
Ketika cinta itu datang, siapa yang bisa menghalanginya. Memaksakan hati untuk tak mencintai itu sulit.
Biarkan aku bahagia, walau hanya semenit.
-Maura-
🌿🌿🌿
Jantung Maura memang sangat berdebar kencang, namun ia berusaha untuk menata hatinya. Ia tak mau terlalu tinggi berharap. Mungkin saja ia mengkhawatirkan dirinya karena Maura adalah asistennya. Seperti yang pernah ia katakan sebelumnya.
"Kamu mengkhawatirkanku.." Ulang Maura dan pandangannya menatap wajah Gilang."
"Ya.." Ucap Gilang cepat.
Maura merasa Gilang makin mendekat. Serasa tak ada jarak diantara mereka. Maura melangkah mundur perlahan dan Gilang melangkah maju makin mendekati tubuh Maura.
"Ohh.. pasti karena aku asistenmu kan, makannya kamu mengkhawatirkanku?" Ucap Maura lagi yang merasa tak ada ruang gerak sekarang.
Ini sudah sampai di ujung, Maura tak dapat mundur lagi. Langkahnya terhenti saat dirinya sudah terbentur dengan kasur saat itu. Maurapun masih tak mengalihkan pandangannya sedikitpun, Ia masih menatap Gilang yang sekarang sudah berada di hadapannya. Bahkan Gilang tersenyum menatapnya.
"Kamu marah, karena aku menciummu saat tidur?" Tanya Gilang dengan wajahnya yang begitu dekat.
"A.. e..., tentu saja aku marah."
Gilang tersenyum melihat kegugupan Maura. Entah kenapa Maura tak sanggup berkata banyak. Tatapan Gilang membuat Maura gugup.
"Kamu marah karena aku hanya mencium keningmu saja." Tanya Gilang lagi dan menyentuh perlahan kening Maura, merapikan beberapa helai rambut dan mengusapnya kemudian.
"Ha.. Maksudmu?" Tanya Maura dan matanyapun membulat mendengar ucapan Gilang barusan.
Oh tidak.. Ini sudah sangat dekat sekali. Wajah Gilang makin mendekat. Mata, hidung bahkan bibirnya begitu dekat dan terus mendekat. Jantung Maura makin berdebar kencang. Sikap Gilang sekarang membuat Maura tak dapat melakukan apapun. Bahkan Maura merasa Gilang tengah memeluk dirinya.
"Ra.." Panggil Gilang lembut.
"Kamu mau ngapain?" Ucap Maura tiba-tiba, bahkan hidung mereka sudah bertemu sekarang. Nafas keduanya sudah sangat terdengar jelas. Jantung merekapun sudah sangat berdebar begitu kencang. Entah kenapa Maura masih sempat-sempatnya bertanya.
"Menciummu." Jawab Gilang dengan senyum yang terukir di wajahnya.
Dalam beberapa detik ciuman itupun terjadi. Gilang melekatkan bibirnya di bibir Maura. Perlahan dan makin dalam.
Maura tak terkejut, dia tau bahwa hal ini akan terjadi akhirnya. Maura tak menolak saat ini. Tak mengalihakan pandangannya seperti sebelumnya.
__ADS_1
Ucapan Gilang padanya, bahwa Gilang khawatir akan dirinya. Membuat Maura tak menolak saat bibir Gilang menyentuh bibirnya perlahan. Menutup matanya merasakan sentuhan Gilang yang begitu lembut.
Gilangpun makin mendekatkan tubuhnya ke Maura. Sedekat mungkin dan memeluk Maura dengan erat. Memperdalam ciumannya dan semakin dalam. Tangan Maurapun ikut memeluk tubuh Gilang, bahkan lebih kencang saat rasa itu makin memuncak.
Untuk beberapa saat, mereka melupakan segalanya.
dan.. akhirnya terhenti tanpa disadari. Menyisahkan ke canggungan diantara keduanya. Wajah mereka masih sangat dekat, hidungpun masih bersentuhan, hanya bibir keduanya saja yang tak melekat. Nafaspun masih terdengar begitu jelas.
Gilang mengangkat wajah Maura yang sedikit tertunduk. Membuat Maura menatap kembali wajah Gilang saat itu.
"Ku harap ku tak akan menyesali ini." Bisik Maura dalam hati saat pandangan mereka bertemu kembali.
Dengan perlahan Gilang mengecup bibir Maura dengan cepat.
"Jangan menghindariku lagi." Ucap Gilang dan mengecup kembali bibir Maura.
Dengan hati keduanya yang masih bergetar. Melupakan banyak hal begitu saja. Semua sudah terjadi tanpa direncanakan.
Entah kenapa Gilang mempunyai keberanian seperti itu pada Maura. Maurapun tak menolaknya. Sosok Laras perlahan tegantikan dengan Maura.. perlahan demi perlahan.
Wanita di hadapannya yang tengah tersenyum telah membuat Gilang merasakan cinta itu kembali.
Maura yang selalu saja mengajaknya berdebat, bahkan hal yang tak pentingpun menjadi bahan perdebatan. Tanpa disadari Gilang selalu merindukan hal itu.
Maura berhasil membuat Gilang jatuh cinta. Seperti apa yang diminta Vaya pada Maura. Namun Gilangpun berhasil membuat Maura jatuh cinta.
.
.
.
.
Dering handphone terdengar jelas. Mengalihakan pandangan Maura pada handphone milik Gilang yang begitu mengganggu.
"Handphonemu berbunyi." Ucap Maura.
"Biarkan saja."
"Angkatlah, khawatir penting."
__ADS_1
"Oke." Jawab Gilang mengalah dan melepaskan pelukannya saat itu.
Awalnya Gilang masih tersenyum, namun sirna saat menatap layar handphone miliknya.
"Siapa?" Tanya Maura penasaran, karena perubahan ekspresi di wajah Gilang tiba-tiba.
Gilang diam, tak menjawab. Akhirnya Maura sendiri yang melihatnya. Mengambil Handphone yang digenggang Gilang saat itu.
Laras.. nama itu yang tertulis di sana. Dalam seketika, hati Maura merasa perih mengetahuinya. Iapun memandang Gilang yang diam. Gilang tak mengangkatnya sampai akhirnya deringan itu terhenti. Beberapa detik kemudian terdengar kembali.
"Angkatlah Lang." Pinta Maura dan mencoba melangkah meninggalkan Gilang saat itu.
Mungkin Gilang perlu berbicara berdua. Tanpa keberadaan Maura di hadapan Gilang.
"Aku tau ini pasti akan terjadi." Bisik Maura sendiri
.
.
.
.
.
hemm.. 😡
Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.
💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mau likenya ya kak 😊
Mau ratenya juga ya kak😇
dikasih hadiah juga boleh😊
di Vote Alhamdulilah😁
__ADS_1
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉
Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.