
Cemas, aku masih saja merasa cemas tentangnya. Aku harap itu hanya kekhawatiran ku yang tak berarti.
Kenapa untuk tidak peduli itu sulit, tapi tetap harus ku coba, karena aku ingin bahagia
-Laras-
πΏπΏπΏ
Maura melangkah sambil menatap sekeliling. Mereka sampai di sebuah resto. Gilang tengah menghampiri salah satu pelayan resto saat itu. Memesan sebuah tempat dan kemudian meraih tangan Maura yang tengah asik memandang sekitarnya.
"Yuk.., aku sudah pesan satu tempat yang bagus." Ucap Gilang sambil melangkah mengikuti pelayan yang mengantar mereka ke tempat yang Gilang maksud bagus.
Maura menatap sekelilingnya lagi. Sudah cukup banyak pengunjung yang berdatangan di ruangan yang cukup besar, dengan alas kayu yang membuat teduh ruang itu. Banyak kursi yang sudah terisi. Namun Maura tampak bingung kemudian, mereka hanya melewatinya, tak ada yang ditempati.
Ke luar ruangan menuju jalan setapak akhirnya. Memang agak mendaki melalui anak tangga dengan kiri kanan perkebunan teh yang terlihat indah.
"Kita mau ke mana?" Tanya Maura sedikit berbisik pada Gilang.
"Kamu lihat saja nanti." Ucap Gilang yang akhirnya ikut berbisik menjawab pertanyaan Maura.
Maura terdiam kemudian, tak menyangka bahwa dirinya sudah berada begitu tinggi. Terlihat beberapa gazebo dengan hamparan perkebunan teh yang mengelilingi.
Maura dan Gilang melangkah menghampiri salah satu gazebo yang telah dipesan. Gazebo satu dengan yang lain memilik jarak yang tidak saling berdekatan. Memesan makan kemudian dan menikmati suasana saat itu.
"Indah Lang."
"Ya.. Kita bisa berfoto di sana, di sana dan di sana." Tunjuk Gilang.
"Banyak sekali."
"Itukan tujuan kita ke sini Ra."
"Oke..oke.." Ucap Maura sambil menahan senyumnya.
"Ra, aku enggak bisa menemani kamu untuk beberapa hari ke depan."
"Kenapa?" Tanya Maura dan tampak bingung menatap Gilang menundukkan wajahnya saat berbicara.
"Aku harus ke luar kota."
"Owh..."
"Kamu marah."
"Kenapa mesti marah, aku bisa menghubungimu kan."
"Tentu Ra."
"Selesaikan pekerjaanmu, aku baik-baik saja Lang."
"Nanti aku minta Vaya menemanimu."
Maura terdiam mendengar kata Vaya, rasanya sudah lama sekali mereka tak bersama. Terakhir kali saat di kampus, saat Maura terjatuh.
"Bagaimana kalau kamu ikut saja."
"Untuk apa?"
"Bantu aku, kamukan masih asistenku, kamu enggak lupakan."
__ADS_1
"Hah.. Statusku sudah naek level sekarang. Aku pacarmu. Kamu enggak lupa jugakan." Ucap Maura akhirnya, tak mau kalah.
"Sebentar lagi jadi istriku, betulkan." Ucap Gilang kemudian dan membuat Muara malu mendengarnya.
Kata-kata Gilang, mengingatkan Maura akan pertemuan dirinya dengan orang tua Gilang besok. Setiap kali membahas masalah itu, selalu muncul kegugupan tersendiri di benak Maura.
"Ra.." Panggil Gilang dengan wajah yang mendekat ke arah Maura.
"Ya.."Jawab Maura terkejut dan akhirnya ikut memandang wajah Gilang dan menatapnya begitu dekat.
"Istriku melamun." Ucap Gilang dan tersenyum.
"Kamu mengagetkan aku Lang."
"Hahaha.. Kita makan dulu, pesanan kita datang." Ucap Gilang setelah menyadari ada beberapa orang datang menghampiri mereka dengan membawa pesan yang telah mereka pesan.
.
.
.
.
Vaya tampak gelisah. Tiba-tiba saja Rian tak muncul seharian ini. Nomornya tak dapat dihubungi. Terakhir bertemu semua tampak baik-baik saja, tapi kenapa hari ini Rian tak sedikit pun muncul di pandangan Vaya.
Diteguk segelas air mineral dingin, yang ada di hadapannya saat ini. Matanya tak lepas dari sebuah layar handphone yang setia digenggamnya.
Lamunannya terhenti, saat getaran halus yang bersumber dari handphone miliknya terdengar.
Namun bukan Rian yang menghubungi saat ini, Raka yang menghubunginya.
"Gitu amat jawabnya"
"Gitu gimana?"
"Galak, padahal mau kasih kabar tentang Rian."
"Maksudnya gimana? Rian baik-baik ajakan?"
"Iya Rian, baik-baik aja."
"Terus..terus..."
"Ampun dah Va, sabar dikit apa."
"Sorry."
"Rian kecelakaan, tapi baik-baik aja kondisinya. Memar dikit doang."
"Hah..., sekarang di mana dia, di rumah sakit atau di rumah? Raka.." Teriak Vaya lagi dan lagi.
"Lagi di rumah sakit sekarang, tapi bentar lagi balik. Ketemu di rumah Rian aja."
"Oke, kabarin kalau sudah dirumah."
Vaya tampak cemas, hatinya gelisah. Rasanya ia ingin buru-buru menemui Rian, memastikan keadaanya. Sambil menunggu kabar, ia pun bersiap.
.
__ADS_1
.
.
.
Bian tengah membantu Laras berkemas siang itu. Laras hanya mampu menatap Bian dan tersenyum. Kedua kakinya sudah menyentuh lantai, duduk di sisi kasur kamar rumah sakit.
"Sudah tidak ada lagi yang mau dimasukan?" Tanya Bian dan Laras menggeleng cepat.
"Akhirnya aku pulang." Ucap Laras kemudian.
"Aku ambilkan kursi roda ya."
"Enggak usah Bi, aku kuat kok jalan."
"Ok, pegang pergelangan tanganku. Jangan dilepas."
"Siap Bi." Ucap Laras dan mereka saling tersenyum satu sama lain.
Sebelum meninggalkan kamar, Bian mengecek kembali ke sekitar. Memastikan bahwa tak ada yang tertinggal saat itu. Selanjutnya ia menghampiri Laras kembali dan menggenggam jemari Laras dan meletakkannya di pergelangan tangannya. Tangan satunya lagi sibuk membawa sebuah tas besar yang berisi kebutuhan Laras selama di rumah sakit.
Dalam perjalanan menuju ke luar rumah sakit, Raka melihat Bian dan Laras. Mereka hanya saling menatap. Tak ada kata-kata yang terucap. Laras mencoba tersenyum menatap Raka saat itu. Rakapun melakukan hal yang sama.
Turun bersama ke lantai bawah. Meminta Laras menunggu kemudian. Lalu Bian mengambil mobil miliknya dan mengantar Laras kembali ke apartemen.
Hampir satu jam perjalanan, Laras dan Bian telah sampai di apartemen Laras. Turun dari mobil bersama dan melangkah masuk ke dalam apartemen menuju kamar Laras.
"Huft.." Laras menghela napas saat itu.
Bian yang mendengarnya langsung menatap Laras dan bertanya.
"Kenapa?" Tanya Bian.
"Tidak apa, aku hanya heran kenapa Raka ada di rumah sakit tadi."
"Kau berpikir tentang Gilang?" Tanya Bian dan membuat Laras terdiam dan menatap wajah Bian saat itu.
Bian sangat memahami Laras, bahkan ia dapat menebak apa yang tengah mengganggu pikiran Laras.
"Aku bisa bertanya pada Raka?"
"Oh.. jangan, enggak perlu Bi.." Ucap Laras cepat dan segera masuk ke dalam kamarnya. Bianpun ikut menghela napasnya, ikut masuk ke dalam menyusul langkah Laras.
"Aku bantu merapikan." Ucap Bian setelah mereka berhasil masuk ke dalam.
Bian langsung tampak sibuk, ia tahu betul bagaimana merapikan semuanya. Merapikan segalanya. Bahkan Bian tak membiarkan Laras untuk membantu dirinya, memintanya untuk duduk dan beristirahat kemudian.
.
.
.
.
Huaaa kangen semua, kangen Maura, kangen Gilang, kangen Vaya, kangen Rian.. Ama Laras kangen ga ya... huaaaπππ
Mohon maap πππππ
__ADS_1