
Bahagiaku adalah ketika kamu hadir dalam hidupku, mengukir cerita indah bersama, melukis kenangan dan senyuman bersama.
-Maura-
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Vaya sudah pergi, begitupun Rian. Sekarang hanya tinggal Maura sendiri. Duduk sambil menatap tetesan air hujan yang tiba-tiba saja turun. Daun-daun seolah menari karena benturan air hujan itu. Beberapa orang tampak berlari mencari perlindungan.
Semua makanan yang dipesan olehnya untuk mereka bertiga sudah habis tak bersisa. Hanya sebotol air mineral yang masih dengan setia menemani kesendirian Maura saat itu.
Maura menghela nafasnya. Ia tatap handphone miliknya berulang kali. Berharap Gilang menghubunginya. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya tak luput dari perhatiannya juga.
"Kenapa Gilang lama sekali." Keluhnya.
Saat Maura mau mencoba menghubungi Gilang, saat itu pula Gilang menghubungi dirinya. Maurapun dengan cepat mengangkatnya.
"Kamu lama sekali Lang." Protes Maura namun terdengar manja.
"Maaf, aku masih dijalan. Sebentar lagi sampai, tunggu ya sayang."
"Kenapa memanggilku sayang?" Tanya Maura dengan wajah yang tersipu.
"Loh, memangnya enggak boleh panggil sayang , sama pacar sendiri."
"Aku enggak biasa dengernya."
"Akukan sudah pernah bilang, kamu harus terbiasa dengan kata-kata itu."
"Ya.., ku coba."
"Jangan dicoba saja, dipraktekan sekarang."
"Maksudnya?"
"Sudah lama kamu tidak bilang sayang padaku Ra."
"Ihhh aku di kantin, kamu enak di mobil enggak ada yang denger."
"Enggak akan kedengeran, kamu sendirikan? enggak dengan siapa-siapa?"
"Ya sendiri.. tapi enggak mau ahh.. Aku ketik saja ya." Tawar Maura.
"Ya sudah aku enggak jadi jemput kamu."
"Loh kok gitu. Ya sudah aku pulang sendiri saja."
"Enggak boleh."
"Lah.. akukan mau pulang."
"Tunggu aku."
"Katanya enggak mau jemput?"
"Ya sudah, cepet ketik kata sayangnya. Harus huruf besar semua."
"Oke.. kamu memang yang terbaik." Ucap Maura dan kali ini tersenyum mendengarnya.
"Aku tunggu sekarang."
"Iya.. iya.. sabar ya.."
Maura tersenyum begitupun dengan Gilang, saat mereka sudah mematikan telephonenya masing-masing.
Lalu Maura menatap layar handphonenya. Kata sayang tertulis namun belum terkirim, ia terdiam dan dihapus lagi. Diketik kembali dan dihapus lagi dan akhirnya diketik lagi, dengan kalimat yang panjang.
SAYANG..
Walaupun aku malu untuk mengucapkannya, tapi percayalah bahwa aku sangat MENYAYANGIMU.
send
Maura telah mengirimnya, dilihat lagi pesan yang telah ia kirim untuk Gilang. Tersenyum dan harapan besar Gilang membalas pesannya.
__ADS_1
Gilang yang mendapati pesan Maura langsung meraih handphone miliknya. Dia tersenyum namun tak dibalas dengan cepat. Keadaannya yang sekarang, belum memungkinkan untuk membalasnya.
Sedangkan Maura masih menanti, sambil menatap tetesan air hujan yang tak kunjung reda.
"Kenapa aku bisa mengirim pesan seperti tadi." Gerutunya tiba-tiba.
"Pasti sudah dibaca olehnya.. Pasti sedang tertawa dia sekarang." Gerutunya lagi.
"Ihhh.. kenapa tidak dibalas." Gerutunya lagi dan lagi.
Sekarang Maura terdiam, dilirik kembali handphonenya. Gilang masih belum menghubunginya.
"Ah.. sudahlah. Awas aja nanti." Ancamnya tiba-tiba sambil menggeser sedikit menjauh handphone miliknya.
"Ah.. Lang, tetep aja aku sayang kamu, walau kamu enggak balas cepat." Bisiknya sendiri sambil meraih kembali handphone miliknya dan sekarang sudah berada di genggamannya.
Beberapa menit kemudian, handphone Maura bergetar. Maura tersenyum saat melihat dan membaca pesan dari Gilang.
Kamu tetap berhutang untuk ucapkan kata sayang nanti.
Kembali menatap sekitar, tersenyum selalu hadir di wajah Maura. Hujan sudah tak terlalu besar. Orang-orang juga sudah mulai terlihat bersiap-siap meninggalkan tempat berteduh mereka.
"Aku menunggu, aku akan setia menunggu." Bisik Maura sendiri.
.
.
.
.
Gilang dan Maura sudah pulang bersama, masuk ke dalam apartemen Gilang terlebih dahulu. Melangkah menuju sofa dan duduk bersama sekarang.
"Akhirnya sampai juga." Ucap Maura sambil menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Mencoba menghilangkan rasa pegal yang tengah dirasakannya.
"Banyak banget memang tugasnya tadi?"
"Ya.. tapi untung ada Ri.." Ucap Maura namun tertahan ketika menyadari bahwa ada kata yang seharusnya tak terucap.
"Ehmm.. aku sakit perut, aku toilet bentar ya.." Pinta Maura dan langsung bangkit dari duduknya.
Maura melangkah sangat cepat, meninggalkan Gilang dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan.
"Huftt.. bodoh." Ucap Maura sambil menatap cermin besar yang ada di hadapannya saat ini.
Terlihat wajahnya sendiri, yang penuh dengan kebingungan. Bagaimana Maura harus menjelaskan ini nanti. Dinyalakan kran air, diusap wajahnya perlahan.
Setelah merasa sudah siap, Maura membuka pintu perlahan. Dilihatnya sosok Gilang yang sudah berdiri bersandar pada tembok dekat dengan pintu masuk kamar mandi ini. Tangannya berlipat di dada. Wajahnya tampak menakutkan, namun ketampannya tak luntur.
"Kamu di situ, ngapain?"
"Menunggumu."
"Menunggu apa?" Jawab Maura dan berpura-pura seakan tak tahu ke mana arah tujuan pembicaraan Gilang padanya.
"Menunggu penjelasan."
"Apa yang perlu dijelaskan?" Ucap Maura dan kali ini melangkah meninggalkan Gilang.
"Dengan siapa kamu tadi?" Tanya Gilang dan kali ini meraih pergelangan tangan Maura dan menarik dirinya untuk berada di pelukan Gilang.
Ke dua tangan Maura bersandar pada dada Gilang. Sedangkan ke dua tangan Gilang sudah melingkar sempurna pada pinggang Maura.
"Ra.." Panggilnya.
"Iya.. Lang." Jawab Maura perlahan.
"Katakan dengan siapa kamu tadi."
"Ri.. an.." Jawab Maura terbata.
Setelah kata itu terucap, Gilang tiba-tiba saja melepaskan ke dua tangannya dari pinggang Maura. Kali ini Gilang yang melangkah pergi, namun berhasil ditahan oleh Maura.
__ADS_1
"Ih Lang, tadi Rian cuman bantu aku saja. Enggak lebih dari itu." Ucap Maura menjelaskan.
"Aku enggak guna jadi pacar kamu." Ucap Gilang dan mencoba melepaskan tangan Maura, namun berhasil ditahan oleh Maura.
"Loh kok ngomongnya gitu sih." Protes Maura dan kali ini mereka saling bertatapan.
"Aku enggak bisa bantu kamu, tapi Rian bisa."
"Enggak gitu Lang, yang jadi pacarku ya tetap kamu, yang aku sayangi tetap kamu, yang aku cintai ya tatep kamu."
"Benarkah?"
"Ya bener.. masa boong." Ucap Maura lagi dan kali ini wajahnya tampak memelas.
Gilang tersenyum, lalu mengusap lembut rambut Maura, merapikan beberapa helai rambut yang tampak berantakan.
"Kamu punya hutang bilang sayang padaku."
"Kan barusan sudah bilang sayang."
"Enggak seperti itu."
"Maunya seperti apa?"
"Aku sayang kamu Ra."
"Makasih."
"Bukan makasih, kamu juga harus bilang seperti itu." Protes Gilang dan kali ini sambil mencubit pipi Maura yang ada di hadapannya.
"Au.." Teriak Maura sambil mengelus pipinya sendiri berulang kali.
"Cepat bilang."
"Ih.. enggak ikhlas.."
"Ra.." Panggilnya lagi, kali ini menatap Maura begitu dekat.
"Ya.." Jawab Maura dengan hati yang bergetar.
"Aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu Lang." Ucap Maura dan berhasil membuat Gilang tersenyum.
"Mulai sekarang, katakan itu setiap hari."
"Enggak mau ahhhh.." Ucap Maura lalu segera berlari menjauh, saat pelukaan Gilang sudah mulai merenggang.
Gilang terdiam, membiarkan Maura pergi, meninggalkan senyum dan tawa satu sama lain.
.
.
.
.
Siapa tau ada yang mau bilang sayang ke author, setelah baca ini.๐๐ณ
Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐๐
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak ๐
ratenya juga ya kak๐
dikasih hadiah juga boleh๐
di Vote Alhamdulilah๐
__ADS_1
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐
Terima kasih yang sudah Vote๐, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐.