
Abi mana merasa sedikit kelelahan setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, karena memang puncak tidak pernah sepi, jalanan selalu ramai.
Sejenak Abi menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku mobil, untuk mengurai lelah setelah berkendara, sembari menunggu Ranti berbelanja.
"Mas" Suara lembut yang tiba-tiba menyapa Abi
"Kamu tega mas melakukan semua ini padaku " Lirih seorang wanita yang seketika itu muncul di hadapan Abi.
"kamu ?" Ucap Abi tampak tidak percaya.
"Maafkan aku, Aku tidak bermaksud --" ucap Abi penuh sesal.
"Kau jahat mas. Jahat !" Ucap nya lagi, dengan sorot mata berkaca-kaca, melelehkan buliran bening disana.
"Tidak Bukan begitu, Aku tidak bermaksud mengkhianatimu " Ucap Abi dengan wajah ketakutan.
"Mas Abi, Kau sungguh kelewatan, Tahukan kau jika aku begitu sakit mas" ucapnya dengan tatapan tajam, menghunus bagai mata pisau yang siap menerkam mangsanya.
"Tidak tidak tidak " Ucap Abi dengan suara keras.
"Aaaaaa" suara memekik dari mulut Abi yang begitu memekakkan telinga.
"Mas ! . Mas . Mas Abi !" Panggil Ranti dengan menggoyangkan tubuh Abi yang sudah basah oleh keringat.
Abi tampak tercengang, kaget melihat keberadaan Ranti di hadapannya.
Beberapa kali Abi terlihat meneliti setiap sisi di dalam mobil ya, seolah mencari sesuatu yang sedari tadi mengganggunya.
"Mas Abi mengigau ?, " tanya Ranti yang terlihat panik melihat keadaan Abi begitu kacau .
Abi hanya bergeming.
"Mas Abi kenapa? tanya Ranti karena mendapati Abi yang masih diam dan tidak memberikan jawaban.
"Mas . Mas Abi nggak papa kan ?" Tanya Ranti lagi memastikan jika Abi baik baik saja.
"Ohh iya, maaf Ran. " ucap Abi yang tampak tidak fokus dengan pertanyaan Ranti.
"Minum dulu mas" Ucap Ranti sembari menyodorkan sebotol air mineral yang telah dia buka pada Abi.
"Terima kasih" Jawab Abi dengan menerima botol minum tersebut, kemudian mengganti minuman yang ada di dalamnya.
Ranti hanya menatap Abi dengan tatapan penuh tanya, Ada rasa khawatir dalam diri Ranti, mungkinkah Abi memiliki masalah atau abinsedang kurang sehat, namun bukankah sebelumnya Abi baik-baik saja. Pertanyaan yang seketika menyeruak dalam otaknya.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang ?" Ajak Ranti yang melihat kondisi Abi lebih baik dari sebelumnya.
Abi pun menganggukkan kepala, menyetujui ajakan Ranti sebelumnya.
***
Sepanjang sisa perjalanan Abi hanya diam, tidak seperti sebelumnya Abi begitu bersemangat, tidak jarang menggoda Ranti hingga Ranti merasa begitu kesal pada Abi.
"Mas kamu kenapa ?" Tanya Ranti dalam hati.
Melihat raut wajah datar Abi, Ranti memilih untuk diam dan tidak ingin menanyakan apa sebab Abi seperti ini. Tidak jarang Ranti menatap lekat wajah sang suami yang fokus dengan kemudinya.
Ranti hanya tidak ingin Ucapannya akan semakin membuat Abi merasa kesal.
Namun entah mengapa Ranti merasa, Abi sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Tidak butuh waktu lama, 35 menit perjalanan akhirnya keduanya telah sampai di Villa milik Abi, tempat dimana Ranti sebelumnya sempat menginap disana.
Setelah memarkirkan mobilnya tepat di depan teras villa, Abi langsung turun tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Ranti yang saat itu masih duduk di bangku penumpang.
"Brak !" Sedikit keras Abi menutup pintu mobil, meninggalkan Ranti yang masih duduk dengan perasaan Bingung.
Ranti sedikit terkejut mendapati perubahan sikap Abi yang menjadi begitu dingin.
"Non Ranti " Sapa Bi Minah dan Pak Dayat yang telah menunggu kedatangan keduanya.
"Alhamdulillah non bibi sehat" ucap Bi Minah sopan.
"Itu den Abi kenapa Non ?, Kok dateng-dateng wajahnya di tekuk " tanya Bi Minah yang tampak penasaran.
Ranti hanya mengulas senyum manis di wajahnya , karena Ranti sendiri tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Bi Minah sebelumnya.
"Huss .. ! Ibuk ini !" Ketus pak Dayat yang merasa tidak enak hati pada Ranti, karena dirasa Bi Minah lancang bertanya masalah pribadi majikanya.
"Den Abi kan pasti capek Bu, Nyetir dari kota Samapi sini" ucap Mang Dayat kemudian
"Ohh iya ya pak " Jawab bi Minah dengan anggukan kepala.
Ranti hanya mendengar pembicaraan keduanya tanpa memberikan tanggapan.
"Makasih ya Bi sudah di bantu" ucap Ranti setelah Bi Minah dan Mang Dayat membantunya mengeluarkan seluruh barang barang yang di bawa Ranti dan Abi sebelumnya.
Kedua asisten rumah tangga tersebut, mengangguk kompak mendengar ucapan sang majikan.
__ADS_1
Setelahnya Bi Minah dan Ranti membawa belanjaan ke dapur, sementara mang Dayat menyeret koper milik Ranti dan Abi untuk di bawa ke kamar.
Ceklek
Tidak sadar Mang Dayat memutar Handel pintu kamar utama, namun nyatanya pintu tersebut di kunci dari dalam.
Mang Dayat sedikit heran , kenapa harus di kunci dari dalam, sementara sebelumnya dia membersihkan kamar tersebut tidak di kunci. Seketika Mang Dayat mengingat jika mungkin saja Abi berada di dalam kamar.
"Katanya bulan madu tapi kok urung uring-uringan, kasihan non Ranti " Gumam Mang Dayat lirih.
Tidak ingin mengganggu Abi, Mang Dayat memilih meninggalkan koper tersebut di depan kamar utama, dan kembali berbalik menyusul Ranti dan istrinya yang berada di dapur.
"Non Ranti " Panggil mang Dayat yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur.
Seketika Ranti mendongak kaget, mendapati sosok mang Dayat berdiri di sana.
"Cepet amat mang" Tanya Ranti dengan mengulas senyum
"Anu non, itu ,em Kamarnya di konco den Abi dari dalem" ucap mang Dayat seolah tidak tega mengatakan pada Ranti.
Ranti hanya menautkan kedua alisnya, menatap sosok yang berkata demikian.
"Jadi kopernya mamang taruh di luar kamar non" Ucap mang Dayat lagi.
Sejenak Ranti merasa heran dengan hal itu, " Ohh em iya mang nggak papa, nanti Ranti masukkan" Ucap Ranti tergagap.
Mang Dayat mengangguk kepala, dan setelah itu kembali pada pekerjaannya mengurus taman di villa tersebut.
Karena tahu jika Abi telah mengunci kamarnya, Ranti memilih untuk Menyibukkan diri di dapur, agar dia pun tidak ikut stres memikirkan perubahan sikap Abi yang begitu drastis.
Sejujurnya Ranti begitu kesal dengan sikap Abi, namun Ranti paham jika Abi mungkin saja sedang ada masalah, entah apa pun itu.
Namun apa pun itu masalahnya, bukankah tidak baik Abi mengabaikan Ranti begitu saja, Terkesan egois karen Abi yang seketika mengacuhkan keberadaan Ranti.
***
Sementara di dalam kamar Abi berada di bawah guyuran shower, menjambak rambutnya kasar.
" Tidak !, Kenapa rasanya ini begitu nyata !" Gumam Abi kesal.
"Dewi , kenapa kau mempermainkan ku " Teriak Abi lantang
Beberapa kali Abi menjambak dan mengusap kasar wajahnya, mengingat kembali mimpi yang baru saja dia alami.
__ADS_1
Terasa begitu nyata, sampai Abi merasakan hal itu sungguh terjadi padanya. Kemarahan Dewi yang seolah terasa begitu menakutkan bagi Abi.
***