
Tidak butuh waktu lama akhirnya Abi pun keluar dari dalam kamar dengan wajah yang terlihat lebih segar, dengan baju santai yang terlihat menambah ketampanan di wajahnya.
"Den Abi mau makan Sekarang ?" tanya Bi Marni yang datang dari arah dapur.
Bukan menjawab, Abi justru menanyakan pertanyaan lain "Ranti dimana Bi?" ucap Abi kemudian, dengan menelisik ke sisi kanan dan kiri rumah.
Bi Marni hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan dari Abi "Dibelakang den, Sama Bapak" ucap Bi Marni sopan
Segera Reza menyusul Ranti yang tengah berada di taman belakang.
"Alhamdulillah, den Abi sudah lebih baik sepertinya, semoga den Abi selalu bahagia, Bibi nggak tega lihat orang sebaik den Abi murung dan selalu sedih" Gumam Bi Marni lirih
Dan benar saja, seseorang yang tengah di cari oleh Abi sedang duduk bersama pak Dayat , dengan obrolan ringan diantara keduanya.
"Ranti" ucap Abi dari arah belakang.
Seketika Ranti menoleh, dan berbalik "Mas Abi, Ada apa ?" Tanya Ranti kemudian
"Kau harus minum obat , jadi sebelum itu makan lah dulu" ucap Abi
Seketika Ranti mengerutkan dahinya dengan tatapan heran, namun juga ada rasa senang dengan perhatian yang di berikan oleh Abi.
"Iya" Jawab Ranti singkat.
Ranti, Abi, dan Pak Dayat pun segera beranjak untuk menuju dapur, dimana disana ada Bi Marni yang telah siap dengan segala masakannya.
"Wah.. banyak sekali ni masaknya" Ucap Ranti
Bi Marni tersenyum ramah "Bibik nggak tau kesukaan Neng ranti, jadi Bibik masak beberapa, supaya neng Ranti bisa milih" Tukas bi Marni kemudian.
"Semuanya enak neng, mangga atu di cicipi" Ucap pak Dayat kemudian.
Ranti merasa terharu dengan sikap baik dari kedua asisten rumah tangga tersebut, yang menyambut dirinya dengan penuh hangat.
"Jadi begini rasanya jadi kak Dewi selama ini, Maafkan Ranti kak, bukan maksut Ranti merebut kebahagiaan kakak" Batin Ranti dalam hati dengan wajah sayu dan pandangan menunduk
"Ada apa neng , kok malah sedih " Sergah pak Dayat dengan mengerutkan dahi.
"Apa neng Ranti tidak suka sama menunya ?" Tanya Bi Marni kemudian
"Ohh, Bukan Bi, maaf , tapi Ranti hanya terharu Bibi dan Pak Dayat baik sekali" ucap Ranti dengan sudut mata berembun. Meski sejujurnya bukan hanya itu alasan dibaliknya.
__ADS_1
Abi yang menyaksikan suasana melow saat itu hanya tersenyum dan merasa bahagia, sejenak Abi pun lupa dengan Dewi yang berada di rumah sakit.
Setelahnya mereka makan bersama dengan menu yang di siapkan oleh BI Marni.
Pak Dayat, Bi Minah, Ranti dan juga Abi makan bersama-sama dalam satu meja, itu karena Ranti meminta keduanya untuk makan di meja yang sama.
Sebelumnya Pak Dayat dan BI Minah menolak ajakan Ranti, namun Ranti Kekeh dengan keinginannya, akhirnya kedua orang paruh baya tersebut menurut.
Setelah selesai dengan acara makan bersama, Ranti yang sebelumnya memiliki obat untuk di minum, segera mengambil ya dan kemudian meminum obat tersebut,
Setelah makan kembali mereka melanjutkan aktifitas masing-masing. Bi Marni yang kembali sibuk dengan urusan dapur, sementara pak Dayat yang sibuk dengan urusan kebun, menata bunga dan tumbuhan yang ada di halaman Villa tersebut.
Sementara Abi dan Ranti yang terlihat duduk bersama di teras Villa Mewah tersebut. Dari tempatnya duduk, Ranti dapat dengan jelas melihat hamparan perkebunan teh yang membentang luas, dengan beberapa pekerja kebun disana yang sibuk untuk memetik pucuk teh.
"Kau mau jalan-jalan" Tanya Abi kemudian.
Ranti tampak mengerutkan dahinya "Apa kita tidak akan pulang sekarang?" Tanya Ranti kemudian.
Karena sebelumnya Ranti berfikir jika dia dan Abi hanya akan singgah sebentar untuk membersihkan diri, lalu makan, dan kemudian kembal pulang.
"Apa kau tidak menyukainya ?" tanya Abi kemudian.
"Bukaan, Bukan begitu mas, hanya ini terlalu aneh bagiku" Ucap Ranti dengan jujur
"Apa mas Abi sedang mengajakku berlibur ?" Tanya Ranti kemudian dengan memicingkan mata dan menautkan kedua alisnya.
Abi terkekeh.
"Anggap saja begitu, Atau kau bisa menganggapnya sebagai bulan madu kecil-kecilan" Jawab Abi asal dengan senyum cengingisan.
"Mas !" sergah Ranti dengan tatapan melotot.
Abi semakin dibuat terpesona melihat kecantikan alami dari Ranti, sosok Ranti yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
"Dibawah sana ada yang jual jagung bakar, kau mau coba ?" Tanya Abi lagi. Dan Ranti seketika menganggukkan kepala dengan semangat.
"Yuk lah " Ucap Ranti dengan wajah berbinar.
"Tunggu !" Ucap Abi yang melihat Ranti nyelonong begitu saja
"Ada apa lagi mas ?" Tanya Ranti kesal
__ADS_1
"Sebaiknya kau gunakan blazer, udara semakin dingin" Pinta Abi
"Tapi ini udaranya masih sejuk mas, Belum begitu dingin" celah Ranti memberi penolakan.
Abi yang mendapatkan penolakan hanya mendengus kesal dan mengangkat kedua bahunya, kemudian berjalan menyusul Ranti yang telah berada beberapa langkah di depannya.
Ranti dan Abi memilih untuk berjalan kaki, sembari menikmati pemandangan alam yang begitu indah, dan sesekali bertegur sapa dengan ibu-ibu para pemetik pucuk teh, yang begitu ramah kepada keduanya.
"Di gandeng dong den istrinya, masak penganten nggak mesra gitu" Celetuk salah seorang pemetik pucuk teh dengan nada candaan, yang ketika itu melihat Abi dan Ranti berjalan.
Mendengar hal itu keduanya hanya saling pandang, dengan dahi yang mengerut dan alis yang bertaut, Tidak ingin ambil pusing Abi dan Ranti hanya menjawab dengan melempar senyum pada sosok yang baru saja memberi saran.
"Mari Bu" Ucap Abi sopan.
Dijawab anggukan kepala oleh sang pemetik pucuk daun teh.
Memang bukan hanya Villa milik Abi saja yang ada di kawasan tersebut, ada beberapa villa mewah lainya, yang beberapa diantaranya di sewakan untuk acara bulan madu pasangan pengantin baru.
Tak ayal para pemetik pucuk teh di sana tahu jika ada muda mudi di sekitar daerah itu, sudah pasti mereka akan menganggap sedang berbulan madu.
Ranti yang merasa malu hanya menundukkan wajahnya, dan berjalan dengan langkah cepat.
"Hey, Kau bisa jatuh!" Ucap Abi dengan nada peringatan, yang melihat Ranti berjalan cepat diatas bebatuan kerikil berukuran besar.
Melihat Ranti yang hanya bergeming, Abi pun hanya menggelengkan kepala.
Setelah kurang lebih berjalan 10 menit akhirnya keduanya tiba di sebuah perempatan, dan benar saja terdapat beberapa pedagang disana, yang salah satunya adalah penjual jagung bakar yang di maksut Abi sebelumnya.
"Mangga atu neng, mau rasa apa ?" Tanya mamang penjual jagung
Dengan semangat Ranti memesan beberapa jagung bakar dengan rasa-rasa yang berbeda.
Dan Abi hanya diam, merasa heran dengan pesanan Ranti "Kau yakin memesan sebanyak itu ?" Ucap Abi kemudian
"Tentu saja !" Jawab Ranti singkat
Abi hanya menggelengkan kepala melihat banyak jagung pesanan Ranti sebelumnya.
***
Bersambung
__ADS_1
***