
Aku merasakan kenyamanan saat kamu memelukku dalam tidur. Ku harap, saat hari itu telah tiba, kamu akan selalu memelukku seperti malam ini.
-Maura-
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
"Ra.." Panggil Gilang sambil melangkah lebih ke dalam menuju ruang demi ruang mencari sosok Maura berada.
Maura berjanji akan kembali, tapi hingga malam tiba sosoknya belum juga muncul ke apartemen Gilang.
"Ra.., Maura.." Panggilnya berulang kali, membuka pintu kamar namun Maura tak juga berada di sana.
Tiba-tiba saja Gilang merasa panik. Keadaan seperti ini mengingatkannya lagi ketika Maura pergi meninggalkannya waktu itu.
Gilang meraih handphonenya, dihubunginya Maura, namun ternyata terdengar deringan hanphone dari arah tempat tidur. Ya.. handphone Maura tergeletak di sana.
Gilang makin panik, dia membalikan tubuhnya segera dan melangkah keluar. Namun tertahan ketika terdengar suara pintu terbuka. Pintu kamar mandi, ia melewatkan ruangan itu.
Maura terlihat dibalik pintu itu. Wajahnya terlihat lesu, dengan tangan yang menekan ke perutnya. Gilang menghampirinya, dengan rasa cemas yang masih terlihat jelas di wajahnya.
"Kamu di sini Lang, sejak kapan?" Tanya Maura saat Gilang sudah berada di hadapannya saat ini.
"Kamu ngapain di dalam? Bikin panik saja."
"Makan." Jawab Maura asal lalu melangkah melewati Gilang munuju tempat tidur.
"Hah.. makan! ngapain makan di kamar mandi?"
"Ihh.. lagian kamu aneh, pake nanya ngapaian di kamar mandi." Ucap Maura dan sekarang sudah duduk lalu mengangkat kakinya dan meletakannya di atas tempat tidur.
Maura menyandarkan tubuhnya kemudian, menarik selimut dan meletakkan sebuah bantal untuk menutupi perutnya sendiri.
"Aku panik saja tadi, aku enggak liat kamu dimanapun." Ucap Gilang dan kali ini menyusul ke arah tempat tidur dan duduk tepat di samping Maura.
"Kamu kenapa? sakit?" Tanya Gilang dengan salah satu tangan yang menempel di kening Maura.
"Aku enggak demam Lang, hanya perut ku saja yang sakit."
"Oh..mau ke dokter?"
"Enggak usah, lagian ini hanya sakit sesaat saja."
"Mau ku buatkan sesuatu?"
"Enggak usah Lang, aku mau istirahat saja, boleh?"
"Kamu ngusir aku Ra?"
"Ha.. enggak seperti itu, Hemm.. terserah kamulah." Ucap Maura dan kali ini ia menjatuhkan tubuhnya untuk berbaring kemudian.
Maura tarik selimut kembali hingga menutupi tubuhnya sekarang. Meninggalkan Gilang yang masih duduk setia di sampingnya.
Awalnya Gilang terkejut dan hanya diam menatap itu semua. Lalu ia ikut membaringkan tubuhnya tepat di samping Maura.
Gilang sudah berbaring sekarang. Maura yang sekarang terkejut saat nenyadari bahwa Gilang ada di sampingnya dan tertidur bersama. Awalnya Maura membelakanginya namun ia membalikan tubuhnya dan menatap Gilang yang tersenyum melihat keterkejutan Maura.
"Kamu ngapain?"
"Temani kamu."
__ADS_1
"Lang.."
"Sudahlah kamu tidur saja."
"Tapi Lang."
"Sudah nurut saja, sambil ku usap perutmu."
"Enggak usah Lang."
Gilang tak bersuara, namun tangannya langsung meraih tubuh Maura dan memeluknya.
Jantung Maura langsung berdetak begitu kencang saat itu. Aroma tubuh Gilang tercium dengan jelas, detak jantungnya pun begitu terasa di telinga Maura. Gilang memeluk Maura dalam tidur. Mencium kening Maura dan mengusap rambutnya perlahan.
"Istirahat Ra" Ucap Gilang lalu mencium kembali kening Maura.
Maura tak bersuara, tak menolak maupun tak mengiyakan. Ia hanya tersenyum dan kemudian memejamkan matanya perlahan. Merasakan kehangatan saat Gilang memeluk dirinya, merasakan kebahagian saat Gilang mencium keningnya. Merasakan kenyaman saat detak jantung mereka terdengar seirama.
Sinar rembulan tampak begitu terang, menyelinap masuk dari celah kecil jendala kamar Maura yang tak sengaja tertutup tirai. Seolah mengintip tidur mereka malam itu.
Sunyi dan sepi, hanya dentingan jarum jam dan hembusan nafas mereka yang terdengar. Maura makin terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Gilang tetap memeluk Maura, Ia sempatkan untuk menatap wajah Maura. Dicium kembali kening Maura.
"Selamat tidur Ra." Ucap Gilang sambil merapikan beberapa helai rambut yang tak sengaja menutupi wajah wanita kesayangannya.
Kini wajah Maura sudah terlihat jelas, Gilang tersenyum lagi lalu mencoba untuk ikut tertidur menemani Maura sepanjang malam.
.
.
.
.
Gilang sudah tidak ada bersamanya. Maura terdiam lalu tersenyum sendiri, saat bayangan wajah Gilang yang semalam hadir kembali di fikirannya sekarang.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara handphone berdering. Tatapan Maura dengan cepat mengarah ke sumber suara itu berasal. Maura meraihnya dan melihat nama yang tertera pada layar handphone miliknya.
Gilang yang tengah menghubunginya. Wajah Maura kembali tersenyum dan langsung mengangkatnya.
"Ra.. kamu sudah bangun?"
"Ya.. Kenapa?"
"Aku ada yang mesti dikerjakan pagi ini. Tadi ingin membangunkanmu, tapi kamu pulas sekali."
"Kapan kembali?"
"Kamu sudah merindukanku saja Ra. Semalamkan kita sudah tidur bersama."
"Lang, jangan berkata seperti itu, nanti orang salah paham."
"Hahaha.., Aku pasti cepat kembali, nanti ku kabari lagi. Berangkatlah kuliah bersama Vaya. Dia akan datang menjemput kamu."
"Ya.. kamu hati-hati."
Tersenyum lagi setelah pembicaraan mereka berakhir. Tak lama kemudian terdengar suara bel apartemen berbunyi.
Maura terkejut, mungkinkah itu vaya. Kedatangannya terlalu cepat menurut Maura. Maurapun segera bangkit dari tidurnya, melangkah dengan cepat menuju pintu masuk, saat suara bel berbunyi kembali untuk kesekian kali.
__ADS_1
"Ya.. sabar Va." Teriak Maura sepanjang langkahnya.
Maura membuka pintu yang sudah ada di hadapannya dengan cepat. Lalu terdiam saat menyadari bukan Vaya yang berada di hadapannya. Entah kenapa Maura malah menutup pintu itu kembali.
"Hah.., kenapa dia yang datang?" Bisik Maura sendiri.
Bel apartemen kembali berbunyi, menyadarkan lamunan Maura saat itu. Ditatap dirinya sendiri, rambut yang tampak berantakan, dengan baju tidur yang masih dikenakannya.
"Sudahlah.. cuek saja." Bisik Maura lagi dan membuka pintu itu lagi.
"Kenapa ditutup lagi?" Tanyanya bingung.
"Kaget.. ku fikir Vaya." Ucap Maura apa adanya.
"Oh.. Vaya mau ke sini?"
"Ya.."
"Oh.. aku boleh masuk?"
"Oh.. iya sampai lupa." Ucap Maura dan mempersilakannya untuk masuk akhirnya.
Setelah menutup pintu dan ikut melangkah masuk ke dalam, selama itu pula Maura berfikir satu hal.
"Kenapa aku mengizinkannya masuk, haduh.. Gilang pasti marah jika tau." Gumam Maura sendiri.
"Tenang Maura sebentar lagi Vaya datang, tenang." Gumamnya lagi dan terus melangkah tanpa memperhatikan langkahnya.
"Aduh.." Ucap Maura kali ini dan terdengar sedikit kencang.
Maura menabraknya, menabrak pria yang ada di hadapannya saat ini. Pria yang mengganggu fikirannya sepanjang langkahnya. Rian.. ya Rian yang telah hadir.
.
.
.
.
hayoloh, author ngadu ke Gilang ahh..๐ณ
Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐๐
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak ๐
ratenya juga ya kak๐
dikasih hadiah juga boleh๐
di Vote Alhamdulilah๐
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐
Terima kasih yang sudah Vote๐, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐.
__ADS_1