Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Seorang Wanita


__ADS_3

Seseorang datang menghampiriku, begitu ramah tapi aku tak mengenalinya.


-Maura-


🌿🌿🌿


Maura terbangun pagi itu, ia tatap jam dinding dan mengusap ke dua matanya perlahan. Ia Coba bangkit dari tidurnya, dan duduk kemudian.


Ia raih handphonenya, berharap Gilang menghubunginya. Namun tak ada satupun pesan maupun panggilan darinya.


Maura menghela napasnya perlahan. Ia berfikir pagi itu. Mungkinkah Gilang masih marah mengenai semalam.


"Kenapa jadi begini." Bisik Maura sendiri.


Kembali ia tatap jam dinding dan memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi kuliah.


Setengah jam lebih Maura habiskan untuk bersiap. Akhirnya handphonenya berdering. Wajah Maura tersenyum menatap layar handphonenya itu. Gilang tengah menghubunginya.


"Kenapa baru menghubungiku."


"Maaf, aku baru saja bangun."


"Kau tidur telat semalam?"


"Ya.. tiba-tiba saja ada pekerjaan yang harus ku bereskan semalam."


"Aku kira kamu marah Lang."


"Marah soal apa?"


"Kau tak membalas pesanku. Ku kira kau masih marah mengenai Laras."


"Aku memang tak suka kau membahas Laras."


"Ya.. aku minta maaf."


Bunyi bel terdengar kemudian, membuat Maura menghentikan ucapannya sesaat.


"Ada yang datang Lang." Ucap Maura sambil melangkah menuju pintu.


"Siapa yang bertamu pagi-pagi?" Tanya Gilang dan tampak bingung saat itu.


"Hemm.. mana ku tahu." Jawab Maura dan bersamaan dengan terbukanya pintu yang sudah ada di hadapannya.


Maura terdiam. Ia terkejut dengan seseorang yang datang pagi ini. Seorang wanita yang tersenyum dan menyapanya.


"Siapa Ra..?" Tanya Gilang karena tiba-tiba saja Maura terdiam untuk waktu yang lama.


"Laras.." Ucapnya dan masih tak percaya dengan sosok Laras yang tengah hadir di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Gilang jelas mendengar ucapan Maura. Ia pun terkejut saat itu. Namun ia tak bisa melakukan apapun.. hanya kata demi kata yang ia sampaikan kepada Maura dari balik telephone. Namun Maura tak bersuara untuknya.


"Laras..! Ngapain dia datang?" Tanya Gilang kesal.


"Lang.. nanti aku telephone kamu lagi ya.." Pinta Maura dan pembicaraan mereka pun terhenti begitu saja.


"Tunggu Ra.." Teriak Gilang mencoba menghentikan keinginan Maura untuk memutuskan pembicaraan mereka. Namun Maura sudah mengakhiri pembicaraan itu.


Gilang mencoba menghubungi Maura kembali, namun Maura tak mengangkatnya. Hatinya tak tenang, ia kembali menatap layar handphonenya dan kali ini ia menghubungi Vaya.


Gilang selalu ingat Vaya jika sesuatu hal menyangkut soal Maura. Vaya satu-satunya orang yang dekat dengan Maura. Vaya adalah orang yang tau banyak mengenai hubungan Maura dan Gilang. Vaya adalah orang yang mempertemukan mereka.


"Va.. lagi di mana? Ke tempat Maura sekarang ya.." Ucap Gilang cepat saat sudah berhasil menghubungi Vaya.


"Duh.. Lang pagi-pagi.. Nanyanya udah banyak banget, memangnya ada apa sih?" Tanya Vaya sambil menata rambutnya setelah menyelesaikan rutinitas paginya sebelum ke kampus.


"Laras bersama Maura saat ini, tolong temani dia Va."


"Hah.. Laras! Mau ngapain lagi sih tuh cewek." Ucap Vaya begitu kesal.


"Enggak tau Va. Sekarang tolong ke tempatnya Maura ya."


"Iya.. iya.." Jawab Vaya cepat dan ikut merasakan kepanikan yang telah diciptakan Gilang.


Gilang memang panik, dirinya tak ada di dekat Maura.. itu yang membuatnya panik.


"Ah.. Ra.. ku harap kau baik-naik saja." Gumam Gilang kemudian.


Sedangkan Vaya tengah terburu-buru pagi itu. Vaya pun terlihat begitu tak tenang. Mengingat banyak hal buruk yang telah dilakukan Laras pada Maura.


Diraih tas miliknya kemudian, sambil melangkah Vaya menghubungi Rian. Memberitahukan bahwa dirinya akan ke tempat Maura. Memberitahukannya bahwa Laras sedang bersama Maura saat ini.


"Ra.. kamu baik-baik sajakan?" Tanya Vaya setelah pintu apartemen milik Maura terbuka.


Vaya begitu lelah berlari, napasnya masih berlomba mengejar waktu. Kepanikannya terlihat jelas di wajahnya saat ini.


Setelah pintu terbuka lebar, ia melihat Maura yang tengah tersenyum, ada Laras di sampingnya yang juga tersenyum. Entah apa yang sudah terjadi pada mereka. Tidak seperti yang dibayangkan Vaya sebelumnya.


"Vaya, kenapa ke sini?" Tanya Maura heran.


"Kamu baik-baik sajakan?" Ulang Vaya mencoba menghilangkan ketakutannya.


"Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?" Tanya Maura namun tak dijawab oleh Vaya. Vaya langsung menatap seseorang yang berada di samping Maura saat ini.


"Ngapain kamu ke sini? mau gangguin Maura dan Gilang lagi?" Cerocos Vaya pada sosok Laras yang ada ada di hadapannya sekarang.


"Vaya, kamu ngomong apa sih?"


"Duh Ra.. udah deh, jangan mau dibohongin sama wanita kayak dia lagi. Jangan mau terhasut sama kata-katanya. Niatnya pasti mau hancurin hubungan kamu sama Gilang lagi."

__ADS_1


"Va.. sudahlah. Jangan ngomong kayak gitu." Pinta Maura karena merasa tak enak dengan sosok Laras yang berada di sampingnya.


"Enggak apa-apa Ra, pantas jika Vaya marah dan berburuk sangka padaku." Ucap Laras dan ia mencoba untuk tersenyum.


"Sudah..sudah jangan bersandiwara lagi."


"Va.." Panggil Maura mencoba menenangkan Vaya dan Vaya menekuk wajahnya tampak tak suka. Ke dua tangannya bersilang di dada. Tatapannya tak lagi menatap Laras, rasanya enggan untuk melihatnya lagi.


"Kalau begitu aku pamit ya Ra, Va.." Pinta Laras kemudian. Maura tersenyum saat itu lain halnya dengan Vaya.


Setelah Laras benar-benar telah pergi dari hadapan mereka, Maura melangkah masuk ke dalam. Di susul Vaya yang ikut masuk ke dalam.


"Ngapain dia ke sini sih Ra?" Tanya Vaya dan masih tampak kesal.


"Hanya berkunjung saja." Jawab Maura sambil melangkah menuju dapur.


"Jangan percaya dengan kata-katanya Ra."


Maura diam, ia sibukkan dirinya saat itu dengan membuka lemari es dan mengambil botol minuman dan meminumnya.


"Kamu kenapa bisa di sini?" Tanya Maura akhirnya.


"Pacarmu yang nyuruh aku ke sini."


"Gilang."


"Ya.. memangnya siapa lagi pacarmu kalau bukan Gilang sih Ra." Ucap Vaya dan membuat Maura tersenyum mendengarnya.


"Dia takut kamu diapa-apain sama Laras, makanya memintaku datang ke sini." Ucapnya lagi.


"Iya.. makasih ya Va."


"Ke depannya kamu harus hati-hati. Aku enggak selamanya bisa bersama mu Ra."


"Hem.. iyadeh tahu yang sekarang dah punya pacar."


"Bukan itu maksudku." Ucap Vaya dan terlihat panik. Namun itu membuat Maura tertawa kembali.


"Hahaha.. by the way, aku kepo loh, sejak kapan kamu menyukai Rian. Kapan kalian jadian. Kenapa kamu enggak pernah cerita selama ini."


"Hemm.. kamu terlalu sibuk urusin Gilang. Sudah tak perhatian lagi denganku."


"Ya.. maaf..maaf.."


Terdengar bunyi bel apartemen kembali, membuat Maura maupun Vaya menatap ke arah pintu. Entah siapa lagi yang datang pagi itu. Berhasil menghentikan obrolan antara Vaya dan Maura.


"Bentar ya Va, aku buka pintu dulu." Pinta Maura dan melangkah menuju pintu segera. Saat pintu itu terbuka terlihat seorang wanita tersenyum menatapnya.


"Maura.." Ucapnya dan berhasil membuat Maura terdiam dan berfikir begitu dalam.

__ADS_1


Siapa🤔


__ADS_2