
Aku seperti menjadi sahabat yang buruk. Aku bahkan tak tahu kalau kamu menyukainya.
-Maura-
🌿🌿🌿
"Apa itu?" Tanya Maura dan langsung bangkit dari duduknya, melangkah menuju pintu kamar Rian segera.
Sama halnya dengan Maura, Rian pun tengah terkejut saat itu.
Maura menatap seseorang yang tengah berjongkok di balik pintu. Ia sedang berusaha mengumpulkan kembali beberapa buah yang terjatuh.
"Vaya." Ucap Maura dan ikut berjongkok dan membantu.
"Kamu sudah datang?" Ucap Maura lagi.
"Ya." Jawab Vaya dan masih terus menundukkan wajahnya.
Tiba-tiba Vaya terhenti, tak meneruskan lagi mengambil buah-buah yang terjatuh itu. Ia terdiam dan terdengar suara isak tangis yang keluar dari bibir Vaya.
"Kenapa Va?" Tanya Maura heran.
Jelas Maura heran, tiba-tiba saja Vaya menangis. Apa yang terjadi sepanjang perjalanan dirinya ke sini.
Sampai akhirnya terdengar suara lain memanggil nama Vaya dan membuat Vaya maupun Maura menatap datangnya suara itu.
"Va." Panggil Rian.
Dengan bersusah payah, Rian mencoba berjalan, mencoba memastikan apa yang tengah terjadi di luar kamarnya.
"Aku pamit pergi, kalian lanjutkan saja ngobrolnya." Pinta Vaya dan benar ia beranjak pergi saat itu.
"Loh.. Vaya.. kamu kenapa? Baru juga datang, kenapa harus pergi?" Tanya Maura yang merasa ada sesuatu yang salah yang tengah terjadi.
Maura menarik pergelangan tangan Vaya, menghalanginya untuk pergi.
"Lepasin Ra." Pinta Vaya dan berhasil membuat Maura menatap tak percaya.
Terlihat wajah Vaya saat ini, matanya berkaca-kaca, pipinya basah karena tetesan air mata yang membasahinya. Akhirnya terlepas perlahan genggaman tangan Maura.
Dan saat itu juga, Vaya pergi meninggalkan Maura dan Rian, melangkah begitu cepat.
"Vaya.." Teriak Rian mencoba menghalangi kepergian Vaya.
__ADS_1
Namun Vaya tetep pergi, walau teriakan Rian terdengar. Vaya tetap pergi. Bahkan Rian tengah berusaha melangkah mengejar Vaya dan merintih kesakitan, Vaya tetap pergi.
Maura yang tadinya ingin mengejar Vaya, akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal bersama Rian. Membantu Rian melangkah, yang begitu menahan rasa sakitnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Bisik Maura sambil membantu Rian masuk kembali ke kamarnya. Rasanya ia begitu cemas melihat Vaya.
"Aku bisa sendiri, kau kejar Vaya saja." Pinta Rian, menyadari kegelisahan Maura.
Setelah mendengar ucapan Rian, Maura pun akhirnya memutuskan untuk pergi. Langkahnya begitu cepat, ia bahkan berlari.
"Va.." Teriak Maura saat dirinya berhasil melihat Vaya kembali.
Hampir saja Vaya pergi, saat sebuah taksi mendarat di hadapan mereka. Maura melarangnya untuk pergi, meraih tangannya lagi dan meminta taksi itu untuk pergi.
"Aku mau pulang Ra." Ucap Vaya berteriak dan tampak kesal.
"Enggak, enggak boleh, sampai kamu ngejelasin apa yang sebenarnya terjadi."
"Enggak ada apa-apa Ra."
"Bohong, jelas ada apa-apa." Ucap Maura dan ikut berteriak.
Vaya terkejut, dan akhirnya air mata kembali menetes di pipinya. Maura memeluknya, mengusap perlahan punggungnya. Menenangkannya dalam kesunyian yang tiba-tiba saja hadir diantara mereka.
"Kenapa Rian masih saja mengharapkanmu?" Ucap Vaya lagi dan membuat Maura tercengang mendengarnya.
"Maksudmu?" Tanya Maura meminta penjelasan. Kini mereka saling menatap.
"Aku tahu Rian menyukaimu, aku tahu kamu menyukai Gilang. Aku tahu itu.."
Maura terus berpikir, ke arah mana pembicaraan ini. Apa maksud dari kata-kata Vaya barusan.
"Kamu menyukai Rian?" Tanya Maura akhirnya dan pertanyaan itu membuat Vaya terisak lebih kencang.
"Aku bodoh menyukai Rian, padahal jelas Rian masih menyukaimu."
"Kamu salah Va.." Ucap seseorang yang tiba-tiba saja hadir diantara mereka.
Rian yang hadir saat itu, masih berusaha melangkah mendekat ke arah Maura dan Vaya.
"Rian." Panggil Vaya akhirnya yang tak percaya bahwa Rian mendengar apa yang telah dirinya dan Maura bicarakan.
"Kamu salah Va.." Ucap Rian lagi dan kini dirinya sudah begitu dekat dengan Vaya.
__ADS_1
"Hanya kamu yang aku sukai saat ini dan untuk selamanya."
Vaya terkejut, mendengar pengakuan Rian. Ia berkata didepan Maura dan dirinya. Begitupun dengan Maura. Maura yang tidak tau apa-apa tentang hubungan mereka sangat terkejut. Yah.. sejak kapan mereka saling menyukai..? Itulah yang muncul di benak Maura dan bertanya-tanya.
"Jadi sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Maura memastikannya.
"Maapkan aku Ra, aku cemburu melihat kedekatan kalian." Ucap Vaya menjelaskan.
"Jadi kalian pacaran? Sejak kapan?."
"Entahlah.." Jawab Vaya dan terlihat bingung menjelaskan.
"Sudahlah, Kamu tau jelas perasaanku untuk siapa. Tolong jangan bersikap seperti tadi."
"Maap Ra."
"Kamu juga Rian. Tolong jaga perasaan Vaya."
"Ya.." Ucap Rian dan kemudian meraih jemari Vaya dan menggenggamnya.
"Ya sudah, kalian cepatlah ke dalam." Pinta Maura dan dibalas dengan senyum Rian dan Vaya.
Maura pun ikut tersenyum saat itu. Rasanya ia telah menjadi teman yang buruk buat Vaya. Ia tidak tahu kalau sahabatnya selama ini menyukai Rian.
"Maafkan aku Va. Mungkin aku terlalu egois selama ini, selalu memikirkan hubungan ku dengan Gilang. Tak pernah ku pikirkan perasaan Vaya yang sepertinya begitu menyukai Rian, sepertinya ia sudah memendamnya cukup lama." Bisik Maura sambil melihat kepergian Vaya dan Rian melangkah bersama.
"Rian pria yang baik, ku harap kamu bisa membahagiakan Vaya." Bisik Maura lagi.
Tak lama kemudian, Maura pun memutuskan untuk pergi. Berpamitan, meninggalkan mereka bersama. Bahagia melihat mereka, itu lah yang dirasakan Maura. Rian telah melepaskan perasaannya yang dulu. Vaya pun sudah mendapatkan kebahagiannya.
Maura saat ini tengah berada di tempat lain. Di sebuah kafe, tak jauh dari apartemennya. Duduk sendiri, sambil memandang luar dari balik jendela kafe ini berada.
"Sendiri?" Ucap seseorang yang tiba-tiba hadir menghampiri dirinya.
Mengubah pandangannya saat ini, menatap seseorang yang tengah berdiri menghadap dirinya dan tersenyum.
.
.
.
.
__ADS_1
Selamat ya VayaðŸ¤