Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Tapi Kamu Menyukaiku


__ADS_3

Kenapa aku harus melewati tahap menyakitimu dahulu, sebelum akhirnya aku sadar bahwa aku benar-benar menyukaimu?


Aku menyesal..


Sungguh aku menyesal.


-Gilang-


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Rian tengah menggandeng tangan Vaya, mengantar Vaya menuju rumahnya. Sesekali Vaya menatap Rian lalu tersenyum. Rasanya ia begitu bahagia malam itu.


"Makasih ya untuk malam ini." Ucap Vaya saat mereka sudah berdiri di depan pintu rumah.


"Kamu menyukainya?" Tanya Rian.


"Ya.." Jawab Vaya dan mengangguk.


"Istirahatlah." Pinta Rian dan kemudian mengusap lembut rambut Vaya dan pergi meninggalkan Vaya kemudian.


Vaya tersenyum sepanjang langkahnya menuju kamar. Hatinya berbunga-bunga, ini yang ia impikan selama ini. Rian begitu peduli pada dirinya.


Setelah berhasil menaiki anak tangga, Vaya meraih gagang pintu dan membukanya. Ia telah tiba di kamarnya saat ini. Ia jatuhkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar lalu memejamkan mata kemudian.


Wajahnya kembali tersenyum, jantungnya begitu berdebar saat kebersamaanya dengan Rian muncul dalam ingatannya kembali.


"Kamu cantik malam ini." Puji Rian saat melihat Vaya ketika menjemputnya.


"Aku selalu cantik." Jawab Vaya saat itu dan membuat Rian tersenyum mendengarnya.


Demi bertemu dengan Rian, Vaya menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya. Mencoba berbagai macam pakaian dan hampir mengeluarkan seluruh isi lemari miliknya.


Vaya pun berkali-kali bercermin hanya untuk memastikan bahwa dirinya telah memberikan penampilan yang terbaik yang ia ingin tunjukkan ke Rian.


Dengan sebuah pujian yang akhirnya terucap dari mulut Rian, Vaya merasa bahwa usahanya tidak sia-sia.


.


.


.


.


Maura membuka kedua matanya perlahan, menatap sekelilingnya. Lalu ia terpejam kembali, mengingat saat dirinya bersama Gilang semalam.


Rasanya ia belum melangkah kembali ke kamar, tapi pagi ini ia sudah berada di kamarnya dan tertidur di sana.


Matanya menatap jarum jam kemudian, bangkit dari tidurnya dan melepas selimut yang telah menyelimuti sebagian tubuhnya sejak malam.


Maura melangkah perlahan ke luar kamar. Pandangannya langsung ke arah sofa yang semalam Gilang duduki, namun pagi ini ia tak menemukan sosok Gilang di sana.


Tetap melanjutkan langkahnya menuju sofa dan duduk kemudian di sana. Teringat kembali akan percakapan antara dirinya dengan Gilang semalam.


"Ini kamu, Bian, Laras dan Hans?" Tanya Maura sambil menunjuk sebuah foto saat Gilang telah berhasil mengantarkan segelas air mineral untuk Maura.


"Ya." Ucap Gilang singkat dan menyerahkan minuman itu ke Maura. Kemudian duduk tepat di samping Maura.


"Kalian berteman sudah cukup lama?"

__ADS_1


"Foto itu diambil saat masih sekolah dulu."


"Oh..." Jawab Maura singkat sambil menganggukkan kepala.


"Kenapa ekspresimu seperti itu?"


"Seperti itu bagaimana?"


"Cemburu." Tebak Gilang.


"Kenapa aku mesti cemburu."


"Cemburu itu tanda sayang Ra."


"Lalu." Ucap Maura dan meletakan selembar foto itu tepat di atas meja sambil menatap Gilang yang juga menatap dirinya.


"Kamu enggak cemburu, berarti kamu.."


"Ssttt... enggak usah dilanjut." Ucap Maura sambil mengarahkan salah satu jari telunjuknya ke bibir Gilang.


Gilang meraih pergelangan tangan Maura, menurunkan perlahan jarinya.


"Kenapa aku mesti cemburu pada selembar foto, kalau ku yakin di hati kamu cuman ada aku." Ucap Maura kemudian dan membuat Gilang tersenyum.


"Kau ini.."


"Ngomong-ngomong, aku juga punya banyak foto masa kecilku bersama Rian. Kamu cemburu?" Tanya Maura seolah menantang dan tersenyum.


"Buang segera, aku enggak mau liat." Ucap Gilang dan tampak tak senang.


Maura yang melihat ekspresi Gilang saat ini, malah tertawa.


"Tapi kamu menyukaiku." Ucap Gilang dan mendekatkan wajahnya ke Maura.


"Kamu pria yang protektif."


"Tapi kamu menyukaiku." Ucap Gilang lagi dengan wajah yang semakin mendekat.


"Kamu pria yang menyebalkan."


"Tapi kamu menyukaiku." Jawab Gilang lagi dengan kalimat yang sama dan saat ini hampir tak ada jarak diantara mereka.


"Kenapa aku bisa menyukaimu?"Tanya Maura dengan menatap begitu dekat.


"Mungkin karena aku satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatimu." Jawab Gilang dan berhasil membuat Maura tersipu.


Alasan menyukai, memang tak pernah tersimpulkan. Rasa itu hadir seiringnya waktu. Tiba-tiba merasa bahagia, tiba-tiba merasa sedih, tiba-tiba kecewa, cemas dan rasa ingin memiliki begitu tinggi tercipta tanpa disadari.


"Tidurlah, sudah malam sekali." Pinta Gilang kemudian sambil mengusap lembut rambut Maura.


Maura menurut, memejamkan matanya dan bersandar pada pundak Gilang malam itu.


Tak berapa lama kemudian, Gilang ikut memejamkan matanya. Tertidur bersama di sofa. Kepala mereka bersentuhan, dan jari mereka saling menggenggam satu sama lain.


Itu yang ada diingat Maura semalam, namun saat ia terbangun dirinya sudah terbaring di kasur. Tak menemukan Gilang hingga akhirnya suara pintu terbuka menjawab keberadaan Gilang.


Maura menatap ke arah datangnya suara pintu yang terbuka, Gilang hadir dan tersenyum setelah berhasil mendapati Maura yang tengah menatap dirinya.


"Kamu sudah bangun?" Tanya Gilang.

__ADS_1


"Ya, dari mana kamu?"


"Cari sarapan." Ucapnya sambil menunjukan sebuah kantung makanan.


"Roti." Ucap Maura memastikan.


"Ya.., Kita buat roti bakar, gimana?" Tanya Gilang dan saat ini dirinya sudah berdiri di hadapan Maura.


Maura tersenyum, dan membuat Gilang mengerutkan dahinya. Kalimat mana yang diucapkan dirinya, yang membuat Maura tersenyum pagi ini.


"Kenapa kamu tersenyum?"


"Aku ingat sesuatu."


"Apa?"


"Kita pernah bertengkar cuman gara-gara roti." Ucap Maura dan kali ini Gilang ikut tersenyum.


"Ya.. seharusnya aku mengalah saat itu."


"Mungkin cerita kita akan berbeda jika kamu mengalah saat itu."


"Kamu tak menyesal?"


"Kenapa harus menyesal."


"Makasih Ra." Ucap Gilang dan terlihat kagum menatap sosok Maura.


Gilang pernah menyakiti Maura, tapi Maura tak mempermasalahkan itu sekarang. Justru Gilang yang merasa menyesal saat ini. Kenapa harus membuatnya sakit terlebih dahulu, baru akhirnya mencintai.


"Yuk, kamu yang buat ya rotinya." Pinta Maura dan menarik tangan Gilang yang tiba-tiba saja terdiam setelah mendengar ucapan Maura tadi.


.


.


.


.


Semangat..semangat...untuk diriku๐Ÿคญ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช


Sebelum lanjut, minta Votenya ya ๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘ˆ


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Giftnya Alhamdulillah, Supaya tambah semangat up lagi ๐Ÿ’ช๐Ÿ˜Š


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana๐Ÿ˜‰ (Alhamdulillah udah tamat)


Cerpen2 baru juga menunggu kehadiran kalian๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—, tinggal klik di PROFILKU, tinggalkan jejaknya ya di sana ya๐Ÿ™





__ADS_1


__ADS_2