sudah ya marahnya." Bujuk Gilang sambil menggenggam tangan Maura.


Maura sadar, bahwa rasa kesalnya tak seharusnya dilimpahkan ke Gilang. Ada rasa bahagia saat Gilang tadi membela dirinya di hadapan Laras. Gilangpun dapat menahan emosinya bahkan membuat Maura tersenyum walau Maura sudah sangat menjengkelkan.


Perdebatanpun berakhir begitu saja, dengan senyum di masing-masing wajah mereka. Lalu terdengar getaran handphone milik Gilang, Gilang mengangkatnya dan sengaja dibuat terdengar oleh Maura. Vaya yang menghubunginya saat ini.


"Kaliannn lamaaaa sekali." Teriak Vaya dan membuat Gilang menjauhkan handphonenya dari hadapan dirinya dan Maura.


"Berisik kamu Va." Tuduh Gilang setelah teriakan itu berkahir.


"Dimana kalian sekarang?"


"Sebentar lagi sampai Va." Jawab Maura.


"Salah sendiri, kenapa datang terlalu cepat." Ucap Gilang lagi.


"Lohh.. akukan kangen sama Maura."


"Iya Vaya.." Jawab Maura.


"Ya.. Siapa ya?"


"Rian, dia bersamu ku sekarang."


"Oh.. bagus dong, jadi kamu tidak bosan."


"Tetap saja lama." Jawab Vaya dengan Cepat.


"Sudah..sudah matikan telephonenya. Handphoneku lowbat." Pinta Gilang dan langsung mematikan pembicaraan itu.


Maura menatap bingung Gilang, dia menyimpan handphonenya begitu cepat setelah mematikannya.


"Kamu kenapa?" Tanya Maura akhirnya.


"Enggak apa-apa."


"Cepat katakan, kenapa?"


"Enggak apa-apa."


"Hemm pasti cemburu nih." Ucap Maura dan tertawa akhirnya.


"Siapa yang cemburu."


"Ya.. kamulah, masa pak supir."


"Tidak.." Jawab Gilang cepat.


"Ya sudah kalau tidak, jangan salahkan aku kalau aku nanti dekat-dekat dengannya."


"Enggak boleh, dilarang keras." Jawab Gilang cepat dan membuat Maura kembali tertawa.


"Kamu senang ya sekarang, melihatku seperti ini."


"Maaf.. maaf, aku janji hanya kamu yang akan ku dekati." Ucap Maura dan mencoba menahan tawanya.

__ADS_1


Perjalanan mereka terlihat begitu singkat dan berkesan. Tak berapa lama kemudian merekapun tiba. Gilang dan Maura memastikan semua barang bawaan mereka tak tertinggal.


Berdiri saling berdampingan menatap sekeliling, rasa rindu terasa di keduanya.


"Ingat jangan dekat-dekat dengan Rian."


"Iya sayang." Jawab Maura dan mereka saling tersenyum satu sama lain.


.


.


.


.


Vaya terlihat berlari menuju Maura saat ini. Tangannya seakan terlihat ingin meraih tubuh Maura dan memeluk dirinya dengan cepat. Benar saja, saat Maura sudah berapa di hadapannya, Vayapun langsung memeluknya. Mengucapkan kata kangen berulang kali.


"Ayolah Va, lepasin."


"Enggak mau masih kangen."


Maura pun akhirnya membiarkan Vaya memeluknya begitu lama.


"Makasih ya.." Ucap Maura sambil mengusap lembut punggung Vaya saat itu.


"Jahat pergi enggak bilang-bilang."


"Ya.. kalau bilang nanti ketauan."


"Pokoknya jahat."


"Iya.. iya.. maaf." Jawab Maura menenangkan.


Vayapun melepaskan pelukannya. Rasa rindu sudah sedikit terobati. Sekarang tatapan Maura beralih ke Rian, Rian yang sekarang memanggil namanya.


"Hai Lang, hai Ra.." Sapa Rian.


"Hai juga Rian." Jawab Maura namun mendapat lirikan tajam dari Gilang. Entah kenapa Maura malah senang melihatnya.


"Ya sudah kita ke atas yuk." Pinta Maura dan langsung beranjak pergi dan tak lupa menggandeng Vaya untuk melangkah bersama. Meninggalkan Gilang dan Rian begitu saja.


"Aku bantu bawakan." Ucap Rian pada Gilang.


"Kamu bawa punyaku saja. Punya Maura biar aku yang bawa." Pinta Gilang dan kali ini menyusul pergi menuju Vaya dan Maura. Tanpa disadari hal itu membuat Rian tersenyum.


.


.


.


.


Lanjut.. lanjut.. makan kue..๐Ÿฐ


Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘ˆ


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak ๐Ÿ˜Š


ratenya juga ya kak๐Ÿ˜‡


dikasih hadiah juga boleh๐Ÿ˜Š


di Vote Alhamdulilah๐Ÿ˜


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐Ÿ˜‰


Terima kasih yang sudah Vote๐Ÿ˜˜, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐Ÿ˜Š.


__ADS_1


__ADS_2