Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Indah pada Waktunya.


__ADS_3

Akan ada pelangi, setelah hujan.


-Vaya-


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Maura berjalan perlahan dengan Vaya masih menemani dirinya. Vaya menggenggam pergelangan tangan Maura seperti hendak menuntun dirinya. Maura terdiam sepanjang jalan. Tatapannya lurus dan air matanya menetes beberapa kali.


"Ra.. hayolah Ra, jangan seperti ini." Pinta Vaya namun Maura tetap diam.


Saat itu, Maura masih teringat akan kejadian saat dirinya memutuskan untuk meninggalkan Gilang sendiri akhirnya. Gilang memanggil berulang kali nama Maura. Awalnya terdengar pelan, namun semakin langkah Maura pergi menjauh Gilang makin memanggilnya dengan keras.


Maura menangis saat itu. Mengucapkan maaf berkali-kali. Tak menengok sedikitpun ke belakang. Ia tak sanggup melihat wajah Gilang yang memohon padanya.


"Ra.. ku mohon jangan pergi." Pinta Gilang tadi.


"Tidak, Maura tetap harus ikut denganku." Paksa Vaya dan langsung menarik pergelangan tangan Maura dan mengajaknya pergi.


"Ra.." Panggil Gilang kembali saat Vaya sudah berhasil membuat Maura terbangun dari duduknya.


Gilang ikut menarik tangan Maura yang satunya lagi. Menggenggam jemarinya dengan erat. Memohon dan meminta maaf berkali-kali.


"Jangan pergi Ra.. Aku minta maaf, ku mohon maafkan aku." Pinta Gilang dan kali ini menyentuh wajah Maura.


Maura hanya terdiam, matanya berkaca-kaca. Maura menahannya, menahan air matanya untuk tak tumpah di depan Gilang.


Vaya yang menyaksikan hal itu, segera menepis tangan Gilang. Mendorong Gilang agar menjauh dari Maura.


"Sudah lepaskan Maura." Pinta Vaya dan saat itu menarik kembali tangan Maura.


"Aku pergi Lang." Ucap Maura akhirnya dan Gilang menggeleng dengan cepat, meraih jemari Maura kembali.


"Maaf.." Ucap Maura dan melepas perlahan jari-jari Gilang yang menyentuh jarinya.


"Hayolah Lang, izinkan kami pergi. Kamu sudah dengar sendiri kan. Maura bilang dia akan pergi."


Gilang terdiam, rasa bersalah dan kecewa menjadi satu. Dia tak ingin Maura pergi saat itu. Dia ingin Maura tetap di sini. Namun Maura memilih untuk pergi meninggalkannya.


Maura melangkah pergi akhirnya, perlahan dan meninggalkan Gilang yang masih terdiam. Saat itu, Gilang tiba-tiba kembali bersuara. Mengungkapkan perasaannya pada Maura.


Maura ingat betul apa yang diucapkan Gilang padanya dan masih mengingat jelas ucapannya hingga sekarang.


"Aku mencintaimu Ra, aku sangat mencintaimu. "


Langkah Maura terhenti kembali, jantungnya berdebar begitu kencang. Kalimat itu terdengar begitu indah dari mulut Gilang. Dengan lantang Gilang mengatakan itu. Gilang mengatakan bahwa ia menyukai dirinya.


"Ra.. aku mencintaimu, aku minta maaf, aku telat menyadarinya." Ucap Gilang kembali.


Maurapun akhirnya menangis, berusaha untuk tak terisak. Ia tak mau tangisnya terdengar oleh siapapun. Akhirnya Gilang menyatakan cintanya.


"Ya.. kamu telat." Ucap Vaya tiba-tiba dan mengajak Maura kembali pergi.

__ADS_1


Hingga saat ini, sampai akhirnya Maura dan Vaya tiba di lantai dasar. Maura masih mengenang kembali kejadian tadi sepanjang langkahnya.


Maurapun terhenti melangkah, menatap langit malam yang sangat indah terlihat. Maura sudah berdiri di luar gedung apartemen ini. Menghela nafasnya, memejamkan matanya sesaat dan menenangkan hatinya kembali.


Gilang terduduk akhirnya, di sofa dan menundukkan kepalanya. Mengacak-ngacak rambutnya sendiri dan berteriak kesal.


"Aarghhhh..." Teriaknya


"Aku memang bodoh, aku bodoh.." Tuduhnya sendiri, untuk kesekian kali.


Gilang menangis, terakhir kali Gilang menangis adalah saat Laras dulu meninggalkannya. Sekarang Gilang menangis lagi, menangis karena Maura telah pergi meninggalkannya juga.


"Kenapa kamu pergi... kenapa?" Teriak Gilang lagi.


Dalam malam, Gilang terpuruk karena perbuatannya sendiri. Menyesali apa yang telah terjadi, tak mampu mengubahnya. Sampai akhirnya seseorang memanggil namanya.


"Gilang.."


Gilang mengangkat kepalanya dengan cepat, ditatapnya seseorang yang melangkah menghampirinya. Seorang wanita dan tersenyum padanya. Namun matanya berkaca-kaca saat itu.


Gilang mengenalinya. Ia bangkit dari duduknya dengan cepet. Gilangpun melangkah sangat cepat. Seseorang yang di hadapannya saat itu, adalah wanita yang sangat ia inginkan. Wanita yang telah ia sakiti tanpa ia sadari. Wanita yang baru saja pergi dan akhirnya ia kembali.


"Maura.." Panggil Gilang.


Saat dirinya sudah sampai di hadapan Maura. Gilang langsung memeluknya, bahkan Gilang menangis kembali.


"Terima kasih Ra, kamu kembali." Ucapnya berbisik.


Maurapun akhirnya ikut meneteskan air matanya. Menyambut pelukan Gilang dengan erat.


Vaya tampak mengatur nafasnya saat itu. Ia berlari mengejar Maura yang tiba-tiba saja meninggalkannya tadi.


Vaya berfikir, Maura mungkin kembali ke atas. Maura kembali ke Gilang. Tindakan Maura yang tiba-tiba membuat dirinya terkejut. Langkah Maura lebih cepat, Vayapun tak berhasil menyusulnya.


Sampai akhirnya ia berhenti melangkah. Di depan pintu dan menatap Gilang dan Maura sedang berpelukan satu sama lain.


Vaya tersenyum akhirnya, tanpa di sadari ikut meneteskan air mata saat menyaksikan mereka yang berpelukan.


"Hah kalian.. Aku seperti orang jahat yang telah memisahkan kalian berdua." Bisik Vaya sendiri.


Vaya tetap menatap mereka. Rasa kesalnya hilang seketika. Namun tiba-tiba rasanya Vaya ingin menjerit.


Ya.. Gilang menatap wajah Maura sangat dekat. Gilang tersenyum dan terus menatapnya. Seluruh yang ada di wajah Maura tak luput dari pandangannya. Gilang usap pipih Maura yang basah karena air mata. Ia kecup kening Maura kemudian.


"Aku mencintaimu Ra." Ucap Gilang dan membuat senyum terukir di wajah Maura.


"Aku juga mencintaimu Lang." Ucap Maura akhirnya dan juga berhasil membuat Gilang tersipu.


"Mulai sekarang kamu pacarku." Ucap Gilang lagi.


Gilang hendak mendekatkan wajahnya ke Maura. Lebih dekat dari sebelumnya. Memeluk Maura bahkan lebih erat sekarang. Ditatapnya kembali wajah Maura, disentuhnya bibir Maura. Namun saat bibirnya hendak mencium kembali bibir Maura, Vaya berteriak.

__ADS_1


Maura dan Gilang terkejut mendengarnya. Mereka melupakan kehadiran Vaya saat itu. Menahan diri masing-masing dengan jantung yang masih berdebar begitu kencang.


"Duh... kalian mau ngapain?" Tanya Vaya polos.


"Pacaran." Ucap Gilang seolah meledek Vaya saat itu.


"Hayolah.. masih ada aku di sini. Jangan menunjukkan kemesraan kalian pada jomblo cantik yang satu ini." Pinta Vaya akhirnya.


Maura tertawa mendengarnya. Melepaskan pelukan Gilang dan melangkah menuju Vaya akhirnya.


"Maaf.. dan terima kasih untuk hari ini." Ucap Maura pada Vaya.


Vayapun tersenyum dan memeluk Maura akhirnya.


"Kalau Gilang nyakitin kamu lagi, kamu harus beritahu aku. Aku orang pertama yang akan mengajak kamu pergi." Ancam Vaya sambil melirik Gilang yang juga tengah menghampiri Maura dan Vaya.


"Kamu harus jaga Maura dengan baik. Lupakan itu si Laras.."


"Siapp.. terima kasih Va."


"Aku pamit ya.. rasanya tak nyaman berlama-lama dengan kalian."


Vayapun akhirnya pergi. Meninggalkan Gilang dan Maura berdua akhirnya. Gilang memeluk tubuh Maura dari belakang saat pintu apartemennya tertutup rapat.


"Kamu melupakan sesuatu."


"Apa?" Tanya Maura bingung dan membalikkan tubuhnya dan sekarang menghadap ke arah Gilang.


"Kita lanjutkan yang tadi belum terjadi." Jawab Gilang dan tersenyum kemudian.


Gilang memeluk Maura lagi.. lebih erat dan begitu dekat.


๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Votenya juga ya, Supaya tambah semangat up nya.


๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak ๐Ÿ˜Š


ratenya juga ya kak๐Ÿ˜‡


dikasih hadiah juga boleh๐Ÿ˜Š


di Vote Alhamdulilah๐Ÿ˜


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐Ÿ˜‰


Terima kasih yang sudah Vote๐Ÿ˜˜, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐Ÿ˜Š.

__ADS_1


__ADS_2