
Ranti begitu menikmati sarapan paginya, terasa berbeda karena kali ini Ranti sarapan dengan ditemani Abi.
Tuttt
Dering telepon yang seketika memecah kenikmatan sarapan pagi Ranti dan Abi.
Ranti menoleh sekilas Handphone miliknya. "Ka Dewi ?" Gumam Ranti lirih.
"Ada apa ?" tanya Abi yang melihat perubahan wajah dari Ranti menjadi sedikit gugup.
"Nggak mas, Ka Dewi telpon"
Mendengar hal itu Abi pun menghentikan makan ya, dan menautkan kedua Alisnya "Angkat lah"
Ranti pun menjawab dengan anggukan kepala.
"Hallo ka dewi ?"
"Hallo Ran, kamu dimana ?, Kaka ini di kos kamu, tapi kata pemilik kosan kamu sudah pindah beberapa bulan yang lalu ?"
"Apa ka Ranti di sini ?" Mendengar ucapan sang kakak, jujur Ranti begitu sangat terkejut.
Tidak hanya Ranti nyatanya Abi pun juga merasa begitu terkejut.
"Apa kamu sudah ke kantor ?"
"Belum ka, belum em Ranti masih di rumah" gugup Ranti menjawab pertanyaan sang Kakak
"Baiklah , katakan kau dimana aku akan menemui mu" ucap Dewi dari ujung telepon.
Sejenak Ranti terdiam, entah jawaban apa yang harus dia berikan pada sang kakak, terlebih saat ini Abi pun juga tengah bersama nya.
"Ran ! Ranti !, Kirimkan lokasimu, aku akan kesana sekarang"
"Oohh.. Em iya ka"
Ranti sedikit bernafas lega setelah Dewi mematikan teleponnya, meski setelah itu pun Ranti harus kembali berfikir dengan alasan apa yang harus dia katakan pada sang kakak.
"Mas , bagaimana ini ?" tanya Ranti yang mulai ketakutan.
"Kau tenanglah, kirimkan saja lokasi rumah ini, biarkan Dewi menemui mu, aku akan segera pergi" ucap Abi memberi solusi.
Jujur Ranti merasa bimbang untuk memberikan lokasi nya saat ini, namun dia juga tidak mungkin membiarkan kakaknya terlunta-lunta sendirian.
Meski dengan berat hati, akhirnya Ranti mengirimkan lokasi rumahnya, sementara Abi telah meninggalkan kediaman Ranti.
***
"Waw, Nyaman, bersih dan sangat terawat"
Ucap Dewi dengan berkeliling sekitar rumah Ranti. Meneliti setiap sisi bagian rumah baru Ranti yang merupakan pemberian dari Abi.
Ranti hanya mengulas senyum ramah, dari dapur terlihat Dewi yang tengah berkeliling, sementara itu Ranti tengah sibuk menyiapkan minuman dan makanan untuk Dewi.
"Ran , kau tinggal sendiri ?"
Deg.
__ADS_1
Pertanyaan sang Kakak seolah menguliti hati Ranti, sejenak Ranti merasa begitu gugup.
"Iya ka, Ranti hanya sendiri" ucap Ranti berbohong
Tentu saja Ranti tidak sendiri selain kadang-kadang bersama Abi, Ranti juga bersama dua asisten rumah tangga yang di percaya Abi untuk menemani Ranti selama dirinya tidak bersama Ranti.
Mendengar jawaban dari Ranti, Dewi pun hanya menganggukkan kepala.
"Ka , Minum dulu " pinta Ranti pada sang kakak dengan meletakkan minuman dan beberapa makanan ringan serta buah buahan yang telah di kupas untuk Kakak nya.
"Terima kasih " ucap Dewi dengan meraih secangkir teh hangat buatan Ranti.
"Ohya Ran, boleh kakak menginap untuk beberapa hari ?"
"Uhukk Uhukk" Ranti pun terbatuk mendengar permintaan sang Kakak, Sejenak kedua bola matanya membulat sempurna.
"Kau kenapa Ran, hati-hati dong kalau minum " ucap Dewi dengan begitu lembut.
"Oh iya ka Maaf" lirih Ranti.
"Jadi bagaiman !, Boleh kakak menginap untuk beberapa hari ?"
Jujur hal ini merupakan keputusan berat, sementara itu Ranti hanya dapat tersenyum tanpa Arti.
"Tapi kenapa ka ?"
"Kenapa ?, apa aku tidak boleh menginap di rumah adik ku sendiri ?"
"Bukan , Bukan begitu ka Dewi, hanya saja --"
"Aku bosan Ran di rumah, mas Abi selalu sibuk dan tidak pernah ada waktu untukku"
"Jadi bagaimana ?" Tanya Dewi lagi
"Tentu ka, tentu saja Kakak boleh tinggal disini" jawab Ranti dengan mengulas senyum ramah.
Keduanya saling melemparkan senyum, bahagia Dewi dapat tinggal bersama Ranti. Sementara Ranti begitu merasa gugup dan berusaha menutupi baik-baik rahasia dirinya dan Abi.
"Ohya ka.rangi pasti lelah, Ranti antar ke kamar"
"Ok . Baiklah" jawab Dewi dengan beranjak dari duduknya.
Rumah Ranti memnag tidak terlalu besar, namun begitu nyaman untuk di tinggali, terlebih Ranti yang juga sangat menyukai tanaman membuat rumah tersebut terasa sangat asri.
Berjalan beberapa saat, Akhirnya Ranti telah berdiri tepat di depan sebuah pintu, Yang tentunya ruangan tersebut akan menjadi kamar Dewi untuk beberapa hari kedepan.
Ceklek.
Ranti pun membuka handle pintu, Masuk kedalam kamar dan di susul oleh sang kakak yang berjalan di belakangnya, dan mempersilahkan Dewi untuk masuk kedalam kamar.
"Maaf ka, mungkin tidak sebesar kamar kakak, tapi kamar ini bersih dan sangat nyaman, ohya sirkulasi udara di kamar ini juga sangat bagus, Kakak bisa membuka jendela kamar, disana langsung berhadapan dengan taman samping rumah"
Dewi pun hanya bergeming, dia terlihat sibuk meneliti setiap sisi kamar, cukup sederhana, namun memang sangat nyaman.
" Nggak masalah, Nyaman kok" ucap Dewi. Ranti pun tersenyum pada sang kakak.
"Kakak istirahatlah, aku akan keluar" ucap Ranti dengan berlalu meninggalkan kamar sang Kakak.
__ADS_1
***
Waktu menunjukan pukul 17.15 , Ranti tengah sibuk dengan beberapa bahan untuk membuat makan malam.
Dewi keluar kamar dengan wajah terlihat tidak menyenangkan. Terdengar pula umpatan yang keluar dari mulutnya.
Melihat sikap sang kakak, Ranti sedikit penasaran "Ada apa kak ?"
"Itu Ran Pelayan di rumah mama lupa membawakan ku obat" kesal Dewi dengan mendengus
"Sabar ka, bukankah bisa kita beli di sini" ucap Ranti dengan suara lembut.
"Tidak bisa Ran, obat itu resep khusus dari dokter" ucap Dewi , Ranti tampak menganggukkan kepala.
"Lalu bagaimana ka ?"
"Kau tidak perlu khawatir, Sebentar lagi mas Abi akan kemari untuk membawakan obat itu"
Ucap Dewi dengan Mengulas senyum bahagia.
"Apa ?"
"Kenapa kaget ran, Iya mas Abi Suamiku, aku telah menelponnya untuk mengantarkan obat itu kesini" ucap Dewi dengan penuh keceriaan.
Rasa kesal yang sebelumnya dia kelihatan kini berubah dengan senyuman yang begitu ceria.
"Ohh. Jadi begitu" lirih Ranti dengan wajah yang sulit diartikan.
***
Beberapa saat berkutat di dapur, akhirnya Ranti telah menyelesaikan semua masakan yang sebelumnya dia buat.
Tidak dalam porsi besar, namun Ranti menyiapkan banyak jenis makanan, terlebih kali ini dia bersama sang kakak.
Keduanya bersama dalam satu meja yang berukuran tidak terlalu besar tersebut, menikmati hidangan makan malam yang terasa begitu nikmat.
"Kau tidak pernah gagal Ran dari dulu"
Ucap Dewi di sela-sela mengunyah makanan.
"Maksudnya?" tanya Ranti dengan mengerutkan kening.
"Ohh. itu lhoo kamu tidak pernah gagal untuk membuat masakan enak" puji Dewi dengan mengulas senyum kecil.
Mendengar hal itu Ranti hanya tersenyum simpul, dan tidak memberikan tanggapan apapun.
Hening.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu dari bagian pintu utama rumah Ranti.
Mendengar hal itu Ranti bergegas beranjak dari duduknya untuk membuka pintu
"Tunggu Ran !"
"Biar kakak saja, itu pasti mas Abi"
__ADS_1
Ucap Dewi dengan senyum terkembang di wajah nya. Terlihat jelas Dewi begitu bahagia menyambut kedatangan Abi.
***