
Menempuh perjalanan cukup lama akhirnya keduanya telah sampai di kediaman Pak Prabowo dan Bu Sinta, yang tidak lain merupakan orang tua dari Abi.
"Sayang.." sebuah teriakan yang sangat memekakkan telinga.
Bu Sinta yang sangat antusias menyambut kedatangan sang menantu, hingga dirinya begitu bersemangat.
Mendapatkan perlakuan yang begitu manis dan di kelilingi orang-orang baik yang menyayangi dirinya, siapa yang tidak bahagia, Ranti pun merasakan kebahagiaan itu.
Seketika sudut mata Ranti pun berembun, dengan mengalirkan buliran bening disana.
"Hey, kok nangis sih " Ucap Bu Sinta ketika tepat berada di depan sang menantu.
Ranti tersenyum dengan menyeka air mata yang masih saja terus membasahi pipinya.
"Ranti kangen mama!" Ucap Ranti kemudian.
"Oh... manis sekali " jawab Bu Sinta, dengan kembali memeluk sang menantu.
Abi hanya tersenyum melihat keakraban diantara keduanya, sudah cukup lama mamanya itu tidak melakukan hal tersebut, dulu hal itu juga kerap Bu Sinta lakukan ketika Dewi datang ke rumah tersebut.
Namun selama Dewi koma, rasanya keceriaan dalam diri Bu Sinta pun juga ikut koma, dan hari ini Abi melihat lagi keceriaan di wajah orang tuanya.
"Abi, ajak Ranti ke kamar, pasti dia sangat lelah" Ucap Bu Sinta. Abi pun menganggukkan kepala.
"Eh tapi bentar ma, Ranti turunin barang-barang Ranti dulu ma" ucap Ranti dengan menghentikan langkahnya.
"Sudah kamu langsung ke kamar saja, ada pelayan, biar mama minta mereka yang membereskan" ucap Bu Sinta dengan mendorong punggung keduanya untuk menaiki anak tangga.
Kamar Abi memang terletak di lantai dua, kamar paling luas diantara kamar lain di lantai tersebut. Sementara kamar pak Prabowo dan Bu Sinta berada di lantai satu, juga merupakan kamar paling luas di lantai satu.
"Mas" Bisik Ranti
"Em " Jawab Abi singkat.
"Kenapa mama nyuruh ke kamar sih, padahal Ranti kan mau ngobrol-ngobrol dulu" Gerutu Ranti dengan perasaan tidak enak
Abi hanya mengangguk kedua bahunya bersamaan "Entah lah" jawab Abi singkat.
Memasuki kamar Abi, Mata Ranti dibuat kagum dengan interior kamar tersebut, kesan pertama yang muncul yaitu mewah, benar. Kamar Abi memang sangat Mewah, Rapi dan begitu bersih.
"Di lemari ada beberapa baju yang bisa kau gunakan" ucap Abi dengan suara datar.
Ranti menjawab dengan menganggukkan kepala
Terdengar dering telepon yang begitu memekakkan teling, Abi menyadari handphone miliknya lah yang telah berbunyi, segera mengambil dan menggeser ikon tanda hijau disana.
Terdengar Abi yang berbicara dengan seorang dokter kepercayaannya, dokter yang saat ini dipercaya untuk menangani kakaknya Dewi.
__ADS_1
Setelah menutup teleponnya, Abi bergegas mengambil jaket dan kunci mobil, bahkan Abi mengabaikan Ranti yang sedari tadi memperhatikannya, keluar dan berlalu begitu saja tanpa berpamitan atau mengatakan sesuatu.
Deg.
Seketika hari Ranti merasa sakit, sebentar Abi memperlakukannya dengan sangat manis, namun seketika Abi menghempaskan ya begitu saja.
Tapi Ranti sadar dirinya tidak memiliki hak untuk berharap lebih.
"Semoga tidak terjadi sesuatu dengan ka Dewi " Gumam Ranti lirih menatap punggung sang suami yang menghilang di balik pintu
Buliran bening seketika mengalir dari sudut mata indah Ranti.
***
Tring Tring tring
Terdengar dering telepon milik Ranti berbunyi, Ranti yang masih membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk kamar Abi pun segera beranjak untuk mengambil handphone miliknya
"Mas Bian ?" Gumam Ranti
Segera Ranti menggeser ikon tanda hijau disana.
"Halo mas Bian" Ucap Ranti ketika telepon telah tersambung
"Hallo Ran" Ucap Bian.
Ranti terlihat menjeda Ucapannya, dan tampak berfikir. "Iya mas " jawabnya kemudian.
"Kenapa pindah tidak memberiku kabar ?" Kesal Bian pada Ranti.
"Maaf mas kemarin Ranti masih sibuk, jadi belum sempat memberi kabar" ucap Ranti memberi penjelasan.
"Apa kau sudah melupakan aku ?" tanya Bian kemudian dengan suara kesal.
Ranti terkekeh mendengar Bian yang marah kepadanya. "Bukan begitu, hanya saja Ranti memang sangat sibuk kemarin, jadi belum sempat memberi kabar mas Bian" ucap Ranti lagi.
"Ya sudah kau dimana aku akan menjemputmu, kita makan siang bersama " Pinta Bian kemudian
"Maaf mas tapi Ranti sendang --" Ucapan Ranti menggantung
"Kau sedang bersama Abi ?" tanya Bian kemudian
Ranti sejenak terdiam "Ya, Ranti sedang di Rumah Mas Abi " Ucap Ranti lirih.
Kini terlihat Bian yang kemudian terdiam.
"Baiklah" Ucap Bian lirih dengan menutup telepon tanpa berpamitan atau berkata apa pun.
__ADS_1
Menyadari hal itu Ranti merasa tidak enak hati, namun dia juga sadar statusnya saat ini yang merupakan istri dari Abi, meski Abi tidak begitu menghiraukannya, setidaknya Ranti tetap ingin berusaha menjadi istri yang baik.
"Maaf kan Ranti mas Bian" Ucap Ranti kemudian.
***
Waktu berjalan begitu saja hingga saat makan malam pun telah tiba.
Tok tok tok
"Masuk tidak di kunci " ucap Ranti
Ceklek.
Menampakkan seorang wanita paruh baya yang berdiri di ambang pintu "Maaf Nona , Ibuk meminta Nona untuk turun makan malam" Ucapnya kemudian
"Oh iya bi, sebentar lagi Ranti turun " Ucap Ranti dengan ramah
Ranti pun bergegas merapikan baju dan rambutnya, segera menyusul ke ruang makan. Benar saja ternyata pak Prabowo dan Bu Sinta telah menunggu Ranti disana.
"Lho kok sendiri, Abi mana Ran ?" tanya Bu Sinta yang tidak mengetahui jika sejak siang Abi meninggalkannya
"Oh E--em sepertinya mas Abi ke rumah sakit ma" jawab Ranti terbata.
"Kok sepertinya ?, Abi nggak pamitan sama kamu ?" tanya Bu Sinta lagi, dengan mengerutkan dahi. Ranti pun menjawab dengan gelengan kepala.
Bu Sinta tampak tidak enak hati dengan menantunya "Em Ya sudah kamu makan saja dulu" Ucap Bu Sinta mengalihkan pembicaraan.
Bu Sinta merasa tidak enak hati pada menantunya, terlebih melihat perubahan raut wajah Ranti yang menjadi sendu.
"Ran , Maafkan Abi Ya " Pinta Bu Sinta kemudian.
Mendengar hal itu Ranti mengulas sebuah senyum pada mertuanya "Nggak papa ma " jawab Ranti singkat.
"Ranti tahu itu, mas Abi sangat menyayangi ka Dewi " Ucap Ranti lagi.
Melihat hal itu Bu Sinta dan Pak Prabowo hanya saling melemparkan pandangan, sejujurnya keduanya sangat sedih Melihat menantunya yang tengah dalam suasana hati tidak baik. Namun mau bagaimana lagi hal ini sudah terlanjur terjadi.
"Kamu yang sabar ya Ran " ucap Bu Sinta kemudian. Dan Ranti hanya menjawab dengan anggukan kepala di sela-sela aktifitasnya memasukan makanan kedalam mulut.
"Ran Besok mama mau ajak kamu belanja, kamu tidak sibuk kan ?" pinta Bu shinta mencoba menghibur menantunya.
Ranti tersenyum "Nggak ma" Jawab Ranti dengan mengulas sebuah senyum manis di wajahnya.
Melihat hal itu Bu Shinta pun sangat bahagia.
***
__ADS_1