
Aku tak sanggup mengucapkan kata pisah saat ku melihat wajahmu. Hatiku selalu menolaknya. Maafkan aku, aku menggunakan cara seperti ini.
-Maura-
🌿🌿🌿
"Kita berpisah." Ucap Maura memperjelas semuanya.
Gilang melepas genggaman tangannya pada tubuh Maura, ia begitu terkejut mendengarnya. Maura tetap tersenyum menatap wajah Gilang, walau air mata terus turun di wajahnya.
Saat ini, mengingatkan Gilang kembali ketika dulu Laras memintanya untuk berpisah. Gilang merasakannya lagi. Kejadian ini seakan terulang lagi pada dirinya.
"Tidak.. Tidak.. Kamu asal bicarakan." Protes Gilang sambil terus menatap Maura.
"Aku serius Lang, aku tidak asal bicara."
"Kamu bilang, kamu memaafkanku, tapi kenapa kamu bilang berpisah." Protes Gilang lagi dan kali ini sambil menggoyangkan bahu Maura berkali-kali.
"Aku perlu waktu untuk memahami ini semua."
"Kamu mencintaikukan Ra.., katakan Ra." Ucap Gilang dan kali ini terdengar lebih keras.
Maura diam, air mata kembali turun di pipi. Mendengar kata cinta, membuat hatinya kembali sakit.
"Ra.. Jawab." Pinta Gilang lagi karena Maura masih saja diam.
"Hatiku sakit Lang." Ucap Maura akhirnya.
"Ra.. Maafkan aku, ku mohon jangan pernah bilang berpisah."
"Tapi hatiku sakit Lang dan kamu yang membuatku seperti ini." Ucap Maura dan kali ini lebih keras.
Gilang tak tau lagi harus berkata apa. Mendengar ucapan Maura, membuatnya merasa sangat bersalah.
"Ra.. Maaf." Ucap Gilang menenangkan dan mengusap lebut wajah Maura dan menghapus air matanya perlahan.
"Tanpa kamu sadari, kamu masih mempedulikannya, dan itu membuatku kecewa."
"Tidak.. Tidak seperti itu."
"Yang ku lihat seperti itu. Kamu perlu waktu untuk memahami perasaanmu juga Lang."
"Hanya kamu yang ku pedulikan."
Maura kembali meneteskan air matanya, bahkan ia memejamkan matanya sesaat. Mengalihkan pandangannya, tak lagi menatap Gilang.
Gilang tetap menatapnya, menyentuh dagu Maura dan membuat wajah Maura kembali ada di hadapannya. Diciumnya bibir Maura perlahan. Dipeluknya Maura dengan erat. Saat itu, hanya satu yang difikiran Gilang. Gilang tak akan pernah setuju dengan perkataan Maura untuk berpisah dengannya.
"Aku mencintaimu Ra, aku tak mau kita berpisah." Ucap Gilang masih dengan memeluk Maura begitu erat.
Maura sadar, memang akan sesulit ini jika akan berpisah dengan Gilang. Maurapun merasa kesulitan untuk mengatakannya. Hatinya masih menolak untuk berpisah.
Maura ingin sekali membalas kata cinta dari Gilang, namun air matanya menahan itu semua.
"Aku akan tetap pergi, maaf." Bisik Maura dalam hati, dengan wajah Gilang yang masih sangat dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
.
.
.
.
"Hemm.."
Maura menghela nafasnya begitu dalam. Ditatapnya seluruh ruangan. Setiap sudut terekam di ingatannya.
"Aku pasti akan merindukan tempat ini." Ucap Maura sendiri.
Terdiam lagi, menangis kembali. Tangannya tetap sibuk, merapikan pakaian yang akan dibawanya pergi.
"Maafkan aku Lang." Ucapnya sendiri.
Maura tadi memang tak berhasil berpisah dengan Gilang. Namun ia merasa tetap harus pergi meninggalkan Gilang. Pergi tanpa berpamitan. Hanya itu yang Maura bisa lakukan sekarang.
Semua sudah tertata rapi, tak banyak yang dibawa Maura. Hanya sebuah koper dengan beberapa pakaian di dalamnya. Ditatapnya kembali sekelilingnya.
Gilang sedang pergi saat ini. Maura merasa ini adalah kesempatan untuk berpisah dengannya. Melihat dirinya membuat Maura tak sanggup untuk pergi.
Perlahan dibukannya pintu di hadapannya, ditutup kembali dan kemudian dikunci. Masuk kembali ke apartemen Gilang. Sebuah kunci dan surat sengaja Maura letakkan di atas meja.
Sekali lagi Maura menangis menatap sekelilingnya. Teringat kembali setiap kenangan yang pernah terukir diantara mereka.
Sebuah sofa menjadi perhatiannya sekarang. Maura teringat saat dirinya memperebutkan roti dengan Gilang. Maura teringat saat dirinya berlatih membuat dasi untuk Gilang. Kali ini pandangannya beralih ke belakang. Dapur menjadi perhatiannya sekarang.
Menghela nafas kembali, mengusap perlahan air mata yang kembali turun di wajah Maura. Menenangkan hati dan kemudian pergi.
.
.
.
.
Janji sudah terlanjur terjadwal hari ini. Gilang pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Rasanya memang sulit meninggalkan Maura seorang diri dengan keadaannya yang seperti tadi. Gilangpun merasa Maura perlu beristirahat, dia tidak mengajak Maura kali ini.
"Tetaplah di sini, istirahatlah. Aku akan kembali cepat." Pinta Gilang tadi, sebelum dirinya meninggalkan Maura sendiri.
Maura hanya diam, dia hanya menggangguk. Tapi itu membuat Gilang menyimpulkan bahwa Maura akan tetap di sisinya.
Sesuai dengan janjinya. Setelah selesai menyelesaikan pekerjaannya, tanpa membuang waktu, Gilangpun bergegas pulang.
Melajukan mobilnya, dengan rasa yang ingin cepat kembali. Wanita yang dicintai sedang menunggunya saat ini. Dalam perjalanan pandangan Gilang mengarah ke sebuah toko kue. Yah.. Gilang terfikir untuk datang ke sana. Membelikan kue untuk Maura.
Terpakirlah mobilnya, turunlah Gilang perlahan. Sambil mencari nomor Maura dan mencoba menghubunginya.
Maura tak menjawabnya, Gilang kembali menghubungin Maura. Kali ini Maura mengangkatnya.
"Ra.. Aku sedang di toko kue. Kamu suka kue apa?" Tanya Gilang langsung.
__ADS_1
"Kamu tak usah beli apapun." Jawab Maura perlahan.
"Hemm..aku ingin membelinya untuk kamu. Aku akan pilihkan yang terenak."
"Terima kasih." Jawab Maura lagi dan kali ini mencoba menahan tangisnya.
"Ya sudah.. Aku sebentar lagi sampai, tunggu ya." Pinta Gilang.
Maura diam.. Dia tak dapat menjawab apa yang diminta Gilang padanya. Saat ini dirinya telah pergi dari apartemen Gilang, pergi meninggalkan Gilang.
"Ra.. Aku mencintaimu."
"Makasih Lang." Jawab Maura dan langsung menutup telephonenya.
Tangisnya pecah seketika. Terisak sepanjang jalan menjauh dari Gilang. Tatapannya menghadap samping, melihat kesibukan jalan yang penuh dengan kendaraan.
Yah.. Maura dalam perjalanan, dengan supir taksi yang menemani kesedihannya saat ini. Sedangkah Gilang tampak begitu senang, berharap Maura menyukai kue pilihannya.
"Yang ini saja mba." Tunjuk Gilang pada sebuah kue berbentuk hati, dengan coklat yang menyelimuti atasnya.
Sepanjang jalan Gilang tersenyum, berharap Maura akan senang dengan kue yang dipilihkannya. Merindukan senyum Maura, merindukan sosoknya.
Ditatap kembali kue itu. Terukir nama Maura di sana. Tersenyum lagi dan lagi.
"Sebentar lagi ku sampai, tunggu aku." Ucap Gilang dalam hati.
.
.
.
.
Huaaahhhhh author mau nangis😭😭😭 baru bisa UP, maaaaaaffffffffff ya🙏
Huaaahhhhh mereka berpisah😭😭😭
Sebelum lanjut, boleh minta Votenya enggak 👉👈
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak 😊
ratenya juga ya kak😇
dikasih hadiah juga boleh😊
di Vote Alhamdulilah😁
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉
Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.
__ADS_1