Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Maura Kesal


__ADS_3

Aku terlihat begitu cemburu..


Aku terlihat begitu posesif..


Aku terlihat begitu kesal..


Itu karena aku ingin kamu tak mengingatnya lagi.


-Maura-


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Gilang dan Maura saling menatap satu sama lain. Maurapun melepaskan tangannya yang sejak tadi menyentuh mulut Gilang.


"Oh.. aku lupa mengabari Vaya."


"Cepat angkat, siap-siap kena omel Vaya." Pinta Maura sambil menahan tawanya.


"Kamu saja yang angkat Ra, pasti kalau kamu yang angkat dia enggak akan marah."


"Enggak mau."


Mereka asik berdebat terus, sampai akhirnya getaran handphone itu berhenti sendiri.


"Hah.. mati."


"Vaya pasti akan menghubungimu lagi." Ucap Maura menakuti.


Terdengar kembali getaran handphone milik Gilang. Maura dan Gilang berfikir sama, bahwa Vaya yang meneleponnya kembali. Namun ternyata salah.


Sebuah nama yang tak seharusnya muncul kembali saat ini. Laras.. kali ini dia yang sedang menghubungi Gilang.


Maura terdiam, Gilangpun diam. Tak ada perdebatan seperti saat Vaya menghubungi Gilang tadi. Gilang menatap Maura dan Maura memandang ke sembarang arah.


Terhenti dan bergetar kembali. Membuat Maura akhirnya bersuara. Gilangpun hanya diam tak melakukan apapun.


"Kamu tidak mau mengangkatnya."


"Biarkan saja." Ucap Gilang.


"Biar aku saja yang mengangkatnya."


"Kamu yakin."


Diraihnya segera handphone itu oleh Maura. Menarik nafas panjang dan akhirnya Maurapun mengangkatnya.


"Lang.." Ucap Laras dari balik telephone saat itu. Sengaja Maura buat terdengar oleh semua.


"Aku bukan Gilang."


"Oh.. Maura."


"Ya.." Jawab Maura cepat.


"Bisa kamu berikan telephonenya ke Gilang. Aku ingin bicara dengannya."


"Gilang sedang ke toilet, katakan saja padaku nanti ku sampaikan."


"Nanti ku telephone lagi saja."


"Tida ada nanti, ku pastikan Gilang tidak akan mengangkat telephone darimu lagi." Ucap Maura sambil menatap tajam ke arah Gilang yang ikut menyimak pembicaran mereka.


Laras yang mendengar ucapan Maura tampak terkejut sekali. Sebuah kalimat yang sengaja Maura ucapkan dan terdengar mengancam.


"Kamu bicara apa Ra, kenapa Gilang tidak mau mengangkat telephoneku."


"Karena aku tidak menyukainya."

__ADS_1


"Hei.. kami hanya teman, kenapa kamu begitu posesif"


"Maaf, aku memang seperti itu, jadi tolong dimengerti."


Dimatikan pembicaraan itu oleh Maura. Menghela nafas begitu dalam, diserahkan handphone itu ke Gilang kembali.


"Aku mau ke toilet." Pinta Maura dan segera bangkit dari duduknya.


"Maaf jika tadi aku berkata seperti itu pada mantanmu. Kamu boleh tidak menyukainya." Ucap Maura lagi sebelum akhirnya Gilang menarik pergelangan tangan Maura dan menahannya untuk pergi.


"Aku tetap menyukaimu."


"Aku posesif, kamu masih menyukaiku."


"Aku tidak bilang seperti itu."


"Mantanmu bilang seperti itu."


"Lalu aku harus mengiyakan... Hayolah Ra, jangan seperti ini."


"Aku memang seperti ini, kalau kamu menyukaiku, kamu harus terima aku yang seperti ini."


"Oke..oke.. Kita berhenti bahas Laras. Mulai detik ini aku block nomornya."


"Jangan lakukan kalau terpaksa."


"Aku akan tetap lakukan, kamu lihat ini."


"Kamu akan menyesal nanti."


"Tidak akan. Sudahlah Ra.. jangan bahas ini lagi. Ku mohon duduk kembali ya." Ucap Gilang akhirnya.


Maura tak bergerak, tetap diam berdiri dan terlihat menahan tangisnya. Gilang yang melihat Maura hanya diam, akhirnya bangkit dari duduknya dan tiba-tiba saja memeluk Maura.


"Sudah ya, maafkan aku. Jangan seperti ini." Bisiknya.


"Enggak akan, sampai kamu berhenti marah."


"Aku enggak marah, cuman kesel aja."


"Sama aja itu namanya."


"Bedaa..." Protes Maura.


"Hah.. kamu ini, masih saja suka berdebat." Ucap Gilang dan kali ini melepas pelukkannya dan mencubit sedikit ujung hidung Maura dengan jemarinya.


"Au.., Sakit Lang." Teriak Maura dan Gilang malah tersenyum menatapnya.


"Jangan kesel lagi ya.."


Maura menggangguk dan akhirnya ikut tersenyum. Menikmati makan malam bersama, dengan senyum dan tawa yang selalu terukir di wajah mereka. Indahnya rembulan menjadi saksi kebahagian mereka malam ini. Udara yang dingin terasa begitu hangat dengan kasih sayang yang menyelimuti keduanya.


"Tetaplah seperti ini Lang, tolong pahami aku, saat aku tak dapat memahamimu."


.


.


.


.


Vaya, tampak kesal sendiri. Sampai detik ini dirinya belum berhasil menghubungi Gilang. Telphone pertamanya tak mendapat jawaban, dicoba kembali, nada sibuk yang diperoleh. Ditelephone lagi beberapa menit kemudian, namun tak ada nanda bahwa handphone Gilang saat ini sedang aktif.


"Ohhh... Gilang, kamu buatku gila." Tuduhnya pada diri sendiri.


Sementara Laras, melakukan hal yang sama seperti halnya Vaya, dan hasilnya pun sama. Ia tidak dapat menghubungi Gilang.

__ADS_1


Begitu kesal, sangat kesal. Sebenarnya dia ingin bertanya pada Gilang, kenapa dirinya tak datang saat itu, kenapa meminta Bian yang datang.


"Aku akan menemuimu sendiri, jika kamu tidak mau menemuiku." Ucap Laras dan tampak menekan begitu kencang handphone miliknya.


Ditempat lain, Maura dan Gilang masih menikmati kebersamaan mereka. Berjalan perlahan dengan pasir yang menjadi alas langkah mereka.


Gilang menggenggam tangan Maura sepanjang jalan. Deburan ombak terdengar seperti nyanyian yang indah.


"Aku ingin bertanya banyak hal tentang kamu Ra."


"Tanya soal apa?"


"Apapun tentang kamu."


"Maksudmu."


"Ya.. seperti apa makanan kesukaanmu, hobymu dan lain-lain."


"Kamu nanti juga akan tau sendiri, selama kita bersama."


"Aku maunya sekarang."


"Pemaksaan."


"Ini bukan pemaksaan."


"Lalu apa namanya?"


"Bentuk perhatian." Ucap Gilang dan membuat Maura tersenyum mendengarnya.


"Oke..Apa yang mau kamu tanya?"


"Apa hoby kamu?"


"Berdebat sama kamu."


"Ra, seriuslah jawabnya."


"Aku serius.. apapun yang berhubungan dengan kamu aku suka." Jawab Maura dan kemudian berlari pergi meninggalkan Gilang yang masih terkejut mendengar perkataan Maura padanya barusan.


Gilang tersenyum, melihat Maura berlari menjauhi dirinya dengan senyum yang terukir di wajah Maura juga. Gilangpun mengejarnya..mendapati dirinya, melingkarkan tangannya ke pinggang Maura. Memeluknya dan tertawa bersama.


.


.


.


.


Duhh.. mau pacalan juga ๐Ÿ˜ณ


Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘ˆ


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak ๐Ÿ˜Š


ratenya juga ya kak๐Ÿ˜‡


dikasih hadiah juga boleh๐Ÿ˜Š


di Vote Alhamdulilah๐Ÿ˜


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐Ÿ˜‰

__ADS_1


Terima kasih yang sudah Vote๐Ÿ˜˜, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐Ÿ˜Š.


__ADS_2