
Siang itu, di sudut kantin, Maura duduk sendiri. Menunggu Gilang, menyelesaikan kuliahnya. Maura sibukkan dirinya dengan buku-buku yang ada di hadapannya. Membacanya dan sesekali melirik ke arah jam yang melekat di pergelangan tangan kirinya.
Angin siang itu terasa menerpa tubuhnya. Rasa panas dari sinar matahari mulai menyelimutinya. Beberapa kali Maura meneguk air mineral dingin yang ia pesan untuk mengurangi rasa panas yang mulai sangat terasa.
"Lama sekali." Gerutu Maura.
Jika bukan karena janjinya dengan Gilang untuk pergi dengannya sore nanti, mungkin Maura tidak akan berada di sini. Biasanya ia menghabiskan waktunya di kamar kostnya. Sambil menunggu jam kerjanya di waktu sore hingga malam.
"Maura." Panggil seseorang yang sudah berdiri di hadapannya sekarang.
"Rian."
"Boleh ku duduk di sini?" Tanyanya.
"Bolehlah." Jawab Maura santai.
"Aku takut mengganggu." Ucapnya kembali sambil menggeser kursi dan ia duduk sekarang.
"Kau tak bersama Gilang?" Tanya Maura.
"Tidak, kalian baik-baik sajakan tadi?" Tanyanya dan membuat Maura mengerutkan dahinya.
"Maksudmu?"
"Hemm.. kalian tidak bertengkar lagikan?" Tanyanya lagi.
"Tidak, dia sudah meminta maaf padaku." Ucap Maura sambil meneguk kembali air mineral dingin yang masih setia menemaninya di siang ini.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, kau ingin minum juga?" Tanya Maura polos saat melihat Rian menatapnya dan tampak terkejut.
"Oh bukan, kau bilang apa tadi?" Tanya Rian memastikan.
"Gilang sudah meminta maaf." Ulang Maura dan Rian tersenyum kecil mendengarnya.
"Ada yang salahkah?" Tanya Maura bingung saat melihat Rian yang tadinya terkejut sekarang tersenyum.
"Tidak.. tidak ada yang salah."
Rian sungguh tidak mengira bahwa sosok Gilang akan meminta maaf pada Maura terlebih dahulu. Ia sangat keras kepala menurut Rian.
"Sebenarnya siapa wanita itu?" Tanya Maura tiba-tiba dengan memandang lurus ke depan.
Terlihat daun-daun menari tertiup angin siang itu. Terlintas kembali wajah seorang wanita yang dilihatnya pada bingkai foto di kamar Gilang.
"Maksudmu?"
"Tadi aku tak sengaja menyentuh bingkai foto di kamar Gilang. Sosok wanita cantik dan tersenyum. Gilang marah karena ku menyentuhnya." Penjelasan Maura pada Rian.
"Mungkin maksud kamu Laras." Ucapnya yakin.
"Laras." Ulang Maura.
"Ya, Laras cinta pertamanya Gilang."
__ADS_1
"Oh.." Maura mengangguk paham.
Sekarang Maura menutup buku-buku yang ada di hadapannya dan menumpuknya. Rasanya Maura sangat tertarik mendengar kisah Laras. Sosoknya membuat Gilang geram saat Maura menyentuh foto Laras pagi tadi.
"Di mana dia sekarang?" Tanya Maura mulai menyelidiki.
"Entahlah, mereka sudah putus setahun yang lalu."
"Sungguh! Tapi kenapa?, kulihat Gilang sudah sangat sempurna, kenapa Laras mau meninggalkannya?"
"Karena pria lain."
"Maksudmu Laras selingkuh, oh.. nasib.." Ucap Maura sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sampai sekarang, Gilang masih mencintai Laras. Dia masih belum bisa melupakannya."
"Kenapa bodoh sekali Gilang, sudah tahu diselingkuhi, masih saja menyimpan rasa padanya." Protes Maura sendiri.
"Huff.. tugasku sepertinya berat." Ucap Maura begitu saja.
"Tugas, maksudmu?"
"Oh.. tidak.. tidak.. lupakan saja." Ucap Maura tersenyum menatap Rian.
Maura hampir saja keceplosan. Hampir saja ia menceritakan maksud dirinya mendekati Gilang. Beberapa menit kemudian Maura mendengar sesorang memangil nama Rian. Maura mencari datangnya suara itu, dan ikut memandang apa yang dilihat Rian saat ini.
"Wah.. wah.." Ucap pria yang tadi memanggil nama Rian sekarang sudah berada di hadapan Maura dan Rian. Maura mengenalinya, dia adalah Raka, salah satu sahabat mereka.
"Siapa nih, gua enggak dikenalin." Ucapnya.
"Enggak perlu." Ucap Gilang dan langsung duduk di samping Maura sekarang.
"Wah.. gua ketinggalan berita nih." Ucap Raka kembali dan sekarang ikut duduk bersama kami.
"Hei nona cantik, bolehkah ku tahu siapa namamu?" Ucapnya merayu Maura sambil menyodorkan tanganya untuk bisa disambut balik oleh Maura.
Gilang menepisnya dengan cepat. Maurapun terkejut melihatnya.
"Wah.. posesif banget sih Lang." Protes Raka dan Maura tersenyum menatap mereka.
"Dia Maura, dia sekarang asisten gua. Sudah cukup kenalannya, enggak usah pake jabat tangan segala." Ucap Gilang sedikit memaksa.
"Owh, galaknya."
"Hei Maura.., kenalin gua Raka. Pria paling ganteng di kampus ini." Puji Raka sendiri.
"Oh.. oke.." Jawab Muara tersenyun kecil mendengarnya.
"Kok, mau-mauan sih Ra, jadi asistenya Gilang?, dia itu menyebalkan tahu." Ucapnya dengan sedikit berbisik untuk kalimat yang terakhir.
"Pluk.."
Sebuah buku terbang dan jatuh tepat di atas kepala Raka. Rakapun menjerit dan menatap kesal ke arah Gilang.
__ADS_1
Maura dan Rian tertawa melihat tingkah mereka. Gilangpun tersenyum namun tak ada yang tahu. Yah dia tersenyun saat melihat Maura tertawa. Setidaknya Gilang merasa lebih tenang sekarang. Rasa bersalahnya tadi, sudah terobati dengan melihat Maura tertawa siang ini.
Namun tiba-tiba, entah apa yang terjadi pada diri Gilang, membuat Maura terkejut, tidak hanya Maura, Rianpun tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Gilang tiba-tiba saja mengambil air mineral yang ada di hadapan Maura dan meminumnya.
"Hei.. itu.." Ucap Maura, namun terhenti saat air itu habis diminum oleh Gilang.
Gilang meletakkannya dan mentap Maura dan kedua sahabatnya sekarang.
"Kau menghabiskannya." Ucap Maura akhirnya.
"Wah.. parah nih Gilang." Rakapun ikut bersuara.
"Oh.. sorry, aku akan ganti." Ucapnya polos dan menatap polos.
"Bukan itu maksudku, tapi.."
Maura terhenti berkata. Dia tahu Gilang sanggup untuk membelikannya bahkan berpuluh kali lipat. Tapi yang jadi masalah adalah kenapa Gilang harus meminumnya di tempat yang sama. Di tempat di mana Maura juga telah meminumnya.
Gilang menatap bingung Maura lalu Rian dan kemudian Raka. Tapi tak ada yang menjelaskan. Sejujurnya Rian merasa Iri melihatnya. Kenapa Gilang punya keberanian itu, namun dirinya tidak. Rian tau maksud dari perkataan Maura. Dia merasa tak punya hak untuk menjelaskannya di depan Gilang sekarang.
Untuk pertama kalinya, Maura tak mampu berkomentar di hadapan Gilang. Sesekali Rian melirik ke arah Maura, menatap wanita itu yang sedikit demi sedikit telah membuat hatinya selalu berdebar. Membuat dirinya selalu tersenyum.
.
.
.
.
Duh... Rian mulai cemburu nih๐
Tinggalkan jejaknya dan likenya ya kak.
Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.
๐ช๐
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mau likenya ya kak ๐
Mau ratenya juga ya kak๐
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos
Sekalian promosi cerpen ya.. siapa tahu ada yang tertarik ke sana.
"Mencintainya bukan Mencintaiku"
berkunjung yuk, masih ada cerpen-cerpenku lainnya.
Terima kasih๐
__ADS_1