Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Pertengkaran Mereka


__ADS_3

Aku merasa bersalah saat ini. Merasa bahwa aku adalah penyebab dari pertengkaran kalian. Aku ingin bertahan di sisimu, namun rasa bersalah ini menghantuiku.


-Maura-


🌿🌿🌿


Maura mengusap keningnya berkali-kali, sambil melangkah dengan beberapa buku yang ada di pelukannya. Keningnya berkerut, saat getaran handphone kembali dirasakannya.


"Ih.. Gilang." Ucapnya.


Entah sudah berapa kali handphonenya bergetar, dan nama Gilang yang selalu menghias layar handphonenya itu.


"Ya.. Lang." Ucap Maura dengan tetap melanjutkan langkahnya.


"Sudah sampai kelas?"


"Hayolah, baru sepuluh menit kita berpisah, dan baru lima menit yang lalu kamu menghubungiku. Mana bisa secepat itu aku sampai."


"Jadi kamu enggak suka kalau aku telepon."


"Ih.. enggak seperti itu." Ucap Maura kesal.


Sedangkan Gilang malah tertawa mendengarnya, membuat Maura akhirnya menghentikan langkahnya.


"Kamu nyebelin."


"Tapi kamu sayangkan?"


"Mulai deh.."


"Mulai apa?"


"Sudah.. sudah.. aku akan telat masuk kelas nih."


"Iya.. kabari aku jika sudah selesai."


"Ya.. Lang." Jawab Maura dengan senyum yang tiba-tiba tak sengaja terukir di wajahnya.


Maura memutuskan pembicaraan dengan Gilang segera. Tatapanya langsung ke arah sebuah pintu yang sudah sangat dekat dan berada tepat di hadapannya.


Awalnya ingin melangkah lebih cepat, namun terhenti kembali. Maura tidak menyadari kehadiran Rian. Ia sudah berdiri menatap dirinya entah sejak kapan.


Mencoba menghiraukan kehadirannya. Melanjutkan langkahnya, mencoba melewatinya namun Rianpun berusaha menghalangi Maura.


"Kamu mau apa sih." Ucap Maura dan terlihat kesal, sambil melepaskan tangan Rian yang tiba-tiba saja berhasil menarik pergelangan tangan Maura.


"Aku ingin bicara."


"Diantara kita tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."


"Sebesar itu kamu membenciku Ra."


"Kamu sendiri yang membuatku membencimu."


"Aku sudah minta maaf."


"Aku tahu."


"Lalu, kenapa kamu masih marah seperti ini?"


"Wajar jika aku bersikap seperti ini."

__ADS_1


"Ra, jangan seperti ini."


"Lalu aku harus seperti apa, kamu tau betul aku berpacaran dengan Gilang, lalu kenapa kamu.. ahh sudahlah.." Ucap Maura tertahan saat teringat kembali sikap Rian padanya kemarin.


"Aku menyukaimu Ra, bahkan sejak dulu, sebelum kamu mengenal Gilang."


Suasana terasa hening seketika. Wajah Maura terlihat bingung mencoba mencerna kata-kata Rian padanya. Sampai akhirnya terdengar sebuah buku terjatuh tak jauh dari mereka berdiri saat ini.


Secara bersamaan pandangan Maura dan Rian beralih ke sumber suara itu terdengar. Ada Vaya yang tampak terkejut menatap Maura dan Rian.


"A.. e... sory." Ucap Vaya cepat.


Maura mencoba mengatur nafasnya, menenangkan hatinya. Melupakan ke bingungan yang baru saja tercipta. Sampai akhirnya Maura masuk ke dalam, tanpa ada kata-kata yang terucap dan meninggalkan keduanya.


Rian membungkuk, mengambil buku yang tak sengaja dijatuhkan Vaya barusan. Menyerahkannya kemudian kepada Vaya.


"Terima kasih." Ucap Vaya dan dengan segera ia melangkah pergi meninggalkan Rian tanpa berkata banyak.


Mencoba bersikap tenang, terus melangkah menjauh. Namun hatinya rapuh, saat teringat kembali kata-kata Rian untuk Maura tadi. Gumpalan air mata mulai menggenang, dan akhirnya mengalir dengan sendirinya.


Mencoba tetap melangkah, dengan tangan menghapus cepat air mata yang terjatuh di pipih.


"Bodoh kamu Va." Umpatnya pada diri sendiri.


Kesal.. Vaya merasa kesal, kenapa ia hadir di saat yang tidak tepat. Kenapa ia harus mendengar itu semua. Sampai akhirnya langkahnya terhenti, bukan terhenti karena kemauannya, seseorang tengah menghadang langkahnya.


"Va.." Panggilnya dengan tangannya yang berhasil menarik pergelangan tangan Vaya yang sedang menghapus kembali air matanya sendiri.


"Hei.." Jawab Vaya dan langsung menundukkan wajahnya saat itu.


"Kamu menangis?"


"Tidak.. tadi kelilipan ya kelilipan." Jawab Vaya gugup.


"Aku mau ke toilet, lepasin tanganku." Pinta Vaya akhirnya.


Raka menurut, melepaskan tangan Vaya dengan perlahan, melepaskan kepergian Vaya kemudian.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya sendiri sambil menatap kepergian Vaya yang terbilang cepat.


Ditengah kebingungan yang menghampiri Raka, sebuah pukulan ringan mendarat di bahunya, menghapus dengan cepat lamunan akan Vaya. Rian yang telah berada di dekat Raka saat ini. Memanggil nama Raka, namun Raka tak menyadarinya.


"Sedang lihat apa?" Tanya Rian.


"Oh.. itu Vaya, kenapa dia menangis?"


"Menangis?" Ulang Rian tak percaya.


"Ya.."


"Kamu salah liat."


"Tidak, Vaya memang menangis." Ucap Raka dan masih tampak bingung.


Rianpun ikut berfikir akhirnya. Rian merasa Vaya baik-baik saja tadi, bahkan Rian melihat dengan jelas wajah Vaya saat dirinya menyerahkan buku yang tak sengaja Vaya jatuhkan, lalu kenapa sekarang Raka begitu yakin bahwa Vaya sedang menangis.


"Sudahlah, kita bisa tanya Vaya nanti." Ucap Raka mencoba mencairkan suasana.


Mencoba melupakan, walau hati masing-masing bertanya tentang apa yang tengah terjadi sebenarnya.


.

__ADS_1


.


.


.


Maura menghela nafasnya, merapikan buku dan alat tulis yang tergeletak tepat di atas meja di hadapannya. Pandangannya berpindah dengan cepat saat terdengar suara getaran handphone miliknya.


Tersenyum kemudian, melihat nama Gilang yang selalu menghias layar handphone miliknya.


Aku sudah sampai


Itu isi pesan dari Gilang, Maurapun membalas dengan cepat.


Ya.


Melanjutkan kembali kesibukan yang belum berakhir sempurna. Sesekali ia melirik handphone miliknya lagi, berharap Gilang mengirimkan pesan untuknya kembali.


Namun itu tidak terjadi, sampai akhirnya Maura telah selesai merapikan semuanya. Merapikan apa yang ia bawa. Menatap sekelilingnya, masih banyak yang bertahan seperti dirinya, mungkin juga sama seperti Maura menunggu seseorang. Ada juga yang sedang melangkah keluar kelas. Saling berbicara, bahkan ada yang tertawa.


Ditatap kembali handphone miliknya, hatinya mulai bertanya-bertanya. Sosok Gilang belum juga terlihat hingga sekarang. Seharusnya tidak menghabiskan waktu selama ini. Namun Maura membuang jauh-jauh prasangka buruk yang hampir saja hadir dan mengganggu pikirannya.


Masih mencoba tenang, ditatap kembali layar handphone miliknya, dan akhirnya berbunyi. Namun bukan Gilang yang menghubunginya saat ini. Vaya.. ya Vaya yang tengah menghubunginya.


"Ra.. Kamu di mana?"


"Di kelas."


"Cepat ke parkiran."


"Kenapa?" Tanya Maura bingung, karena suara Vaya jelas terdengar panik.


"Gilang dan Rian sedang bertengkar sekarang, hanya kamu yang bisa menghentikannya."


Sempat terdiam, lalu bangkit dari duduknya segera. Melangkah begitu cepat. Rasa khawatir begitu dirasakannya saat ini. Maura mengkhawatirkan keduanya. Ini yang ditakutkan Maura, mereka bertengakar karena dirinya, padahal dulu mereka berteman cukup baik.


.


.


.


.


semangat💪💪💪


Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉

__ADS_1


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.


__ADS_2