
Mendengarnya membuatku malu, aku tersipu saat itu, hatiku tak menentu.. Jantungku berdetak begitu cepat.
Aku menanti hari itu.
-Maura-
🌿🌿🌿
Masih duduk bersama menikmati suasana pagi menjelang siang yang kian begitu tenang. Maura tepat di samping Gilang saat ini. Menyadarkan kepalanya tepat di bahu Gilang.
"Tadi aku sempat khawatir." Ucap Maura.
"Soal apa?"
"Meninggalkan kamu dan Rian berdua."
"Kamu takut kami bertengkar?"
"Ya.. aku takut kamu memukulnya lagi."
"Ra.. Aku ini yang pacarmu, kenapa kamu malah lebih peduli padanya."
Maura tertawa kembali dan kali ini wajahnya mengarah ke wajah Gilang yang tengah menatapnya.
"Kalian berteman, aku tak mau itu rusak karena aku Lang."
"Suruh Rian berhenti mengejarmu, maka kami akan tetap berteman."
"Kamu tenang saja, aku akan terus lari jika dia mengejarku, dan aku akan lari ke arahmu."
Terdiam dan kembali tersenyum dengan wajah yang begitu dekat. Gilang menyentuh wajah Maura saat itu. Mengusap perlahan kening, pipinya dan hingga ke bibirnya.
"Kamu tak perlu lari, aku janji akan selalu ada di sampingmu."
Mendengar ucapan Gilang membuat Maura akhirnya memeluk Gilang. Kedua tangannya seakan terikat di pinggang Gilang begitu kencang, begitu kuat. Seolah tak ingin melepasnya.
Gilang mencium kening Maura kemudian, membuat Maura memejamkan matanya sambil terus memeluknya. Gilang menyambut pelukan Maura, mengusap punggung Maura dan tetap memeluknya.
Saat keduanya bersama, mungkin hanya sesaat. Terdengar suara lain memanggil nama Maura. Awalnya tidak terlalu jelas, namun makin lama makin terdengar.
Ibunya Maura yang memanggilnya saat ini. Tersadar akan kehadiran orang lain sebentar lagi, melepaskan pelukan dengan cepat satu sama lain.
Saling merapikan diri, walau sebenarnya tak ada yang perlu dirapikan. Hanya beberapa helai rambut yang tampak sedikit terlihat tak rapi. Itu pun mungkin karena hembusan angin yang hadir diantara mereka.
"Maura, Gilang ke dalam ya. Kita makan bersama."
"Oh.. iya Tante." Jawab Gilang cepat dan tanpa di sadari tangan Gilang masih menggenggam tangan Maura sejak tadi.
Ibunya Maura pergi, meninggalkan senyum pada mereka. Saling menatap lagi dan tertawa bersama akhirnya.
.
.
.
.
Ada rasa kecewa yang begitu besar di rasakan Rian saat ini. Seandainya waktu bisa berputar kembali, seandainya ia lebih cepat bisa menemukan Maura. Mungkin akhirnya tidak akan seperti ini.
Melangkah meninggalkan Maura bersama Gilang begitu berat bagi Rian. Namun ia tetap harus merelakan.
Rian menatap setiap sudut ruang dalam langkahnya. Banyak kenangan yang ia ingat bersama Maura. Namun sepertinya itu hanya sia-sia. Tak ada kesan yang abadi. Waktu telah mengubah segalanya.
Rasanya kecewa yang dirasakan Rian begitu berat. Janji adalah janji, namun Maura melupakannya, melupakan janji itu.
Kali ini Rian melangkah menuju pintu keluar. Ditatap sekelilingnya. Masih banyak yang tak berubah, namun Maura telah berubah.
"Kenapa?" Tanya Rian sendiri.
__ADS_1
Rian meraih handphonenya kemudian. Di buka sebuah foto yang tak sengaja ia ambil saat berada di apartemen Maura. Foto kecil Maura tersimpan di galeri handphonenya saat ini.
"Mungkin saatnya aku harus melepaskan mu." Ucap Rian lagi.
Memutuskan untuk tetap berdiri, dengan kedua tangan yang masuk ke saku celananya. Memandang lurus ke arah depan. Kembali mengingat dan mencoba melepaskan.
.
.
.
.
Waktu sudah berlalu dengan cepat. Matahari juga sudah tak tampak di langit. Gelap dan sebentar lagi sinar bulan akan muncul.
Gilang masih bertahan untuk waktu yang lama di rumah Maura. Sedangkan Rian dan ibunya sudah lama pamit meninggalkan mereka.
Maura bersiap, merapikan beberapa barang untuk dibawanya kembali. Besok adalah hari Maura menjalankan kegiatan seperti biasanya.
Tok.. tok..
Terdengar suara ketukan pintu dan terdengar perlahan. Ada suara yang sangat dikenali sekali oleh Maura.
"Ra, ibu masuk ya." Pinta ibunya.
"Ya Bu." Jawab Maura cepat.
"Kamu sudah selesai?" Tanya ibunya dan kemudian ikut duduk di sisi kasur dekat dengan Maura saat ini.
"Sebentar lagi Bu." Jawab Maura dan tersenyum menatap kehadiran ibunya.
"Ibu masih kangen padahal."
"Nanti Maura usahakan untuk sering pulang ya Bu."
"Fokus ke kuliahmu saja."
"Ya Bu."
"Gilang pria yang baik."
"Kenapa ibu tiba-tiba membahas Gilang?" Tanya Maura bingung.
"Memangnya tidak boleh membahas calon menantu ibu."
"Hah.. ibu." Ucap Maura dan entah kenapa Maura merasa malu mendengar kata menantu saat ini.
"Kamu bahagia bersama Gilang, Ra..?"
Maura menatap wajah ibunya. Rasanya ia bingung harus berkata apa saat itu. Tiba-tiba tangan ibunya memegang tangan Maura dan menggenggamnya. Tersenyum tepat di wajah Maura.
"Aku bahagia bersama Gilang Bu, dia baik.. sangat baik padaku."
"Asal kamu bahagia, ibu pasti bahagia."
Kembali menatap satu sama lain, tersenyum dan akhirnya Maura memeluk ibunya saat itu.
"Cepat, jangan lama-lama. Gilang menunggu di bawah." Pinta Ibunya sambil mengelus lembut punggung Maura.
Beberapa menit setelahnya, ibunya telah pergi meninggalkannya. Maura melanjutkan apa yang belum terselesaikan.
Setelah merasa semua sudah terlihat rapi dan memastikan tidak ada yang tertinggal, untuk terakhir kalinya Maura menatap wajahnya di depan sebuah cermin yang masih setia berada di kamarnya saat ini. Merapikan sedikit penampilannya. Tersenyum kemudian saat merasa dirinya sudah cukup rapi dan bersiap untuk turun. Membuka pintu perlahan dan menuruni anak tangga dengan cepat.
Langkahnya terhenti, bukan terhenti tapi lebih lambat dari sebelumnya saat melihat sosok Gilang yang tengah berdiri dan tersenyum menatap kehadirannya.
"Kalian hati-hati ya." Pinta Ibunya Maura saat Maura sudah berdiri begitu dekat dengan mereka saat ini.
"Saya pamit, Om.. Tante.." Pinta Gilang akhirnya.
__ADS_1
"Saya tunggu janjimu." Ucap Ayah Maura dan membuat Maura berfikir mendengarnya.
"Janji apa?" Tanya Maura yang merasa begitu penasaran.
"Kita pulang." Ucap Gilang dan tak menjawab apa yang dipertanyakan Maura tadi.
Setelah berpamitan, Gilang meraih tangan Maura dan menggenggamnya. Mengajaknya untuk menuju mobil dan memintanya untuk masuk kemudian.
"Titip Maura ya Lang, jaga dia dengan baik." Pinta ibunya Maura.
"Baik Tante." Jawab Gilang dan akhirnya mereka pergi meninggalkan ibu dan ayahnya Maura saat itu.
Selama perjalanan, Maura terus menatap Gilang. Berharap Gilang menjelaskan tentang janji yang ia bicarakan bersama dengan ayahnya tadi.
"Kamu masih tidak mau cerita."
"Soal apa?" Tanya Gilang yang tampak bingung mendengarnya.
"Janji apa yang kamu dan ayahku bicarakan?"
Gilang tersenyum mendengarnya, dan berhasil membuat Maura cemberut saat itu.
"Kenapa aku harus mengatakannya."
"Lang, ayolah.. aku kan pacarmu, kamu sudah main rahasia-rahasiaan sekarang." Ucap Maura dan tampak kesal dengan kedua tangan berlipat di dada.
Gilang tampak senang melihat Maura saat ini, senang rasanya dapat menggoda Maura.
"Kamu sungguh ingin tahu?"
"Ya.." Jawab Maura cepat dan lugas.
"Aku tak ingin memberitahu."
"Lang.. " Teriak Maura akhirnya.
"Hahahaha.."
"Aku marah, titik."
"Yakin, mau marah denganku."
"Ya, yakin." Jawab Maura dan tampak kesal sekali.
Lampu merah, Gilang menghentikan laju mobilnya. Salah satu tangannya meraih tangan Maura yang masih berlipat. Menggenggamnya begitu lembut.
"Aku berjanji untuk menikahimu Ra." Ucap Gilang dengan wajah menatap Maura.
Jantung Maura berdetak begitu kencang mendengarnya. Wajahnya juga ikut menatap Gilang yang sangat dekat dengan dirinya saat ini. Gilang tersenyum, menenangkan segalanya.
Bahkan berhasil membuat Maura tersipu kemudian.
.
.
.
.
Semoga segera terwujud ya janjinya🤭Semangat... semangat... semangat...💪💪💪
Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Giftnya Alhamdulillah, Supaya tambah semangat up lagi 💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉 (Alhamdulillah udah tamat)
__ADS_1
Promo Novel baru boleh ya👉👈
"Sebatas Pacar Sewaan". Minta dukungannya di sana juga🙏. Terima kasih