
Maafku selalu ada untukmu, tapi aku lelah.. Mungkin ini saatnya.
-Maura-
🌿🌿🌿
Gilang masuk ke dalam mobil, diikuti Raka kemudian. Menyalakan mobilnya kembali, melaju dengan cepat.
"Woi... Lang pelan-pelan." Pinta Raka.
Gilang diam, tak menuruti apa yang Raka katakan padanya. Tetap melajukan kendaraanya dengan cepat. Saat lampu merahpun, Gilang merasa ingin menerobosnya.
"Tenang Lang, tenang." Pinta Raka kembali.
Pandangan Gilang tetap lurus ke depan, Raka tetap bicara banyak, walau tak satupun dibalas oleh Gilang.
"Hadehh.. Lo kenapa ajak gua sih, kalau cuman dicuekin gini." Protes Raka kali ini, saat lampu merah masih menyala.
Tiba-tiba, Gilang melihat seseorang yang selama ini dicarinya, ia melihat Maura. Maura sedang melintas di hadapannya. Gilangpun membuka sabuk pengamannya dan langsung membuka pintu segera.
Gilang melangkah dengan cepat, meraih pergelangan tanganya. Lalu memanggil namanya.
"Maura." Ucap Gilang akhirnya.
Ya.. Itu memang benar Maura. Terkejut melihat Gilang saat ini. Hanya berani menatapnya dan tak bicara sedikitpun. Saling menatap satu sama lain untuk beberapa detik, sampai akhirnya bunyi klakson menyadarkan mereka.
Raka panik, iapun ikut turun akhirnya. Mewakilkan mereka meminta maaf pada beberapa mobil yang telah terhalang jalannya oleh Gilang dan Maura saat ini.
"Lang.. Ra.. Buruan masuk mobil." Pinta Raka.
Gilang tau, Maura pasti tidak akan mau menuruti pinta Raka saat ini. Gilangpun menarik tangan Maura dan mengajaknnya masuk ke dalam mobil.
"Bawa mobilnya." Pinta Gilang pada Raka.
Gilang membuka pintu belakang mobil untuk Maura. Maura sudah duduk sekarang. Diikuti Gilang yang duduk di sampinnya. Rakapun juga sudah duduk dan membawa mobil milik Gilang, suara klakson kembali terdengar membuat Raka harus segera membawa mobil ini pergi secepatnya.
"Mimpi apa gua semalam." Ucap Raka dan sengaja dibuat terdengar oleh Gilang dan Maura.
Gilang dan Maura masih terdiam, Maura menghadapkan pandangannya ke arah luar kaca mobil. Sedangkan Gilang terus menatap Maura. Gilang merasa tenang sekarang. Dipandangi terus Maura, diraih kembali tangannya, namun dilepas dengan cepat oleh Maura kali ini.
"Kalian akan seperti ini terus." Protes Raka lagi, karena sudah merasa jenuh melihat sikap Gilang dan Maura sejak tadi.
"Ra.." Panggil Gilang akhirnya.
Maura tetap diam dan tak menjawab apapun. pandanganya tetap melihat kesibukan jalan di samping dirinya.
"Kamu kemana Ra? Aku mencarimu." Lanjut Gilang dan mencoba meraih kembali jari jemari Maura saat ini.
Kali ini Gilang lebih kuat menggenggamnya, membuat Maura tak bisa melepaskannya, dan akhirnya membiarkan tangan Gilang tetap menyentuh tangannya.
__ADS_1
"Sampe gila tuh Gilang, nyariin kamu Ra." Ucap Raka kembali, dan kali ini mendapat tatapan yang mengerikan dari Gilang.
"Ra.." Panggil Gilang lagi, karena masih belum terdengar Maura berucap satu katapun padanya.
"Ini pasti gara-gara Laras. Ya ampun Lang, gua udah bilang, buang si Laras ke laut. Paling juga nanti muncul di koran." Ucap Raka lagi karena merasa kesal melihat pertikaian mereka.
"Raka, lo bisa diam dulu enggak. Bawa mobil yang bener." Protes Gilang akhirnya.
"Iye..iye.. gua diam, tapi sekarang kita mau kemana yak? Tanya Raka akhirnya.
"Pulang." Jawab Gilang dan Maura bersamaan.
"Oke.." Jawab Raka cepat dan tersenyum melihat kekompakan Gilang dan Maura.
Gilangpun ikut tersenyum, Maura kembali mengalihkan pandangannya yang tadinya sempat menatap Raka yang bertanya.
Raka tau, mereka saling mencintai. Pasti ada kesalahpahman diantara mereka. Menghindar bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan permasalahan. Mereka perlu bicara, setidaknya mereka masih satu kata. Walau kata itu "Pulang" namun membuat Raka merasa lega, akhirnya ia bisa terbebas.
Gilang masih terus menggenggam tangan Maura, ia tak membiarkan Maura melepas genggamannya. Sepanjang jalan mereka diam. Gilang mencoba menenangkan hatinya, dan membiarkan Maura menenangkan hatinya juga.
Lalu Raka tak habis ide, ia tak diizankan bicara, diputarnya sebuah lagu untuk bisa mereka nikmati bersama.
.
.
.
.
"Gua balik." Ucap Raka.
"Ya, terima kasih." Jawab Gilang.
Gilangpun kembali melangkah, dan masih terus menggenggam tangan Maura. Gilangpun seakan menarik tangan Maura, Maura terlihat malas melangkah.
"Kamu mau aku gendong Ra?" Tanya Gilang dan mengejutkan Maura.
Maura terkejut, namun Gilang tersenyum melihat keterkejutan Maura barusan.
Mereka sudah masuk ke dalam bersama. Meminta Maura duduk, dan Gilangpun duduk tepat di sampingnya.
"Ra.. Maaf." Ucap Gilang mencoba memecahkan kesunyian.
"Kamu hanya bisa minta maaf saja." Ucap Maura akhinrya namun membuat Gilang terkejut dan terus menatapnya.
Dilihatnya wajah Maura saat ini, dilihatnya air mata yang tengah mengumpul di kedua mata milik Maura. Akhirnya air mata itu terjatuh. Sakit hati Gilang menatap ini semua. Disentuhnya perlahan wajah Maura, dihapus dengan lembut air mata itu.
"Aku mencari sejak tadi."
__ADS_1
"Kenapa kamu masih mencariku, bukannya kamu sedang pergi dengan Laras. Kenapa masih mencariku Lang." Maura tampak emosional sekali, bahkan kalimat terakhir terdengar begitu kencang di telinga Gilang. Kali ini air matanya turun dengan cepat.
Maura menangis, benar-benar menangis. Gilang memeluknya kali ini. Membiarkan Maura tetap menangis dalam pelukkannya.
Untuk beberapa menit hanya terdengar isak tangis Maura.
"Aku tak sungguh pergi dengan Laras, Ra." Ucap Gilang sambil mengusap lembut punggung tubuh Maura.
"Tadi ku fikir dia sakit, dia memang mempunyai sakit maag sejak dulu. Tapi ternyata dia berbohong." Gilang mencoba menjelaskan.
"Aku tak mengiyakan ajakkannya untuk pergi bersama, ku harap kamu percaya padaku." Gilang menjelaskan lagi.
"Ra.. Aku minta maaf." Ucap Gilang dan masih terus mengusap perlahan punggung Maura.
Beberapa menit kemudian, Maura melepas pelukkannya, ditatapnya wajah Gilang yang ada di hadapannya.
"Aku selalu memaafkanmu Lang." Ucap Maura dan membuat Gilang tersenyum akhirnya.
"Aku juga ingin pergi, aku perlu waktu untuk memahami ini semua." Ucap Maura lagi dan kali ini membuat senyum Gilang lenyap dalam sekejap.
"Maksudmu?" Tanya Gilang akhirnya.
"Kita berpisah." Ucap Maura memperjelas semuanya.
Gilang melepas genggaman tangannya pada tubuh Maura, ia begitu terkejut mendengarnya. Maura tetap tersenyum menatap wajah Gilang, walau airmata terus turun di wajahnya.
.
.
.
.
Huaaahhhhh author mau nangis😭😭😭
Sebelum lanjut, boleh minta Votenya enggak 👉👈
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak 😊
ratenya juga ya kak😇
dikasih hadiah juga boleh😊
di Vote Alhamdulilah😁
__ADS_1
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉
Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.