
...Cinta merupakan bahasa sederhana dalam mengungkapkan Rasa...
...🍁...
Pagi hari
Ranti telah siap dengan setelan kemeja dan rok span serta sepatu heels yang hanya memiliki tinggi 3 cm. Ranti terlihat sempurna mengenakan pakaian formal, meski wajah pucat nya tetap terlihat.
"Bi Ranti berangkat dulu ya"
"Lho Bu Ranti tidak sarapan dulu ?"
"Nggak bi, nanti sarapan di kantor saja"
Meski merasa khawatir dengan Ranti, namun bi nur tetap mengiyakan apa yang di katakan oleh majikanya.
Kali ini Ranti tidak memesan Ojek online, dia memilih untuk memesan taksi online untuk mengantarkan ya ke kantor, entah mengapa Ranti merasa tubuhnya tidak cukup nyaman berada diatas jok motor.
Menempuh perjalanan beberapa saat Ranti pun telah sampai di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi, bersamaan dengan itu Bian juga ternyata baru saja sampai.
"Pagi Ran "
"Selamat pagi Pak Bian"
"Tidak perlu terlalu formal"
"Ranti tahu, tapi ini di kantor"
Meski merasa sedikit kecewa, namun Bian tetap mengiyakan apa yang menjadi keinginan Ranti.
Keduanya berjalan beriringan masuk kedalam kantor, banyak mata tertuju pada Bian dan Ranti, tak jarang banyak yang mengatakan keduanya merupakan pasangan serasi, sayang sekali penolakan Ranti terhadap Bian nyatanya telah menjadi rahasia umum, banyak diantara para rekan kerja yang menyayangkan bagaimana bisa Ranti menolak pesona seorang Bian.
Namun Ranti bukan tipe wanita yang hanya mementingkan harta, nyatanya meski Bian begitu kaya raya, Ranti tidak lantas memanfaatkanya.
Sudah menjadi hal biasa bagi Ranti menjadi perbincangan diantara teman-teman kantornya, dia pun tidak lagi terganggu,dan menganggap semua sebagai angin lalu.
***
Di Langit yang sama namun tempat yang berbeda, seorang wanita tengah duduk di sebuah coffeshop, duduk manis menanti seseorang yang telah dia tunggu sejak 10 menit yang lalu.
"Sudah kau dapatkan semua ?"
"Sudah Bu"
Seorang laki-laki yang baru saja datang dan duduk tepat di depan Dewi, menanti sebuah informasi yang sebelumnya dia minta untuk gali.
Sebuah Amplop coklat berukuran besar dia serahkan pada Dewi, dan dengan cepat dia membuka isi dalam amplop tersebut.
Senyum sinis jelas terlihat di sudut bibirnya, menatap Lemar demi lembar, seketika tangannya terkepal berkemas selembar yang mungkin saja berisi sesuatu yang sangat tidak dia sukai.
"Ini sisa pembayaran, aku cukup terkesan dengan cara kerjamu"
"Terima kasih Bu"
__ADS_1
Setelah mendapatkan imbalan atas pekerjaan yang dia lakukan, lelaki yang sebelumnya menemui Dewi kini telah pergi meninggalkannya. Menyisakan Dewi yang masih enggan untuk beranjak.
***
Siang hari cukup terik di pusat kota, Ranti merasa begitu dahaga, dan kali ini dia begitu sangat menginginkan Ice Boba.
Berjalan menyusuri lorong kantor, dan menuruni lantai demi lantai menggunakan lift, Ranti tiba di lobby dan bergegas keluar dari kantor menuju kedai sebrang jalan yang menjual beraneka ragam minuman viral.
Melihat banyaknya jenis minuman yang cukup menggiurkan membuat Ranti merasa tidak sabar untuk segera memilih apa yang menjadi incarannya.
"Boba Milik jumbo nya satu ka"
"Baik Bu"
Menunggu beberapa saat akhirnya minuman yang di pesan oleh Ranti telah siap. Segera Ranti membayar dan menikmati minuman nya di tempat tersebut.
Sesekali terlihat Ranti yang mengusap peluh yang membasahi pelipisnya, cukup terik memang berada di luar ruang, dan hal itu cukup membuat Ranti merasa gerah.
Ranti begitu menikmati minuman nya, merasakan setiap bulatan Boba yang masuk kedalam mulutnya, menggoyangkan lidah dengan sensasi kenyal yang begitu menggoda, hingga tanpa di sadari sebuah mobil melintas begitu saja di ramainya jalanan tersebut.
Nahas Ranti yang tidak hati hati membuatnya terserempet mobil tersebut, meski tidak mengalami cedera serius namun hal itu cukup membuatnya merasa gemetar.
"Ranti kau tidak papa"
Mendengar suara yang cukup familiar di telinga, dengan ketakutan yang dia rasakan Ranti mendongakkan kepalanya.
"Ka Dewi ?"
Ranti pun menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan sang kakak. "Syukurlah kau baik-baik saja"
Setelahnya dengan cekatan Dewi membantu Ranti dan membawanya duduk kembali di tempat duduk sebelumnya.
"Apakah aku perlu membawamu Kerumah sakit ?"
"Tidak perlu ka, Ranti baik-baik saja, Ka Dewi sendiri sedang apa disini ?"
Mendengar pertanyaan sang Adik , Dewi sedikit gelagapan, hingga dengan bodohnya dia mengatakan jika ada teman yang ingin bertemu. Alasan yang sedikit tidak masuk akal, namun Ranti berusaha tidak mengambil pusing.
"Maaf ka Ranti harus segera kembali ke kantor karena jam makan siang telah habis"
"Baiklah, berhati-hatilah"
Ranti hanya menganggukkan kepala, setelahnya dengan langkah tertatih Ranti meninggalkan Dewi.
Kejadian yang baru saja di alami oleh Ranti nyatanya cukup membuat gadis tersebut begitu takut, entah mengapa perasaanya begitu tidak nyaman akhir-akhir ini.
Waktu berlalu begitu saja, hingga jam pulang kantor pun telah tiba.
Seperti biasa Ranti akan menantikan taksi online yang dia pesan, namun kali ini Bian lebih dulu menghampirinya sebelum Ranti sempat menekan tombol dalam aplikasi online.
"Aku akan mengantarmu"
"Tidak perlu pak Bian"
__ADS_1
"Sudah lah, jangan menolak ku"
Ranti selalu kalah jika berdebat dengan sang bos, hingga dia memilih untuk menuruti apa yang di katakan Bian.
Tidak butuh waktu lama Bian telah membawa mobil mewahnya terparkir tepat dimana Rati berdiri sebelumnya, dengan cekatan Bian membuka pintu samping kemudi dan membiarkan Ranti masuk kedalamnya.
Keduanya kini berada dalam satu mobil "Ada kah sesuatu yang ingin kau beli ?"
Ranti pun menoleh pada Bian dan menggelengkan kepalanya. Suasana tampak begitu hening terlebih Ranti begitu tak bersemangat untuk sekedar berbasa basi dengan Bian.
"Ran !"
"Em"
"Apa kau baik-baik saja ?"
"Apa aku terlihat tidak baik-baik saja ?"
"Bukan begitu aku hanya mengkhawatirkan mu"
"Tenang saja mas Bian, Ranti baik-baik saja"
"Lalu. bagaimana hubunganmu dengan Abi ?"
Mendengar pertanyaan Bian, Ranti hanya dapat tersenyum getir menahan keperihan. "Seperti yang mas Bian lihat"
Memejamkan mata dan Menghela nafas dalam menjadi pilihan Ranti ketika hatinya tidak baik-baik saja.
Bian tahu jika Ranti tengah dalam kondisi sulit, namun tidak banyak yang dapat Bian lakukan, mungkin menjaga Ranti dalam diam adalah solusi yang tepat untuk saat ini.
"Apa kau ingin makan malam dulu ?"
"Tidak mas, kita langsung pulang saja, Bi nur pasti telah memasak untuk ku"
"Baiklah"
Jalanan cukup lengang, dan hal itu di manfaatkan Bian untuk menambah laju kecepatan mobilnya. Hingga kurang dari 20 menit Bian telah sampai di rumah Ranti.
"Apa kau tidak ingin menawariku kopi mungkin ?"
"Haruskah ?"
Bian pun terkekeh kecil mendengar jawaban Ranti. "Hanya jika kau memilikinya, aku tidak memaksa" Sela Bian
"Singgah lah, kita bisa sekalian makan malam bersama"
Tanpa menunggu aba-aba dengan cepat Bian turun dan mengikuti Ranti amsuk kedalam rumah.
***
...Maaf ya Kak Kalau masih ada tulisan yang Typo, bisa langsung di koreksi, nanti author Segera betulkan. ...
...Dan jangan lupa selalu berikan Suport dan Dukunganya Ya untuk Author, agar Author semakin semangat menulis 🤗🤗😘🍁...
__ADS_1