Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Jaga Hati


__ADS_3

Ketika ku mengetahui perasaan cinta seseorang terungkap. Disaat itulah aku merasakan kesulitan. Berharap itu terucap dari mulutnya sendiri. Supaya aku mudah untuk memperjelas semuanya.


-Maura-


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Maura mengusap keningnya sendiri, berulang kali ia melakukannya menghilangkan kejenuhan yang menghampiri dirinya saat ini. Ia sandarkan tubuhnya di kursi yang sedang ia duduki kemudian, mengela nafasnya dan meletakan pulpen yang sejak tadi menari di atas sebuah buku yang ada di hadapan Maura saat ini.


"Kenapa banyak sekali." Keluhnya.


Maura pejamkan matanya sejenak, menghilangkan rasa jenuh karena tugas yamg menumpuk. Lalu membuka matanya perlahan, dan terkejut saat melihat seseorang sudah berada di hadapannya dan sedang tersenyum menatapnya.


"Rian.." Teriak Maura.


"Ya.."


"Sejak kapan kamu di sini."


"Baru saja."


"Hufftt.. mengagetkan." Jawab Maura dan Rian hanya tersenyum mendengarnya.


"Banyak tugas?"


"Iya nih.. numpuk udah kayak lemak."


"Hahhahaha.."


"Ssttttt... berisik kamu." Ucap Maura dan sedikit berbisik pada Rian.


"Mau ku bantu."


"Wah.. boleh tuh."


"Tapi ada imbalannya."


"Ishhh.. apa imbalannya."


"Kamu jadi pacarku." Ucap Rian dan terdengar begitu mudah.


Maura yang mendengarnya langsung terdiam seketika.


"Aku bercanda.. temani aku makan siang, gimana?" Ucap Rian lagi.


"Oh.. itu.."


"Gilang melarangmu?" Tanya Rian lagi dan tampak terlihat kecewa.


Maura terdiam lagi, tiba-tiba saja ia merasa kesulitan untuk menjelaskannya.


"Maaf Rian.."


"Kenapa minta maaf, begini saja aku akan tetap membantumu. Apa yang bisa ku bantu?"


"Bagaimana kalau aku mengajak Vaya untuk makan siang bersama nanti?"


"Oke, deal ya.."


"Ya.." Jawab Maura singkat dan tersenyum bersama.


Maura mulai menjelaskan, dan kemudian Rian membantunya. Tanpa disadari, Maura tersenyum menatap Rian yang ikut pusing bersamanya. Sebuah pulpen terlihat berputar di genggaman tangan Rian. Terus berputar dengan tatapannya tetap ke arah buku.


"Kamu memang selalu seperti ini?" Tanya Maura, mencoba menghilangkan rasa penasaran karena aksi sebuah pulpen yang berhasil menarik perhatiannya.


"Selalu seperti apa?"


"Itu.. pupen di tanganmu." Ucap Maura dan tatapannya menuju pulpen yang di genggaman Rian.


"Oh.., mungkin ini sudah menjadi kebiasaanku."

__ADS_1


"Pernah mental, dan kena orang?"


"Belum pernah, kamu mau coba?"


"Ihhh.. mana mau."


"Hahaha.."


"Ishhh berisik.. lama-lama kita diusir dari sini." Ucap Maura cepat saat tawa Rian membuat beberapa orang disekitarnya menatap mereka tadi.


"Iya..iya sorry.." Bisik Rian kemudian.


Melanjutkan kembali kesibukan yang sempat tertunda. Kali ini Rian yang menatap Maura. Maura tampak mengelus keningnya berkali-kali, dengan tatapan tertuju pada buku yang ada di hadapannya saat ini.


"Perlu aku panggilkan tukang pijat?"


"Hah.. maksudmu?" Tanya Maura dan tampak bingung.


"Ehm. kurasa tak perlu.. biar aku saja yang memijatnya." Jawab Rian dengan jari-jari yang bergerak ke arah kening Maura.


Rian mengusapnya, awalnya tatapan Rian tertuju ke kening, beberapa detik kemudian tatapan mereka bertemu dengan tangan Rian yang masih menempel di kening Maura.


Maura tersadar cepat, ia bangun dari duduknya dan sekarang sudah berdiri.


"A.. eh.. aku ke toilet bentar." Ucap Maura dan langsung bergegas pergi.


"Titip salam sama tukang pijat." Goda Rian.


"Mana ada."


Rian yang mendengarnya kali ini hanya tersenyum, Entah kenapa ia merasa bahagia melihat kegugupan Maura. Maurapun bergegas pergi meninggalkannya.


Senyum masih terukir di wajah Rian. Menatap Jemarinya sendiri dan kemudian tersenyum lagi.


Sedangkan Maura, sepanjang jalan ia menggerutu. Ada rasa sesal yang dirasakannya saat ini. Sesal saat mengetahui bahwa Rian menyukai dirinya.


.


.


.


.


Rian sibukan dirinya lagi, dengan tugas-tugas Maura. Sesekali ia melirik jam tangan yang melekat di tanganya. Sudah lima belas menit berlalu. Maura masih tak kunjung datang.


"Rian, ngapaian di sini. Maura mana?" Tanya Vaya yang tiba-tiba datang tanpa disadari Rian.


Vaya mengedarkan pandangannya kesegala arah, mencari sosok Maura. Lalu pandangannya kembali ke arah Rian.


"Vaya, kamu di sini." Ucap Rian dan terdengar terkejut.


"Ya.. Maura tadi telepon, aku disuruh ke perpustakan. Sekarang dia di mana?"


"Dia ke toilet." Jawab Rian bingung.


"Hem.. nah Maura telephone lagi." Ucap Vaya saat menyadari handphonenya bergetar dan tertulis nama Maura di sana.


"Ya Ra.. aku udah di perpustakaan nih."


"Bawaain tasku dan segala isinya ya, aku tunggu kalian di kantin, oke.." Pinta Maura dan langsung mematikan telephonnya.


"Ish.. dasar."


"Dia bilang apa?"


"Kita disuruh ke kantin sekarang."


"Oke.." Jawab Rian singkat.

__ADS_1


Vaya mulai merapikan semuanya, dengan Rian membantunya. Suasana menjadi hening seketika, ada sesuatu yang mengganjal di antara mereka berdua.


"Kamu masih marah Va?"


"Marah soal apa?" Jawab Vaya dan tetap terlihat sibuk.


"Semalam."


"Kenapa aku mesti marah?"


"Kamu enggak mau ku antar semalam."


"Oh.. lupakan soal itu, lagi pengen naik taksi saja semalam. Nah sudah beres.. yuk, Maura sudah menunggu di kantin." Ajak Vaya dan langsung menenteng tas Maura dan melangkah terlebih dahulu.


"Biar aku yang bawakan." Pinta Rian dan langsung meraih tas Maura yang ada digenggaman Vaya.


"Oh.. oke.." Jawab Vaya singkat.


Melangkah bersama, namun tak ada pembicaran yang terjadi antara mereka. Sesekali Vaya sibukkan dirinya dengan membuka handphone miliknya, menghilangkan kesunyian yang hadir diantara mereka. Sedangkan Rian masih terlihat bingung, dengan perubahan sikap Vaya yang terbilang cepat.


Vaya berlari kemudian, saat dirinya sudah mendapati Maura yang tengah melambaikan tangan menunjukkan di mana dirinya berada.


"Lama sekali kalian." Protes Maura saat Vaya dan Rian sudah berada di hadapan Maura saat ini.


"Siapa suruh bawaanmu banyak."


"Hahah.. Makasih ya Va, Rian. Ikhlaskan?" Ucap Maura Bersamaan dengan diberikannya tas Maura oleh Rian.


"Ya ikhlas dong, jadi dalam rangka apa nih, diajak ke kantin?" Tanya Vaya kembali sambil mengeser kursi dan duduk kemudian. Rian pun sudah duduk di samping Vaya dengan Maura yang ada di hadapannya.


"Aku mau traktir makan siang, karena Rian sudah membantu hari ini."


"Oh ya.. lalu kenapa aku ikut ditraktir?" Tanya Vaya bingung.


"Karena kamu sahabatku dong Va." Jawab Maura cepat dan kemudian pandangannya beralih ke Rian.


Maura terdiam, dirinya berfikir. Mungkinkah ini salah. Rian telah membantunya, mentraktir makan seharusnya tak salah. Tapi ia merasa telah memanfaatkan Vaya.


"Aku akan menjelaskannya setelah ini." Bisik Maura sendiri dan pandangannya sekarang beralih ke Vaya.


.


.


.


.


Gilang kamu di mana?, Awas Maura ditikung di sepertiga malam loh๐Ÿ˜…


Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘ˆ


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak ๐Ÿ˜Š


ratenya juga ya kak๐Ÿ˜‡


dikasih hadiah juga boleh๐Ÿ˜Š


di Vote Alhamdulilah๐Ÿ˜


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐Ÿ˜‰


Terima kasih yang sudah Vote๐Ÿ˜˜, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐Ÿ˜Š.๐Ÿ‘ˆ


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2