Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Memilihmu dan Buktikanlah


__ADS_3

Semenjak kau hadir di kehidupanku, kamu berhasil mencuri hatiku. Dan mungkin saat itu, tanpa ku sadari, aku telah jatuh cinta padamu.


-Gilang-


🌿🌿🌿


Gilang menatap Maura yang tengah sibuk mengobati luka di pipinya. Tak henti-hentinya ia tersenyum, memandang wajah Maura tiada henti.


"Kenapa kamu bisa dipukul Bian?"


"Karena aku memukulnya."


"Kenapa kamu memukulnya?" Tanya Maura lagi dan menghentikan kesibukannya saat itu.


"Karena dia enggak ada saat Laras butuh dirinya."


"Kamu masih mempedulikan Lasar?"


"Ra, Aku punya kamu sekarang, jadi mulai sekarang hanya kamu yang ku pedulikan."


"Huhhh.. gombal." Ucap Maura tersenyum dan kemudian bangkit dari duduknya.


Maura hendak beranjak pergi, merapikan kotak obat yang ia bawa tadi saat dirinya hendak mengobati Gilang.


"Nanti saja kamu bereskan, duduk saja dulu." Pinta Gilang sambil meraih pergelangan tangan Maura untuk kembali duduk bersamanya.


Maura mengalah dan kembali duduk akhirnya. Memandang Gilang dan Gilang kembali tersenyum menatap Maura.


"Terima kasih Ra."


"Karena aku mengobatimu?" Tanya Maura memastikan dan Gilang menggeleng.


"Bukan.."


"Lalu?"


"Karena kamu enggak memilih untuk meninggalkanku."


"Karena aku memilihmu, maka jangan mengecewakanku."


"Aku akan buktikan itu." Ucap Gilang lagi. Maura dan Gilangpun kembali tersenyum bersama.


Malampun semakin larut. Gilang dan Maurapun akhirnya memutuskan untuk tidur. Maura tertidur di kamar Gilang, Gilangpun menghabiskan malamnya di sofa.


Maura menatap langit-langit kamar saat itu. Mengingat kembali apa yang telah terjadi beberapa hari ini. Tak pernah terbayangkan oleh Maura, bahwa akhirnya Gilang menyatakan cinta padanya.


"Hatiku memilihmu Lang." Bisik Maura sendiri, tersenyum dan mencoba menutup mata akhirnya.


Gilangpun juga sedang mengingat kembali apa yang telah terjadi belakangan ini. Saat Maura mengatakan akan meninggalkannya tadi, rasanya Gilang sangat menderita. Gilang merasa Maura segalanya.


"Aku akan membuktikannya, bahwa aku bisa membuatmu bahagia." Bisik Gilang sebelum akhirnya ia memejamkan mata untuk tertidur.

__ADS_1


.


.


.


.


Pagi telah tiba. Laras terbangun dan kemudian turun dari kasurnya. Memandang sekelilingnya dan kemudian mencari sosok Gilang.


Dilihatnya punggung pria yang tengah membelakanginya dari kejauhan. Laras tersenyum dan memanggil nama Gilang saat itu.


Pria itu berbalik akhirnya. Senyum kecewa terlihat jelas saat itu. Iapun melangkah menghampiri Laras. Sedangkan Laras terkejut saat menyadari bahwa bukan Gilang yang berada di hadapannya sekarang, melainkan Bian.


.


.


.


.


Saat siang hari, di sebuah kantin kampus.


"Hufttt...."


Mengaduk-ngaduk minuman di hadapannya. Tersenyum sendiri dan fikirannya terbang mengingat kejadian pagi tadi.


"Waduhhh.. yang baru jadian. Senyum enggak ngajak-ngajak." Suara wanita terdengar, menghapus lamunan Maura siang itu.


Vaya hadir di hadapan Maura. Ia menarik kursi dan kemudian duduk dan ikut tersenyum memandang Maura yang jadi salah tingkah sendiri.


"Lagi ngelamunin Gilang ya."


"Apaan sih Va, godain aja." Ucap Maura dan kemudian meneguk minuman miliknya itu.


"Pacarmu datang tuh." Ucap Vaya lagi saat melihat Gilang dari kejauhan sedang Melangkah menuju Maura.


Beberapa menit kemudian, Gilangpun telah sampai. Langsung duduk tepat di samping Maura. Ada Raka juga saat itu.


"Hai Maura.." Sapa Raka dan tersenyum sesempurna mungkin.


"Nyapanya enggak usah berlebihan gitu." Protes Gilang dan menatap tak suka pada Raka.


"Ihhh.. kenapa jadi lo yang protes." Jawab Raka dan kemudian ikut duduk bersama.


"Enggak usah macem-macem sama Maura, udah ada yang punya sekarang dia." Vaya ikut bersuara.


"Hah.. gua telat dong. Beruntung banget tuh cowok." Ucap Raka polos.


Gilang yang mendengarnya tersenyum sendiri. Rakapun akhirnya mulai curiga.

__ADS_1


"Jangan bilang itu lo Lang?" Tanya Raka akhirnya.


"Ah.. jahat lo, temen macam apa ini. Masa gua enggak dikasih tahu." Ucap Raka lagi seolah sedang kesal, padahal tidak demikian.


"Ya.. gua udah jadian sama Maura." Jawab Gilang sambil menatap Maura dan tiba-tiba meraih jari jemari Maura yang tergeletak di atas meja saat itu.


Gilang menggenggamnya dan tersenyum pada Maura.


"Oh tidak... jiwa jombloku meronta." Teriak Raka akhirnya, dan merekapun tertawa bersama.


Dari kejauhan, Rian tengah melangkah menuju mereka. Memandang Maura dan tersenyum saat melihat Maura tertawa saat itu.


"Hei Rian.." Panggil Raka saat dirinya menyadari bahwa ada orang lain yang sedang mendekat ke arah mereka.


Gilang menatap Rian, dirinya teringat akan ucapan Rian kemarin. Kata-kata Rian masih terekam sempurna diingatan Gilang. Senyum Gilang terhenti saat itu, melihat Rian yang ikut duduk dan memilih kursi yang dekat dengan Maura. Maura tersenyum, melihat kedatangan Rian. Rianpun membalas senyum Maura.


"Jadi kapan nih, kita-kita di sini dapat traktiran?" Tanya Raka.


"Ada acara apa memangnya?" Rianpun ikut bertanya.


"Gilang sama Maura sudah resmi berpacaran."


Rian terdiam mendengarnya. Ternyata dirinya benar-benar sudah terlambat. Hanya bisa menatap Maura namun tak sanggup untuk bersuara.


Dalam sekejap Rian menjadi begitu pendiam. Tak bersuara saat Raka dan lainnya sibuk menentukan tempat apa yang akan mereka kunjungi nanti, sebagai bentuk perayaan hubungan antara Maura dan Gilang yang sudah terjalin.


Vayapun diam-diam memperhatikan Rian saat itu. Rian pasti sedang kecewa saat ini. Namun apa yang bisa Vaya lakukan. Vaya tidak bisa memaksakan perasaan Maura untuk Rian. Begitupun juga dengan perasaan Rian untuk dirinya.


.


.


.


.


Hmm😟


Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Votenya juga ya, Supaya tambah semangat up nya.


💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁

__ADS_1


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


__ADS_2