Asisten Dadakan

Asisten Dadakan
Rasanya


__ADS_3

Rasanya tidak mudah untuk dilupakan, membuatku ingin terus kembali dan kembali


-Maura-


🌿🌿🌿


Maura menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan cepat. Menggenggam sebuah buku kecil dan sebuah alat tulis yang melengkapi kesibukannya. Kedua matanya menatap langit-langit kamar, fikirannya terbang menuju rencana berikutnya untuk mengunjungi beberapa tempat.


"Ini sudah... ini juga sudah." Ucap Maura sambil membuat garis centang di samping tulisan yang ia buat.


"Hemm.. berbelanja sajalah hari ini." Ucap Maura lagi dan masih tetap berfikir.


Bangkit dari tidurnya dan kemudian duduk, menulis rencanya panjangnya hingga sore nanti.


"Mungkin, besok aku harus kembali." Bisik Maura dan kemudian terdiam sendiri.


.


.


.


.


"Aku akan membantumu." Ucap Gilang di balik telephone saat itu, mengakhiri pembicaraan antara dirinya dengan Laras.


Laras tersenyum sendiri, menanti dan menanti. Semenjak kejadian Gilang mengantarnya pulang terkahir kali. Gilang tak pernah menghubungi dirinya lagi. Gilang sepertinya benar-benar marah, namun mendengar Gilang mau membantu dirinya. Membuat Laras tersenyum dan merasa bahagia.


Laras merasa, Gilang sudah banyak berubah. Gilang sekarang terlihat lebih mempedulikan Maura. Berkali-kali Maura menjadi alasan utama Gilang untuk tidak bertemu dengan dirinya.


"Aku harus mencari alasan yang tepat untuk bertemu dengannya kali ini." Ucap Laras tadi sebelum dirinya berhasil menghubungi Gilang.


Tak sampai satu jam, terdengar bunyi bel apartemen Laras. Laras begitu antusias saat mendengarnya. Ia bahkan segera bangkit dari duduknya dan melangkah sangat cepat. Sampai di depan pintu, ia merubah ekspresinya dengan cepat. Wajah pucat dan terlihat sedih. Tangan satunya menyentuh perutnya, tangan lainnya meraih gagang pintu dan membukannya.


Terbuka perlahan, ditatapnya seorang pria yang ada di hadapannya. Terlihat tenang dan kemudian tersenyum menatap Laras.


Laras terdiam cukup lama. Dirinya ikut tersenyum akhirnya. Bagaimana bisa Bian yang ada di hadapannya sekarang.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu Ras?" Tanya Bian dan melangkah masuk ke dalam.


"Kamu ke sini?"


"Kenapa, memangnya tidak boleh melihat pacarnya."


"Oh.. bukan seperti itu maksudku." Koreksi Laras dengan cepat.


Bian tersenyum lagi dan mereka duduk bersama sekarang, setelah Laras menutup pintu kembali.


"Kamu terlihat pucat." Ucap Bian sambil menatap Laras dan mengusap wajahnya dengan lembut.


"Hah.. aku tak apa-apa, hanya kelelahan saja."

__ADS_1


"Hemm.. benarkah?" Ucap Bian dan kali ini jari-jarinya sampai di bibir Laras.


"Yaa..." Ucap Laras perlahan.


"Kamu tau kalau aku sangat menyukaimu."


"Aku tau Bi, akupun menyukaimu."


"Kamu tau kalau aku tak suka dibohongi." Ucap Bian dan kali ini membuat Laras terkejut.


Laras terdiam mendengar ucapannya, dirinya masih berfikir kemana arah tujuan pembicaraan ini. Tiba-tiba saja Bian langsung menyentuh bibir Laras dengan bibirnya. Yang sejak tadi Bian sentuh dengan jari-jari miliknya.


"Aku pacarmu, dan kamu pacarku, kamu harus ingat itu." Ucap Bian lagi setelah melepas ciumannya dan sekali lagi membuat Laras terkejut.


"Tentu aku ingat, kamu kenapa Bi?" Tanya Laras akhirnya.


"Tidak apa-apa, aku hanya takut kamu lupa saja. Bersiaplah.. ikut aku pergi."


Laras kembali terdiam, berfikir bagaimana cara untuk menolak ajakan Bian padanya. Jelas-jelas sekarang dirinya sedang menunggu kedatangan Gilang. Bagaimana jika nanti Gilang datang dan menemukan dirinya dengan Bian saat ini.


"Maaf Bi, aku harus.." Ucap Laras dan dipotong dengan cepat perkataanya oleh Bian.


"Kamu tak perlu menunggunya lagi."


"Maksudmu..?"


"Dia tidak akan datang melihatmu."


"Kamu sudah tau?" Ucap Laras saat kebohongannya terbongkar.


"Ya.. Gilang yang menyuruhku datang menemuimu." Ucap Bian dan sekarang tersenyum menatap keterkejutan Laras saat ini.


.


.


.


.


Gilang sudah tiba, datang untuk menjemput Maura. Ditatap sekelilingnya, melangkah kemudian untuk mencari taksi. Untuk saat ini hanya satu tempat yang ingin ia temui. Kafe di mana Maura kemarin berkunjung ke sana. Mungkin saja Maura kembali ke sana, itu harapan kecilnya.


Gilang pernah ke kafe itu sebelumnya. Nama kafe yang tidak sengaja ikut terfoto bersamaan dengan Ice chocolate milik Maura kemarin.


Saat sudah mendapatkan taksi, Gilang mencoba menghubungi Maura sepanjang jalan, tetap saja handphone Maura tak aktif. Menghela nafas panjang kemudian.


Ia teringat kembali dengan kejadian saat sebelum dirinya berangkat ke bandara. Laras menghubunginya. Saat itu pesan Vaya untuk Gilang selalu terniang, pesan untuk tidak menemui Laras apapun itu alasannya.


"Maafkan aku Ra, waktu itu aku pergi menemui Laras, dan ternyata hatimu terluka." Ucap Gilang dalam hati sambil ditatap foto Maura pada layar handphonenya.


Foto kebersamaan mereka kini sudah menjadi wallpaper pada handphone milik Gilang. Menggantikan foto sebelumnya. Semua foto Laras sudah tak tersisa dalam galeri handphone Gilang. Gilang sudah menghapus seluruhnya.

__ADS_1


Hanya satu yang diinginkan Gilang tadi, segera menemui Maura. Ya.. hanya itu, Maura akan kecewa kembali jika Gilang pergi menemui Laras. Terakhir Laras juga telah membohongi dirinya.


"Ku harap sakitmu ini, hanya sebuah kebohongan lagi Ras." Ucap Gilang tadi dan segera menghubungi Bian untuk menemui Laras, menghindari kemungkinan buruk yang akan terjadi pada Laras.


Menatap sibuknya jalan sekarang, rasanya Gilang begitu tidak sabaran untuk segera dapat bertemu dengan Maura.


"Aku merindukanmu, sangat." Ucap Gilang sendiri dan berusaha bersikap tenang.


.


.


.


.


Maura bergegas keluar dari penginapan saat ini, sebuah penginapan kecil di pinggir kota. Biaya permalam di sini, tidak menghabiskan banyak uang, cukup baginya untuk dapat menghabiskan malam-malam kesedihannya dengan biaya yang terbilang cukup murah.


Penginapan di sini cukup bersih dan nyaman. Penginapan keluarga sepertinya. Tidak terlalu besar, namun menyediakan beberapa kamar. Seperti tempat singgah bagi pendatang seperti Maura saat ini. Entahlah, Maura menemukannya tak sengaja saat dirinya mencari di google beberapa hari yang lalu, ya tepatnya saat dirinya memutuskan untuk pergi meninggalkan Gilang.


Ini seperti sebuah keberuntungan buat Maura, disaat dirinya memutuskan untuk pergi, Maura merasa dimudahkan segalanya.


Saat itu, Maura bersiap untuk pergi. Berbelanja, itu rencananya hari ini. Namun sebelum dirinya pergi, Maura merasa perlu mampir ke kafe malam tadi. Mengisi perut dan menikmati kembali ice chocolate yang ia pesan kemarin.


"Rasanya tidak mudah untuk dilupakan, membuatku ingin terus kembali dan kembali." Bisik Maura sendiri sepanjang jalan.


.


.


.


.


Ketemu enggak ya..👀, semangatt💪


Sebelum lanjut, minta Votenya ya 👉👈


Difavorite juga trus kasih Rate yang banyak. Like.. like.. selalu ya. Supaya tambah semangat up lagi 💪😊


Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.


Jangan lupa likenya ya kak 😊


ratenya juga ya kak😇


dikasih hadiah juga boleh😊


di Vote Alhamdulilah😁


Mampir juga yuk ke novelku yang lain, Judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉

__ADS_1


Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah memberi hadiah (poin dan koinnya), yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊.


__ADS_2