
Pagi ini keduanya melakukan sarapan bersama, menikmati indahnya suasana puncak yang begitu nyaman. Mendung yang tidak begitu pekat menambah suasana sahdu pagi itu. Saat ini waktu telah menunjukan pukul 09.00.
"Sayang Apa kau bahagia" ucap Abi di sela-sela sarapan keduanya.
Ranti terlihat mengulas senyum ketulusan dan tergambar jelas bahagia di wajahnya.
"Tentu saja mas, wanita mana yang tidak akan bahagia mendapatkan perlakuan spesial, terlebih itu dari orang seperti mas Abi"
Abi hanya tersenyum mendengar penuturan dari Ranti.
"Aku akan selalu membuatmu bahagia" Ucap Abi
Ranti tersenyum dengan menganggukkan kepala. Sebagai jawaban atas pernyataan Abi.
Entah harus merasa bahagia tau kan sebaliknya, saat ini masih saja Ranti merasa dilema dengan hatinya.
Hening.
Keduanya lantas melanjutkan sarapan pagi bersama, atau lebih tepatnya sarapan yang tertunda, dengan sesekali di selingi canda tawa yang mengundang gelak tawa dari Ranti maupun Abi.
Selesai sarapan pagi, Abi dan Ranti bergegas membersihkan diri. Karena pagi ini rencana keduanya masih akan menuju beberapa tempat di puncak.
Sebelumnya Abi telah memesan baju untuk keduanya, sehingga Baik Abi maupun Ranti tidak harus mengenakan kembali baju semalam.
Beberapa saat berlalu Ranti dan Abi telah segar dan siap melakukan aktifitas hari itu. Sebuah angan dan rencana indah telah mereka sepakati sebelumnya.
Berkunjung ke Taman Atsiri dan Wisata petik buah merupakan ide yang lumayan untuk di lakukan
***
Berada dalam mobil kini keduanya akan kembali ke villa. Dengan perasaan penuh bahagia.
Bukan tanpa Alasan, saat ini Ranti memilih untuk kembali ke villa terlebih dahulu baru keduanya akan berjalan-jalan kembali Setelahnya.
Bukan tidak mungkin keduanya akan membuat Mang Dayat dan BI Minah khawatir jika tidak segera kembali, meski sebelumnya telah berpamitan.
Terlihat Abi yang begitu erat menggenggam Tangan Ranti, bahkan sesekali Abi mencium punggung tangan Ranti yang begitu menggemaskan bagi Abi.
"Mas Fokus" Pinta Ranti pada sang suami
Abi hanya terkekeh kecil mendengar ucapan sang istri "Oke sayang" Namun bukan mengindahkan ucapan Ranti, Abi justru semakin mengeratkan genggamannya.
Menempuh perjalanan beberapa saat , akhirnya Ranti dan Abi tiba di halaman Villa milik Abi. Vila yang sejak beberapa hari terakhir menjadi tempat terindah bagi keduanya.
Namun Kali ini ada pemandangan yang tidak biasa, dimana Abi menemukan Mobil milik papa nya terparkir di depan Villa.
__ADS_1
Sebuah senyum terukir di wajah Abi yang melihat mobil milik orang tua Abi terparkir rapi di halaman Villa tersebut. Abi hanya menggelengkan kepala, jujur Abi sangat tahu jika mama dan papa nya sangat menginginkan kehadiran seorang cucu, namun dia tidak menyangka jika kedua orang tuanya akan menyusul hingga ke tempat ini.
"Nggak salah kan ini mobil papa mas ?" Tanya Ranti yang merasa sedikit bingung.
"Iya sayang " ucap Abi dengan senyum cerah ceria.
Tidak menunggu lama keduanya segera masuk dan ingin menemui pak Prabowo dan Bu Shinta
Benar saja, Nyatanya di ruang tamu telah duduk manis kedua mertua dari Ranti , yaitu pak Prabowo dan Bu Shinta.
Sebuah senyuman tipis menyambut kedatangan Abi dan Ranti yang masih berdiri di ambang pintu ruangan.
"Ada angin apa nih mama sama papa kesini" ucap Abi dengan senyum tak lekang dari wajah tampannya.
Meski Abi selalu tersenyum, namun entah mengapa Ranti begitu merasa hatinya tengah tidak baik-baik saja, seolah dirinya menangkap sesuatu yang berbeda dari raut wajah kedua mertuanya tersebut.
"Apa mama sama papa sudah begitu tidak sabar menunggu calon cucu dari Abi" ucap Abi masih dengan kelekar tawa dan bahagia yang membuncah dalam dada.
"Mas !" sela Ranti pada Abi, yang merasa ekspresi kedua mertuanya itu tengah membawa sebuah berita yang ingin di sampaikan.
Melihat Ranti yang sudah dalam mode serius, Abi pun seketika menghentikan Tawa nya.
Hening.
"Duduklah nak" pinta Pak Prabowo pada keduanya.
"Ada sesuatu yang ingin papa dan mama sampaikan pada kalian" ucap pak Prabowo, Sementara Bu Sinta menatap tidak nyaman dalam situasi seperti ini.
Baik Ranti dan Abi tidak ada satupun yang membuka suara, keduanya begitu tenang dan mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh Mertua dari Ranti tersebut.
"Ranti "
"Abi "
Panggil Bu Sinta lirih dengan menatap lekat wajah keduanya. Kini Bu Shinta lah yang mengambil alih pembicaraan.
Ranti dan Abi hanya saling pandang, namun kemudian kembali fokus pada pak Prabowo dan Bu shinta.
"Kedatangan mama dan papa disini ingin memberi tahu kalian tentang---" ucap Bu Sinta . Namun setelahnya Bu Shinta tampak menjeda Ucapannya. Menatap lekat pada pak prabowo sang suami.
Sementara pak Prabowo pun mengangguk kan kepala, isyarat meminta bu Shinta untuk segera mengatakan kepada putra dan menantunya.
"Malam tadi, sekitar pukul 22.45 Mama dapat telepon dari pihak rumah sakit"
"Pihak rumah sakit meminta papa dan mama untuk datang"
__ADS_1
"Dan --" kembali Bu Shinta menatap sang suami, dan jawaban pak Prabowo kembali dengan menganggukkan kepala.
Setelahnya Bu Shinta memilih memejamkan mata dan menghirup nafas dalam-dalam untuk melegakan pikiran dan hatinya. Dan hal itu semakin membuat Ranti dan Abi merasa bingung dengan apa yang akan di sampaikan oleh orang tuanya.
"Pihak rumah sakit mengatakan jika Dewi telah siuman"
Deg.
Mendengar hal itu seketika Ranti merasa begitu lemah, hingga dia merasa dadanya terasa sangat sesak. Tanpa terasa bulir bening menetes begitu saja melalui sudut mata indahnya.
Masih dalam suasana tidak percaya , sekuat tenaga Ranti berusaha menguasai dirinya, namun hal itu nyatanya sia sia saja, Air mata Ranti begitu deras mengalir dan tak mampu untuk di bendung lagi.
Abi pun menatap Ranti yang saat itu begitu lemah "Sayang tenang lah " bisik Abi dengan meraih tubuh Ranti yang bergetar hebat, Abi mencoba menenangkan dengan memberikan usapan lembut di punggung Ranti.
Sementara Ranti hanya bergeming, dengan tatapan nanar yang entah harus bereaksi seperti apa, bahkan Ranti pun saat ini merasa begitu kalut.
Seharusnya dia bahagia dengan kabar yang di sampaikan oleh Mertuanya tersebut, namun bisakah dia bahagia diatas duka dan lara nya saat ini.
Hening.
"Ma !. Mama serius ?" Ucap Abi dengan suara parau
"Apa mama sudah benar-benar Memastikan sendiri"
Tanya Abi yang masih tidak percaya dengan berita yang di bawa oleh kedua orang tuanya tersebut. Namun kembali yang Abi dan Ranti dapatkan adalah jawaban anggukan kepala dari Pak Prabowo dan Bu Shinta.
"Mama dan papa sudah betul-betul memastikan ---"
"Dan Dewi juga menanyakan mu Abi" Ucap Bu Shinta lirih dengan suara tercekat, seolah tidak ingin mengatakan hal itu.
Deg.
Kini tidak hanya Ranti, nyatanya Abi pun juga tidak dapat berkata apa apa lagi dengan berita tersebut.
Entah bahagia ataukah duka yang dia terima, jujur perasaan Abi saat ini begitu tidak bisa di gambarkan.
"Sebaiknya kalian segera kembali ke kota" Saran Pak Prabowo
Ranti dan Abi hanya bergeming, dengan perasaan masing-masing.
Melihat sang menantu yang begitu kalut, Bu shinta pun mendekat dan menguatkan Ranti dengan mengusap lembut puncak kepala Ranti.
Jujur Bu Shinta pun merasa sangat terluka melihat menantunya bersedih, namun mau bagaimana pun Dewi juga menantunya, Menantu yang juga masih berstatus sah menjadi istri dari putranya.
"Baik ma, kami akan kembali ke kota" ucap Ranti lirih dengan menyeka Air mata yang masih saja terus mengalir.
__ADS_1
***