Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Bimbang


__ADS_3

Maura dan Gilang kembali🤧.


Mohon maaf sebelumnya 👉👈🙏, setelah sekian purnama baru bisa melanjutkan cerita Gilang dan Maura lagi 🤧. (Sibuk dengan kehamilan dan melahirkan🙈). Dapetin feel-nya lagi itu susah banget 😞 karena babnya juga sudah banyak, Insyaallah mau ditamatin ceritanya. Buat Gilang dan Maura Happy Ending.


Mohon dukungannya all


Bismillah, Selamat membaca.


Mungkin Rian akan membaik setelah bertemu dengan mu Ra..


-Vaya-


🌿🌿🌿


Handphone Gilang berdering, Gilang pun segera mengangkatnya dan menghentikan suapannya saat itu.


"Baiklah Mah.." Ucap Gilang, wajahnya yang semula tersenyum berubah menjadi murung.


Gilang menghela napas panjang setelah mengakhiri pembicaraannya.


"Ra.., Maap.. besok orang tuaku tidak bisa bertemu."


"Oh, kenapa?"


"Ada hal penting yang mesti mereka kerjakan. Maap ya Ra."


"Tak apa Lang." Ucap Maura dan menatap Gilang dengan senyum kemudian.


"Mereka titip salam ke kamu dan minta maap juga."


"Ya.. Aku jadi punya banyak waktu juga untuk mempersiapkan diri bertemu orang tua mu nanti."


"Ya.. kita lanjutkan makannya." Pinta Gilang sambil menyentuh lembut punggung tangan Maura.


Ada sedikit rasa kecewa menghampiri hati Muara, namun ia meyakini dirinya sendiri mungkin ini memang yang terbaik. Masih ada banyak waktu untuk bisa memberikan yang terbaik pada saat nanti bertemu.


Berbeda dengan Maura, Vaya merasakan kecemasan yang begitu besar. Sepanjang jalan di dalam taksi ia berulang kali menatap layar handphonenya. Sampai akhirnya ia tiba di rumah Rian.


Turun perlahan dan menatap sekeliling. Tak berapa lama kemudian sebuah mobil datang, Vaya mengenalinya, itu adalah Rian dan Raka.


Vaya kembali melangkah, namun kali ini begitu cepat, menghampiri mobil yang sudah terparkir tak jauh dari dirinya berdiri saat ini.


Tampak terlihat Rian yang berdiri dengan dibantu Raka. Pandangan mereka bertemu, saling menatap kemudian. Tak terasa Vaya menangis saat itu, menangis tepat di hadapan Rian dan Raka.


"Ish.. cengeng." Protes Raka.


"Ih.. biarin." Protes Vaya dan berhasil membuat Rian tertawa mendengarnya.


"Sudah-sudah, ayo bantu Rian masuk." Pinta Raka kemudian.


Mereka melangkah bersama, Rian berada diantara mereka. Sesekali Vaya menatap Rian, memastikan kondisinya baik-baik saja. Sesekali Rian meringis kesakitan, menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja terasa saat melangkah.


"Akhirnya sampai." Ucap Raka setelah berhasil mengantar Rian sampai di kamarnya.


"Makasih ya." Ucap Rian pada Raka.


Vaya tak melepas pandangannya ke Rian. Kaki Rian yang tengah terluka saat ini. Sebuah perban membalut rapih kakinya.

__ADS_1


"Kenapa bisa begini, kenapa tidak hati-hati?" Tanya Vaya meminta penjelasan.


"Aku enggak apa-apa, ini hanya luka kecil."


"Walaupun luka kecil, pastikan sakit." Ucap Vaya dan kembali ia meneteskan air matanya. Namun kali ini ia menghapusnya dengan cepat.


"Ya sudah, aku balik yah, sudah ada Vaya juga di sini dan ini obatnya, jangan lupa di minum." Pinta Raka dan pergi kemudian setelah selesai berpamitan.


Kini tinggal Vaya dan Rian berdua. Seketika menjadi hening setelah kepergian Raka. Wajah Vaya yang masih begitu cemas terlihat jelas di penglihatan Rian.


"Aku baik-baik saja Va." Ucap Rian meyakinkan dan Vaya hanya mengangguk saat itu.


"Aku bantu kamu minum obat ya."


"Ya.."


Vaya pun membantu Rian meminum obatnya, menemani Rian beristirahat setelahnya. Hingga akhirnya Rian benar-benar terlelap dengan Vaya yang masih setia berada di sampingnya.


Vaya menatap Rian dalam kesunyian, mata Rian yang terpejam membuatnya menangis kembali.


"Pasti sakit sekali." Bisik Vaya yang terus setia hingga malam nanti tiba.


Perlahan Vaya mengangkat salah satu tangannya menuju kening Rian, ia mengusapnya dan terus menatapnya.


.


.


.


.


Maura mengambil napas panjang dan menghembuskannya dengan cepat malam itu. Dengan segelas air mineral yang berada di genggamannya.


Hari ini, rasa kecewa sedang menyelimutinya. Pembatalan pertemuan dengan orang tua Gilang, dan kepergian Gilang yang dipercepat.


"Gilang sudah harus berangkat besok." Ucapnya sendiri.


Saat pergi bersama dengan Gilang tadi, tiba-tiba saja Gilang diminta untuk datang satu hari lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Membuat Maura dan Gilang memutuskan untuk pulang lebih awal.


Untung saja pertemuan dengan orang tua Gilang dibatalkan, kalau tidak hanya ada Maura yang bertemu nanti tanpa Gilang menemani.


"Maapkan aku ya Ra, aku harus berangkat besok pagi." Ucap Gilang disaat kesibukan dirinya merapikan barang yang akan dibawanya.


"Iya Lang, kamu sudah mengucapkan maap berkali-kali sejak tadi." Ucap Maura yang ikut membantu Gilang saat itu.


Setelah merapikan semua, Maura pun kembali ke apartemennya. Membiarkan Gilang untuk beristirahat kemudian.


Maura kini meneguk kembali air mineralnya. Menatap jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Tak berapa lama kemudian, handphonenya bergetar, handphone yang ia sengaja letakan tak jauh dari gelas yang ia genggam saat ini. Nama Vaya yang terbaca di layar handphone miliknya.


"Ra.." Ucap Vaya dan terdengar begitu berat.


"Ya..Va."


"Rian kecelakaan Ra.."

__ADS_1


"Hah.. lalu gimana keadaanya sekarang?" Tanya Maura cemas dan kemudian melangkah ke ruang lain menuju sofa. Maura duduk kemudian.


"Tidak ada luka yang serius."


"Oh.. Syukurlah."


"Kamu bisa datang besok, ke rumah Rian?" Tanya Vaya begitu perlahan.


"Oh.. ya.." Jawab Maura dan tampak Ragu.


"Oke."


"Sekarang kamu lagi di mana Va?, di rumah Rian?"


"Ya.. tapi ini sudah mau balik."


"Hati-hati Va, sudah malam." Ucap Maura mengingatkan.


Maura merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Vaya saat ini, suaranya begitu berat terdengar. Tidak seceria Vaya yang dulu dikenalnya. Perkataannya pun terlalu singkat. Tak banyak bicara menjadi begitu pendiam.


"Kenapa dengannya?" Bisik Maura kemudian.


Maura lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.


"Mungkin aku baru bisa pergi setelah mengantar Gilang besok." Bisiknya lagi dan berpikir kembali


Sesaat sebelum menelephone Maura tadi, Vaya dikejutkan dengan sebuah foto yang tak sengaja ia temukan di kamar Rian. Foto Rian kecil dengan seorang gadis kecil bersamanya. Mereka terlihat bahagia saat itu.


"Ini pasti Maura." Bisik Vaya sambil mengusap perlahan foto yang sudah digenggamnya.


Terdengar kemudian Rian bersuara dan mengejutkan hati Vaya seketika. Dalam tidurnya Rian memanggil nama Maura..


Itulah yang menjadi alasan Vaya menghubungi Maura untuk datang besok menjenguk Rian.


Setelah merasa tenang, Vaya melangkah ke luar kamar Rian perlahan, berjalan begitu lelah dengan hati yang penuh dengan pertanyaan. Rasanya ia kembali bimbang, ia kembali ragu dengan perasaan Rian padanya.


"Sudah mau pulang." Ucap seorang wanita yang tak lain adalah mamahnya Rian. Tiba-tiba hadir mengejutkan Vaya dan menghapus kekacauan hatinya dengan cepat.


"Iya tante, Riannya juga sudah tidur. Obat juga sudah diminum tadi."


"Terima kasih ya."


"Sama-sama Tante." Balas Vaya dan tersenyum.


"Besok datang lagi?"


"Ya Tante, Vaya akan datang lagi ke sini." Janji Vaya dan disambut dengan senyum hangat mamahnya Rian.


.


.


.


.


Baca Novel "Sebatas Pacar Sewaan" juga ya, atau Cinta Pak Bos yang sudah ending. Terimakasih all🤗

__ADS_1



__ADS_2