Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Salah Kira


__ADS_3

Sikapmu berubah padanya. Kamu menjaga dan menata hatiku dengan baik.


-Maura-


🌿🌿🌿


Maura terbangun dari tidurnya, dibuka matanya perlahan, ditatap sekelilingnya. Dia tersadar kemudian, dirinya telah tertidur di kamar Gilang.


Diusap kedua matanya, ditatap jam dinding yang menempel di hadapannya. Entah bagaimana dirinya bisa sampai di sini, pasti Gilang yang sudah memindahkannya.


Terakhir Maura dan Gilang sedang menonton bersama. Entah membosankan atau rasa lelah yang hadir, membuat Maura akhirnya tertidur saat itu.


Sekarang Maura duduk di tepi kasur. Mengusap kembali ke dua matanya lalu bangkit hendak menuju kamar mandi. Namun terhenti seketika, sebuah noda kecil berwarna merah membuat dirinya membuka mulut cukup lebar. Hampir saja Maura berteriak, namun dengan lincah tangannya menutup mulutnya sendiri.


"Haduh.. gimana ini?" Tanyanya pada diri sendiri dengan kedua tangan menyentuh kepalanya. Berfikir dan bolak balik di tempat yang sama.


"Huh.. bodohnya." Ucapnya lagi dan kali ini menarik seprai berwarna putih itu lalu mencopotkannya dari kasur segera.


Sudah digenggamannya sekarang, melangkah keluar, namun langkahnya terhenti. Berfikir lagi, apa yang mesti dijelaskannya pada Gilang nanti.


"Sudahlah, keluar saja dulu." Ucapnya sendiri.


Gilang melihatnya dari kejauhan, melangkah mendekati Maura dengan senyum yang terukir di wajahnya. Namun berubah seketika, ketika melihat wajah Maura yang terlihat bingung dengan seprai di genggamannya.


"Maaf Lang.. Aku telah mengotori sepraimu." Ucap Maura dan tak berani menatap Gilang yang sudah berada di hadapannya saat ini.


"Maksudmu?" Tanya Gilang dengan jari menyentuh dagu Maura sehingga sekarang wajah Maura sudah terlihat jelas di penglihatannya.


"Aku pinjam sepraimu, nanti ku kembalikan kalau sudah bersih."


"Ra, kenapa dengan seprainya?"


"Itu.. e.. itu.."


"Biar ku lihat sendiri."


"Jangan.." Teriak Maura cepat dan menyembunyikan seprai itu tepat di belakang tubuhnya.


"Kamu buatku penasaran."


"Sebaiknya enggak perlu tau."


"Itu seprai milikku, kenapa aku enggak perlu tau. Sini ku lihat."


"Jangan ya sayang.. yah.. aku pulang sebentar, ku pinjam seprai mu."


"Ra.. Aku marah kalau seperti ini."


"Ayolah Lang, enggak semua bisa dengan mudah dijelaskan. Aku tinggal sebentar, nanti ku kembali." Ucap Maura dan kali ini mencoba melangkah pergi.


"Enggak boleh pergi, kalau belum dijelasin." Ucap Gilang dan meraih pergelangan tangan Maura untuk menghentikan langkahnya.


"Haduh Lang, tamu bulananku bikin ulah, sudah ya aku pergi."


Kali ini Gilang terdiam, genggaman tangannya pun terlepas. Mulai mencerna apa yang dikatakan Maura padanya barusan. Lalu terdiam saat menyadarinya.


"Nanti aku balik lagi." Teriak Maura dan dirinya sudah di depan pintu sekarang.


Terbuka pintu itu dan pada saat yang sama, terlihat sosok Laras ada di hadapannya saat ini. Kali ini Maura yang terdiam, dan pintu itu terbuka perlahan demi perlahan. Sosok Laras sudah terlihat begitu jelas sekarang.

__ADS_1


"Hai Maura." Sapanya.


Ditengah keheningan yang tiba-tiba saja terjadi, Gilang sudah berada dekat dengan Maura. Menghampiri Maura yang tiba-tiba saja terdiam dan menghentikan langkahnya. Padahal sebelumnya dia tampak terburu-buru sekali.


Gilangpun ikut terdiam, saat menyadari sosok Laras yang ada di hadapan mereka sekarang, sedang tersenyum dan menyapa dirinya juga.


"Hai.. Lang." Ucap Laras dan tatapannya sekarang beralih ke Gilang.


"Laras." Ucap Gilang.


"Sorry, aku ganggu kalian ya?" Tanyanya dengan senyum yang masih sempurna di wajahnya.


"Ada apa Ras?" Tanya Gilang dan Maura tetap diam.


"Oh iya, aku ke sini cuma mau minta maaf, seharusnya waktu itu aku enggak berkata seperti itu tentang kalian."


Maura menundukkan wajahnya, pandangannya ke sembarang arah. Tanganya masih setia menggenggam seprai milik Gilang.


"Oh.. soal itu."


"Ya.. aku bawa kue juga buat kalian. Sebagai tanda permintaan maaf. Tolong diterima ya." Ucap Laras lagi sambil menyerahkan sebuah paper bag berisi kue seperti apa yang diucapkannya barusan.


"Ini merepotkanmu Ras."


"Sudahlah, terima ya Ra, Lang." Pinta Laras dan terlihat memohon sekarang.


"Terima kasih Ras." Jawab Maura akhirnya dan mencoba menerima pemberian Laras.


"Terima kasih juga Ra, Ehm.. by the way kenapa dengan seprainya?"


Maura menatap Gilang setelah mendengar pertanyaan Laras padanya.


"Oh.. ya.." Jawab Maura dan kembali menatap Gilang.


"Ya Ra.. dulukan aku dan Gilang pacaran, kemanapun aku pergi, dia selalu ikut." Ucap Laras lagi dan tersenyum kembali saat menceritakannya.


"Sepertinya nodanya enggak akan hilang jika dibawa kesana."


"Loh memangnya noda apa, ini seprai milikmukan Lang?"


"Iya, itu noda darah, milik Maura." Ucap Gilang sambil melirik ke arah Maura dan membuat Laras terdiam seketika.


"Ah darah.. darah, maksudnya kalian telah..." Ucap Laras mencoba memahami sesuatu.


"Ya.. kamu pasti paham." Potong Gilang cepat.


"Oh.."


Maura yang mendengarnya juga ikut terkejut. Entah kenapa ia berfikir ke arah yang lain. Mungkin Laras saat ini berfikir hal yang sama dengannya.


"Ehmm, oh iya aku hampir lupa, aku ada janji. Aku pamit ya." Ucap Laras dan langsung membalikan tubuhnya dengan cepat, meninggalkan Gilang dan Maura.


Saat Laras sudah tak terlihat, Maura langsung menatap Gilang meminta penjelasan.


"Kamu kenapa melihatku seperti itu."


"Apa maksud kata-katamu tadi?"


"Loh.. tapi benarkan, itu noda darah."

__ADS_1


"Iya.. tapi dia berfikir ke arah yang lain."


"Berfikir apa memangnya?"


"Ih.. sok polos." Ucap Maura dan membuat Gilang tersenyum mendengarnya.


"Kamu berfikir ke arah situ juga?" Ucap Gilang dan kali ini berbisik di telinga Maura.


"Yah.. iya lah Lang, ahh.. kamu merusak reputasiku."


"Aku tanggung jawab."


"Ihh.. kamu, sudah-sudah aku pulang sebentar." Ucap Maura dan melangkah pergi akhirnya.


"Kuenya gimana Ra?" Ucap Gilang sedikit berteriak saat menyadari bahwa kue pemberian Laras ditinggalkannya di lantai.


"Kasih tetangga saja."


"Kita lakukan setelah nikah ya Ra." Ucap Gilang lagi dan kali ini berhasil menghentikan langkah Maura.


Maura terdiam, wajahnya tersenyun dengan sendirinya. Lalu dia membalikan tubuhnya. Terlihat kembali diri Gilang yang masih menatapnya dari kejauhan.


"Ya.. harus seperti itu." Ucap Maura akhirnya dengan mengencangkan sedikit suaranya dan kembali membalikan tubuhnya lalu melangkah meninggalkan Gilang kemudian.


Sama - sama tersenyum, meninggalkan kesan yang baik buat mereka. Sedangkan Laras masih berfikir keras tentang ucapan Gilang tadi.


"Noda darah, ah.. enggak mungkin mereka telah.. ya enggak mungkin. Tapi..." Ucapnya sendiri dan terhenti, mengingat kembali kata-kata Gilang tadi.


"Dulu Gilang enggak seperti ini, kenapa sekarang dia dengan Maura melakukan.. Ah.. kenapa harus dengan Maura." Ucapnya dengan kesal.


Laras terus melangkah keluar, meninggalkan apartemen Gilang segera mungkin. Rasa kesal selalu dirasakannya sepanjang jalan. Rasa sulit percaya dan keinginan yang besar untuk bisa mendapatkan kembali hati Gilang masih begitu besar.


.


.


.


.


hayoloh😳


Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.

__ADS_1


__ADS_2