Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Harapan Vaya


__ADS_3

Biarkan aku merasakan ini, merasakan kebahagian ini, merasakan cinta ini.


Ku harap, ini buka rasa sesaat yang sedang kau berikan.


-Vaya-


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Vaya sedang melangkah menuju kelasnya, ia terlihat terburu-buru sekali. Semalam ia tak dapat tidur dengan baik. Sosok Rian selalu hadir setiap kali ia memejamkan matanya.


Bahkan ciuman itu, masih membekas dan tak bisa hilang dalam pikiran Vaya. Setiap kali Vaya bercermin, ia selalu menyentuh lembut bibirnya dan teringat kembali ciuman Rian itu.


"Aku pasti sudah gila." Ucap Vaya di setiap langkahnya.


Namun, langkahnya terhenti.. ia melihat Rian dari kejauhan yang sedang melangkah lurus menuju dirinya.


Vaya tampak panik, rasanya ia ingin menghindar. Namun ia tak tahu harus pergi kemana. Ia berlari dan masuk ke ruangan lain, sebuah kelas dan bukan kelasnya. Vaya bersembunyi di sana, berharap Rian tak melihatnya dan berlalu melewatinya.


Vaya masih berdiri di depan pintu. Menunggu Rian pergi melewatinya. Namun ternyata itu hanya sebuah harapan semata, sekarang Rian tengah berdiri di hadapan Vaya dan tampak terkejut.


"Vaya, kenapa di sini?" Tanya Rian dan berhasil membuat Vaya gugup seketika.


"Ah.. kamu sendiri?" Tanyanya tanpa menjawab apa yang dipertanyakan Rian barusan.


"Ini kelasku." Jawab Rian dan kali ini membuat Vaya tertunduk malu dan tak berani menatapnya.


"Oh.. iya, kalau begitu aku pergi dulu." Jawab Vaya dan mencoba melangkah cepat meninggalkan Rian.


"Va, tunggu.." Panggil Rian dan berhasil menghentikan langkahnya.


"Ya.." Jawab Vaya cepat.


"Siang ini, aku tunggu kamu di kantin." Pinta Rian dan Vaya pun mengangguk menyetujuinya.


Vaya kembali melangkah, menuju kelasnya. Sepanjang jalan ia tersenyum. Kebodohannya sepertinya sudah terlihat oleh Rian.


"Kenapa aku lupa itu kelasnya." Ucap Vaya sendiri dan tertawa kecil akhirnya.


"Rian juga baru datang, apa mungkin dia enggak bisa tidur juga semalam?" Kali ini Vaya tersenyum kembali karena memikirkannya.


Vaya tampak tersipu di setiap langkahnya. Ia merasa, apa yang diimpikannya sejak lama sedang terwujud saat ini. Namun ada ketakutan dalam hatinya, takut ini hanya sebuah kebahagian yang sesaat.

__ADS_1


Siang pun akhirnya tiba, waktu berlalu begitu cepat. Rian sedang bersiap, melangkah keluar kelasnya menuju kelas Vaya.


Ditempat lain, Vaya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Rian. Ada rasa yang begitu tak menentu sekarang, ada rasa takut dan juga rasa ingin segera bertemu dengan Rian.


Vaya tampak terdiam, saat buku terkahir belum sempat ia masukan ke dalam tasnya. Ia termenung dan tersadar dengan cepat saat salah satu teman kelasnya menyapa dan berpamitan padanya.


Vaya tersenyum, dan melanjutkan merapikan semuanya.


Gugup, itu yang di rasakan Vaya saat ini. Setelah merasa siap, Vaya pun bangkit dari duduknya dan melangkah ke luar kelas seperti yang lainnya.


Vaya terhenti kemudian, tepatnya di depan kelasnya. Sosok Rian sudah berada di sana, tersenyum dan menyapanya.


"Hai, sudah.." Ucapnya.


"Ya.." Jawab Vaya dan sedikit mengangguk.


"Yuk.."Ajaknya kemudian.


Vaya terkejut sekali, tiba-tiba saja tangan Rian meraih tangannya dan menggandengnya. Bahkan ia menatap tangannya itu hingga berulang kali.


Rian tengah menggenggam tangannya saat ini, mengajaknya untuk melangkah bersama dengan dirinya.


Di tempat yang berbeda, Gilang melangkah begitu cepat meninggalkan kelasnya juga. Setelah kelas berakhir, hanya satu yang diinginkannya, yaitu kembali secepat yang ia bisa. Maura saat ini sedang sendiri di apartemen.


Namun langkahnya terhenti tiba-tiba, saat ia melihat sosok Vaya dan Rian tengah melangkah bersama. Gilang sadar betul ada sesuatu yang berbeda diantara mereka. Bahkan Gilang melihat dengan jelas Rian tengah menggandeng tangan Vaya. Walaupun posisi Gilang saat ini berada di belakang mereka.


Namun Gilang tak terlalu memikirkannya. Memikirkan Maura adalah yang utama dibandingkan apapun dan siapapun. Gilang kembali melangkah, melanjutkan perjalannya untuk pulang.


.


.


.


.


Langkah kaki Maura terasa berat sekali. Rasanya ia tak sanggup untuk melanjutkan langkahnya lagi. Gilang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam. Sosoknya tak lagi tampak di hadapannya. Hanya sebuah pintu yang seakan memanggil Maura untuk segera membukanya.


Maura mengatur nafasnya, mencoba memberanikan diri melihat ke dalam. Saat ini Gilang tengah berada bersama Laras. Entah apa yang terjadi, pembicaraan apa yang telah terlewati, yang pasti tangisan bahkan teriakan Laras, begitu terdengar saat ini.


Berat.., tapi Maura tak bisa terus menunggu. Menunggu mereka yang bersama kembali. Tersentuh sudah oleh Maura pintu yang ada di hadapannya. Membukanya perlahan dan akhirnya dapat menatap jelas mereka.

__ADS_1


Laras yang tengah terbaring lemas dengan Gilang yang tengah duduk dan berada persis di samping Laras.


"Tolong maafkan aku, Lang. Aku melakukan itu karena aku mencintaimu." Ucap Laras dan membuat Maura menghela nafasnya.


"Tolong katakan kamu masih mencintaiku Lang." Pinta Laras dengan wajah yang basah dengan air matanya.


Maura mendengar ucapan Laras itu, rasanya ia ingin sekali marah pada Laras. Rasanya ia menyesal telah membujuk Gilang untuk datang menjenguknya.


"Aku juga masih mencintaimu." Ucap Gilang di tengah kesunyian, di tengah kekesalan yang Maura rasakan saat itu.


Ingin sekali Maura melangkah lebih cepat ke mereka, memastikan dan berharap apa yang didengarnya adalah salah.


"Gilang.." Teriak Maura akhirnya, karena kenyataanya ia tak sanggup melangkah setelah mendengar pengakuan Gilang barusan.


Gilang dan Laras mengarahkan pandangannya ke arah Maura dengan cepat. Maura yang tengah berdiri di depan pintu yang kedatangannya tak disadari oleh mereka.


"Maura.." Panggil Gilang dan kali ini Gilang bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri Maura.


Namun Maura berlari, ia berlari dan terus berlari. Hatinya terasa sakit, nafasnya terasa sesak sekali. Maura berlari dengan tangis yang tak kunjung terhenti.


.


.


.


.


Hua...Hua..๐Ÿ˜ญ, sabar ya ini pujian eh ujian๐Ÿ˜“


tenang dulu ya..๐Ÿคง dan semangat...๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช


Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘ˆ


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Giftnya Alhamdulillah, Supaya tambah semangat up lagi ๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐Ÿ˜‰ (Alhamdulillah udah tamat)


Cerpenku juga menunggu kehadiran kalian๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—, tinggal klik di profilku.

__ADS_1


__ADS_2