Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Getaran Handphone


__ADS_3

Ku bilang kau boleh meminta apapun, tapi kenapa kau minta hal seperti itu. Permintaan yang membuatku terdiam dan dan tak dapat berkata apapun.


-Gilang-


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Gilang memandang sekelilingnya. Sebuah Handphone menarik perhatiannya. Ia meraihnya dan menatapnya cukup lama. Di buka kontak teleponnya.. dicari nama Maura di sana.


"Pasti Maura sudah tidur." Fikirnya.


Gilang meletakkan handphonenya itu di sampingnya. Beberapa detik kemudian dia menggenggamnya lagi.


"Aku bisa mengirimkan pesan padanya." Gumamnya sendiri.


Gilang mulai mengetik.. namun terhenti kembali. Dia kembali berfikir apa yang harus ia ketik. Ia tatap kembali handphone miliknya dan tak melakukan apapun untuk beberapa detik.


"Ah.. kacau, kenapa jadi sulit begini." Kesal Gilang akhirnya.


Gilang menghela nafasnya kemudian, ia mulai mengetik nama Maura, dilihatnya kembali dan dihapus lagi. Ditulis lagi nama itu dan dihapus lagi. Hal itu berlangsung hingga tiga kali.


Dan akhirnya ia menetapkan hati, iapun memutuskan untuk tetap mengirim pesan pada Maura. Satu kalimatpun tersusun dan terkirim.


Besok pagi jangan lupa datang.


Ya.. kalimat itu yang akhirnya berhasil di susun Gilang. Ia menggenggam handphone miliknya dan meletakannnya tepat di atas dadanya.


Ddrrttt...


Gilang terkejut.. ada getaran yang bersumber dari handphone miliknya. Ia langsung menatapnya segera. Sebuah pesan masuk untuknya. Ia menerima balasan dari Maura.


Iya


Hanya satu kata, namun membuat Gilang mengukir senyum di wajahnya. Gilang mengetik kembali akhirnya.


Kamu belum tidur?


Sedetik, dua detik, tiga detik, tak kunjung datang balasan dari Maura. Gilang berfikir lagi, apa mungkin Maura sudah tertidur. Rasanya tidak mungkin..Jelas tadi Maura masih membalas pesan pertamannya.


Gilangpun tampak tak sabar. Iapun akhirnya menghubungi Maura malam itu.


"Kenapa kamu tak balas pesanku?" Tanya Gilang dengan cepat, saat Maura sudah berhasil mengangkatnya.


"Memangnya kamu kirim apa lagi Lang?" Tanya Maura bingung.


"Ah.. sudah enggak penting sekarang."


Maura merebahkan tubuhnya. Dengan handphone yang masih menempel di telinganya. Maura terkejut mengetahui bahwa Gilang menghubunginya malam ini. Ia memang memikirkannya sejak tadi. Sosok Gilang berhasil membuat dirinya tak dapat tertidur dengan cepat.


"Gilang kamu masih di situ?" Tanya Maura saat menyadari Gilang tak berkata apapun.


"Ya.."

__ADS_1


"Kenapa kamu menghubungiku?" Tanya Maura akhirnya.


"Oh.. itu, aku hanya memastikan, besok pagi kamu datangkan ke sini?"


"Akukan sudah bilang iya tadi."


"Oh..iya. Ehmm.. Bagaimana dengan tanganmu? Tadi aku menariknya begitu kencang."


"Tanganku baik-baik saja."


Ya.. tangan Maura memang baik-baik saja. Hatinya yang terluka dan itu karena Gilang, fikir Maura kembali sambil menatap langit-langit kamar kostannya.


"Oh.. Jadi kamu sudah memaafkanku?"


Lucu sekali terdengar, selarut ini Gilang masih saja berusaha meminta maaf pada Maura. Maurapun tersenyum mendengarnya.


"Siapa bilang aku sudah memaafkanmu?" Tanya Maura dan sengaja menggoda Gilang.


"Kamu masih belum mau memaafkanku?"


"Kamu sudah memarahiku, kamu menarik tanganku, lalu kamu menghubungiku malam-malam."


"Ayolah Ra, aku minta maaf. Apapun yang kau pinta aku kabulkan."


"Sungguh.. kamu enggak akan menyesalkan?" Tanya Maura memastikan..


"Ya.."


"Kamu memintaku untuk menjauhi Bian, kalau aku memintamu untuk menjauhi Laras, bagaimana?"


Gilang terdiam, ia tak dapat menjawab itu. Lama berfikir dan tak mengeluarkan suara apapun. Laras masih menjadi kenangan indah buat Gilang. Ia masih tak sanggup untuk melupakannya.


Maura kembali tersenyum, namun hatinya mulai terasa sakit kembali. Cukup lama Gilang terdiam, dan tak menjawab bahkan bersuara sedikitpun.


Rasanya malam itu, menjadi sangat dingin. Maura menarik selimutnya dan memeluk bantal miliknya. Rasa kecewa telah hadir menghampirinya.


"Aku hanya bercanda Lang, tak usah kamu jawab." Ucap Maura akhirnya.


"Kamu tidurlah, ini sudah malam." Ucap Maura lagi dan mengakhiri pembicaraan dengan Gilang begitu saja.


Maura meletakkan handphone miliknya, dekat dengan posisi tidurnya. Ia melepaskan handphonenya itu dari genggamannya. Mencoba memejamkan matanya perlahan. Berharap sosok Gilang tak lagi mengganggu tidurnya.


Gilang masih tediam terpaku menatap layar handphone miliknya. Maura memutuskan panggilan itu dengan cepat. Padahal Gilang membutuhkan waktu yang lama untuk akhirnya bisa menghubungi Maura tadi.


Permintaan Maura padanya membuat Gilang tak dapat berkata apapun. Melupakan Laras.. itu sesuatu yang sangat sulit untuk bisa Gilang lakukan.


Gilang masih menatap layar handphone miliknya. Kali ini dia menatap foto Maura bersama dirinya. Sebuah foto yang merekam kebersamaan dirinya bersama Maura. Gilang tersenyum dan mengusapnya perlahan.


Gilang ingat sekali saat dirinya berhasil melihat wajah Maura dengan jelas. Saat Maura tertidur dan saat mereka berfoto bersama. Mata yang saling menatap satu sama lain. Jantung yang berdebar begitu cepat. Tangan yang saling bersentuhan.


"Maafkan aku." Ucap Gilang dan kembali menyentuh wajah Maura dalam foto di layar handphone miliknya.

__ADS_1


Malam itu, Gilang dan Maura mencoba untuk tertidur. Memejamkan mata perlahan. Menikmati keheningan malam.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Pagipun tiba, Maura menepati janjinya untuk pergi ke apartemen Gilang lagi. Maura sudah berdiri di depan pintu sekarang, menatap dan terdiam.


"Aku kecewa... tapi masih saja aku berada di sini." Ucapnya dalam hati.


Tiba-tiba, pintu itu terbuka. Terlihat sosok Gilang dan terkejut menatap kedatangan Maura.


"Maura, kamu sudah datang?"


"Ya.." Jawab Maura dan langsung masuk ke dalam.


Maura duduk kemudian, menyandarkan tubuhnya, dan Gilang ikut duduk di sampingnya.


"Mau kubuatkan apa hari ini?" Tanya Maura dan berusaha bersikap seperti biasa.


"Kita sarapan di luar saja. Sekalian kita berangkat kuliah."


"Oh.. oke.."


"Tunggu sebentar di sini, aku bersiap dulu." Pinta Gilang dan kemudian pergi meninggalkan Maura.


Maura terdiam, menatap kepergian pria yang sudah berhasil mengganghu tidurnya malam tadi. Gilang memintanya untuk datang pagi ini. Dia sampai menghubungi Maura di malam hari. Maura fikir, Gilang memintanya untuk membuatkan sarapan untuk dirinya lagi, seperti yang sudah pernah ia katakan sebelumnya. Namun hari ini, Gilang mengajaknya untuk sarapan di luar.


.


.


.


.


Hemm.. Gilang masih belum bisa jujur dengan perasaanya.๐Ÿ˜ž


Tinggalkan jejaknya dan likenya ya kak.


Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.


๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Mau likenya ya kak ๐Ÿ˜Š


Mau ratenya juga ya kak๐Ÿ˜‡


di Vote Alhamdulilah๐Ÿ˜


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐Ÿ˜‰

__ADS_1


Terima kasih yang sudah Vote๐Ÿ˜˜, yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐Ÿ˜Š


__ADS_2