
Jika aku mencintaimu dan kamu mencintaiku, apakah bisa menghapus kesalahan ini.
-Maura-
🌿🌿🌿
"Makasih Lang." Ucap Maura dan dengan cepat Maura membalikan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam apartemen.
Gilang menahannya lagi, menarik pergelangan tangan Maura, membuat langkah Maura terhenti. Rasanya sudah cukup berdiam sepanjang jalan tadi. Gilang sudah tidak bisa menahannya, apa yang telah terjadi dengan Maura seharian ini.
"Kamu tak memintaku masuk?"
"Kamu bisa masuk kapanpun Lang, silakan." Jawab Maura dan melanjutkan langkahnya.
Gilang mengikuti Maura masuk ke dalam, menutup pintu dan tak lupa untuk menguncinya. Sosok Maura cepat pergi dari pandangannya.
"Hufff... ada apa sebenarnya." Kesal Gilang dan langsung melangkah masuk lebih dalam.
Kamar Maura menjadi tujuan utamanya. Terlihat sosok Maura di sana, duduk menghadap cermin, dengan rambut yang sedang ia coba untuk diikat lebih tinggi.
"Aku tadi menghubungimu, kenapa tidak diangkat?" Tanya Gilang dengan berdiri bersandar pada pintu masuk kamar Maura. Dengan tangan berlipat di dada, mencoba mencari tau kebenarannya.
"Oh.. maaf." Jawab Maura dengan tatapan tetap menatap cermin.
"Aku minta penjelasan, bukan permintaan maaf dari kamu."
"Apa yang mesti ku jelaskan?"
"Apa yang terjadi saat Rian datang tadi?"
"Lalu apa yang kamu lakukan tadi bersama Laras?" Tanya Maura akhirnya dengan wajah kesal yang sudah tak dapat disembunyikan lagi.
"Ra.. kita sedang membahas kamu dan Rian, kenapa jadi ke Laras, jelas aku dan Laras sudah tidak ada apa-apa." Penjelasan Gilang sambil melangkah mendekati Maura.
"Jadi kamu menuduh aku ada apa-apa dengan Rian."
"Enggak seperti itu Ra." Jawab Gilang mulai resah.
"Maafkan aku Lang." Ucap Maura dengan wajah yang menghadap ke bawah.
"Kamu kenapa? aku mengkhawatirkan kamu seharian ini."
"Maafkan aku." Ucap Maura lagi dan kali ini air matanya tak tertahankan untuk turun.
Maura menangis, menangis akhirnya. Gilang yang melihatnya hanya bisa memeluknya, menenangkannya. Apa yang membuat Maura bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa begitu sulit bagi Maura untuk mengatakannya?
"Bicaralah Ra, aku janji enggak akan marah."
"Maafkan aku Lang."
"Ra.. stop bilang maaf, tolong jelaskan." Pinta Gilang dan mengangkat bahu Maura sehingga wajah Maura sudah terlihat jelas sekarang.
Wajahnya lelah, air mata sudah cukup membasahi wajahnya. Bibirnyapun terlihat pucat.
"Rian.. menciumku tadi." Jawab Maura akhirnya.
"Apa.. Shit." Kesal Gilang setelah mendengarnya, tangannya yang sejak awal masih menyentuh bahu Maura, terlepas begitu saja.
"Berani-beraninya dia."
"Maafkan aku Lang." Pinta Maura lagi dan lagi.
"Kenapa kamu yang meminta maaf, seharusnya dia yang meminta maaf."
"Dia sudah meminta maaf."
"Belum padaku, aku harus mencarinya."
"Jangan Lang." Pinta Maura memohon dan langsung menarik tangan Gilang.
"Ra.. dia harus tau, kalau kamu itu pacarku, milikku, jadi tidak seharusnya dia melakukan hal seperti itu padamu."
__ADS_1
"Maafkan aku, ku mohon."
"Ra.. hayolah, jangan bilang maaf terus."
"Kamu belum memaafkanku."
"Aku enggak marah Ra sama kamu, aku hanya kesal sama Rian."
"Syukurlah.." Ucap Maura akhirnya dengan senyum tipis di wajahnya dan tiba-tiba saja Maura terjatuh dari duduknya.
Maura jatuh pingsan, bebannya sudah sedikit berkurang, lelahnya juga sudah tak tertahankan.
Gilang yang berdiri tak jauh dari Maura terkejut dan langsung mengangkat tubuhnya. Menggendongnya dan meletakan Maura di atas kasur segera.
Dipanggil nama Maura berkali-kali, mencoba membangunkan Maura. Rasa panik begitu nyata dirasakan Gilang. Mencoba banyak hal untuk bisa membangunkan Maura.
.
.
.
.
Seorang pelayan wanita datang menghampiri Bian dan Laras yang sudah duduk saling berhadapan.
"Ini pesanannya."
"Oh.. saya tidak pesan ini."
"Iya benar, kakak yang sebelumnya duduk di sini yang pesan. Minta di serahkan ke mas saja."
"Oh.. oke, terima kasih."
Pelayan itupun pergi, meninggalkan keheningan antara Laras dengan Bian.
"Jadi ini alasan kamu mengajakku ke sini."
"Melihatmu berkencang dengan Maura."
"Apa bedanya dengan kamu yang datang bersama Gilang tadi."
"Kamu salah paham Bi."
"Apa alasan kamu kali ini?"
"Aku hanya meminta tolong pada Gilang, untuk menjelaskan padamu bahwa aku dengannya memang sudah tidak ada hubungan apapun."
"Ha.., benarkah seperti itu."
"Kamu bisa tanya sendiri pada Gilang."
"Kamu tau Ras, awalnya aku sama sekali tidak menyukaimu, aku hanya membenci Gilang, aku hanya ingin merebut apapun yang Gilang miliki, termasuk kamu. Dan akhirnya aku berhasil, berhasil mendapatkanmu, berhasil membuat Gilang terpuruk."
"Kamu bicara apa sih Bi?"
"Terdengar gila memang Ras, hahaha.. sekarang aku yang terpuruk, seharusnya aku tidak jatuh cinta sama kamu. Seharusnya kamu tetap menjadi alatku untuk menjatuhkan Gilang. Tapi ternyata kamu ikut mempermainkan aku."
"Aku enggak paham, apa yang kamu bicarakan Bi."
"Kita sudahi permainan ini, kita putus Ras."
Saling memandang dalam diam. Mencoba memahami yang terjadi. Meninggalan kesan yang begitu dalam bagi keduanya.
.
.
.
.
__ADS_1
Maura membuka matanya perlahan, memandang sekelilingnya. Terlihat sosok Gilang yang duduk di sampingnya. Ikut terlelap bersama, wajah terlihat jelas, rasa rindu begitu sangat dirasakan Maura saat ini.
Maura masih terus memandanganya, mengusap wajah Gilang perlahan. Dimulai dari kelopak matanya turun ke hidung lalu melangkah menuju bibir Gilang.
Gilang sebenarnya tersadar, menunggu saat yang tepat untuk bangun. Sesaat setelah jari Maura hinggap di bibirnya, Gilang dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Maura, dan berhasil membuat Maura terkejut.
"Lang, kamu mengagetkanku."
Gilang hanya tersenyum, menatap keterkejutan Maura saat itu, beberapa detik kemudian diusapnya kepala Maura perlahan. Dipandangannya wajah Maura begitu dekat. Makin mendekat, dan begitu dekat.. hampir tak ada jarak keduanya. Hening terasa, namun entah kenapa Maura mengalihkan wajahnya dengan cepat.
Gilang terdiam melihat reaksi Maura. Sedangkan Maura mengatur nafasnya perlahan, mengatur detak jantungnya yang berdetak begitu cepat. Entah apa yang membuat Maura harus menghindar tadi. Tak berani untuk menatap Gilang, sampai akhirnya Gilang sendiri bangkit dan mencoba menjauh dari Maura.
"Kamu kelelahan, dan tidak ada makanan yang masuk ke perutmu hari ini, itu yang menyebabkan kamu pingsan tadi." Ucap Gilang mencoba mencairkan suasana.
"Ya.."
"Aku ambilkan makanan untukmu, tunggulah sebentar." Pinta Gilang dan pergi meninggalkan Maura akhirnya.
Maura terdiam, ia merasa telah mengecewakan Gilang lagi. Kenapa dia harus menghindar dari Gilang, menghindar dari ciuman Gilang. Mengapa Maura jadi teringat saat Rian menciumnya tadi. Itu Gilang bukan Rian.
Tak memakan banyak waktu Gilang sudah datang kembali. Meletakan seporsi makanan dan diletakan di atas meja tepat disamping Maura. Maurapun bangkit dari tidurnya, sekarang duduk dan menyandar.
"Lang.." Panggil Maura dengan menarik salah satu jari Gilang seolah menariknya untuk duduk kembali di samping Maura.
"Ya.." Jawab Gilang dan seperti sebuah hati yang saling menyatu dan memahami, Gilangpun duduk kembali tepat di samping Maura tanpa ada ucapan meminta.
Maura sudah tidak lagi duduk bersandar, kali ini duduk menghadap ke arah Gilang, dengan memandang wajahnya begitu dekat.
"Maafkan sikapku tadi." Ucap Maura lalu mendaratkan ciuman cepat di bibir Gilang.
Gilang terkejut, lalu tersenyum satu sama lain. Dengan cepat ditariknya tubuh Maura lebih mendekat, dipeluknya begitu erat. Kali ini Gilang yang mencium Maura. Maurapun tak menolaknya kali ini.
"Berjanjilah, katakan apapun yang terjadi." Ucap Gilang dan Maura menggangguk tanda setuju.
"Aku hanya takut kamu marah, lalu meninggalkanku Lang."
"Sepertinya kamu begitu menyukaiku." Ucap Gilang dan terlihat senang saat mengatakannya .
"Memangnya kamu tidak." Jawab Maura kesal.
"Aku begitu..begitu..begitu.. menyukaimu." Jawab Gilang akhirnya dan berhasil membuat Maura tersipu mendengarnya.
Apakah cukup berkata jujur, apakah cukup saling memuji, apakah cukup untuk saling mengerti dan memahami, apakah cukup itu semua. Mereka yang bersama bahagia, sedangkan Laras yang terlihat sangat kesal dan kecewa atas keputusan Bian. Lalu Rian.. awalnya ingin melepaskan, namun kenangan lama membuatnya bersikap egois.
.
.
.
.
Kalau author cukup dapat semangat dari kalian, Dengan like, vote, gift😋 semangat💪💪💪
Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak 😊
ratenya juga ya kak😇
dikasih hadiah juga boleh😊
di Vote Alhamdulilah😁
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉
Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.
__ADS_1