
Katanya.. jodoh itu tidak akan kemana, semoga kita bisa berjodoh ketika hati sudah tidak saling menyakiti.
-Maura-
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
"Sebentar lagi ku sampai, tunggu aku." Ucap Gilang dalam hati.
Gilang melangkah lebih cepat, rasanya tak sabar untuk segera bertemu dengan Maura. Dibukanya perlahan pintu apartemen miliknya. Dipanggil nama Maura berkali-kali.
Tak ada jawaban, masuk kembali ke beberapa ruang, berharap dapat menemukan Maura di salah satu ruang yang dikunjunginya. Namun hasilnya nihil, Gilang tak melihat Maura di manapun.
Rasa khawatir mulai dirasakannya. Rasa takut mulai hadir di fikirannya. Lelahpun mulai sangat dirasakan, namun itu tak membuat dirinya kehilangan semangat untuk bertemu dengan Maura.
Gilang kembali melangkah, kali ini dirinya menuju apartemen yang di tempati Maura. Gilang masuk kembali, memanggil nama Maura lagi dan lagi, memasuki setiap ruang yang ada. Hasilnya sama, ia tak dapat menemukan Maura di manapun.
Gilang terdiam, berdiri dan kemudian meletakkan kue yang sejak tadi masih di genggamnya ke sebuah meja. Dicari handphone miliknya di saku celana. Dicari nama Maura dan dihubunginya.
"Angkat Ra.." Bisik Gilang.
Maura tak mengangkatnya, dihubungi lagi dan lagi. Sampai akhirnya Maura mengangkatnya.
"Kamu di mana?" Tanya Gilang mencoba bersikap tenang, walau hati sangat tak tenang.
"Maafkan aku Lang."
"Maksudmu apa, Kamu di mana Ra?"
"Aku pergi... maaf."
"Kamu di mana sekarang?" Tanya Gilang lagi dan terdengar berteriak.
__ADS_1
"Maafkan aku, maaf..." Maurapun ikut berteriak dan mematikan telephone itu segera.
Gilang terdiam, tanpa disadari air matanya turun. Dilepaskannya handphone miliknya begitu saja. Terduduk kemudian di lantai, berteriak sekeras mungkin.
Ditatapnya kue yang dibelikan dirinya untuk Maura. Tersenyum dengan air mata yang kembali turun.
"Kamu meninggalkanku.." Bisik Gilang dengan senyum kecewa di wajahnya.
"Kenapa Ra..?" Teriak Gilang kembali, dan melempar kue itu dari hadapannya.
Dilihatnya kue itu rusak dan jatuh di lantai, nama Maurapun terbelah menjadi beberapa bagian. Terdiam dan terpuruk begitu dalam.
Maura bersiap untuk perjalanannya. Menunggu keberangkatan menuju ke suatu tempat, dimana dirinya akan benar-benar tak melihat Gilang. Entah sampai kapan, mungkin sampai hatinya merasa tenang.
Wajahnya sudah sangat terlihat lelah. Sepanjang jalan Maura selalu menangis. Matanya pun sudah sangat lelah untuk menatap kenyataan. Penerbanganpun segera tiba. Memejamkan mata, menghela nafas dan menangkan hati.
"Aku pergi.." Bisik Maura
Gilang melangkah kembali masuk ke apartemennya. Dibukanya perlahan pintu yng ada di hadapannya. Ditatap sekelilingnya, dan terhenti saat matanya tertuju pada sebuah sofa.
Gilang terdiam, teringat lagi saat dirinya memperebutkan roti milik Maura. Gilang terdiam lagi, saat dirinya mengingat kembali saat-saat Gilang memijat kaki Maura. Lalu menggendongnya dan membawa ke kasur saat itu. Gilang mencium kening Maura dalam tidur.
Tatapannya berpindah ke tempat lain. Dilihatnya sebuah kunci dan surat di atas meja yang letaknya tepat di depan sofa itu.
Gilang tau, itu surat yang dibuat Maura. Ia meraihnya dan membuka perlahan lipatan demi lipatan surat itu. Membacanya dengan hati yang masih tak rela dengan kepergian Maura. Membaca perlahan dan kembali terdiam.
Sebenarnya aku tak paham itu cinta, yang ku tau, saat ku mengenalmu aku merasakan hal yang berbeda.
Hemm.. Tiba-tiba saja aku selalu merindukanmu. Banyak hal yang kurindukan. Senyummu, sikapmu, dan wajahmu. Namun kamu selalu membuatku bingung. Sikapmu selalu berubah saat Laras hadir kembali.
Dia hadir lagi.. Saat rasa sayangku makin memuncak. Kamu membiarkan dia tetap di sekitarmu dan tak melarangku untuk pergi. Aku menangis Lang.. Menangisimu yang bersamanya. Ku fikir malam itu kamu benar mengantarnya pulang dan membiarkanku sendiri lagi. Tapi kamu membuat sebuah harapan untukku. Kamu kembali dan kamu bilang kamu mengkhawatirkanku.
__ADS_1
Aku seperti orang bodoh, saat pertama kali kamu menciumku dan aku membalas ciumanmu. Kufikir kamu benar-benar mencintaiku saat itu. Sudah melupakan Laras sepenuhnya. Namun ternyata kabar darinya membuatmu meninggalkan ku tanpa sebuah kejelasan.
Kukira kamu benar-benar tak akan kembali, namun tiba-tiba kamu pulang. Menepati janjimu untuk kembali. Hatiku diantara dua pilihan, memilihmu atau tidak. Aku tak menyesal, saat ku menuruti kata hatiku saat itu. Aku memilihmu, aku memilih tetap bertahan bersamamu.
Entahlah.. Mungkin sekarang aku lelah, aku perlu memahami segalanya. Tanpa ku sadari aku selalu menangis mendengar kabar tentang dirinya yang bersamamu. Itu yang membuatku lelah.
Terima kasih untuk segalanya, kamu yang begitu mengkhawatirkan aku, saat diriku terkunci di toilet. Kamu merawatku begitu sempurna. Terima kasih atas kasih sayang yang pernah kamu berikan. Terima kasih kamu sudah mau mencintaiku.
Maaf aku berpisah dengan cara seperti ini. Aku perlu waktu dan kamu pun juga perlu untuk memahami semuanya.
Katanya jodoh itu tidak akan kemana, semoga kita bisa berjodoh ketika hati sudah tidak saling menyakiti.
-Maura-
Yang belum bertemu jodohnya, semoga cepat dipertemukan.๐๐,
semangkaaa author๐ช๐ช๐ช
Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐๐
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak ๐
ratenya juga ya kak๐
dikasih hadiah juga boleh๐
di Vote Alhamdulilah๐
__ADS_1
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐
Terima kasih yang sudah Vote๐, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐.