
Pagi hari.
Ranti yang bangun sedikit terlambat merasa tidak enak pada ibu mertuanya. Terlebih melihat ibu mertuanya bersama asisten rumah tangga yang telah berada di dapur, rasanya ingin Ranti terbang ke awang-awang saat itu juga.
"Maaf ma Ranti telat bangun " Ucap Ranti yang merasa tidak enak pada ibu mertuanya.
Bagaimana seorang menantu bisa telat bangun dari mertuanya yang telah sibuk di dapur bersama asisten rumah tangganya.
Bu Shinta hanya tersenyum mendengar permintaan maaf dari sang menantu.
"Iya sayang " Jawab Bu Sinta dengan senyum manis, dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Menyadari sang mertua hanya terus saja memandangnya dengan senyuman yang terasa aneh , sedikit membuat Ranti tidak nyaman, setelahnya tampak Ranti meneliti dirinya sendiri, mungkinkah ada ada yang aneh padanya, atau dia salah memakai baju.
Namun Ranti merasa tidak ada yang salah dengan dirinya, menyadari hal itu Ranti hanya mengerutkan dahi, yang menampakkan guratan halus disana.
"Mama kok senyum senyum -senyum terus sih" Ucap Ranti penasaran, dengan tangan yang masih sibuk mengupas buah-buahan.
"Nggak papa sayang, Udah kamu selesaikan bikin juice nya, sebentar lagi papa dan Abi pasti turun untuk sarapan.
Meski masih penasaran dengan arti senyuman sang ibu mertuanya, namun Ranti memilih untuk diam dan tidak lagi bertanya.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat begitu saja di pipi mulus Ranti.
Ranti yang mendapatkan sebuah kecupan dari Abi merasa begitu malu, terlebih abi melakukanya di depan ibu mertua dan juga asisten rumah tangga nya.
"Mas !" Protes Ranti.
Bu Shinta yang menyaksikannya hanya tersenyum senyum sendiri. begitu juga dengan asisten rumah tangga yang kala itu juga berada disana.
"Anak muda ma ! " ucap Abi dengan suara datar tanpa rasa bersalah.
"Iya deh, yang anak muda " jawab Bu Shinta dengan nada sindiran.
"Tapi kalau anak muda harusnya nggak lupa tutup pintu dong" Sindir Bu Shinta
Mendengar hal itu Ranti mulai sadar arti senyuman ibu mertua nya sedari tadi , Semakin hilang sudah wajah Ranti saat itu.
Semburat merah yang menandakan Ranti begitu sangat malu berhadapan dengan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Astaga " Gumam Ranti lirih, menahan rasa malu.
Menyadari kegiatan panasnya semalam sudah pasti ibu mertuanya tahu. Ranti hanya dapat mendelik dan seketika menutup wajahnya yang terasa memanas.
"Tenang sayang, cuma mama kok yang tahu , mama juga udah bantuin tutup pintunya semalam" Ucap Bu Shinta lagi.
"Astaga" Semakin memerah lah wajah Ranti saat itu.
Ranti hanya tertunduk malu dengan rasa kesal pada Abi, tidak sedikitpun Abi merasa bersalah, justru dia malah terlihat senang mendengar ucapan sang ibu.
Abi yang menyadari jika istrinya begitu sangat terkejut dengan rasa malu pun hanya tersenyum. Nyatanya istrinya itu masih begitu polos.
"Ma maaf" Lirih Ranti. Menatap ibu mertuanya kemudian Ranti melemparkan tatapan tajam pada sang suami yang hanya tersenyum mendengar sindiran dari mama nya.
Bu Shinta pun hanya menganggukkan kepala "lain kali di cek dulu ya , coba kalau bukan mama yang lewat" goda Bu Shinta lagi pada menantunya.
"Astaga" batin Ranti.
***
Setelah Menyelesaikan sarapan paginya Abi dan Ranti bergegas untuk berangkat ke tempat yang telah di pilih sebelumnya.
Puncak yang akan menjadi tujuan dan Abi saat itu, yang merupakan pilihan yang telah di sepakati oleh keduanya. Bergegas Abi menyeret koper yang semalam telah di siapkan oleh Ranti dari kamarnya.
"Mungkin 4 atau 5 hari ma" Jawab Abi singkat.
Bu Shinta pun mengulas senyum manis di wajah ya. "Oke have fun ya sayang " Ucap Bu Shinta kemudian. Abi pun tersenyum menatap lekat sosok ibu kandungnya tersebut.
"Abi. Jaga Ranti baik-baik" Pinta pak Prabowo yang juga muncul dari arah pintu samping.
"Tenang aja pa, Abi pasti jaga istri Abi kok" Ucap Abi dengan suara congkak.
Ranti pun hanya menggelengkan kepala dengan mengulas senyum manis di wajah nya.
"Ma. Pa. Ranti dan mas Abi berangkat dulu ya" Pamit Ranti pada kedua pasangan suami istri yang tidak lagi muda itu.
"Tentu saja sayang, jangan lupa Mama tunggu kabar baiknya ya setelah ini" Ucap Bu Shinta dengan senyum smirk.
Ranti hanya menundukkan wajahnya menyembunyikan semburat merah yang seketika muncul di wajahnya.
"Tenang aja ma, Abi akan Berusaha untuk mengabulkan apa yang Mama inginkan" Ucap Abi lagi masih dengan nada congkak.
__ADS_1
Mendengar hal itu Ranti hanya mendengus kesal kemudian mencubit pinggang Abi yang begitu mengesalkan
"Auchh ! Sayang " Pekik Abi yang merasa kesakitan.
Bu Shinta Dan Pak Prabowo hanya tersenyum geli melihat tingkah anak dan juga menantunya tersebut.
"Sudah sudah kalian segera berangkat saja, keburu siang nanti macet " Pinta Bu Shinta.
Setelahnya bergegas Abi memasukkan koper kedalam bagasi, dan membuka pintu depan untuk Ranti.
"Abi berangkat ya ma, pa" Ucap Abi setelah menutup pintu bagian depan dimana Ranti duduk di sana.
"Oke sayang, Jangan terlalu di Vorsir ya, kasian Ranti" bisik Bu Shinta pada sang putra
"Ma !" Geram Abi mendengar ucapan ibu kandungnya.
Kedua pasang suami istri itu hanya dapat tertawa terbahak melihat kekesalan di wajah Abi.
Abi dan Ranti pun perlahan meninggalkan kediaman pak Prabowo, menyusuri jalanan pagi yang masih terasa sepi.
Abi tampak sesekali menggenggam tangan Ranti dan kemudian menciumnya, tidak di pungkiri hal itu membuat hati Ranti begitu bahagia.
Wanita mana yang tidak akan senang jika memiliki suami yang begitu perhatian seperti Abi. terlebih memiliki mertua sebaik dan perhatian Bu Shinta dan pak Prabowo.
"Mas " Panggil Ranti dengan suara lembut.
"Ya sayang " Jawab d Abi dengan tatapan fokus kedepan.
"Mas Abi, Ranti mau ke rumah sakit dulu boleh ?" Pinta Ranti dengan suara lirih.
Abi terlihat menghela nafas, dan menatap datar pada Ranti yang duduk di sampingnya.
"Sebentar saja mas, Ranti Janji tidak akan lama" ucap Ranti penuh permohonan.
Melihat raut wajah sang istri yang begitu memelas, Abi pun menuruti permintaan Ranti untuk singgah ke rumah sakit sebelum berangkat.
Abi tentu tahu apa tujuan Ranti mengajaknya ke Rumah Sakit, Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk berkunjung melihat kondisi sang kakak.
Bukan Abi tidak senang atau tidak setuju dengan permintaan Ranti, namun entah mengapa Abi merasa tidak nyaman dengan permintaan Ranti tersebut. Namun tidak ingin memperpanjang masalah, Abi memilih menuruti permintaan Ranti.
Abi pun memutar Arah, untuk menuju rumah sakit dimana Dewi di rawat disana.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, lima belas menit menempuh perjalanan keduanya telah tiba di parkiran rumah sakit.
***