Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Membiarkannya Terjadi


__ADS_3

Sejujurnya aku masih menyukaimu, tak mudah untuk melupakan rasa itu.


Bahkan aku senang, ketika wajahmu yang mendekati wajahku


-Vaya-


🌿🌿🌿


Rian tengah menatap kepergian Maura dan Gilang saat ini. Mencoba bersikap tenang, walau ada rasa cemas yang tersembunyi.


"Tenanglah, Maura bersama orang yang tepat." Ucap Vaya mencoba menghilangkan kekhawatiran Rian.


"Ya.." Jawab Rian dan tersenyum menatap Vaya.


"Ya sudah, aku tinggal ya." Ucap Vaya kemudian.


"Kamu mau pergi?" Ucap Rian seakan menahan kepergian Vaya saat itu.


"Ya.. Kenapa?"


"Boleh aku ikut?" Tanya Rian dan berhasil membuat Vaya terdiam dan berfikir.


Apa yang harus dikatakan Vaya sekarang. Mencoba bersikap biasa padanya, berarti harus berkata ia, tapi apakah Vaya sanggup.


"Kamu yakin mau ikut, aku berencana membeli beberapa buku saat ini, untuk tugas kuliahku."


"Aku temani, ku harap kamu setuju."


Vaya akhirnya memutuskan untuk mengangguk. Memang benar-benar berbeda. Rian berubah, itu yang dipahami Vaya saat ini.


"Kenapa kamu ingin pergi denganku, tumben sekali?" Tanya Vaya saat mereka mulai melangkah bersama.


"Aku hanya ingin saja." Jawab Rian namun Vaya tampak tak puas dengan jawaban itu.


Ditatapnya diam-diam Rian yang tengah melangkah bersama tepat disampingnya saat ini.


"Yuk naik." Ajak Rian kemudian dan akhirnya mereka benar-benar pergi bersama.


Vaya sudah duduk bersama dengan Rian saat ini. Vaya masih tampak bingung dengan sikap Rian.


"Kamu harus memakai sabuk pengaman mu." Ucap Rian lagi sambil memakaikan sabuk pengaman itu untuk Vaya.


"Oh aku bisa sendiri." Ucap Vaya cepat dan tanpa disengaja menyentuh tangan Rian yang tengah memakaikan sabuk pengaman untuknya.


"Aku bisa sendiri." Ulang Vaya perlahan dan melepas sentuhan tangan itu.


"Aku sudah memakaikannya." Balas Rian dan tersenyum kembali saat mengatakannya.


Rian kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.


Vaya diam.. menatap apa yang ada di hadapannya. Rasanya ia bingung untuk memulai percakapan.


Ditengok kiri dan kanannya kemudian, di tatap lurus ke depan akhirnya. Sangat membosankan, diraih handphone milik Vaya kemudian, dilihatnya dan dibuka beberapa aplikasi, namun masih tak berhasil menghilangkan rasa jenuh dan penasaran akan sosok Rian saat ini.


Dilihat kembali wajah Rian, berharap Rian tak menyadarinya. Namun sepertinya Vaya salah menduga. Rian sadar betul apa yang sedang dilakukan Vaya saat ini.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?"Tanya Rian kemudian.

__ADS_1


"Kapan aku melihatmu."


"Barusan, mungkin sudah ke delapan kali." Jawab Rian asal.


"Enak saja, aku hanya melihatmu dua kali..." Ucap Vaya cepat dan langsung dihentikan dengan cepat.


Vaya tersadar bahwa dirinya telah berucap yang tak seharusnya, dan saat itu Rian tertawa kecil mendengarnya.


"Benarkan?"


"Apa yang benar." Ucap Vaya dan memalingkan wajahnya tak berani menatap Rian, namun Vaya tersenyum saat itu, ia mencoba menutupi senyumnya.


Mereka mulai berbicara, walau hanya membahas masalah kuliah. Walau sebenarnya Vaya begitu penasaran dengan sikap Rian yang begitu berbeda dengan Maura tadi.


.


.


.


.


"Terima kasih sudah menemaniku hari ini." Ucap Vaya pada Rian saat mereka sudah berada di dalam mobil kembali.


"Sama-sama VA, terima kasih juga sudah mau mengajakku."


"Boleh ku tanya sesuatu?"


"Katakanlah, aku siap menjawab." Ucap Rian dan Vayapun tersenyum mendengarnya.


"Apa itu terlihat jelas sekali?"


Mendengar pertanyaan Rian, memperjelas segalanya. Memang benar ada yang telah berubah.


"Kamu terlihat akrab sekali, seperti tak pernah terjadi apapun sebelumnya." Jawab Vaya dan menatap Rian.


"Maura ternyata teman kecilku, orang yang pernah ku sayangi dulu." Jawab Rian dan terdiam untuk beberapa saat.


"Oh.."


Kali ini Vaya sangat terkejut dengan jawaban itu. Apakah ini berarti bahwa Rian masih tak akan pernah melepaskan Maura.


"Aku sedang berusaha sepertimu."


"Berusaha sepertiku, maksudmu?"


"Melepaskannya, mencintai memang tak harus memiliki."


"Bagus kalau kamu bisa seperti itu." Jawab Vaya dan kali ini menatap kembali Rian.


"Bagaimana perasaanmu padaku sekarang?"


"Aku tak mau menjawabnya."


Rian tertawa mendengar jawaban Vaya, wajah Vaya terlihat cemberut saat diajukan pertanyaan seperti itu.


"Kamu jelas masih menyukaiku."

__ADS_1


"Kamu terlalu percaya diri." Jawab Vaya cepat.


"Oke.. aku senang bisa mengenalmu Va." Jawab Rian dan kemudian menyandarkan kepalanya pada kursi mobil saat itu. Lalu tersenyum dan membuat kening Vaya berkerut. Namun hatinya terasa bahagia.


"Kamu terlalu banyak bicara hari ini." Ucap Vaya dan membuat Rian tertawa mendengarnya.


"Terima kasih atas pujiannya."


"Aku tak memujimu, pasti kamu sedang demam saat ini." Ucap Vaya lagi sambil menyentuh kening Rian.


Vaya tahu betul bahwa saat ini Rian tidak sakit, Vaya hanya mencoba meledek Rian saat itu.


"Aku tidak demam." Ucap Rian dengan tangan menyentuh pergelangan tangan Vaya yang telah menyentuh keningnya lalu perlahan turun dan menggenggam tangan Vaya kemudian.


Kembali menatap Vaya yang masih setia di hadapannya. Wajahnya terlihat sangat jelas saat ini. Entah kenapa ada rasa rindu yang hadir saat menatapnya. Merindukan sebuah sentuhan yang pernah Vaya berikan padanya dulu. Mungkin hati Rian sedang rapuh saat ini. Membuat dirinya salah bertindak atau memang ada rasa tersendiri yang telah hadir.


Tiba-tiba saja Rian begitu dekat menatap Vaya. Tangannya sudah berhasil menyentuh pipinya.Terdiam dan hanya saling menatap.


Vaya tampak terkejut melihat sikap Rian. Jantungnya berdebar cepat saat tangan Rian berhasil menyentuh wajahnya. Tatapan Rian seakan menghipnotis suasana saat itu. Sepi.. mungkin saat itu hanya ada suara detak kan jantung yang berlomba dan hembusan nafas yang terdengar.


Wajah Rian makin mendekat, terus mendekat dan akhirnya sudah tak ada jarak dikeduanya. Bibirnya berhasil menyentuh bibir Vaya. Rian mencium Vaya saat itu. Sempat terlepas, satu sama lain hanya terdiam dan mengatur nafas masing-masing. Dengan kening yang masih bersentuhan.


Beberapa detik kemudian terjadi kembali, Rian kembali mencium Vaya. Tak ada penolakan dari Vaya, antara terkejut atau memang ini yang Vaya harapkan selama ini.


Awalnya tak berani menyentuh tubuh Rian, namun akhirnya kedua tangan Vaya seakan memeluk diri Rian.


Terlepas, kali ini benar-benar terlepas, meninggalkan kegugupan dikeduanya. Mengendalikan diri kemudian, mengatur nafas dengan baik.


"Aku.. aku.. pulang naik taksi saja." Ucap Vaya dan mencoba meraih pintu mobil untuk membukanya.


Namun Rian bergerak cepat, meraih pergelangan tangan Vaya dan melarangnya untuk pergi.


"Aku akan mengantarmu pulang."


Mungkin Vaya begitu panik saat itu. Rasanya dia ingin menghindar dari Rian segera. Entah yang tengah dirasakannya tadi. Vaya tak ada keinginan menolak Rian, bahkan ia ingin terus merasakan hal itu. Terlintas dalam pikirannya kemudian, mungkin ini salah, mungkin akan ada rasa sesal kemudian. Tapi dari lubuk hati yang terdalam, ada rasa untuk menginginkannya lagi.


.


.


.


.


Aku enggak liat, beneranπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Semangat... semangat... semangat...πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ


Sebelum lanjut, minta Votenya ya πŸ‘‰πŸ‘ˆ


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Giftnya Alhamdulillah, Supaya tambah semangat up lagi πŸ’ͺ😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sanaπŸ˜‰ (Alhamdulillah udah tamat)


__ADS_1


__ADS_2