
Mendengar ucapan Dewi Ranti hanya terdiam. Ranti memilih menghentikan langkahnya, dan membiarkan Dewi membuka pintu.
Jujur begitu berat menjadi Ranti dalam situasi seperti ini, namun ibarat nasi telah menjadi bubur, Ranti harus menerima semuanya.
Benar saja tidak butuh waktu lama, terlihat Abi yang berjalan bersama Dewi. Keduanya terlihat begitu mesra, dengan Dewi yang menyilang kan tangannya di lengan Abi.
Ranti hanya dapat menatap dengan tatapan dingin pada keduanya, jujur Ranti bahagia dengan Dewi yang telah kembali pulih, dan sepertinya Dewi juga sudah tidak merasakan sakit apapun. Namun entah mengapa pemandangan di depannya tersebut cukup membuatnya terluka.
"Ran ! Kok ngelamun sih "
Ucap Dewi dengan melampirkan tangannya di depan wajah Ranti.
"Ohh iya, maaf ka " lirih Ranti, dengan menatap sekilas wajah Abi.
Meski hanya sebentar terlihat tatapan Ranti begitu mengisyaratkan luka yang begitu mendalam.
"Mas , Kita makan sama-sama yukk, Ranti masak banyak nihh" ajak Dewi dengan begitu semangat.
Abi pun mengangguk ragu , meski pada akhirnya dia pun duduk di samping Dewi, tepat dihadapan Ranti.
"Mas mau makan apa ?" Tanya Dewi begitu perhatian.
Terlihat Ranti yang hanya menyaksikan interaksi antara Kakak kandungnya dan juga kakak iparnya yang kini juga menjadi suaminya.
"Tidak perlu, aku bisa mengambilnya sendiri" tolak Abi dengan suara dingin. Mendengar hal itu Dewi begitu kesal. Meski pada akhirnya dia juga tersenyum.
Sementara itu Ranti hanya terus diam dan kembali menyantap sisa makan malamnya yang terasa menjadi hambar begitu saja.
"Mas, kamu nginep aja ya, Lagian udah malem " pinta Dewi dengan begitu lembut
"Uhuk "
lagi dan lagi Ranti terbatuk mendengar ucapan sang kakak, yang meminta Abi untuk juga menginap di rumahnya.
"Ran kamu kenapa sih dari tadi batuk-batuk terus !"
"Kamu sakit ?"
Tanya Dewi dengan begitu penasaran
"Nggak ka, Ranti hanya tersedak makanan" ucap Ranti berkilah.
Sementara itu Abi terlihat begitu tidak nyaman berada dalam situasi seperti ini, diantara kedua istrinya.
"Ka, Ranti Sudah selesai, Ranti langsung ke kamar ya, nanti kalau mau tidur jangan lupa pintu depan di kunci ya" ucap Ranti dengan berlalu meninggalkan Abi dan Dewi.
"Ran kok buru-buru sih" ucap Dewi.
__ADS_1
Sementara Ranti terus berlalu meninggalkan kedua nya dengan perasaan yang sudah tidak baik-baik saja.
Setelah kepergian Ranti, terlihat Abi dan Dewi masih betah duduk di meja makan, Meski Abi terlihat begitu tidak bernafsu untuk makan, namun dia tetap memakan makanan yang telah di ambilkan oleh Dewi.
"Aku akan tidur di apartemen"
"Mas !.Kok gitu sih"
"Kenapa lagi coba mas Abi kaya gini, disini ada aku mas, istri kamu, ngapain ke Apartemen"
"Tapi ini rumah Ranti Sayang"
"Mas , Kamu lupa kalau Ranti itu adik aku, lagi pula dia sendirian mas, nggak masalah kan kita sekalian nemenin dia !" ucap Dewi dengan nada kesal.
Mendengar ucapan Dewi, Abi hanya dapat menghela nafas, meski berat namun akhirnya Abi menyetujui ajakan Dewi. Meski dia tahu hal ini akan sangat menyakitkan bagi Ranti.
Setelah menyelesaikan makan malam, meski belum mengantuk Ranti memilih segera kembali ke kamar, untuk menghindari interaksi antara Abi dan Dewi.
Waktu menunjukan pukul 01.30 dini hari. Ranti begitu merasa lapar hingga terpaksa dirinya harus terjaga.
Jujur dia sangat malas untuk bangun dan membuat makanan untuknya sendiri, namun mau bagaimana lagi Bi nur belum juga kembali sementara akhir-akhir ini Ranti sering merasakan Lapar di jam jam yang tidak semestinya.
Ranti bergegas bangkit dari tidurnya, dan segera beranjak untuk menuju dapur, Dengan langkah sangat hati-hati Ranti berjalan keluar kamar.
Deg.
Pergulatan panas yang dilakukan oleh kakak kandungnya dan sang suami, yang juga merupakan suaminya.
Sakit dan sungguh hal itu terasa begitu menyakitkan bagi Ranti. Mungkin hal ini tidak akan menjadi sebuah masalah yang begitu menyakitkan hati, ketika Abi bukan merupakan suaminya, namun kondisi saat ini berbeda, diaman dia juga merupakan istri dari Abi.
Tidak ingin lebih lama mendengar sesuatu yang sangat tidak ingin dia dengar, Ranti pun memilih berlari dari tempat tersebut menuju dapur.
***
Pagi sekali Ranti telah menyelesaikan pekerjaan dapur nya, Membuat beberapa menu makanan.
Tidak menunggu Dewi atau Abi, Ranti memilih segera sarapan. Karena memang terlihat keduanya belum menampakkan batang hidungnya, setelah adegan panas semalam sepertinya mereka begitu lelah.
Meski tidak begitu bernafsu, namun Ranti memaksa dirinya untuk mengisi perut, karena sejak kelaparan semalam Ranti hanya minum air putih saja dan tidak ada satu makanan pun yang masuk dalam perutnya.
Alhasil pagi ini pun Ranti merasa begitu kelaparan, dan segera membuat makanan untuk dirinya dan kedua tamunya yang masih pulas tidur saat ini.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat begitu saja di puncak kepala Ranti, Ranti tahu betul siapa yang melakukan hal itu.
"Jaga sikapmu mas !" ucap Ranti dengan suara dingin. Jujur Ranti tidak begitu bersemangat meladeni Abi pagi ini.
__ADS_1
Ambi hanya bergeming, dengan mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di sebelah Ranti.
"Maafkan aku Ran"
"Aku sudah sering mendengar nya mas "
Hening.
"Kau tidak mengajakku sarapan ?"
"Kalau kau lapar tinggal makan saja, lagi pula aku tidak sejahat itu mas !"
"Aku telah siapkan makanan untukmu dan ka Dewi"
"Aku tau kau pasti sangat lelah bukan, Setelah ---"
"Stop Ran !" ucap Abi menghentikan kalimat Ranti sebelumnya.
Ranti hanya tersenyum kecil, mendengar ucapan Abi yang terkesan tidak menyukai apa yang ingin Ranti ucapkan.
"Kenapa mas ?, bukankah semalam memang kalian melakukanya ?" tanya Ranti tanpa basa-basi.
"Aku tidak marah, dan juga tidak masalah, tapi sejujurnya aku sangat tidak menyukai kalian melakukanya di rumahku !"
"Tidak bisakah kalian menghargai ku sedikit saja, atau Mas Abi sengaja melakukanya" Lirih Ranti dengan genangan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Tidak Ranti bukan begitu, sungguh aku tidak bermaksud melukaimu" ucap Abi.
"Sudah mas, Ranti lelah, sebaiknya mas Abi kembali ke kak Dewi, mungkin saja saat ini dia sudah bangun dan mencari mas Abi"
Mendengar hal itu Abi hanya menggelengkan kepala. Sejenak suasana menjadi hening, dengan Abi yang begitu sakit mendengar ucapan Ranti, dan Ranti juga yang begitu terluka dengan tindakan Abi.
Ceklek.
Suara pintu terbuka, dan di susul kemunculan Bian diambang pintu. Pandangan Abi Dan Ranti Seketika terarah pada pintu tersebut.
"Maaf, Apa aku mengganggu ?, aku lihat pintu tidak terkunci, jadi aku masuk saja !" ucap Bian tanpa rasa bersalah.
Cepat cepat Ranti menyeka air matanya yang masih tersisa di pipi.
"Mas Bian , kenapa tidak memberi kabar jika akan kemari"
"Ah maafkan aku Ran, aku hanya ingin menumpang sarapan" ucap Bian dengan tidak tahu malunya.
Berbeda dengan Ranti yang bersikap sangat ramah, justru Abi menampakkan wajah kesalnya, melihat sosok Bian yang menurutnya begitu tidak sopan masuk ke rumah orang sembarangan .
***
__ADS_1