Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Ragu


__ADS_3

Saat keraguan itu muncul, apa yang mesti aku lakukan.


-Vaya-


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


"Ku harap kamu mau memaafkan ku."


Pinta Laras yang berhasil membuat kedua mata Maura membulat. Entah harus bagaimana Maura bersikap. Dirinya begitu ragu, ragu dengan kata-kata Laras. Apakah ia mengatakannya dengan tulus saat ini.


Jika mengingat semua apa yang pernah Laras lakukan pada dirinya dan Gilang, rasanya begitu sulit untuk mempercayai perkataannya.


"Ku mohon." Pinta Laras lagi dan berhasil menyentuh hati terdalam milik Maura.


Rasa tak tega terbentuk sudah. Wajahnya yang memelas penuh dengan penyesalan. Ucapannya yang lemah dan penuh dengan kejujuran.


"Haruskah aku memaafkannya." Bisik Maura sendiri.


"Percayalah, Aku sungguh meminta maaf pada mu dan Gilang. Yah.. ku sadar, aku telah banyak mengganggu hubungan kalian. Dan... memang enggak akan mudah untuk bisa kamu maafkan."


Bian yang ikut mendengarnya kini merangkul Laras saat itu, menyentuh bahunya, menguatkan dirinya.


"Itu memang hak mu dan Gilang, mau memaafkan aku atau tidak. Tapi sungguh aku minta maaf saat ini."


Maura terdiam saat itu, menghela napasnya dan perlahan mencoba memahami semua.


"Aku memaafkan mu." Ucap Maura akhirnya dan terukir senyum Laras maupun Bian saat itu. Mereka saling memandang satu sama lain.


"Terima kasih Ra."


Setelah mendengar permintaan maaf Laras, Maura pun pamit meninggalkan mereka. Melanjutkan belanjanya saat ini. Mencari sesuatu yang bisa di bawa ke rumah Rian.


"Aku senang." Ucap Bian pada Laras dan menatap penuh dengan bangga pada sosok wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"Kenapa?"


"Kau sudah berubah." Ucap Bian lagi dan terbalas dengan senyum Laras.


"Kau kan yang memintaku untuk melepaskannya."


"Ya.."


"Kau mau temani aku nanti?"


"Kemana?"


"Aku juga harus meminta maaf pada Gilang, bantu aku ya..rasanya aku begitu takut jika melakukannya sendiri."


"Ya..aku pasti temani."


Saling menatap lagi dan saling tersenyum. Menikmati kebersamaan yang tak mungkin terulang.


Sedangkan Maura masih disibukkan dengan banyaknya pilihan buah yang yang bisa di bawa ke tempatnya Rian nanti.


.


.


.


.

__ADS_1


Rasanya begitu malas bagi Vaya untuk bangkit dari kamarnya pagi itu. Masih tak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Rian ketika tertidur semalam.


"Bisa-bisanya dia memanggil nama Maura dalam tidurnya." Bisiknya dengan kesal.


Vaya tau, Maura sudah mempunyai Gilang dan sangat mencintainya. Maura tak mungkin berselingkuh dan memilih Rian.


"Ah...kacau." Teriak kesal Vaya dan terhenti saat handphonenya berdering.


"Maura, panjang umur sekali dia." Bisiknya dan kemudian mengangkat panggilan telephone itu.


"Ya.. Ra."


"Va.. kapan kamu akan ke tempatnya Rian lagi?"


"Dua atau tiga jam lagi Ra, nanti aku kabari." Jawab Vaya sambil berpikir.


Ya.. Vaya masih harus merapikan dirinya, mandi, berpakaian, berhias dan sarapan. Setiap akan bertemu dengan Rian pasti Vaya selalu menghabiskan waktu yang lebih lama dari biasanya. Rasanya selalu saja terlihat kurang sempurna.


"Oke." Jawab Maura dan mengakhiri pembicaraan.


Vaya pun akhirnya bangkit dari rasa malasnya pagi itu.


"Aku juga sudah janji akan datang lagi sama mamahnya Rian semalam." Ucap Vaya sendiri mengingat akan janjinya itu.


.


.


.


.


"Va, aku sudah di jalan menuju tempatnya Rian, kamu dimana?"


"Sorry Ra, aku baru mau jalan." Ucap Vaya dengan rasa bersalah.


Benar saja, Vaya menghabiskan waktu berjam-jam lagi pagi itu. Pakaian saja mesti ia ganti berulang.


"Haduh Va.. kamu tuh mau jenguk orang sakit, bukan mau kencan, kenapa ribet banget sih nentuinnya." Protesnya sendiri tadi.


"Ya sudah, semoga tidak macet ya."


"Ya semoga." Ucap Vaya cepat.


Tak berapa lama kemudian, Maura pun tiba. Ia tiba terlebih dahulu dibanding Vaya. Diraih handphone kembali. Dikirimnya pesan untuk Vaya, memberitahukan dirinya telah tiba saat ini.


"Aku perlu menunggu Vaya atau langsung masuk ya." Bisik Muara penuh dengan keraguan.


"Rasanya aneh, kalau berdiri sendiri di depan rumah orang, masuk sajalah." Bisiknya lagi.


Mencoba melangkah menuju pintu rumah Rian akhirnya, mencoba menekan bel kemudian dan akhirnya terbuka.


"Pagi Tante." Sapa Maura saat menatap mamahnya Rian yang telah membukakan pintu untuknya. Tersenyum menatap kehadiran Maura saat itu.


"Oh.. Maura, datang mau jenguk Rian ya."


"Ya.. Tante."


"Ayo..ayo masuk."


Maura pun perlahan masuk ke dalam, diantar mamahnya Rian menuju kamar Rian.

__ADS_1


"Kemarin juga ada temennya Rian datang jenguk. Raka dan..."


"Vaya Tante."


"Ya.. Vaya, dia seharian temenin Rian di sini."


"Oh.." Maura berpikir, sejak kapan Vaya begitu perhatian dengan Rian.


"Kalian teman satu kampus?"


"Ya.. Tante." Ucap Maura dan saat itu mereka telah sampai di depan kamar Rian. Mamahnya Rian membukakan pintu kamar kemudian. Terlihat Rian yang tengah berbaring di sana. Matanya menatap Maura yang hadir begitu tiba-tiba. Membuatnya terkejut dan tak percaya.


"Kenapa kamu di sini Ra."


"Jenguk, kan ada yang sakit." Ucap Maura dan melangkah masuk ke dalam.


"Yasudah Tante tinggal ya Ra."


"Ya Tante." Ucap Maura dan kini tinggal Maura dan Rian berdua.


Maura duduk kemudian, di sebuah kursi tepat di samping tempat tidur Rian. Menatap tubuh Rian, tepatnya di kakinya yang terluka.


"Kenapa bisa begini. Kamu enggak hati-hati?"


"Aku sudah hati-hati, tapi sekitarku yang tidak hati-hati. Kamu enggak bersama Gilang?" Tanya Rian kemudian.


"Dia sedang ke luar kota."


"Kau tau dari mana aku sakit?"


"Vaya yang menelephone ku."


"Kau mengkhawatirkan ku Ra?" Ucap Rian lagi dan membuat Maura terdiam kali ini.


"Bicara apa sih, jelas aku khawatir."


Maura tentu mengkhawatirkan Rian, Rian pernah menjadi bagian terbaik dari kisah hidupnya. Walaupun sekarang status mereka hanya sebatas teman, rasanya tak salah untuk khawatir pada sosok Rian yang kini menjadi temannya.


"Kau belum minum obatmu, mau ku bantu?" Tanya Maura saat melihat ada obat yang masih tergeletak di atas meja dan siap untuk diminum.


"Boleh Ra." Ucap Rian dan tersenyum. Begitupun dengan Maura ikut tersenyum saat itu. Lalu ia melihat hal lain, sesuatu yang berada di atas meja juga dekat dengan obat Rian. Sebuah foto dan Maura mengenali foto itu.


"Hah.. kamu masih menyimpan foto ini?" Ucap Maura terkejut dan kini foto itu sudah digenggamnya.


"Memang enggak boleh?"


"Bukannya engga boleh, tapi aku kan disitu jelek banget Rian, selai coklat yang kamu tempelkan di pipiku waktu itu membuatku terlihat jelek." Ucap Maura kesal dan membuat Rian tertawa.


"Kau cantik Ra, kau selalu terlihat cantik." Ucap Rian dan sesaat kemudian ada suara lain terdengar. Suara di balik pintu kamar Rian. Sesuatu terjatuh mengagetkan Rian dan Maura.


.


.


.


.


Nahloh.. ๐Ÿค


Yuk mampir ke sini juga yuk "Sebatas Pacar Sewaan" ๐Ÿ˜˜ ada Keenan dan Shanum.

__ADS_1


__ADS_2