
Meski dengan perasaan bercampur aduk, akhirnya Ranti mampu menyelesaikan semua masakan dengan sempurna.
"Akhirnya" Ucap Ranti dengan perasaan lega
Ranti di bantu oleh Abi membawa seluruh masakan ke meja makan "Sepertinya sangat enak" Ucap Abi.
Ranti hanya menggeleng kan kepala dengan senyum simpul, "Mungkin akan lebih enak jika mas Abi nggak ganggu Ranti" Jawab Ranti dengan menatap Abi, dan bibir mengerucut.
Abi pun hanya terkekeh mendengar ucapan Ranti.
"Yuk ah kita makan, udah malem" Ucap Ranti lagi, dan selanjutnya di ikuti Abi duduk di meja makan bersama Ranti.
Disela-sela makanan yang mereka kunyah, Ranti menanyakan keadaan Dewi saat ini. Mengenai bagaimana perkembangan pengobatan sang kakak. Kondisi Dewi saat ini.
"Ya seperti yang kamu lihat Ran, Dewi masih memilih untuk Tidur" Jawab Abimana dengan suara lirih.
Ranti pun memahami perasaan Abi yang tentunya sangat sedih dengan kondisi sang kakak, namun tidak banyak yang bisa Ranti lakukan selain mendoakan yang terbaik untuk Dewi.
Setelah keduanya selesai dengan makan malam, Ranti memilih langsung membereskan peralatan masak dan peralatan makan yang sebelumnya dia gunakan.
"Biar Besok di cuci sama Bi Nur" Ucap Abi, berjalan menghampiri Ranti dan meletakkan bekas gelas kosongnya.
"Tidak masalah mas, lagipula ini hanya sedikit" Ucap Ranti
Melihat Ranti yang kembali dengan aktifitasnya, Abi memilih langsung menuju kamar utama, dan meninggalkan Ranti yang masih berkutat di dapur.
***
Dengan langkah gontai Ranti berjalan menuju kamarnya, suasana kamar yang temaram membuat Ranti tidak begitu jelas melihat ketika memasuki ruangan.
Klek.
Suara pintu tertutup yang seketika mengagetkan Ranti, Ranti pun berjalan pelan memasuki ruangan, untuk mencari keberadaan saklar didalam kamar tersebut, berbekal sinar handphone miliknya Ranti melangkah maju, dan hap.
Sebuah dada bidang telah menempel pada punggungnya, tangan kekar yang tiba-tiba merayap melingkar di perutnya.
"Ranti !"
Sebuah panggilan yang Ranti sangat hafal dengan suara tersebut
"Mas Abi" Jawab Ranti kemudian.
Ranti yang tidak mendapat jawaban dari sosok di belakangnya, namun seketika bulu kuduk nya meremang, Ranti sangat yakin jika Abi lah orang yang saat ini ada di belakang tubuhnya.
Berusaha melepaskan tangan tersebut dari perutnya, namun semakin Ranti berusaha Abi semakin mengeratkan Tangannya.
"Tetaplah seperti ini, sebentar saja !" ucap Abi lirih dengan meletakkan wajahnya di celekuk leher Abi.
Abi meletakkan dagunya di pundak Ranti, menikmati kehangatan disana, mengusap lembut perut rata Ranti yang tertutup oleh piyama yang dia kenakan.
"Mas, Ini tidak baik untuk kita!" Ucap Ranti.
"Ranti mohon mas, Jangan seperti ini" Pinta Ranti
Bagaimana Ranti tidak spontan mengatakan hal itu, pasalnya antara Ranti dan Abi adalah dua orang wanita dan pria dewasa yang tidak mungkin tidak akan terjadi apa-apa jika keduanya terlibat hal seperti ini.
Terlebih mengingat status mereka yang merupakan suami dan istri, dan hal lebih dari ini pun lumrah terjadi pada pasangan suami istri, Namun batin Ranti selalu menolak.
__ADS_1
Kembali Ranti berusaha merenggangkan pelukan Abi, namun lagi-lagi Abi pun semakin mengeratkan Tangannya hingga tidak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka.
Tidak ingin terlibat dengan obrolan yang tidak di inginkan, Ranti memilih untuk diam, dan menerima perlakuan Abi padanya.
Setelah Abi merasa Ranti tidak lagi melawan, kemudian Abi membalik tubuh Ranti dan menghadapkan pada dirinya.
"Ran" Ucap Abi lirih
Ranti hanya Mendongakkan wajah, dan setelahnya menatap lekat sosok yang ada di hadapannya. Sorot mata penuh damba, jelas Ranti lihat pada mata Abi.
"Aku ingin memulai semuanya dengan baik, aku mohon padamu kita bisa saling mencoba untuk menerima keadaan ini" Ucap Abi dengan menempelkan dahinya pada dahi Ranti.
"Maksut mas Abi" Sela Ranti dengan mengerutkan dahi.
"Aku ingin memilikimu seutuhnya" Bisik Abi lirih tepat di telinga Ranti.
"Mas !" Sergah Ranti dengan menepis tangan Abi.
"Nggak-nggak , ini nggak bener mas Abi, Ranti nggak bisa, Lalu.. Lalu ... bagaimana dengan kak Dewi , Aa-aku nggak bisa mas " Ucap Ranti terbata dan rasa gugupnya yangbberusaha dia tutupi, serta pandangan yang entah kemana
"Ranti mohon Mas, pikirkan kak dewi" Lirih Ranti Lagi, dengan suara dengan terisak.
"Aku Sudah selalu memikirkan Dewi, lalu bagaimana dengan dirimu !, Kau juga istriku Ranti " Ucap Abi dengan meninggikan suaranya.
Ranti semakin dibuat takut dengan ucapan Abi yang seketika mengagetkan ya.
"Aku, Aku baik baik saja mas" ucap Ranti gagap
"Benarkah ?" Tanya Abi, dengan meraih satu tangan Ranti untuk dia genggam.
"Aku yakin aku mau menerimaku juga pasti sudah memikirkan hal ini bukan ?" tanya Abi penuh selidik.
Sejujurnya apa yang di katakan Abi adalah kebenaran,namun mengingat kembali Dewi, Ranti menjadi semakin dilema. Ranti pun hanya tertunduk lesu dengan wajah penuh linangan air mata.
Melihat kerapuhan Ranti di depan matanya membuat Abi merasa semakin iba, Abi pun meraih tubuh Ranti dan seketika Mendekapnya dalam pelukan.
"Kau juga berhak bahagia Ran" ucap Abi kemudian. Ranti hanya bergeming dengan ucapan Abi.
"Dokter mengatakan sudah menyerah dengan kondisi Dewi saat ini , ini sudah bulan kedelapan Ran, dan aku pun sudah mengupayakan segalanya untuk Dewi" Lirih Abi dengan bulir bening menetes di wajahnya.
Merasakan setitik air yang tiba-tiba membasahi pipinya, Ranti mendongakkan kepalanya, benar saja ternyata Abi telah sesenggukan dengan beberapa kali menyeka air mata menggunakan satu tangan nya, dan tangan lain memeluk Ranti
"Mas" Lirih Ranti merasa kasihan dengan suaminya.
"Maafkan Ranti" Tukas Ranti kemudian. Abi pun hanya menganggukkan kepala.
"Aku hanya ingin belajar menerimamu sebagaimana aku menerima Dewi ran, Dan lagi aku pun ingin belajar menerima keadaan, jika sesuatu yang paling buruk, suatu hari nanti terjadi pada Dewi" Lirih Abi.
Mencerna kembali ucapan Abi, berfikir sejenak, ada benarnya juga apa yang di katakan Abi, Abi pasti merasakan sakit yang lebih besar dibandingkan dirinya.
Segalanya telah Abi curahkan untuk Dewi lebih dari delapan bulan lamanya, bukan waktu yang sebentar untuk mencurahkan hati, waktu, tenaga, dan biaya yang pastinya tidak sedikit.
Tidak salah jika Abi pun mungkin merasa lelah, meski tidak mungkin bagi Abi untuk meninggalkan Dewi. Ranti pun semakin merutuki penolakan yang dia lakukan.
"Maafkan Ranti mas" Ucap Ranti dengan mendongakkan wajahnya
"Aku tahu Ran, kau pun juga hanya berniat untuk menjaga hati kakakmu" Ucap Abi.
__ADS_1
Suasana kian terasa hening, baik Ranti maupun Abi tidak ada yang mengeluarkan suara, hingga sejenak tatapan keduanya pun beradu mesra, dengan deru nafas yang penuh damba.
"Aku menginginkanmu malam ini Ranti" Ucap Abi lirih dengan dada yang sudah naik turun
"**--tapi mas !" Pekik Ranti dengan mata membulat.
"Aku mohon Ran !" pinta Abi dengan suara beratnya.
Sebagai wanita dewasa Ranti jelas tahu apa yang di inginkan suaminya saat ini, namun belum sempat Ranti memberi penjelasan Abi telah lebih dulu mengangkat tubuh nya, ke tempat tidur empuk tersebut.
Menjelajahi setiap jengkal tubuh indah Ranti, hingga tanpa terasa semua yang di kenakan telah tanggal, menyisakan sebuah kacamata, dan segitiga pengaman.
Mengamati sosok di hadapannya membuat Abi merasa semakin panas, Terlebih melihat dua bukit yang ada disana, semakin menambah rasa ingin Abi untuk mendapatkan Ranti saat itu.
"Mas" ucap Ranti lirih, mencoba menghentikan aksi nya.
"Em.." Jawab Abi dengan nafas tersengal, dengan jemari yang tidak henti menyusuri sosok polos di hadapannya.
"Mas, Please !" Ucap Ranti penuh permohonan.
"Apa ?, Kau ingin Menolakku ?, atau kau akan mengatakan jika kau belum siap ?" Tanya Abi dengan wajah yang telah memerah panas.
"Bukan begitu mas !" Sergah Ranti kemudian
"Jika bukan itu alasannya, aku mohon Ran, aku sangat menginginkannya" Jujur Abi dengan suara parau. Menahan gejolak dada yang seperti ingin segera dia salurkan.
Ditengah perasaan gugup, dan dada yang semakin berdetak kencang, Ranti pun memilih diam dan membiarkan Abi melakukan apa yang dia inginkan.
Samai pada saat Tangan Abi yang melayang diatas inti tubuhnya, seketika dia mengerutkan dahi "Ran Kau ?" Ucap Abi dengan membulatkan matanya.
"Iya " Angguk Ranti pelan dengan rasa tidak enak hati
"Aku sudah berusaha memberitahu mas Abi, Tapi mas Abi memaksa " Ucap Ranti lirih.
Abi pun harus kembali mendengus kesal, saat saat yang selalu dia inginkan, 8 bulan sudah Abi tidak merasakannya, namun ketika telah di puncak awang-awang kembali dia harus bersabar.
Salah Abi juga kenapa sebelumnya tidak menanyakan pada Ranti, dan nyatanya saat ini Ranti tengah datang bulan.
Dengan kasar Abi menghempaskan bobot tubuhnya di samping Ranti, menutup tubuh Ranti yang sudah dia buat tanggal seluruh bajunya, dengan selimut tebal yang ada di kasur tersebut.
Abi sendiri hanya merutuki kebodohan nya, dan merasa geli terhadap dirinya sendiri.
Ranti yang juga merasa sangat malu, kesan pertama yang biasanya akan menjadi momentum paling tidak terlupakan, ini harus menjadi saat paling memalukan.
Abi yang masih polos memilih untuk kembali memeluk Ranti.
"Mas" lirih Ranti.
"Emm... "Jawab Abi dengan memejamkan mata.
"Ranti mau pak--" ucapan ranti menggantung.
"Sudah seperti ini saja" Jawab Abi dengan entengnya.
"Tapi mas " Sergah Ranti.
Abi tidak memberi jawaban, dan semakin mengeratkan pelukannya, meletakkan wajahnya di celekuk leher belakang Ranti.
__ADS_1
Meski merasa risi, dan tidak nyaman, Ranti memilih diam dan menurut. Meski hembusan nafas yang terasa berat, menerpa lembut bagian lehernya, membuat Ranti Harus menahan rasa yang juga bergejolak dalam dadanya. Sebagai wanita dewasa tidak memungkiri Ranti juga merasakannya.
***