
Perasaan macam apa ini? Kenapa kehadiranya membuatku gugup, membuatku panik ? Ya.. mungkin aku takut jika ia mengungkapkan isi hatinya saat ini, karena hatinya pasti akan terluka.
-Maura-
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Rian tersenyum menatap Maura yang sedang mengusap keningnya sendiri. Rianpun ikut menyentuh kening milik Maura, lembut dan perlahan.
"Makanya kalau jalan pelan-pelan." Ucap Rian.
"Aku sudah pelan, kamu yang berhenti tiba-tiba."
"Sakit?" Tanyanya dengan tatapan yang begitu dekat.
"Ah.. enggak sakit kok, kaget aja." Ucap Maura cepat dan langsung melangkah pergi melewati Rian.
Rian tiba-tiba saja meraih tangan Maura dengan cepat. Menghenti langkah Maura. Tangan mereka sudah berpaut satu sama lain. Hening dalam seketika, terdiam tanpa suara dari keduanya.
"Maaf" Ucap Rian akhirnya dan melepaskan tangan Maura perlahan.
"Kamu duduklah dulu, aku perlu siap-siap." Pinta Maura mengalihkan pembicaraan.
Maura melangkah lebih cepat, tanpa menengok ke belakang. Sedangkan Rian terus menatap Maura yang kian menjauh. Ditatapnya tangan miliknya sendiri yang tadi berhasil menggengam tangan Maura, dikepal kemudian.
Rian kemudian melangkah menuju jendela besar yang berada lurus di hadapannya. Ia tidak menuruti pinta Maura untuk duduk saat itu.
Membuka perlahan jendela yang sudah berada di hadapannya saat ini. Memandang keluar, memejamkan mata dan menghirup udara yang berhasil masuk ke dalam. Untuk waktu yang lama Rian hanya berdiam diri di sana. Sampai akhirnya Maura kembali dan sudah terlihat rapi.
Maura menatap dari kejauhan Rian yang begitu tenang. Wajah tampannya makin terlihat jelas dengan sinar cahaya matahari yang berhasil menyinari dirinya.
Maura melangkah menghampirinya. Berdiri tepat di samping Rian, ikut memandang ke arah luar.
"Kamu sedang lihat apa?" Tanya Maura mencoba memecahkan kesunyian.
"Seseorang yang aku suka."
"Mana ada orang di langit." Protes Maura dan membuat Rian tersenyum mendengarnya.
"Dia sangat dekat denganku saat ini."
Maura terdiam, jantungnya tiba-tiba berdetak begitu cepat.
"Kenapa kamu menyukainya?"
"Apa perlu alasan untuk menyukai seseorang Ra?" Tanya Rian.
"Bagaimana kalau dia tidak menyukaimu?" Tanya Maura lagi dan berhasil membuat Rian tertawa kecil mendengarnya.
"Kamu mematahkan semangatku Ra."
"Akukan hanya bertanya."
"Hemm.. Aku akan menunggunya, sampai dia bisa menyukaiku."
__ADS_1
"Itu akan menyiksamu."
"Aku tidak merasa seperti itu."
"Berhentilah untuk menyukainya."
"Kenapa?"
"Hati seseorang tidak bisa dipaksakan."
"Ya.. aku tahu, begitupun dengan hatiku, aku tak bisa memaksa hatiku untuk tidak menyukainya."
Hening kembali, hembusan angin terasa lebih kencang saat itu. Tak saling memandang hanya tatapan lurus ke depan.
"Ra.. aku menyukaimu." Ucap Rian akhirnya.
Hati Maura bergetar mendengarnya, matanya terpenjam mendengar pengakuan Rian padanya. Mulutnya seakan terkunci tak mampu berkata-kata. Kedua jarinya mengepal, namun tanpa di sadari, Rian tiba-tiba saja meraih kedua tangan Maura dan menggenggamnya sekarang. Maura sudah berdiri tepat di hadapan Rian.
"Maaf, aku tidak..." Hanya kalimat itu yang berhasil terucap dari mulut Maura.
Rian langsung memotongnya dengan cepat, melekatkan bibirnya tepat di bibir Maura. Menahannya untuk beberapa detik dan terlepas pelahan saat menyadari bahwa sikapnya salah saat ini.
Maura terkejut dan langsung mendorong tubuh Rian saat itu. Mencoba melangkah meninggalkan Rian, namun Rian berhasil meraihnya kembali.
"Ra.. Maaf."
"Plak.."
Sebuah tamparan tepat di wajah Rian. Maura menamparnya, dan Rian tak membalas apapun, hanya terdiam.
Maura melangkah lebih cepat, mengambil tas dan handphonenya, berlalu pergi membuka pintu perlahan. Terhenti kembali, saat mendapati Vaya sudah berdiri di hadapannya saat ini.
"Wah Ra.. Kebetulan banget, baru aja mau pencet bel."
"Oh.." Ucap Maura dan tetap melanjutkan langkahnya kembali.
"Loh..kok malah pergi sih, Gilang tadi nyuruh buru-buru ke sini, nyampe sini kamunya malah pergi." Protes Vaya.
"Ra.. Maura.." Panggilnya lagi dan seakan berteriak namun tak menghentikan langkah Maura untuk tetap pergi. Menimbulkan banyak pertanyaan di benak Vaya saat ini.
"Va." Panggil Rian yang sekarang sudah berhasil membuka pintu lebih lebar. Kehadirannya sudah terlihat sekarang.
"Rian, kamu di sini?" Tanya Vaya yang tampak terkejut melihat Rian ada di apartemen Maura.
"Ya."
"Maura kenapa? enggak biasanya dia cuek seperti itu."
"Aku yang salah."
"Apa yang terjadi dengan kalian barusan?"
"Aku menciumnya."
__ADS_1
"Whattt.. ini gila." Ucap Vaya dan lalu mencoba melangkah pergi meninggalkan Rian saat itu.
Vaya berlari, mencoba menyusul Maura. Walau hatinya terasa sakit saat ini, saat mendengar pengakuan Rian bahwa Rian telah mencium Maura. Vaya memang tahu sejak dulu, bahwa Rian menyukai Maura. Walaupun sudah berusaha untuk mencoba menerima, namun rasa sakit tak bisa dihilangkan begitu saja.
Tinggal Rian seorang diri saat ini, terdiam menatap sekitarnya. Ada rasa menyesal namun hati terasa lebih tenang sekarang. Mengungkapkan perasaan yang terpendam begitu lama. Walau akhir tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
Saat itu, Rian merasa tidak ingin mendengar kata tidak dari mulut Maura, yang akhirnya membuat Rian menciumnya.
"Aku menyukaimu Ra, maafkan aku." Ucap Rian sambil menatap sebuah foto Maura yang tergeletak di sebuah meja kecil yang ada di hadapannya saat ini. Rian meraih bingkai foto itu, menggenggamnya sekarang.
Tatapannya beralih ke bingkai foto lainnya. sebuh foto yang berdampingan dengan foto Maura yang saat ini masih ada digengaman tangan Rian.
Foto gadis kecil yang tersenyum manis, berada di dalam bingkai foto saat itu. Rian berfikir dan terus menatapnya. Mencoba mengingat sesuatu yang hampir saja dilupakannya.
"Aku menemukannya, ternyata itu kamu Ra." Ucapnya sendiri lalu bergegas pergi dengan membawa bingkai foto yang berhasil menarik perhatiannya tadi.
.
.
.
.
Gilang tampak tak tenang, saat mendapati pesan Maura untuknya. Maura mengatakan bahwa Rian saat ini ada di apartemennya.
Ya.. Gilang dengan cepat menghubungi Vaya. Meminta Vaya untuk segera menuju apartemen Maura saat itu. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.
.
.
.
.
Maura come back yuhuuu... ๐๐๐ akhirnya bisa up lagi, mohon maaf ya semua, mohon maaf lahir batin ๐๐
Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐๐
Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi ๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Jangan lupa likenya ya kak ๐
ratenya juga ya kak๐
dikasih hadiah juga boleh๐
di Vote Alhamdulilah๐
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐
__ADS_1
Terima kasih yang sudah Vote๐, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini๐.