ASMARANTI ( Istri Pengganti )

ASMARANTI ( Istri Pengganti )
22. Hati yang kembali terluka


__ADS_3

Suasana pagi hari terasa begitu lembab dengan minimnya cahaya matahari saat itu. Ranti keluar kamar dengan tertatih masih ada rasa ngilu yang di sebabkan karena cedera pagi tadi, dan hal itu sukses menyita perhatian Bi Minah dan pak Dayat.


"Lho neng kenapa ?" tanya Bi Marni dengan wajah panik


Ranti menggelengkan kepala "Nggak papa bik, ini cuma sedikit terkilir" Ucap Ranti lirih.


"Kok bisa terkilir sih, lain kali hati-hati neng" Ucap Bi Marni


"Iya bik" Jawab Ranti dengan anggukan kepala.


"Ohya biar di pijit mang Dayat aja neng " Tawar Bu Marni dengan tulus


Mendengar hal itu seketika bola mata Ranti membulat sempurna, dengan di hiasi senyum getir di wajahnya "Em, tidak bi, tidak perlu, lagi pula pagi tadi sudah di pijit mas Abi" Tolak Ranti dengan nada panik.


Bagaimana dia bisa menerima tawaran Bi Marni, sementara rasa ngilu karena pertolongan pertama yang di berikan Abi sebelumnya masih jelas teringat di benak Ranti, hal itu pun sukses membuat hati Ranti ikut merasakan ngilu meski hanya membayangkan saja.


Abi hanya menyaksikan hal itu dari tempat duduknya dengan menikmati secangkir teh hangat yang di buat oleh BI Marni.


Keempatnya kemudian sarapan bersama di meja makan. Ranti, pak Dayat ,dan Bi Marni merasa sedikit aneh dengan raut wajah Abi yang tiba-tiba berubah menjadi cemas.


Beberapa kali terlihat Abi yang melirik ke arah handphone miliknya, seperti tengah menunggu sesuatu yang sangat penting.


Merasa sedikit penasaran kemudian Ranti memberanikan diri untuk bertanya "Mas ?, Ada masalah apa ?" Tanya Ranti dengan penuh kekhawatiran


Abi hanya menatap sekilas pada Ranti, kemudian kembali fokus pada handphone miliknya, tanpa memberikan jawaban apa pun pada sosok di hadapannya, yang kini telah menjadi istrinya, bahkan makanan yang ada di piringnya pun hanya Terus di aduk-aduk tanpa ada niatan untuk memakannya.


Meski ada rasa kecewa dan sakit di dada, namun Ranti tetap menanggapi sikap acuh suaminya dengan senyuman ramah, walau bagaimanapun, kepincangan dalam rumah tangganya tidak boleh orang lain tau karena merupakan aib, dan hanya boleh dirinya dan Abi saja yang mengetahui hal tersebut.


Melihat hal itu Bi Marni dan Pak dayat hanya saling pandang, tanpa berani membuka suara, meski sejujurnya ada rasa kasihan terhadap sosok ranti yang di abaikan oleh Abi, namun apalah daya keduanya juga tidak punya kuasa untuk berbuat apa-apa.


Beberapa saat mereka telah selesai dengan sarapan masing-masing, Abi yang saat itu sedang gusar langsung berdiri dan menuju balkon Villa untuk mencari sinyal.


Cuaca yang semakin mendung, meski waktu telah menunjukan pukul 09.15. Berada di ketinggian puncak membuat sinyal operator susah sekali masuk saat itu, beberapa kali terlihat Abi mendengus kesal, dan hampir melemparkan handphone miliknya, namun tidak jadi dia lakukan, karena sadar hanya melalui benda itu lah dia dapat mengakses dan mengetahui kondisi Dewi saat ini.

__ADS_1


Ranti yang mengamati Abi dari kejauhan semakin merasa penasaran, namun dia urung untuk kembali bertanya. Ranti memilih kembali ke kamar untuk mengistirahatkan kakinya yang masih terasa ngilu, karena Ranti berfikir mungkin saja sore nanti Abi akan mengajaknya kembali ke kota. Hingga dia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya saat ini.


***


Ranti bangun dari tidur nya dengan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya, serta kondisi kaki yang juga jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Bi, Bi Marini?" Panggil Ranti dengan berjalan keluar dari kamar, seraya memegang paha ya yang masih sedikit terasa ngilu.


"Eh Neng, Kok keluar sih, istirahat aja dulu neng" Ucap Bi Marni dengan memapah bahu Ranti kemudian membantunya untuk duduk di sofa ruang tengah a tersebut.


"Neng Ranti mau bibi masakin apa untuk makan siang ?" Tanya Bi Marni sopan


Ranti tersenyum manis mendengar tawaran dari sang asisten rumah tangga tersebut, "Ranti Terserah mas Abi aja Bi, Apa aja mau " Ucap Ranti dengan suara lembut


Seketika Bi Marni mengerutkan dahinya mendengar jawaban dari Ranti "Lho, Memangnya den Abi nggak pamit Neng Ranti kalau sudah kembali ke kota ?" tanya Bi Marni kemudian.


Ranti yang mendapatkan jawaban dari BI Minah pun tidak kalah terkejut dan seketika mengerutkan dahi dan menautkan kedua alisnya "Mas Abi pulang ?, Kok nggak ngajak Ranti ?" Gumam Ranti dalam hati dengan wajah tampak berfikir.


"Saya pikir Den Abi telah berpamitan sama neng Ranti" Tukas Bi Marini


Semakin mendengar penjelasan dari BI Marni, membuat Ranti semakin tertunduk lesu, bukan karena apa-apa , namun entah mengapa Ranti merasa ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya, mendapatkan sikap kurang baik dari sang suami.


"Oh , begitu ya Bi, em.. Mungkin memnag mas Abi ada beberapa pekerjaan yang mendesak" Ucap Ranti dengan senyum di wajahnya, namun menahan getir dalam dada.


"Neng, Jangan melamun !" Ucap Bi Marni kemudian, mendapati Ranti yang terus saja bengong dengan pikiran entah kemana.


"oh iya , Hehe, Bi kayaknya Ranti Pengen Mie kuah aja deh," ucap Ranti


"Baik neng, Bibik buat dulu, neng Ranti di kamar saja sambil istirahat, nanti saya antar makanannya ke kamar" Ucap Bi Marni sopan, dan Ranti pun mengangguk kan kepala.


Setelah itu Ranti kembali ke kamar dengan di bantu oleh BI Minah.


Berada di kamar Ranti merasakan kembali kehampaan yang begitu menyakitkan.

__ADS_1


💌 Maaf, aku tidak berpamitan, Aku mendapat kabar Jika Kondisi Dewi hari ini Drop.


Sebuah pesan singkat yang di terima oleh Ranti dalam handphone miliknya, pesan yang di kirim oleh Abi. Mengingat suasana hatinya yang sedang kacau, Ranti hanya membaca tanpa memberikan respon jawaban pada Abi.


💌 Aku akan meminta sopir untuk menjemputmu


Pesan kedua yang di kirim Abi pada Ranti.


💌 Tidak perlu , Sebaiknya mas Abi Fokus pada kondisi kak Dewi. Ranti Bisa pulang sendiri


Balas Ranti , juga melalui pesan singkat yang di kirim melalui smartphone miliknya kepada Abi.


Entah perasaan apa yang tengah di rasakan Ranti saat ini, hanya saja dadanya terasa begitu sesak, tanpa terasa sudut matanya mulai memanas, menampakkan buliran embun yang menetes dari sana.


Namun setelahnya Ranti tersadar mengenai tujuan awalnya menikah.


Sakit ?


Tentu saja.


Kembali lagi pada prinsip Ranti yang menginginkan pernikahan sekali dalam seumur hidup, namun kenyataan berkata lain dirinya yang harus berada dalam sebuah alur cerita yang entah bagaimana ujungnya.


Bahkan untuk berharap saja Ranti merasa sangat takut, tidak ingin luka dalam hatinya lebih dalam dan nantinya akan lebih menyakitkan.


***


Bersambung


***


Jangan Lupa Support nya ya Semuanya, Terima kasih yang sudah Selalu Memberi dukungan , Like , dan Komen


🥰🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2