
Setibanya di rumah sakit Ranti bergegas menuju Tempat dimana kakaknya di rawat. Sebuah ruangan khusus yang telah di siapkan Abi untuk merawat kakak nya Dewi.
Meski hanya melalui kaca namun Ranti merasa sangat lega, masih dapat menatap wajah pucat sang kakak.
Abi pun hanya mengekor Ranti, berdiri tepat di belakang Ranti dan memegang erat pundak Ranti, untuk menguatkan istrinya tersebut.
Berada dalam posisi seperti ini sungguh Abi merasa sangat tidak nyaman.
"Mas " Panggil Ranti lirih.
"Bagaimana kata dokter tadi ?" Tanya Ranti yang memang tadi langsung ke ruangan sang kakak, sementara Abi sempat mampir di ruang dokter yang bertugas merawat Dewi.
"Dokter Mengatakan kondisi Dewi masih sama, Namun cenderung stabil " Ucap Abi dengan suara datar. Ranti hanya mendengarkan dan tidak memberi tanggapan.
"Dokter mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan" Ucap Abi lagi.
Mendengar hal itu Ranti mendongakkan wajahnya menatap sosok yang berdiri tepat di belakanganya.
"Aku harap keajaiban itu ada untuk ka Dewi" Ucap Ranti dengan menatap lekat wajah Abi.
Meski hatinya terasa begitu sakit mengatakan hal itu, namun mengingat kembali, bukankah itu tujuan nya menikah dengan Abi, dan bukankah itu juga yang di inginkan Ranti sejak dulu.
Mendengar ucapan Ranti, Abi hanya diam, enggan dirinya memberi tanggapan.
Abi sadar jika saat ini pun Ranti begitu terluka dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan. Namun Abi hanya ingin mengalir tidak ingin begitu memikirkan sesuatu yang belum pasti.
"Sayang, Kita Berangkat Sekarang ?" tanya Abi . Mencoba mengalihkan pembicaraan diantara keduanya.
Ranti masih menatap lekat sang kakak, dimana dirinya berjuang dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya. sudah hampir sembilan bulan Dewi menjalani itu, ada rasa iba yang seketika menyeruak di hati Ranti.
Tanpa terasa buliran bening menetes begitu saja di sudut mata indah Ranti.
Tidak hanya memikirkan nasib Dewi saja, namun Ranti pun juga memikirkan nasibnya setelah ini, dan bagaimana jika sang kakak bangun, apa Yanga kan Ranti katakan padanya.
Pertanyaan pertanyaan aneh yang selalu saja menghantui pikirannya, meski dia merasa bahagia saat ini, namun dalam dasar hatinya Ranti tetap merasa bersalah.
"Asmaranti, Apapun yang terjadi aku akan selalu mencintaimu" Ucap Abi mencoba menguatkan
"Benarkah ?" Tanya Ranti lirih dengan mata berkaca-kaca
Abi menganggukkan kepala, dengan mengusap Air mata yang membasahi wajah cantik Ranti.
Ranti pun tersenyum bahagia mendengar penuturan dari Abi, meski sejujurnya Ranti tidak yakin, namun Ranti memilih untuk tidak memikirkan masalah itu saat ini.
***
Berada dalam mobil Ranti masih saja larut dalam suasana hati yang begitu tidak baik.
__ADS_1
Beberapa kali Abi melihat Ranti menyeka air mata yang tanpa sadar masih menetes di sudut mata indah Ranti.
"Sayang " Panggil Abi
Ranti hanya mendongakkan wajah, menatap sang suami
"Kita Akan berbulan madu, aku tidak ingin kamu sedih " pinta Abi dengan mengulas senyum.
Mendengar hal itu Ranti pun tersenyum lebar pada Abi.
"Nah gitu dong !" Ucap Abi tatkala melihat senyum lebar terkembang di bibir Ranti.
Abi pun meraih tangan Ranti dan meletakkan ya dalam pangkuan, agar sesekali Abi dapat mengusap lembut tangan Ranti, di sela-sela fokusnya mengemudikan mobil.
sepanjang perjalanan di lalui keduanya dengan perasaan bahagia, tidak jarang Abi menggoda Ranti dengan kalimat-kalimat receh, yang justru hal itu mengundang gelak tawa dari keduanya.
"Sayang sebenar lagi kita akan sampai" Ucap Abi.
"Ada yang ingin kau beli sebelum kita sampai ke atas ?" ucap Abi lagi.
Ranti tampak berfikir sejenak "Mas kita mampir supermarket ya, Ranti amu belanja buat dapur" Ucap Ranti
Abi tampak menautkan kedua alisnya, yang menampakkan guratan halus di dahi tampan nya.
"Kenapa harus masak sayang, kita bisa memesan dari resto terdekat " Ucap Abi keberatan dengan permintaan Ranti.
"Tapi mas, sepertinya Ranti lebih suka masak" pinta Ranti penuh permohonan.
"Waktu kita akan berkurang kalau kau sibuk di dapur sayang" Ucap Abi kesal.
Ranti hanya membulatkan kelopak matanya, mendengar ucapan sang suami yang terasa begitu menggelikan
"Astaga, Mas !" ucap Ranti.
Abi hanya tersenyum smirk pada sang istri.
"Sayang aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mu, di kamar kita, berdua saja, dan saling menghangatkan" Ucap Abi kemudian dengan menaik turunkan alisnya.
Ranti semakin menggelengkan kepala, kesal dengan sang suami.
"Mas Apakah kita akan melakukanya 24 jam ?" Tanya Ranti kesal
"Tentu saja !" jawab Abi penuh semangat.
Ranti hanya menatap sang suami dengan menepuk jidatnya, merasa sang suami sudah begitu konyol.
"Sayang, bukankah aku sudah berpuasa selama berbulan-bulan" Ucap Abi.
__ADS_1
"Dan kau tau bukan aku baru buka puasa semalam, Aku belum puas sayang " ucap Abi dengan wajah di buat memelas.
Ranti semakin kesal mendengar ucapan sang suami, gemas rasanya melihat tingkah konyol Abi.
"Auch !. Sayang sakit ,kenapa kau selalu mencubit ku " Ucap Abi dengan wajah meringis menahan sakit.
Melihat raut wajah memelas Abi, Ranti hanya terkekeh kecil.
"Ohh jadi kau bahagia ya kalau suami mu ini kesakitan" Ucap Abi dengan seringai tipis di wajahnya.
Ranti hanya membulatkan matanya , menatap lekat sang suami.
"Awas ya nanti malam kau akan meminta ampun karena telah berani jahil pada ku" Ucap Abi dengan. seringai di wajah tampannya.
"Mas !" pekik Ranti yang paham kemana arah pembicaraan Abi saat ini.
Melihat kepanikan Ranti , Abi begitu menikmatinya, Tampa sadar dia tertawa terbahak bahak.
Sejenak suasana menjadi hening, karena Ranti yang masih merasa kesal pada Abi.
"Sudah sampai, kau turunlah, aku akan menunggumu disini" Ucap Abi setelah memarkirkan mobilnya di depan sebuah pusat perbelanjaan .
Mendengar ucapan Abi , Ranti yang masih belum paham kemudian meneliti ke sekitar. Benar saja meski Abi menolak sebelumnya, namun Abi tetap Menuruti permintaan Ranti untuk berbelanja.
"Mas , Kok nggak bilang sih " Tanya Ranti dengan wajah yang telah berubah dengan bingar bahagia.
Abi nanya menarik nafas dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Bagaiman aku bisa mengatakan padamu, kau saja hanya marah sedari tadi" Ucap Abi dengan wajah dibuat kesal.
Melihat hal itu Ranti hanya terkekeh. "Maaf ya suamiku " Ucap Ranti dengan memberikan cubitan lembut di hidung mancung Abi.
"Oke aku akan cepat " Ucap Ranti dengan melepas saat belt yang di kenakan nya.
Abi meraih tangan Ranti sebelum sempat Ranti membuka pintu.
"Ada apa mas ?" Tanya Ranti yang sedikit terkejut.
"Jangan lama-lama, aku akan merindukanmu " Ucap Abi dengan senyum simpul di wajah tampannya.
Ranti hanya mendengarkan dengan memutar bola matanya
"Mas Ranti hanya berbelanja " Ucap Ranti dengan suara datar.
Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi Abi, seketika wajah Ranti pun bersemu merah, menyadari sikap agresif nya pada Abi.
Bukan marah Abi justru sangat bahagia , dan begitu menikmati kecupan lembut dari sang istri.
__ADS_1
Setelahnya Ranti bergegas membuka pintu dan beranjak menuju supermarket.
***