Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Ra, Kamu di mana?


__ADS_3

Aku tak tau apapun tentangmu. Aku hanya tau kamu mencintaiku, akupun mencintaimu.


-Gilang-


🌿🌿🌿


Selama perjalanan, Gilang tak berucap sedikitpun. Maura selalu hadir dalam fikirannya. Gilang tak berani menelepon Maura saat itu, takut Laras melakukan hal yang sama seperti tadi.


Laras tampak kesal, tak satupun ucapannya di balas Gilang. Iapun lelah sendiri dan akhirnya memutuskan untuk diam seperti yang Gilang lakukan sejak tadi.


"Sudah sampai, cepat turun." Pinta Gilang.


"Mampir dulu yuk." Ajak Laras sambil melepas sabuk pengaman saat itu.


"Tidak, terima kasih."


"Ayolah.." Ajak Laras lagi dan kali ini merangkul pergelangan tangan Gilang.


"Ku mohon Ras, turun sekarang." Pinta Gilang lagi dan terlihat kesal akhirnya.


"Kamu kenapa sih, galak banget?"


"Ras.. Aku harus pergi sekarang."


"Iya.. Iya.. Aku tau. Kamu sudah punya pacar jadi lupa sama teman." Tuduh Laras dan langsung membuka pintu dan menutupnya begitu keras.


Gilang terkejut dengan ucapan Laras saat itu, terkejut dengan sikap Laras barusan.


"Arghhhh.." Teriak Gilang dengan kedua tangan mengepal.


Laras mencoba meninggalkan Gilang, namun hati kecilnya berkata lain. Ia berharap bahwa Gilang akan ikut turun bersamanya.


Perlahan Laras melangkah, berharap Gilang memanggil namanya. Namun yang terjadi, terdengar suara mobil Gilang yang melaju pergi.


Laras membalikan tubuhnya dengan cepat. Dilihatnya Gilang yang telah pergi dari hadapannya. Laras kesal.. begitu kesal.


"Maura.." Bisik Laras sendiri dengan wajah yang penuh dengan kebencian.


Beberapa menit Laras merasa kesal, terdiam dan masih menatap kepergian Gilang. Sampai akhirnya terdengar suara seseorang memanggil namanya.


Laras terkejut, membalikan tubuhnya segera. Menatap seseorang yang telah memanggil namanya. Bian yang ada di hadapannya sekarang. Laraspun merubah ekspresinya dengan cepat. Ia tersenyum, menyambut kedatangan Bian, perlahan mendekat dan makin mendekat.


Gilang melaju dengan cepat, berkali-kali ia meraih handphonenya dan menghubungi Maura berulang-ulang. Tak ada jawaban satupun dari Maura yang berhasil Gilang terima.


"Ra.. Tolong angkat." Ucap Gilang sendiri.


Entah sudah berapa kali ia mencoba, Gilangpun akhirnya menghubungi Vaya. Berharap Vaya dapat membantu dirinya.


"Va.. Tolong telepon Maura." Pinta Gilang dengan cepat saat dirinya berhasil menghubungi Vaya pagi itu.


"Ada apa sih kalian?" Tanya Vaya dan terdengar kesal.

__ADS_1


"Maura enggak mau angkat teleponku."


"Kamu selingkuh sama sih Laras lagi." Tuduh Vaya akhirnya.


"Enggak seperti itu Va, ini kesalahpahaman. Aku bisa jelaskan nanti. Tolong bantu aku sekarang."


"Gimana mau bantuin, dijelasin juga enggak."


"Tolong bujuk Maura angkat teleponku dulu. Tolong Va."


"Awas kalau beneran kamu selingkuh."


"Enggak Va."


"Yasudah, aku hubungin Maura dulu, tapi itu enggak menjamin dia maafin kamu Lang."


"Ya, terima kasih." Ucap Gilang pasrah.


Gilang masih melanjutkan perjalanannya. Rasa cemas sudah sejak tadi dirasakannya. Ia berharap Maura masih di apartemen saat ini.


Beberapa menit kemudian, Gilangpun sampai, berlari secepat yang ia bisa. membuka pintu dan berteriak memanggil nama Maura berkali-kali. Memasuki setiap ruang yang ada, namun nihil, Gilang tak melihat Maura dimanapun.


Gilang kembali melangkah, kali ini ke aparteman yang ditempati Maura. Berteriak lagi memanggil nama Maura, memasuki setiap ruang kembali. Sepi.. Hanya itu yang ditemukannya.


Gilang mengatur nafasnya, ia lelah mencari, ia lelah berharap. Iapun akhirnya berteriak kesal. Namun tiba-tiba suara handphone mengagetkan dirinya. Itu bukan handphone miliknya. Ia kembali berlari menuju sumber suara itu. Dilihatnya handphone milik Maura yang tergeletak di meja kamarnya. Gilang meraihnya dengan cepat, Vaya yang tengah menghubunginya saat ini. Gilang mengangkatnya, ia terduduk lemas saat itu.


"Va.. Maura tidak membawa handphonenya." Ucap Gilang dengan rasa bersalah terus menghampirinya.


Gilang masih terus mencari, ia tak mau Maura pergi. Lelah memang, tapi itu tak menghalangi dirinya untuk terus mencari. Mengendarai mobilnya kembali. Entahlah.. Gilang tak tau harus kemana, ia tersadar bahwa ia tak tau apa-apa tentang Maura. Kemana biasanya Maura pergi, apa kesukaannya, warna kesukaan Maura saja Gilang salah menduga.


"Ra.. Kamu di mana?" Ucap Gilang lagi.


Laras melangkah mendekati Bian, pria yang tengah memanggil namanya tadi. Senyum sudah terukir di wajahnya, di rangkulnya pergelangan tangan Bian saat itu.


"Kau di sini?" Tanya Laras pada Bian.


"Ya.. Kamu dari mana?" Bian ikut bertanya.


"Hemm.. Hanya mencari udara segar saja di luar." Ucap Laras kembali.


"Oh.. Kamu sudah sarapan?"


"Belum.." Jawab Laras cepat


"Kita keluar yah, cari sarapan." Ajak Bian akhirnya sambil menggenggam tangan Laras.


"Oke." Jawab Laras dan tersenyum kembali.


Laraspun akhirnya pergi kembali, dan kali ini Bian yang menemani.


Gilang tiba di kampus, berlari kembali, bertanya pada setiap orang yang ditemui. Sampai akhirnya ia terduduk kembali. Terdiam untuk waktu yang lama.

__ADS_1


"Lang.. Lo kenapa?"


Gilang mengubah pandangannya segera, ke arah datangnya suara seseorang yang memanggil namanya. Dilihatnya Raka yang tengah memukul pundaknya pelan.


"Lo, liat Maura?" Tanya Gilang tanpa menjawab apa yang dipertanyakan Raka pada dirinya.


"Gua enggak liat." Jawab Raka dengan ekspresi bingung.


Gilang kembali terdiam, tatapannya entah kemana, fikirannya hanya ke Maura.


"Mungkin Vaya tau." Ucap Raka mencoba membantu.


Raka sadar betul, bahwa sesuatu telah terjadi pada mereka.


"Vaya enggak tau." Jawab Gilang datar.


"Lo udah cari ke tempat kosannya dulu, atau tempat dia kerja dulu." Ucap Raka kembali dan kali ini berhasil merubah pandangan Gilang dan menatap Raka yang sudah berada di hadapannya sekarang.


"Lo, ikut gua."


"Ha.., kemana?"


"Cari Maura." Ajak Gilang dan bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


"Raka.. Buruan." Teriak Gilang lagi saat menyadari bahwa Raka masih tak bergerak dari posisi dirinya saat itu.


Raka yang masih tampak bingung dan terkejut saat Gilang memanggil namanya begitu keras, akhirnya ikut melangkah menghampiri Gilang.


"Duh.. Gua salah negor Gilang." Bisik Raka sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Sini author bantu garukin Raka😉


Semangat.. semangat..💪


Sebelum lanjut, boleh minta Votenya enggak 👉👈


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.

__ADS_1


__ADS_2