
Secangkir kopi panas telah siap, dan telah Ranti sajikan pada Abi yang duduk di meja dapur, tidak jau dari tempatnya memasak.
Dari tempat Abi duduk tersebut, Abi dengan leluasa dapat melihat dan mengamati kesibukan Ranti malam ini.
Terlihat begitu cekatan dan teliti dalam pandangan Abi, setiap Ranti menyiapkan beberapa bahan dan bumbu masakan.
"Kenapa bengong lagi mas ?, diminum dong kopinya" Ucap Ranti dengan menggelengkan kepala, melihat Abi hanya membiarkan asap kopi melambung begitu saja.
...Seperti kata penikmat kopi, Nikmati lah selagi panas, karena jika sudah dingin akan berbeda rasanya....
"Ohh Emm.. Iya " jawab Abi terbata.
Hampir saja Abi lupa dengan kopi sebelumnya, karena terlalu fokus memandang Ranti yang berada di hadapanya. Rambut panjang yang di kuncir sembarang ke bagian atas, mengenakan baju rumahan dengan panjang selutut dan celemek yang menggantung di leher, membuat Abi merasa Ranti begitu cantik meski dalam balutan tampilan yang sederhana.
Abi menyesap sedikit demi sedikit kopi panas yang dibuat oleh Ranti, "Emmm... Ini enak sekali, rasanya berbeda dari yang biasa aku minum" gumam Abi dalam hati.
"Oya kenapa harus masak malam-malam, mau bisa melakukanya besok pagi saja bukan ?" Tanya Abi masih dengan menyesap kopi buatan Ranti.
Ranti yang mendengar pertanyaan dari Abi, mengulas sebuah senyum "Sepertinya besok Ranti akan berangkat siang mas, Jadi lebih baik Ranti masak sekarang saja" Jawab Ranti kemudian
Abi tampak memicingkan sebelah matanya, dengan tatapan heran. "Bukankah kamu bilang sore ?" Tanya Abi kemudian
"Iya mas, rencana nya begitu, tapi setelah Ranti pikir, lebih baik berangkat siang saja, dan Ranti masih ada waktu untuk istirahat sebelum esok hari bekerja" Jawab Ranti dengan tangan yang sibuk mengaduk rendang dalam panci penggorengan.
Abi menjawab dengan anggukan kepala.
"Aku antar ?" Pinta Abi sekali lagi.
Ranti tampak menatap lekat manik hitam Abi " jangan pernah memberi harapan jika kau sendiri tidak yakin untuk menjadi tumpuan" Ucap Ranti dengan mengulas senyum manis.
Mendengar penuturan dari Ranti Abi sedikit merasa tertampar. Kembali tersadar dari angan-angan jika dirinya saat ini saja sudah sangat menyakiti Ranti.
***
Hari berikutnya
Ranti telah siap dengan segala macam keperluan yang akan dia bawa, seluruhnya telah dia kemas dalam satu koper berukuran besar, selain baju- baju, Ranti juga membawa beberapa oleh-oleh khas kota nya untuk dia bagikan pada teman-teman di kantornya.
Waktu menunjukan pukul 13.15 , sementara kereta Ranti akan berangkat pukul 14.45, dan saat ini Abi masih berada di kantor.
Sebelum berangkat ke kantor Abi sempat berpesan untuk menunggunya, dan akan kembali ke apartemen sebelum jam 12 siang, nyatanya sudah lebih dari satu jam Abi tidak juga muncul.
__ADS_1
Beberapa kali Ranti terlihat melongok ke smartphone miliknya, memastikan adakah pesan yang di kirim oleh Abi.
"Atau aku hubungi saja ya" Gumam Ranti
Setelah beberapa saat menunggu, dan terus menghubungi , Abi pun juga tidak kunjung datang, dan pada akhirnya Ranti memilih untuk mengirimkan sebuah pesan dan dia segera menuju stasiun untuk bergegas berangkat.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, akhirnya Ranti tiba di kota tujuan.
"Ranti !" Sebuah panggilan yang terdengar dari jarak yang lumayan jauh
"Mas Bian!" Gumam Ranti
Setelah berdiri tepat di hadapan Ranti Bian segera meraih koper yang di bawa oleh Ranti dan bergegas menariknya, satu tangan yang memegang gagang koper dan tangan lainya meraih tangan Ranti, menggenggam erat untuk segera beranjak.
"Ehh .. kak" Ucap Ranti berusaha melepaskan genggaman tangan Bian
"Udah, diem aja !" jawab Bian singkat dengan mengenakan kaca mata hitamnya.
Ranti hanya mengekor pasrah, mengikuti langkah jenjang Bian yang membawanya entah kemana.
Setibanya di parkiran bergegas Bian membuka sisi pintu mobil untuk Ranti, dan melindungi kepala Ranti dengan satu tangan ya.
"Silahkan masuk tuan putri" ucap Bian penuh semangat.
"Mas Bian , Please Jangan kaya gini" pinta Ranti dengan mengerucutkan bibirnya.
Bukan mengindahkan permintaan Ranti, Bian justru merasa lucu dengan penolakan dari Ranti.
"Oya gimana kabar Dewi ?" ucap Bian dengan pandangan fokus ke depan.
"Kak Dewi masih sama Mas " Jawab Ranti singkat.
"Mengenai Tawaranku waktu itu apa sudah kau pikirkan lagi ?" tanya Bian dengan mata menatap Ranti yang duduk di sampingnya.
"Menikah ? , Maafkan Ranti tapi Ranti tidak bisa mas Bian" Jawab Ranti dengan menundukkan wajahnya
"Apa ?, Aku tidak salah dengar kan ?, benarkah kau sudah benar-benar memikirkannya ?" Tanya Bian dengan memberondong Ranti banyak pertanyaan.
Ranti hanya menjawab dengan anggukan kepala. Melihat keputus asa an yang di tunjukan oleh Bian.
"Maaf Mas" ucap Ranti lirih.
__ADS_1
Sejenak suasana dalam mobil menjadi sepi tanpa adanya perbincangan seperti sebelumnya. Keduanya tampak tengah berfikir dalam lamunan masing-masing.
"Kalau aku boleh tahu apa alasanmu menolak ku kali ini?" Ucap Bian
Sejujurnya Bian telah beberapa kali mengalami penolakan dari Ranti, namun sebelumya Ranti selalu beralasan jika, hanya menganggap Bian sebagai kakak.
Dan kali ini tanpa ragu Ranti kembali menolak Bian namun dengan tanpa adanya alasan. Hingga membuat Bian merasa sangat terkejut.
"Ranti sudah menikah" Ucap Ranti dengan suara lirih, namun masih sangat jelas terdengar oleh telinga Bian.
"Apa !" Ucap Bian dengan mengeraskan suaranya satu oktaf
"Hahah kau pasti sedang bercanda, Gila... Gak lucu Ran, kalau Lo nolak cari alasan yang realistis Dong ran---" Ucap Bian
"Aku serius mas " Tukas Ranti kemudian.
Mendengar alasan dibalik penolakan Ranti seketika membuat hati Bian terasa runtuh begitu saja, hati yang telah dia jaga untuk seorang yang sejak kecil selalu ada dalam hatinya kini terasa jauh untuk dia raih.
Suasana yang seketika menjadi hening tanpa adanya pembicaraan. Ranti sadar dia sudah sangat melukai hati Bian, seseorang yang selalu baik padanya.
Namun Ranti pun juga tidak ingin membohongi siapapun, terlebih kepada Bian, dengan statusnya yang saat ini telah menjadi seorang istri.
Ranti tidak ingin di anggap memanfaatkan kebaikan Bian, dengan menarik ulur hati yang selalu berharap pada dirinya, sementara Ranti tidak dapat memberi lebih.
***
Setibanya di Kamar Ranti menghempaskan tubuhnya kasar diatas tempat tidur berukuran minimalis tersebut.
Memandang langit-langit kamar, membuat Ranti menyadari satu hal, kesedihan yang Bian rasakan saat ini mungkin juga tengah Ranti rasakan saat ini. Mengingat kembali status pernikahannya dengan Abi.
Betapa sakitnya berharap pada seseorang yang memang kita tahu akhirnya dia tidak akan bisa menjadi harapan. Begitu mungkin yang kini Bian tengah rasakan, dan Ranti pun juga merasakannya.
Ranti semakin merasa bersalah pada Bian, setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, Bian yang biasanya selalu ingin berlama-lama dengan dirinya, meski Ranti malas meladeni. Tapi justru kini Ranti merindukan sosok Bian yang selalu menghibur dirinya saat Ranti sedih.
***
Bersambung
***
Mohon maaf ya Readerku agak lama up nya. Semoga kedepannya bisa semakin lancar
__ADS_1
Sehat dan bahagia selalu untuk para reader setia, yang selalu menemani dalam proses Ongoing ini 🤗🙏